Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Kembali Mengeluarkan Benang Jiwa


__ADS_3

Dengan kecepatan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Dewi Gayatri, Lintang Rahina menghujani Dewi Gayatri dengan pukulan telapak secara beruntun yang mengenai beberapa bagian tubuh manusia Dewi Gayatri.


Plak ! Plak ! Plak !


Buuuggghhh !


Dheeesss !


Dewi Gayatri sangat terkejut. Walaupun tubuhnya sudah meliuk liuk kesana kemari, masih saja pukulan Lintang Rahina bisa mengenainya. Namun yang membuat dia heran, pukulan pukulan itu tidak sampai menimbulkan luka dalam, hanya luka luar dan lebam lebam.


Hal itu karena Lintang Rahina hanya menggunakan kecepatannya, dan tidak mengisi setiap pukulannya dengan energi.


Kembali Lintang Rahina melakukan serangan dengan sangat cepatnya. Dewi Gayatri yang mencoba memperhatikan arah dan pola serangan, mencoba menghadapi setiap serangan Lintang Rahina dengan sabetan ekornya.


Namun tetap saja tubuhnya terkena beberapa pukulan Lintang Rahina. Bahkan, hempasan ekornya, terpental kembali dengan derasnya setiap berhadapan dengan pukulan Lintang Rahina, walaupun ekornya tidak merasakan sakit sama sekali.


Merasa seolah olah dipermainkan, Dewi Gayatri memutar ekornya dan membuat gerakan sabetan ekor dari samping dengan energi yang sangat besar.


Kemudian tubuh manusianya melayang menghadang arah menghindar Lintang Rahina. Karena dia sudah memperkirakan, gerakan paling aman bagi Lintang Rahina adalah menghindar dengan meloncat ke atas, maka dia menghadang sebelah atas Lintang Rahina.


Namun, apa yang dia perkirakan akan dilakukan Lintang Rahina, tidak terjadi terjadi. Lintang Rahina tidak menghindari sabetan ekor Dewi Gayatri yang menderu meluncur dari arah samping.


Dengan kedua telapak tangannya, Lintang Rahina menahan dan menangkap datangnya ekor yang sangat besar itu.


Braaakkk ! Braaakkk !


Kemudian dengan kedua tangan membentuk gerakan melengkung, dilemparkannya ekor Dewi Gayatri jauh ke belakang hingga melewati tubuh manusianya.


Byuuurrr !


Ekor itu jatuh terhempas kembali ke permukaan air samudra.


Hal tersebut kembali membuat Dewi Gayatri terkejut sekaligus heran. Terkejut karena manusia di depannya itu mampu menahan datangnya hempasan ekornya yang gunung karang pun akan hancur runtuh terkena hempasannya. Namun Dewi Gayatri juga heran, untuk sekian kalinya dia tidak merasakan sakit.


Segera saja Dewi Gayatri memperbaiki kuda kudanya. Dia baru saja berpikir untuk mengeluarkan jurus simpanannya yang sangat jarang dia gunakan. Ketika tiba tiba tubuhnya terasa berat dan kaku untuk digerakkan.


Belum juga mengetahui apa penyebabnya, Dewi Gayatri melihat, Lintang Rahina menarik kedua lengannya ke samping. Kedua telapak tangannya terlihat mengeluarkan pendaran putih pekat yang di dalamnya terdapat butiran butiran sinar kuning keemasan.


Butiran sinar kuning keemasan di telapak kedua telapak tangan Lintang Rahina dengan cepat merambat menuju ke titik titik tertentu di seluruh tubuh Dewi Gayatri.


Begitu butiran sinar kuning keemasan itu mencapai tubuhnya, barulah Dewi Gayatri terkejut.

__ADS_1


"Benang jiwa !" jerit Dewi Gayatri dalam hati.


Barulah Dewi Gayatri melihat ke seluruh tubuhnya. Sesuatu yang membuat tubuhnya tidak bisa digerakkan adalah karena jeratan benang jiwa yang berwarna merah dan sangat tipis.


Begitu tipisnya, sehingga Dewi Gayatri sejak awal tidak bisa merasakan kalau dirinya terjerat benang jiwa.


Dewi Gayatri mencoba bergerak untuk melepaskan diri dari jeratan benang jiwa Lintang Rahina. Namun karena sudah menjerat seluruh tubuhnya mulai dari kedua pergelangan tangan, kedua bahu, punggungnya, pinggangnya bahkan badan dan ekor ularnya, membuat Dewi Gayatri tidak bisa melepaskan diri.


"Arrrccchhh !!! ..... Anak manusia, apa tujuanmu melakukan ini semua ?" tanya Dewi Gayatri.


"Dewi Gayatri, maaf, bukan bermaksud untuk mempermalukanmu. Namun, aku hanya ingin pertarungan ini selesai secepatnya. Untuk sementara aku akan membawamu, sampai dengan anak manusia yang kau bawa masuk ke dalam kerajaan gaib, dikembalikan kepada kami," jawab Lintang Rahina.


Mendengar jawaban Lintang Rahina, Dewi Gayatri menarik semua energinya dan membiarkan seluruh tubuhnya terlilit oleh benang jiwa dan diselimuti oleh butiran sinar kuning keemasan.


Padahal tadi Dewi Gayatri sudah bersiap. Jika jawaban Lintang Rahina bertujuan melecehkannya, dia akan nekat mengeluarkan jurus simpanannya, yang dia yakin mampu dia pakai untuk melepaskan diri dari jeratan benang jiwa. Walaupun mungkin berpotensi dirinya mendapatkan luka parah.


Sementara itu, melihat lawannya tidak memberikan perlawanan, Lintang Rahina segera melakukan gerakan gerakan dengan ke dua tangannya dan membentuk pola pola tertentu.


Kemudian, benang jiwa yang terbalut oleh butiran sinar kuning keemasan itu semakin menyala terang hingga memunculkan kerlipan kuning keemasan.


Pendaran butiran sinar kuning keemasan yang menyelimuti tubuh Dewi Gayatri perlahan menyusut menjadi kecil, hingga akhirnya menjadi hanya sebesar kepalan tangan manusia dewasa dan mengeluarkan sinar kuning keemasan.


Kemudian, dengan gerakan yang sangat cepat, keduanya membuat gerakan seperti orang menarik. Dengan cepat pendaran sinar kuning keemasan sebesar kepalan tangan itu melesat ke arah lengan kirinya dan langsung lenyap masuk ke dalam lengannya.


Sesaat kemudian, tubuh Lintang Rahina melesat ke arah pantai dan kembali ke tempat tinggal Ki Ageng Arisboyo di tepi pantai Parangtritis.


Sesampai di tempat tinggalnya, sudah menunggu Sekar Ayu Ningrum dan pasangan suami istri Sindunata dan Puruhita.


Mereka semua baru saja akan saling menanyakan kabar masing masing, saat tiba tiba mereka merasakan datangnya getaran energi yang sangat kuat mendekat ke arah mereka.


Sesaat kemudian, telah berdiri di depan mereka, Ki Ageng Arisboyo. Terlihat wajah Ki Ageng Arisboyo sangat serius, yang membuat mereka sejenak merasakan tekanan.


"Kakek, ... " kata Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum bersamaan.


Sejenak Ki Ageng Arisboyo menatap Sekar Ayu Ningrum, Lintang Rahina dan pasangan suami istri Sindunata dan Puruhita, satu persatu.


Kemudian, setelah menarik nafas panjang dua kali, terlihat perubahan pada raut wajah Ki Ageng Arisboyo.


"Ngger cucuku semuanya, bagaimana ini bisa terjadi ? Tolong ceritakan pada kakek," kata Ki Ageng Arisboyo.


Akhirnya, Sekar Ayu Ningrum menceritakan semua yang telah terjadi di pesisir Parangtritis, termasuk pertarungannya dengan Tuan Muda Kim, salah seorang pendekar dari Daratan Besar.

__ADS_1


Namun Sekar Ayu Ningrum tidak menceritakan pertarungannya Lintang Rahina melawan Dewi Gayatri.


Untungnya juga, Ki Ageng Arisboyo tidak bisa merasakan keberadaan Dewi Gayatri di dalam tubuh Lintang Rahina, karena memang benang jiwa yang dimiliki oleh Lintang Rahina bisa menutupi getaran energi dari apapun yang dia masukkan ke dalam lengannya.


----- * -----


Setelah Ki Penahun dan Ki Pradah pulang kembali dari menemui KinAgeng Arisboyo, terjadi perubahan situasi di dalam perjuangan pasukan kerajaan Mataram.


Saat Ki Penahun dan Ki Pradah bertemu dengan Ki Ageng Arisboyo, kondisi para prajurit masih biasa biasa saja peperangan masih berjalan lancar.


Namun, sepeninggal Ki Penahun dan Ki Pradah, terjadi perubahan yang luar biasa yang menyebabkan pasukan Kerajaan Mataram mengalami kekalahan pada peperangan di beberapa tempat.


Kondisi tersebut membuat Kanjeng Panembahan Senopati murka dan memerintahkan untuk menyelidiki penyebab kemunduran kemampuan tempur para prajuritnya.


Setelah diadakan penyelidikan singkat, diketemukan dua hal yang diperkirakan menjadikan sebab kekalahan para prajurit kerajaan Mataram. Yang pertama adalah dicurigai adanya pengkhianatan dan yang ke dua adalah diperkirakan terjadinya keterlambatan ataupun hambatan bantuan kekuatan dari Kerajaan Gaib.


Pada kesempatan itu, Kanjeng Panembahan Senopati meminta semuanya diusut secara tuntas, dan siapapun yang menjadi penyebabnya, Kanjeng Panembahan Senopati sendiri yang akan memberikan hukumannya.


Untuk keterlambatan bantuan kekuatan dari Kerajaan Gaib, Kanjeng Panembahan Senopati meminta pada Ki Ageng Arisboyo untuk mengusutnya dan segera melaporkan dan membawa penyebabnya menghadap kepada Kanjeng Panembahan Senopati, untuk diberikan hukuman.


Mendengar titah itu, segera saja Ki Ageng Arisboyo melesat pergi ke arah Pesisir Parangtritis untuk melakukan penyelidikan.


Setelah sampai di Parangtritis, yang membuat hati Ki Ageng Arisboyo sedih adalah, karena hal ini melibatkan para cucunya. Sehingga membuat Ki Ageng Arisboyo agak kebingungan untuk mengambil jalan penyelesaian.


"Eee ... kakek, bagaimana kalau kita masuk ke dalam Kerajaan Gaib dan meminta kepada ratunya untuk mengembalikan anak manusia yang mereka ambil ?" kata Lintang Rahina mencoba memberikan usulan.


"Bagaimana kalau mereka tidak mau memberikan anak itu, ngger ?" tanya Ki Ageng Arisboyo.


"Mereka harus mau mengembalikan anak manusia itu, katena akan kita tukar dengan salah satu senopati mereka," jawab Lintang Rahina.


"Maksudnya ... " tanya Ki Ageng Arisboyo lagi.


"Benar, kakek. Kakang Lintang sudah berhasil menangkapnya, saat dalam pertarungan tadi," sahut Sekar Ayu Ningrum.


Mendengar perkataan Sekar Ayu Ningrum, Ki Ageng Arisboyo menatap Lintang Rahina dengan tajam.


Lintang Rahina pun langsung mengangguk membenarkan apa yang disampaikan oleh Sekar Ayu Ningrum, sambil memperlihatkan lengan kirinya.


"Benang jiwa ya ?" tanya Ki Ageng Arisboyo, "Ayo kita pergi ke Kerajaan Gaib. Kita paksa mereka melakukan pertukaran.


Saat itu juga, Ki Ageng Arisboyo disertai oleh Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum serta sepasang suami istri Sindunata dan Puruhita pergi memasuki Kerajaan Gaib melalui pintu gerbang yang berada di lepas pantai Parangtritis.

__ADS_1


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2