
Di puncak gunung Lawu, tempat pertapaan Ki Dipa Menggala, tampak tiga orang kakek tua tengah berbicara serius. Mereka adalah Ki Dipa Menggala, Ki Wangsa Menggala dan Ki Penahun.
Mereka telah pulih sepenuhnya dari luka luka yang mereka dapatkan saat mereka bertiga diserang oleh Arga Manika.
Bahkan mereka bertiga merasa lebih sehat dari hari hari sebelumnya, setelah mendapatkan penyaluran energi dari Lintang Rahina, saat mereka bertiga dibantu diobati oleh Lintang Rahina.
"Ki Wangsa Menggala dan Ki Penahun," kata Ki Dipa Menggala, "Kita harus secepatnya mengadakan pertemuan dengan semua teman teman mantan senopati, mantan anggota prajurit elite dan mantan prajurit prajurit kerajaan Majapahit yang masih hidup. Kita harus mengingatkan lagi kepada mereka semua tentang titah beliau Prabu Brawijaya sebelum bertapa dan moksa."
"Kita harus menyampaikan undangan pada mereka semua Ki Dipa," jawab Ki Wangsa Menggala, "dan juga kepada pendekar pendekar yang dahulu warga kerajaan Majapahit dan selama ini masih setia dengan kerajaan Majapahit."
"Terutama untuk mencegah terlaksananya rencana kelompok Ki Rekso," sahut Ki Penahun.
"Baiklah. Kita berbagi tugas untuk menyampaikan undangan pada semua teman teman," kata Ki Dipa Menggala kembali, "berapa waktu yang diperlukan untuk menemui semua teman teman Ki ?"
"Saya rasa satu bulan cukup Ki," jawab Ki Wangsa Menggala.
"Jadi, pertemuan kita adakan pada purnama yang akan datang," kata Ki Dipa Menggala memberikan keputusan.
Akhirnya mereka bertiga berbagi tugas untuk menemui dan mengundang teman teman lama mereka.
Ki Penahun dalam hatinya meresa lega, karena Ki Dipa Menggala dan Ki Wangsa Menggala akhirnya mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Dan Ki Penahun yakin, dengan undangan atas nama Ki Dipa, kemungkinan besar semuanya akan hadir. Karena Ki Dipa Menggala dan Ki Wangsa Menggala adalah tokoh sentral dan yang paling dihormati oleh semua teman teman mereka.
__ADS_1
Sementara itu, Lintang Rahina yang disertai oleh Galuh Pramusita telah pergi meninggalkan puncak gunung Lawu untuk melakukan perjalanan mencari Sekar Ayu Ningrum.
Mereka berdua pertama tama akan menuju ke tebing 'Batu Cekung' sebagai tujuan pertama, karena menurut informasi dari Galuh Pramusita, kemungkinan besar Arga Manika akan segera menemui gurunya.
Selama dalam perjalanan, Galuh Pramusita cepat akrab dengan Lintang Rahina. Diam diam Galuh Pramusita membandingkan Lintang Rahina dengan Arga Manika.
Untuk wajah, Lintang Rahina dan Arga Manika sama sama tampan. Tubuh sama sama tinggi besar. Tetapi dibanding dengan Arga Manika, bersama Lintang Rahina, Galuh Pramusita merasa tenteram dan diperhatikan.
Selama dalam perjalanan, Lintang Rahina dan Galuh Pramusita banyak bercerita sehingga mereka menjadi semakin akrab. Maka dari itu, tanpa terasa, mereka audah sampai di dekat sebuah hutan.
Karena ditemani oleh Galuh Pramusita sebagai penunjuk jalan, sehingga perjalanan Lintang bisa cepat menemukan hutan tempat tebing 'Batu Cekung' berada, sebagai tempat tinggal Empu Bajang Geni.
Begitu sampai di tepi hutan, Lintang Rahina merasakan aura tidak wajar dari dalam hutan.
"Iya kakang," jawab Galuh Pramusita sambil tersenyum memandang wajah Lintang Rahina.
"Hutan ini penuh dengan hawa sesat," kata Lintang Rahina dalam hati.
Mereka berdua melihat, bagian dalam hutan itu terlihat temaram bahkan cenderung suram. Setiap saat selalu diliputi kabut pekat. Membuat nafas terasa berat jika memasuki hutan itu. Ditambah terdengarnya suara suara aneh yang membuat suasana menjadi semakin menyeramkan.
Sesaat kemudian Lintang Rahina mengeluarkan energinya. Tidak berapa lama, seluruh tubuh Lintang Rahina terlapisi pendaran sinar seperti butiran butiran kecil berwarna kuning keemasan.
__ADS_1
Butiran sinar kuning keemasan itu juga menyelimuti tubuh Galuh Pramusita.
Setelah tubuh mereka berdua terlapisi butiran sinar kuning keemasan, Lintang Rahina menaikkan tingkat energi yang dikeluarkan, sehingga butiran sinar kuning keemasan itu menyebar ke sekeliling mereka hingga radius dua puluh meter.
Setiap bagian hutan yang diselimuti butiran sinar kuning keemasan itu terlihat berubah menjadi terang dan sinar matahari bisa menerobos di sela sela dedaunan.
Lintang Rahina diikuti oleh Galuh Pramusita di belakangnya, masuk ke hutan itu semakin dalam. Menjadikan wilayah hutan bisa diterobos sinar matahari semakin meluas.
Dalam hati, Galuh Pramusita kagum dan setengah tidak percaya. Dia merasakan, suasana hutan itu sangat berbeda dengan saat dia masuk ke hutan untuk menuju ke tebing 'Batu Cekung' bersama Arga Manika.
Dulu, saat bersama Arga Manika, dia merasakan pohon pohon terlihat warnanya sama semua, hitam pekat dan sangat aneh bentuknya. Akar akarnya banyak sekali yang menjulur ke atas. Di sela sela akar akar yang menonjol ke atas saat itu terasa banyak sekali hewan hewan melata dan serangga, seperti ular, kalajengking, lipan, kelabang, kecoa, katak dan lain lain dengan ukuran yang tidak biasa, terlihat besar besar dan semua warnanya dominan hitam. Bahkan di sela sela dedaunan, tampak kelelawar dan burung semuanya hitam. Pepohonan dan hewan hewan itu mengeluarkan suara suara yang sangat aneh dan menakutkan. Saat itu semuanya tampak menjijikkan bagi Galuh Pramusita, sehingga membuat perjalanan menuju tebing 'Batu Cekung' saat itu sangat berat, karena walaupun suasana hutan gelap temaram, tetapi dengan mata pendekarnya, Galuh Pramusita tetap bisa melihatnya. Dan satu hal yang aneh saat itu, Galuh Pramusita tidak pernah merasakan adanya angin yang berhembus sekalipun.
Sedangkan saat sekarang ini, sambil tetap berjalan di belakang Lintang Rahina, Galuh Pramusita merasakan suasana hutan sangat 'hidup'. Terasa sekali adanya kehidupan. Pohon pohon beraneka warna, ada yang berdaun hijau muda, hijau tua, kuning, merah tua dan warna warna yang lainnya. Hewan hewan melata, burung dan serangga sesekali terlihat, dengan ukuran yang biasa dan dengan warna dan bentuk yang enak dipandang. Terkadang memang ada bagian bagian hutan yang gelap, tetapi tidak menakutkan. Dan yang membuat masuk hutan itu menenteramkan, suara suara pepohonan dan hewan hewan sangat enak didengar, seperti orkestra alam. Juga hembusan angin yang datang, yang kadang kadang semilir lembut kadang kadang agak besar hembusannya, membuat terasa segar di pernafasan dan 'menyegarkan' pikiran.
Tanpa terasa oleh Galuh Pramusita, di depan mereka telah menghadang tebing yang sangat panjang dan tinggi, sekitar seratus meter di depan mereka.
"Adik Galuh, itukah tebing 'Batu Cekung" yang adik maksudkan ?" tanya Lintang Rahina yang sukses mengagetkan Galuh Pramusita yang tadinya sibuk memperhatikan kiri kanan mereka selama perjalanan sambil pikirannya melayang membandingkan dengan perjalanannya yang dulu.
"Ehh ... iya kakang Lintang," jawab Galuh Pramusita.
"Di bagian mana, letak 'Batu Cekung' nya ?" tanya Lintang lagi.
"Di bawah tebing yang paling tengah kakang," jawab Galuh Pramusita.
__ADS_1
"Kalau begitu kita ke arah sana saja adik Galuh," kata Lintang Rahina sambil jari telunjuk kanannya menunjuk ke arah bagian tebing yang posisinya persis di tengah tengah bentangan tebing dan yang terlihat paling tinggi.
\_\_\_0\_\_