Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Ki Jagad Anila dan Ki Jagad Dahana


__ADS_3

Pada hari yang sudah ditentukan dan dipilih, akhirnya Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum melangsungkan pernikahan dan mengadakan pesta walaupun dengan sangat sederhana, sekedar untuk menjamu para warga kampung sekitar tempat tinggal Ki Ageng Arisboyo.


Pernikahan itu terpaksa tidak dihadiri oleh teman teman kakek mereka ataupun tokoh tokoh dunia persilatan. Karena memang diburu waktu.


Tetapi, bagaimanapun sederhananya keadaan pesta pernikahan mereka, tetap memberikan suasana kegembiraan dan kebahagiaan, terlebih bagi Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum.


----- o -----


Lima hari setelah hari pernikahannya, Lintang Rahina mulai berkemas, karena harus segera ke kawah Merapi.


Lintang Rahina ke kawah Merapi ditemani oleh Sekar Ayu Ningrum dan Ki Penahun. Sedangkan Ki Ageng Arisboyo tetap tinggal di Parangtritis. Karena ada tugas lain yang berhubungan dengan Kadipaten Mataram.


Ki Pradah sendiri sudah sejak satu hari setelah hari pernikahan Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum, pada pagi hari mendahului berangkat ke kawah Merapi, namun tidak langsung ke kawah Merapi, melainkan ke Pegunungan Menoreh dulu, untuk mengunjungi sahabat lamanya dan mengajaknya ke kawah Merapi.


Tepat pada tengah hari, saat matahari tepat di atas kepala dan sedang terik teriknya, Ki Pradah sampai di puncak tertinggi di pegunungan Menoreh.


Ki Pradah memang sengaja berhenti di puncak yang tertinggi. Untuk beberapa saat, Ki Pradah melihat ke sekeliling tempat itu.


Kemudian, sambil berdiri dengan kaki agak terbuka, Ki Pradah mengeluarkan energinya dan mengarahkan ke semua arah, dan diulangnya sampai tiga kali.


Seketika terjadilah gelombang energi yang sangat besar menyebar ke semua arah. Setelah itu, Ki Pradah terdiam sambil memejamkan matanya. Tersungging sedikit senyuman di bibirnya.


Ki Pradah bisa merasakan, alam sekitarnya yang awalnya tenang, perlahan dirasakan datangnya hembusan angin.


Hembusan angin yang pelan dan sangat menyejukkan. Yang hanya mampu menggerakkan ujung ujung rambutnya yang telah memutih semuanya.


Semakin lama, angin itu semakin besar, semakin kuat, hingga membuat semua ujung bajunya berkibaran.


Tiba tiba arah angin itu memutar dan berputar putar di sekitar Ki Pradah berdiri.


Merasakan itu, Ki Pradah membuka matanya dan tangan kanannya ditarik ke depan dada dengan telapak tangan terbuka rapat ke arah samping.

__ADS_1


Kemudian terdengar kesiuran suara angin dari arah samping kanannya, dari atas, dari kiri dan terus berpindah pindah arah. Ki Pradah melakukan gerakan seperti orang menangkis dan menghindar.


Plaaakkk ! Plaaakkk ! Plaaakkk !


Ke arah manapun Ki Pradah melakukan gerakan menangkis, terdengar suara seperti benturan dua telapak tangan atau kaki.


Ditengah tengah deru angin yang memutarinya, tiba tiba Ki Pradah melesat ke atas dan dengan menggunakan tongkat kayunya, Ki Pradah melakukan gerakan mengemplang ke suatu arah.


Plaaakkk ! plaaakkk !


Plaaannnggg !!!


Setelah suara benturan suatu benda itu, tubuh Ki Pradah terpental mundur beberapa langkah.


"Jagad Dewa Bathara ! He he he he .... hebat hebat hebat, ..... semakin bertambah cepat."


Sesaat setelah terdengar suara itu, tiba tiba di depan Ki Pradah berdiri seorang kakek tinggi kurus yang terlihat sudah sangat tua. Kulit keriputnya berwarna coklat kehitaman. Berjubah putih, serta rambut, kumis dan jenggotnya telah memutih semua. Tangan kanannya memegang tongkat kayu. Di lehernya melingkar untaian bola tasbih dari kayu berwarna coklat.


"Ki Jagad Anila, .... maaf kalau kedatanganku telah mengganggu ketenteramanmu," kata Ki Pradah sambil memegang tongkatnya kembali sebagai penopang tubuh.


"He he he he .... Ki Pradah, ... lama tidak bertemu, jangan terlalu sungkan," jawab KI Jagad Anila.


Saat masih sama sama muda dan sama sama mengabdi di Kerajaan Majapahit, Ki Jagad Anila dulunya seorang brahmana yang juga menekuni ilmu beladiri. Dia sangat ahli dalam menggunakan energi angin sehingga mendapat julukan Jagad Anila sampai sekarang ini.


Ki Jagad Anila memang tinggal di Pegunungan Menoreh. Tetapi, tepatnya di mana tidak ada yang tahu. Sahabatnya sekelas Ki Pradah pun juga tidak tahu. Sehingga jika bertamu seperti tadi, Ki Pradah cukup mengeluarkan energinya, dan nantinya Ki Jagad Anila akan muncul setelah merasakan ada getaran energi di sekitar Pegunungan Menoreh.


Gerakannya yang secepat angin itu juga yang membuat Ki Jagad Anila tidak bisa dibuntuti untuk menemukan tempat tinggalnya.


Ki Pradah yang ilmu meringankan tubuhnya sulit dicari tandingannya pun belum pernah bisa menemukan rumahnya.


Ada kabar burung yang beredar di kalangan para ahli beladiri yang kenal atau pernah bertemu dengan Ki Jagad Anila, jika tempat tinggal Ki Jagad Anila berada di atas angin. Tetapi lagi lagi belum ada yang bisa menemukannya.

__ADS_1


Kemudian Ki Jagad Anila mengajak Ki Pradah ke tanah datar di puncak tertinggi Pegunungan Menoreh yang disebut Ara Ara Suralaya. Di tempat itu mereka berdua mengobrol dalam waktu yang cukup lama.


"Ki, sebenarnya, aku juga berniat menemui Ki Jagad Dahana. Dimana aku bisa menemuinya ?" tanya Ki Pradah.


"Kalau Ki Pradah berkeinginan bisa bertemu dengan kakang Jagad Dahana, mari aku antar ke Sumbing," jawab Ki Jagad Anila, "Karena tidak ada yang mengetahui, dimana tepatnya tempat tinggal kakang Jagad Dahana."


"Kalian berdua kakak adik memang selalu bersikap misterius. Bahkan tempat untuk tidur pun disembunyikan !" kata Ki Pradah sambil tersenyum, "Tapi sudahlah, itu terserah kalian. Kapan Ki Jagad Anila bisa mengantarkan saya ?"


"Besok pagi pagi kita berangkat ke Sumbing menemui kakang Jagad Dahana," kata Ki Jagad anila.


Ki Jagad Dahana memang kakak kandung dari Ki Jagad Anila. Kalau Ki Jagad Anila ahli dalam menggunakan energi angin, Ki Jagad Dahana ahli dalam menggunakan energi api.


----- o -----


Keesokan harinya, pagi pagi sekali, sebelum matahari terbit, Ki Pradah ditemani oleh Ki Jagad Anila melesat ke arah barat laut.


Hanya membutuhkan waktu setengah hari, Ki Pradah dan Ki Jagad Anila tiba di kaki gunung Sumbing.


Mereka berdua sengaja mencari tempat yang cukup datar dan luas, untuk beristirahat dan menunggu kemunculan Ki Jagad Dahana.


Setelah beberapa waktu kemudian, Ki Pradah mengeluarkan energinya dan menyebarkannya ke semua arah.


Beberapa saat kemudian, hawa udara menjadi sangat panas. Kemudian disusul dengan terdengar suara tawa yang sangat nyaring.


"Ha ha ha ha ........ ternyata kawan lama yang sudah lama tidak bertemu," terdengar suara seorang pria tua.


Tiba tiba di depan Ki Pradah dan Ki Jagad Anila telah berdiri sesosok yang tidak terlalu berbeda dengan Ki Jagad Anila.


Dialah Ki Jagad Dahana. Perawakan dan cara berbusananya mirip dengan Ki Jagad Anila.


Yang membedakan adalah, Ki Jagad Dahana tidak memegang senjata, karena memang ilmu yang dikuasai oleh Ki Jagad Dahana, yaitu penggunaan energi api, tidak membutuhkan senjata.

__ADS_1


Namun, kalau diperhatikan lebih cermat, di seluruh tubuh Ki Jagad Dahana mengepul asap tipis dari seluruh permukaan kulitnya.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2