
Setelah menyerahkan semua urusan yang berhubungan dengan perbaikan kerusakan bangunan istana maupun urusan kerajaan pada orang orang kepercayaannya, raja Kerajaan Liliputan mengajak Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum masuk ke ruangan khusus, ruangan yang hanya raja yang boleh memasukinya.
Di dalam ruangan itu, raja Kerajaan Liliputan menyerahkan dua buah kitab pada Sekar Ayu Ningrum. Yang pertama kitab ilmu silat yang berdasarkan senjata cambuk. Yang kedua tehnik penyerapan energi dan pengendalian energi menggunakan cambuk. Kedua kitab itu hasil tulisan dan pemikiran leluhur mereka, Galuh Liliputan saat menempa diri di hutan.
Sekar Ayu Ningrum menerima dua kitab itu, namun kemudian mengembalikan kitab yang pertama setelah membacanya sekilas.
"Ini kitab yang berisi tentang ilmu silat dengan senjata cambuk, hasil karya leluhur anda. Biarlah dipelajari dan menjadi kebanggaan bangsa Liliputan," kata Sekar Ayu Ningrum sambil menyerahkan kitab itu.
Kemudian, raja Kerajaan Liliputan memberi kesempatan pada Sekar Ayu Ningrum dan Lintang Rahina untuk mempelajari kitab yang berisi tehnik penyerapan energi dan pengendalian energi menggunakan cambuk.
Mereka berdua juga disediakan ruangan khusus untuk Sekar Ayu Ningrum mempelajari dan melatih tehnik itu.
Pada hari pertama, Sekar Ayu Ningrum membaca seluruh isi kitab itu dan berusaha untuk bisa memahaminya.
Setelah menghabiskan waktu hingga seharian untuk mengulang ulang membaca hingga tiga kali, Sekar Ayu Ningrum mencapai tingkat pemahaman bahwa tehnik penggunaan cambuk bertangkai lima bisa digunakan untuk menggunakan dan mengendalikan energi dari pohon energi yang telah diberikan oleh Dewi Tara dan sudah berada di dalam tubuhnya. Karena selama ini, Sekar Ayu Ningrum menggunakan energi dari pohon energi dengan mengubahnya menjadi pendaran cahaya.
Pada hari berikutnya, Sekar Ayu Ningrum mencoba semua yang telah dia pelajari dengan menggunakan cambuk bertangkai lima.
Hingga sehari penuh, Sekar Ayu Ningrum, menggunakan cambuk bertangkai lima itu dengan energinya, namun sama seperti halnya orang lain menggunakan senjata cambuk. Hanya tingkat energi Sekar Ayu Ningrum yang sudah sangat tinggi yang membedakannya. Sehingga Sekar Ayu Ningrum merasa, seperti menggunakan senjata yang lain, hanya sebagai perantara mengalirkan energi dari dalam tubuhnya.
Pada menjelang malam, setelah beristirahat, Lintang Rahina mencoba menggunakan cambuk bertangkai lima itu.
Baru sekitar beberapa jurus, Lintang Rahina merasakan ada yang berbicara di dalam pikirannya.
"Den Lintang, energi ruh cambuk itu harus disatukan dahulu dengan energi Den Sekar. Barulah energi yang didapat dari Dewi Tara !"
"Begitu ya. Terimakasih Ki Sardulo !" jawab Lintang dalam pikirannya.
Segera Lintang Rahina menyampaikan hal itu pada Sekar Ayu Ningrum istrinya.
"Adik Sekar, coba kau tarik energi ruh senjata cambuk itu dan kau satukan dengan energi milikmu," kata Lintang Rahina pada Sekar Ayu Ningrum istrinya.
"Baik kakang, akan aku coba !" jawab Sekar Ayu Ningrum yang kembali bersemangat lagi, untuk berlatih tehnik penggunaan cambuk.
Kemudian, Sekar Ayu Ningrum berdiri di tengah tengah ruangan. Tangan kanannya memegang gagang cambuk bertangkai lima.
__ADS_1
Perlahan energinya mulai keluar dan menyebar ke seluruh tubuhnya. Sedikit demi sedikit, energinya mulai merembet ke gagang cambuk dan terus merembet hingga ke kelima ujung cambuk.
Sekar Ayu Ningrum terus menambah jumlah aliran energinya yang mengarah ke gagang cambuk.
Beberapa saat kemudian seluruh cambuk teraliri energi Sekar Ayu Ningrum dalam jumlah yang cukup besar.
Terlihat, kelima tangkai cambuk itu mulai bergetar, saat energi dari Sekar Ayu Ningrum mulai berbalik kembali ke arah tubuh Sekar Ayu Ningrum sambil menarik energi dari ruh senjata cambuk itu.
Sesaat kemudian, seluruh tubuh Sekar Ayu Ningrum pun mulai ikut tergetar hebat.
Setelah beberapa waktu, tubuh Sekar Ayu Ningrum terkulai lemas dan jatuh terduduk. Senjata cambuk bertangkai lima itu pun terlepas dari genggaman tangannya.
Lintang Rahina yang melihat istrinya jatuh terduduk, tetap diam saja. Karena tahu, sedang terjadi penyatuan energi di dalam tubuh istrinya.
Beberapa saat kemudian, Sekar Ayu Ningrum berdiri lagi. Kedua tangannya terkembang di samping tubuhnya. Pendaran energi putih transparan menyelimuti seluruh tubuhnya. Kedua bola matanya berubah menjadi putih sepenuhnya.
Bahkan tubuhnya terus melayang ke atas hingga berjarak dua meter dari tanah.
Dalam posisi melayang, Sekar Ayu Ningrum mengacungkan tangan kanannya ke depan agak ke atas dengan posisi telapak tangan seperti menggenggam gagang senjata.
Sinar putih pekat berbentuk senjata cambuk bertangkai lima itu semakin lama semakin terang. Beberapa saat kemudian, dari kelima ujung cambuk itu keluar kilatan kilatan petir. Bahkan kilatan kilatan petir itu mulai keluar dari seluruh permukaan cambuk sinar itu. Semakin lama, kilatan kilatan petir itu mengeluarkan suara yang semakin keras.
Ctar ! Ctar ! Ctar ! Ctar ! Ctar !
Ctataaarrr ! Ctataaarrr !
Suara gemuruh petir itu semakin menggelegar.
Beberapa saat kemudian, Sekar Ayu Ningrum mengangkat tangan kirinya ke arah yang sama. Kemudian, dari genggaman tangan kirinya juga keluar sinar putih pekat dan kemudian juga mengeluarkan petir.
Setelah beberapa waktu, Sekar Ayu Ningrum meningkatkan aliran energinya hingga pada tingkat yang tinggi.
Kemudian, dengan perlahan, Sekar Ayu Ningrum menggeser kedua tangannya hingga mengacung ke atas kiri dan kanan.
Sesaat kemudian, dari kedua telapak tangan Sekar Ayu Ningrum yang sudah terbuka keluar sinar putih pekat lebih banyak lagi, menyebar ke segala arah hingga mengelilingi tubuhnya.
__ADS_1
Sinar putih pekat yang keluar dari kedua tangan Sekar Ayu Ningrum bercabang cabang begitu banyaknya, hingga membentuk pohon energi putih pekat.
Kemudian, tubuh Sekar Ayu Ningrum melesat keluar dari istana Kerajaan Liliputan, melayang tinggi ke arah tengah tengah halaman depan istana.
Dalam posisi melayang, Sekar Ayu Ningrum mengayunkan kedua tangannya ke bawah berkali kali. Dari kedua telapak tangannya meluncur kilatan kilatan putih pekat ke arah tanah berkali kali.
Saat kilatan kilatan putih itu mengenai tanah, membentuk lubang yang sangat luas dan dalam serta menimbulkan suara menggelegar berkali kali.
Blar ! Blar ! Blar ! Blar !
Diantara suara menggelegar itu, Lintang Rahina melesat ke atas hingga melayang di depan Sekar Ayu Ningrum.
"Adik Sekar, coba kau serang aku !" teriak Lintang Rahina yang seluruh tubuhnya sudah terselimuti pendaran sinar putih pekat bercampur butiran sinar kuning keemasan.
Mendengar teriakan Lintang Rahina suaminya, Sekar Ayu Ningrum tersenyum dengan kepala sedikit mendongak.
Kemudian, secepat kilat, Sekar Ayu Ningrum mengayunkan kedua lengannya ke arah Lintang Rahina.
Dari kedua telapak tangannya keluar kilatan putih yang menyambar tubuh Lintang Rahina.
Ctar ! Ctar ! Ctar !
Melihat ada kilatan energi berwarna putih menyambar ke arahnya, Lintang Rahina pun menggerakkan kedua tangannya.
Dari kedua telapak tangan Lintang Rahina, keluar bola sinar putih pekat yang diselimuti butiran sinar kuning keemasan.
Sesaat kemudian, terjadi benturan dua energi tingkat tinggi yang menimbulkan suara yang sangat keras.
Blaaannnggg ! Blaaannnggg ! Blaaannnggg !
Setelah beberapa kali menangkis serangan Sekar Ayu Ningrum, Lintang Rahina pun menyuruh Sekar Ayu Ningrum menghentikan serangannya.
"Adik Sekar ! Sudah cukup, hentikan seranganmu !" teriak Lintang Rahina sambil tersenyum senang, melihat energi dan kemampuan Sekar Ayu Ningrum istrinya, mencapai tingkat yang sama dengannya.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
__ADS_1