
Disaat Sekar Ayu Ningrum berlatih mengeluarkan energinya itulah, Ki Sardulo dari tempat yang sangat jauh bisa merasakan keberadaan energi Nyi Wilis, dan dirasakan oleh Ki Sardulo, energi Nyi Wilis seolah meningkat menjadi lebih besar.
Sementara malam itu, Ki Sardulo dengan Lintang Rahina yang berada di punggungnya terbang melesat sangat cepat.
Hingga menjelang pagi, mereka berdua sudah semakin dekat dengan keberadaan energi yang bisa dirasakan oleh Ki Sardulo.
"Sepertinya energi Nyi Wilis yang kurasakan mengarah ke tempat Ni Sriti," kata Ki Sardulo pelan.
"Benar Ki, ini arah menuju tempat Ni Sriti," jawab Lintang Rahina, "Ada hubungan apakah semua ini dengan Ni Sriti ?"
Tepat saat matahari terbit, Lintang Rahina dan Ki Sardulo sampai di tepi hutan menuju tempat tinggal Ni Sriti.
Mereka berdua berhenti sejenak untuk beristirahat. Bukan karena kelelahan, tetapi mereka ingin menikmati perubahan gelapnya malam ke terangnya pagi saat matahari mulai memunculkan diri, di tepi hutan itu.
Memang, pagi hari, sejak matahari mulai mengintip di ufuk timur sampai dengan matahari terlihat bulat sempurna tetapi sinarnya masih terasa hangat dan belum menyilaukan, adalah salah satu pemandangan yang paling indah. Di manapun kita melihatnya akan terlihat indah. Entah di puncak gunung ataupun di pantai. Bahkan saat kita di jalan pun atau dari jendela di lantai atas, kalau kita bisa menyaksikan terbitnya matahari sejak dari muncul sinarnya sampai dengan matahari terlihat bulat utuh, kita disajikan pemandangan alam yang sangat luar biasa.
(Kembali ke Lintang Rahina.)
Sekitar satu jam kemudian, mereka berdua kembali melanjutkan perjalanan menuju ke tempat Ni Sriti.
Begitu sampai di area bekas candi pemujaan yang pohon pohonnya jarang dan seperti tidak berdaun, Lintang Rahina merasakan hawa yang berbeda di tempat itu dengan saat Lintang Rahina datang ke tempat itu dulu.
Sekarang sudah tidak tercium bau dupa. Bahkan pohon pohon di sekitarnya menunjukkan adanya kehidupan. Batang batang pohon tampak berwarna coklat tidak lagi abu abu seperti dulu. Di ujung ujungnya tampak kuncup kuncup daun bersemi.
__ADS_1
Di pelataran bekas candi, terlihat tiga orang perempuan sedang berlatih silat dengan gerakan mereka masing masing. Mereka adalah Ni Sriti, Sekar Ayu Ningrum dan Galuh Pramusita.
Begitu melihat kedatangan Lintang Rahina bersama dengan Ki Sardulo dalam wujud siluman harimau, ketiga orang itu segera menghentikan gerakannya.
Ni Sriti yang sudah merasakan kehadiran Lintang Rahina sejak Lintang Rahina tiba di tepi hutan, langsung mendekati Lintang Rahina.
"Selamat datang di tempat tinggalku," kata Ni Sriti, "Ayo masuk. Aku ceritakan dulu, baru kalau kamu tidak terima, terserah."
Ni Sriti kemudian masuk ke ruangan candi yang difungsikan sebagai ruang tamu.
Sementara Lintang Rahina tidak langsung mengikuti Ni Sriti.
Lintang Rahina memandang ke Sekar Ayu Ningrum. Kemudian berganti memandang Galuh Pramusita.
Kedua gadis cantik itu balas memandang Lintang Rahina. Sekar Ayu Ningrum dalam hatinya ingin berlari mendekati Lintang Rahina, tetapi dia menahan diri, karena disitu ada Galuh Pramusita.
Lintang Rahina kemudian melangkah masuk ke dalam ruang tamu dimana Ni Sriti sudah menunggu.
Sesaat Sekar Ayu Ningrum dan Galuh Pramusita terdiam mematung, saat Lintang Rahina melewati mereka berdua dan masuk ke dalam.
Kemudian mereka berdua tersadar dan segera ikut masuk ke dalam.
Setelah mereka berempat duduk mengelilingi meja, Ni Sriti mulai bercerita, sejak dia mendapatkan mimpi berkali kali sampai kedatangannya ke tempat pertemuan untuk menemui Lintang Rahina. Tetapi Ni Sriti tidak punya kesempatan untuk menemui Lintang Rahina.
Akhirnya saat secara tidak sengaja bertemu dua gadis cantik yang sedang bercakap cakap, Ni Sriti memberanikan diri untuk membawannya ke tempat tinggalnya dengan harapan agar Lintang Rahina menyusul ke tempat tinggalnya.
__ADS_1
Ni Sriti juga menawarkan pada Lintang Rahina untuk mengajarkan cara menggabungkan energi miliknya dengan energi siluman taklukannya.
Ni Sriti juga mengatakan kalau tehnik ini suatu saat akan berguna untuk menghadapi lawan yang juga memakai siluman atau bahkan melawan siluman.
Kemudian Ni Sriti meminta Sekar Ayu Ningrum untuk memperagakan tehnik yang sudah dia pelajari dan dia kuasai.
Lintang Rahina melihat bahwasanya tehnik yang diperlihatkan oleh Sekar Ayu Ningrum lebih efektif dan membuat energi pemiliknya menjadi berlipat.
Akhirnya Lintang Rahina bersedia untuk belajar tehnik penggabungan energi yang akan diajarkan oleh Ni Sriti. Sehingga Lintang Rahina tinggal beberapa hari di tempat tinggal Ni Sriti seperti halnya yang sudah dilakukan oleh Sekar Ayu Ningrum dan Galuh Pramusita.
Sedangkan Galuh Pramusita diajari oleh Ni Sriti cara mengendalikan energi api, karena ilmu dan energi yang dimiliki Galuh Pramusita sudah berunsur api, hasil dilatih oleh Empu Bajang Geni dalam mengendalikan iblis api.
Oleh Ni Sriti, dirubah, tidak mengambil energi dari iblis api tetapi mengambil energi api atau energi panas dari sumber sumber api atau sumber panas yang dari alam. Bisa dari api itu sendiri, dari panas matahari ataupun dari panas bumi.
Latihan tehnik penggabungan energi yang dilakukan oleh Lintang Rahina berjalan lebih lama dari saat Sekar Ayu Ningrum mempelajarinya. Hal ini terjadi karena di dalam tubuh Lintang Rahina terjadi penggabungan tiga energi. Energi miliknya, energi yang diperoleh dari transfer Prabu Brawijaya dan energi dari siluman harimau Ki Sardulo. Sehingga energi yang dimiliki Lintang Rahina sangat besar dan sangat luar biasa.
Setelah lima hari mempelajari tehnik tehniknya, pada suatu pagi Lintang Rahina mencoba mempraktekkan tehnik yang baru dipelajarinya.
Persis seperti yang dilakukan oleh Sekar Ayu Ningrum kemaren dulu, Lintang Rahina berdiri tegak agak santai dengan kedua telapak tangan tertelangkup di depan dada. Seluruh tubuhnya dialiri dengan energi tipis yang berpendar kuning keemasan. Semakin lama lapisan energi di seluruh tubuh Lintan Rahina semakin bertambah tebal dan luas disertai dengan terangkatnya tubuh Lintang Rahina setinggi sekitar tiga meter.
Setelah pendaran sinar kuning keemasan yang menyelimuti tubuhnya mencapai diameter lima meteran, Lintang Rahina mendorongkan kedua telapak tangannya ke depan dan kemudian ditarik ke samping kiri kanan. Dalam sepersekian detik, pendaran sinar kuning keemasan itu melebar dan meluas dan membentuk siluet transparan wujud harimau berwarna kuning keemasan setinggi sepuluh meter.
Kemudian Lintang Rahina mencoba bergerak dengan jurus jurus silat miliknya. Hasilnya, walupun Lintang Rahina hanya mengeluarkan sedikit energinya dalam setiap gerakan serangannya, tetapi daya serang yang ditimbulkan sangat luar biasa. Sehingga Lintang Rahina segera menghentikan gerakan silatnya karena khawatir menimbulkan kerusakan di tempat itu.
Ni Sriti merasa lega setelah ketiga anak muda itu berhasil menguasai tehnik tehnik yang dia ajarkan, terutama pada Lintang Rahina.
__ADS_1
Seperti merasa ada sesuatu yang akan terjadi, Ni Sriti menyuruh ketiganya untuk segera keluar dari hutan tempat tinggalnya.
Tetapi, sebelumnya, Ni Sriti mengingatkan kembali pada Lintang Rahina tentang mimpi mimpinya. Ni Sriti berpesan pada Lintang Rahina untuk tidak lengah dan waspada dengan tanda tanda sekecil apapun.