Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Kei Sama, Penguasa Pesisir Selatan Sumbawa


__ADS_3

Sekar Ayu Ningrum bergerak untuk memapaki serangan perempuan yang dipanggil Kei tadi.


Pedangnya bergerak menangkis datangnya tongkat Kei yang mengarah ke dada.


Traaanggg !!!


Blarrr !!!


Terdengar suara ledakan saat telapak tangan kiri mereka berdua bertemu saat mslakukan serangan energi.


Mereka berdua sama sama terdorong ke belakang.


"Bagus gadis muda, mari kita lanjutkan !" kata Kei sambil langsung kembali menyerang.


Sekar Ayu Ningrum pun meladeni setiap serangan dari Kei. Saling serang dan saling bertukar jurus pun tak terelakkan lagi.


--- o ---


Perempuan paruh baya yang menjadi lawan dari Sekar Ayu Ningrum itu namanya Kei Sama. Dia tinggal di pesisir selatan Pulau Sumbawa. Tetapi karena kesaktiannya, dia menguasai pesisir selatan Pulau Sumbawa dan pesisir selatan pulau pulau di sebelah timurnya.


Sedangkan laki laki tinggi kurus yang dipanggil Reo tadi adalah sahabatnya dan teman melanglang di dunia persilatan. Nama lengkapnya adalah Reo Karai. Dia menguasai mulai dari seluruh kaki gunung Rinjani hingga ke puncak.


Mereka berdua sulit untuk dikatakan sebagai pendekar golongan putih, karena mereka juga melakukan pemaksaan selama berkaitan dengan kepentingannya. Tetapi juga bukan pendekar golongan hitam. Karena tidak pernah melakukan kejahatan dan mereka berdua juga sangat tidak suka pada orang orang dunia persilatan yang melakukan kejahatan. Mereka berdua cenderung tidak peduli. Mereka hanya menaruh perhatian pada urusan merska dan hal hal yang membuat mereka tertarik.


Mereka berdua sengaja menghadang perjalanan Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum karena mereka mendengar kabar akan datangnya seseorang dari Jawa Dwipa yang membawa senjata pusaka.


--- o ---


Lintang Rahina sejenak memperhatikan jalannya pertarungan Sekar Ayu Ningrum melawan Kei Sama. Terlihat Sekar Ayu Ningrum bisa mengimbangi lawannya baik dalam hal kecepatan, tingkat energi dan kematangan ilmu silatnya.


Tiba tiba Lintang Rahina mendengar suara dawai di petik.


Ting !!!


Disusul datangnya serangan energi melesat di udara mengarah ke dirinya. Berbentuk transparan dan terlihat sangat tajam.

__ADS_1


Srettt !!!


Lintang Rahina menghidar dengan sedikit menggeser kakinya ke kiri, sehingga serangan energi itu mengenai rerumputan di samping kanan Lintang Rahina.


"Anak muda, apakah kamu ingin bergabung dengan mereka ? Atau kita bermain sendiri ?" kata Reo Karai sambil melesat ke arah Lintang Rahina sambil kembali memetik alat musiknya beberapa kali.


Tring !!! Ting ! Ting ! Ting !


Lintang Rahina menghindar dengan melompat ke samping kiri sambil telapak tangan kanannya melakukan serangan energi untuk menangkis serangan Reo Karai.


Blar ! Blar ! Blar !


Tiskkk !!!


Lintang Rahina terkejut, ada satu serangan lawan yang berhasil mengenai ujung bajunya hingga berlubang.


Melihat hal itu, Lintang Rahina mencabut pedangnya dan meningkatkan aliran energi ke seluruh tubuhnya. Seluruh tubuh dan psdangnya diselimuti pendaran sinar kuning keemasan.


Reo Karai yang penasaran serangannya tidak mengenai sasaran dan hanya satu yang mengenai ujung baju, tanpa berkata kata lagi, segera melesat ke arah Lintang Rahina sambil jari jari tangan kanannya beberapa kali memetik dawai alat musik yang dia pegang. Setiap terdengar suara dentingan dawai, tampak melesat dari dawai dawainya, perubahan energi suara yang transparan dan besarnya sama dengan dawainya.


Lintang Rahina yang sudah memperkirakan betapa berbahayanya serangan dengan tehnik perubahan energi suara, segera melenting memapaki datangnya serangan Reo Karai. Dari ujung pedangnya keluar beberapa pendaran energi berbentuk ujung pedang berwarna kuning keemasan. Pendaran energi kuning keemasan itu beberapa kali berbenturan dengan serangan dengan perubahan energi suara dari Rwo Karai. Sehingga menimbulkan seperti suara letusan beberapa kali. Ada juga mengarah ke tubuh dan senjata Reo Karai. Yang kemudian oleh Lintang Rahina disusul dengan serangan jurus pedangnya.


Blarrr !!!


Timbul ledakan yang sangat keras saat pedang Lintang Rahina bertemu dengan bagian bawah alat musik yang juga senjata andalan Reo Karai.


Dalam benturan itu, Reo Karai terdorong mundur hingga lima langkah. Dia terkejut kedua tangannya bergetar hebat dan terasa kebas.


"Anak muda ini energinya sangat tinggi seperti berita yang tersebar," kata Reo Karai dalam hati.


Sementara itu, Lintang Rahina yang tidak bergeming dalam benturan senjata tadi akhirnya bisa menyimpulkan.


"Betul dugaanku. Dia memang kuat dalam serangan jarak jauh, seperti halnya para pemilik energi perubahan suara. Tapi dia tidak terlalu kuat dalam pertarungan jarak dekat," kata Lintang Rahina dalam hati menyimpulkan pengamatannya.


"Dahului menyerang, buat dia tidak sempat memainkan alat musiknya," bisik Lintang Rahina sambil melesat ke arah Reo Karai. Pedangnya digerakkan beberapa kali. Dari ujung pedangnya muncul beberapa pendaran energi kuning keemasan berbentuk ujung pedang.

__ADS_1


Reo Karai hanya sempat memetik dawainya satu kali saat serangan energi Lintang Rahina sudah dekat.


Akhirnya Reo Karai meloncat kesana kemari menghindari setiap serangan Lintang Rahina.


--- o ---


Sementara itu, pertarungan Sekar Ayu Ningrum melawan Kei Sama semakin seru. Kei Sama sudah menggunakan kedua senjatanya. Tongkat dengan ujung logam di tangan kanan sedangkan tangan kirinya memegang keranjang bambu.


Sedangkan Sekar Ayu Ningrum kembali meningkatkan aliran energinya. Bilah pedangnya berubah menjadi pendaran sinar putih pekat diselimuti pendaran sinar putih tipis, hingga seolah pedangnya seperti mengeluarkan kabut.


Kei Sama kembali melakukan serangan. Tubuhnya melenting ke atas dan kemudian melesat ke arah Sekar Ayu Ningrum.


Sekar Ayu Ningrum yang sudah bersiap, memapakinya dengan menggerakkan pedangnya beberapa kali sambil bergerak cepat ke arah datangnya Kei Sama. Beberapa pendaran energi berwarna putih pekat berbentuk ujung pedang segera mesat ke arah tubuh Kei Sama. Disusul dengan serangan pedangnya yang mengarah ke dada dan bahu Kei Sama.


Sebagian pendaran energi itu ditangkis dengan tongkat berujung logam, beberapa kali ada yang dinetralkan dengan ditangkap menggunakan mulut keranjang di tangan kiri Kei Sama yang menimbulkan suara seperti letusan.


Ting ! Ting ! Tar tar tar !!!


Saat Kei Sama masih sibuk menghadapi datangnya pendaran energi, ujung pedang Sekar Ayu Ningrum sudah dekat dan mengancam dadanya.


Karena sudah tidak memungkinkan menghindar, Kei Sama memilih untuk menangkis ujung pedang itu dengan tongkat dan keranjang yang dialiri energi, disilangkan di depan dadanya.


Timbul ledakan yang sangat keras saat ujung pedang Sekar Ayu Ningrum tertahan oleh tongkat dan keranjang Kei Sama.


Blaaarrr !!!


Begitu kerasnya benturan senjata, hingga membuat kedua senjata Kei Sama terdorong ke kiri dan ke kanan.


Tetapi Sekar Ayu Ningrum sudah menyiapkan serangan berikutnya. Telapak tangan kirinya yang terbuka dan menyala putih pekat karena penuh dengan aliran energi mendarat tepat di dada Kei Sama.


Baaammm !!!


Tubuh Kei Sama terhempas ke belakang dan jatuh dengan posisi setengah berdiri dengan kaki kirinya bertumpu lutut.


Tampak darah mengalir di medua ujung bibirnya. Mukanya agak memerah karena aliran energinya yang sedikit kacau. Nafasnya berat. Telapak tangan kirinya memegangi dadanya sehingga memperlihatkan keranjang panjangnya yang sudah terkoyak dan berlubang di tengahnya.

__ADS_1


"Gadis dari tanah Jawa ini bukan hanya gerakannya yang sangat cepat, tetapi ternyata tadi dia masih menyembunyikan energinya yang juga sangat besar," kata Kei Sama dalam hati sambil mengatur pernafasannya.


___ 0 ___


__ADS_2