
Saat tinggal berjarak lima depa dari tempat Lintang Rahina melayang, ombak setinggi dua kali tinggi pohon kelapa itu tiba tiba berhenti bergerak seperti tertahan oleh sesuatu.
Hal itu terjadi saat Lintang Rahina yang melihat datangnya ombak, segera menggerakkan kedua telapak tangannya ke depan sambil meningkatkan aliran energi ke kedua tangannya. Dari kedua telapak tangan itu keluar pendaran sinar kuning keemasan yang langsung menyebar ke depan dan kemudian menahan datangnya serangan ombak itu.
Keluarnya pendaran sinar kuning keemasan itu semakin lama semakin bertambah tebal seperti tidak tidak ada habisnya. Hingga kemudian ombak itu terdorong mundur dan kemudian jatuh kembali ke lautan.
Melihat serangannya kembali tidak berhasil, Ugra Asipatra melesat ke arah Lintang Rahina, sambil melayangkan serangan bertubi tubi.
Lintang Rahina menghidari setiap serangan Ugra Asipatra dengan berkelit ke kanan dan ke kiri. Tetapi, dengan mengandalkan kecepatannya, Ugra Asipatra terus saja memberondong Lintang Rahina dengan serangan tendangan ataupun pukulan.
Hingga pada satu kesempatan, tendangan Ugra Asipatra sudah sangat dekat dengan dada Lintang Rahina.
Dengan menambahkan aliran energi ke kedua tangannya, Lintang Rahina menangkis serangan tendangan dari Ugra Asipatra.
Bammm !!!
Terjadi ledakan yang kuat di atas laut, saat tendangan Ugra Asipatra ditangkis Lintang Rahina dengan kedua tangan.
Lintang Rahina melayang mundur beberapa depa, sedangkan Ugra Asipatra meluncur turun dan masuk ke dalam laut.
Byurrr !!!
Setelah beberapa saat, tiba tiba di sekeliling tempat Lintang Rahina melayang, air naik melesat membentuk tembok mengelilingi Lintang Rahina. Dengan cepat, ujung ombak yang mengelilingi Lintang Rahina saling mendekat, dan sesaat kemudian menjadi kubah yang sangat besar dengan Lintang Rahina di melayang di tengah tengahnya. Anehnya, walau terbuat dari air, kubah itu di bagian dalamnya mengeluarkan kilatan listrik dari segala penjuru.
Tanpa diduga, kubah dari ombak air laut itu dengan cepat merosot ke bawah dan dalam waktu singkat lenyap tenggelam seperti ditelan lautan dengan Lintang Rahina di dalamnya.
Melihat hal itu, Sekar Ayu Ningrum menjadi panik dan kemudian memfokuskan penglihatannya pada permukaan air laut.
Merasa tidak bisa melihat apa apa, Sekar Ayu Ningrum melesat agak tinggi lagi untuk mencari titik pandang yang baik.
Tetapi, Sekar Ayu Ningrum tetap tidak bisa melihat apa apa. Akhirnya Sekar Ayu Ningrum berputar putar di sekitar lenyapnya kubah air dengan perasaan cemas.
__ADS_1
Tiba tiba Sekar Ayu Ningrum melihat gelembung gelembung udara kecil kecil di tempat lenyapnya kubah air tadi, muncul ke permukaan. Tetapi Sekar Ayu Ningrum juga bingung. Mau menyerang ke arah munculnya gelembung gelembung udara, takut serangannya mengenai Lintang Rahina.
Kemudian Sekar Ayu Ningrum kembali melesat ke atas, dengan memusatkan penglihatannya pada gelembung gelembung udara yang bermunculan dari dalam lautan.
Setelah sekitar sepuluh tarikan nafas, tiba tiba terjadi ledakan di dalam lautan, tepatnya dari arah tempat lenyapnya kubah air tadi.
Bummm !!!
Permukaan air laut tempat terjadinya ledakan seperti ditarik ke bawah. Beberapa saat kemudian, permukaan air laut yang tadinya menurun seperti ditarik, tiba tiba bergerak ke atas.
Air yang bergerak ke atas seperti air terjun terbalik itu mengeluarkan kilatan listrik ke segala penjuru.
Bersamaan dengan itu, terlihat sesosok tubuh yang melesat keluar dari air laut yang bergerak ke atas. Sosok itu seluruh tubuhnya diselimuti pendaran sinar kuning keemasan yang cukup tebal dan pekat sehingga sosok tubuh di dalamnya hanya terlihat samar samar.
Tepat saat permukaan air laut yang bergerak ke atas itu berhenti, sosok tersebut juga berhenti melesat dan membalikkan badannya, kemudian menggerakkan kedua tangannya ke arah air laut yang mulai meluncur kembali ke bawah.
Dari kedua telapak tangan sosok itu, keluar sinar kuning keemasan yang melesat cepat ke arah air laut yang meluncur ke bawah.
Terjadi ledakan saat dua sinar kuning keemasan mengenai permukaan air yang tadi bergerak ke atas. Ledakan itu mengakibatkan permukaan air di bawahnya seperti tersibak dan menimbulkan gelombang air laut ke segala arah setinggi pohon kelapa.
Kemudian, sosok itu kembali melesat masuk ke dalam air laut. Hanya dalam tiga tarikan nafas, sosok yang seluruh tubuhnya berselimut sinar kuning keemasan, sudah keluar lagi dari dalam laut, melesat ke atas dengan telapak tangan kiri mendorong sosok lain melesat mundur dengan tubuh melengkung, tepat di bagian perutnya.
Setelah sosok itu berhenti, terlihat dalam beberapa saat menunggu. Begitu melihat sosok yang satunya sudah tidak bergerak lagi, sosok yang tubuhnya penuh dengan pendaran sinar kuning keemasan berkata, "Ki Ugra Asipatra, hidupmu kau habiskan di lautan. Baiklah akan ku kubur juga jasadmu di dalam lautan !"
Kemudian, kedua tangannya mengeluarkan lagi pendaran sinar kuning keemasan dan diarahkan ke tubuh Ugra Asipatra yang sudah tewas. Sesaat kemudian, jasad Ugra Asipatra terbungkus pendaran sinar kuning keemasan yang lebih pekat.
Setelah dirasa cukup, sosok berselimut sinar kuning keemasan menghentikan gerakannya.
Terlihat, jasad Ugra Asipatra yang telah terbungkus pendaran sinar kuning keemasan, perlahan melayang ke bawah dan begitu sampai di permukaan air laut langsung tenggelam.
Beberapa saat kemudian terlihat, sosok itu adalah Lintang Rahina, setelah semua pendaran sinar kuning keemasan di seluruh tubuhnya lenyap.
__ADS_1
Belum juga Lintang Rahina membalikkan badan, tiba tiba Sekar Ayu Ningrum sudah menubruknya dari samping.
"Kakang, kau sudah membuatku sangat khawatir," kata Sekar Ayu Ningrum.
Lintang Rahina hanya tersenyum sambil tangan kanannya mengelus kepala Sekar Ayu Ningrum.
"Dia sudah tewas. Ayo kita melanjutkan perjalanan kita," kata Lintang Rahina sambil kemudian menggandeng tangan Sekar Ayu Ningrum.
Kemudian mereka melesat cepat ke arah timur.
--- 0 ---
Saat Lintang Rahina tiba tiba dikepung oleh dinding air yang kemudian dengan cepat membentuk kubah, Lintang Rahina memilih ikut masuk ke dalam laut, setelah sebelumnya melapisi seluruh tubuhnya dengan energi tenaga dalamnya yang mengeluarkan pendaran sinar kuning keemasan. Untuk sementara dia menghindari bentrok dengan dinding kubah.
Dengan cepat kubah air yang di dalamnya ada Lintang Rahina semakin ke dalam hingga akhirnya hampir mencapai dasar lautan.
Kemudian Lintang Rahina menyebarkan pandangannya sambil mencari getaran energi milik Ugra Asipatra.
Setelah beberapa saat, Lintang Rahina dapat merasakan getaran energi milik Ugra Asipatra.
Ternyata Ugra Asipatra berdiri di dasar laut dengan telapak tangan kirinya memegang kepala belut air raksasa dan tangan kanannya memegang dinding kubah air.
Lintang Rahina sudah menduga, Ugra Asipatra mengambil energi dari dalam laut, yaitu dari energi listrik belut laut raksasa yang ditaklukkannya. Belut dengan kepala sebesar kerbau dewasa dan panjang dua kali pohon kelapa itu memiliki energi listrik yang seperti tidak terukur besarnya.
Kemudian Lintang Rahina menggerakkan tangannya berputar. lambat laun, air laut di dalam kubah air ikut berputar semakin cepat hingga semua yang berada di dasar laut ikut terangkat dan berputar, sehingga menutupi pandangan Ugra Asipatra.
Saat di dalam kubah menjadi gelap, Lintang Rahina menghantam dasar laut yang dekat dengan tempat berdirinya Ugra Asipatra hingga membentuk lobang ke arah luar kubah.
Dengan cepat Lintang Rahina keluar dari kubah air dan segera mendorong Ugra Asipatra dengan pukulan tangan kanannya yang membuat Ugra terhempas dan pegangannya pada kepala belut laut terlepas.
\_\_\_◇\_\_\_
__ADS_1