
Setelah terdesak hebat dan berkali kali dan hanya bisa menghindari serangan, akhirnya satu serangan cemeti yang telah dimantrai, berhasil mengenai bahu kiri Nyi Wilis. Nyi Wilis pun seketika berubah menjadi siluman utuh berwujud harimau.
Begitu Nyi Wilis sudah berubah menjadi berwujud harimau, serangan Ki Brata menjadi semakin cepat gerakannya. Suara cemeti yang meledak ledak mengepung pergerakan Nyi Wilis dari semua arah, seolah olah cemeti yang dipegang Ki Brata berjumlah banyak.
Ctar ctar ctar ctar !!!
Tanpa bisa balas menyerang, Nyi Wilis semakin kerepotan dalam menghindar.
Setelah hampir dua puluh menit dalam wujud siluman harimau Nyi Wilis selalu menghindar, akhirnya sebuah sabetan cemeti mengenai kaki belakang Nyi Wilis.
Ki Brata menghentakkan cemetinya yang sudah melibat kaki belakang Nyi Wilis. Nyi Wilis pun terjatuh dan menggeram.
"Hrrgggghhh haauummm !!!
Begitu lawannya terjatuh, Ki Brata melesat mendekat dan segera menempelkan telapak tangannya pada kepala Nyi Wilis. Seketika Nyi Wilis merasakan kepalanya seperti tertimpa batu besar, sehingga Nyi Wilis tidak bisa menggerakkan badannya dan hanya bisa melotot matanya karena marah.
Kemudian Ki Brata membaca mantra lagi. Perlahan lahan wujud siluman harimau Nyi Wilis menjadi semakin transparan. Setelah beberapa saat, wujud siluman harimau Nyi Wilis hilang dan berubah menjadi asap tipis. Asap tersebut seperti tersedot masuk ke dalam gagang cemeti Ki Brata.
Berbeda dengan Nyi Wilis, Ki Sardulo dengan tingkat energinya yang sekarang, sedikit di atas Ki Jiwo, bahkan bisa mengimbangi Ki Jiwo yang dibantu oleh makluk makluk jin yang dikendalikan Ki Jiwo.
Dalam wujud kakek tua, kedua mata Ki Sardulo berubah warna menjadi merah. Kuku kuku tangannya memanjang dan berwarna hitam kemerahan. Muncul pula dua pasang taring pada gigi atas dan bawahnya sepanjang dua centimeter.
Setiap makluk jin yang dikendalikan oleh Ki Jiwo mendekat, bila terkena cakarannya akan seperti terbakar dan berubah menjadi asap.
Kuku tangan Ki Sardulo pun juga sanggup untuk menangkis serangan tombak Ki Jiwo.
Meskipun begitu, Ki Jiwo tetap menyerang dengan segala kemampuannya dan menunggu kelengahan Ki Sardulo.
Saat Ki Sardulo berusaha mendesak Ki Jiwo, Ki Sardulo mendengar Nyi Wilis menggeram kesakitan. Ki Sardulo terkejut melihat Nyi Wilis sudah berwujud siluman harimau dan tubuhnya sudah menjadi transparan.
Ki Sardulo baru akan membantunya ketika tiba tiba tubuh transparan Nyi Wilis berubah menjadi asap dan tersedot masuk ke gagang cemeti.
__ADS_1
Ki Sardulo sejenak terpaku.
Kelengahan Ki Sardulo itu dimanfaatkan oleh Ki Jiwo dengan sebaik baiknya.
Ki Jiwo melompat ke arah Ki Sardulo dan menusukkan tombak pendek di tangan kanannya. Tombak itu tepat mengenai paha kiri Ki Sardulo.
Begitu terkena tombak yang sudah bermantra, seketika Ki Sardulo berubah wujud menjadi siluman harimau setinggi lima meter.
Mata Ki Jiwo berwarna merah. Taringnya panjang. Ujung ekornya berwarna merah menyala.
Diam diam Ki Jiwo terkejut melihat besar tubuh lawannya dalam wujud siluman harimau.
Didorong rasa khawatir dengan nasib Nyi Wilis, Ki Sardulo menggeram keras dan langsung menyerang Ki Jiwo dengan emosi yang meluap luap.
Auummm !!!
Gerrrhhh !!!
Dengan sekali melompat, Ki Sardulo langsung sampai di mana Ki Jiwo berdiri. Ki Sardulo berusaha menyerang dengan menerkam. Dan begitu bisa dihindari, dilanjutkan dengan semburan api yang mengarah ke mana Ki Jiwo menghindar.
Ki Sardulo yang tahu kalau tombak pendek yang meluncur itu sudah dimantrai, menghindar ke arah kanan sambil menyabetkan ekornya ke arah kepala Ki Jiwo.
Karena tidak ada waktu untuk menghindar, Ki Jiwo menangkis sabetan ekor Ki Sardulo dengan tombak yang di tangan kirinya dengan menahan mata tombak di tangan kanannya.
Traakkk !!!
Sreetttt !!!
Ki Jiwo terdorong mundur beberapa meter dengan kuda kuda yang amblas ke tanah sampai mata kaki. Hal tersebut menunjukkan betapa sangat besar kekuatan yang dimiliki Ki Sardulo.
Menyadari kalah kuat energi naga dalamnya, Ki Jiwo berkata pada Ki Brata, "Ki, bantu aku menangkap siluman ini."
__ADS_1
Ki Brata yang sudah berhasil menangkap Nyi Wilis, lansung maju ikut membantu Ki Jiwo.
Ki Brata juga penasaran, seberapa tinggi tingkat tenaga dalam siluman yang di lawan Ki Jiwo.
Setelah membaca mantra, tiba tiba muncul cemeti di tangan kanan Ki Brata.
Kemudian Ki Brata menyerang dengan cemetinya ke arah kepala Ki Sardulo.
Sambil menghindar, Ki Sardulo menyambut datangnya sabetan cemeti dengan sabetan ekor.
Duuaarrrrrhhh !!!
Pertemuan ujung cemeti dengan ujung ekor yang berwarna merah menyala itu menimbulkan ledakan dan kepulan asap putih.
Ki Brata yang merasakan tangannya gemetaran akibat benturan cemeti dan ekor, memandang ke arah Ki Jiwo dan memberi kode untuk mengeroyok Ki Sardulo.
Kerjasama Ki Brata dan Ki Jiwo yang menggabungkan serangan dari jarak dekat dengan serangan jarak jauh, membuat Ki Sardulo kerepotan untuk balas menyerang. Sehingga Ki Sardulo akhirnya hanya bisa bertahan dan berusaha agar tubuhnya tidak terkena tombak ataupun cemeti. Karena hanya ujung ekornya yang kebal terhadap senjata bermantra.
Setelah berkali kali bisa menghindari serangan, tetapi karena kecepatan Ki Sardulo berkurang karena luka di kaki kirinya, akhirnya Ki Sardulo terkena juga tusukan tombak di perutnya dan sabetan cemeti di lehernya.
Sebenarnya ukuran senjata yang mengenai tubuh Ki Sardulo, tidak berarti banyak dibanding tubuh Ki Sardulo yang sangat besar. Tetapi itu cukup untuk membuat mantra yang ada di dalam senjata itu bekerja.
Akhirnya, sama seperti yang dialami Nyi Wilis, tubuh Ki Sardulo secara perlahan menjadi transparan. Kemudian wujudnya menghilang dan hanya menyisakan asap tipis yang tersedot masuk ke mata tombak yang dipegang Ki Jiwo.
Pada pertempuran Sekar Ayu Ningrum yang dikeroyok Arga Manika dan Galuh Pramusita, sebenarnya Sekar Ayu Ningrum sudah bisa mendesak keduanya.
Tetapi, saat Sekar Ayu Ningrum mendengar auman dan geraman Ki Sardulo yang sangat keras, Sekar Ayu Ningrum baru menyadari kalau Ki Sardulo dan Nyi Wilis tidak berada di dekatnya. Membuat perhatian Sekar Ayu Ningrum menjadi terpecah. Meskipun demikian, Sekar Ayu Ningrum tetap bisa mendesak kedua lawannya. Bahkan Arga Manika dan Galuh Pramusita sudah mendapatkan luka luka yang cukup serius.
Tetapi hati Sekar Ayu Ningrum mulai merasakan tidak enak. Apalagi setelah beberapa menit dia tidak mendengar suara pertempuran.
Begitu melihat yang mendekat ke tempat pertempurannya adalah Ki Jiwo dan Ki Brata, Sekar Ayu Ningrum berpikir telah terjadi apa apa dengan Ki Sardulo dan Nyi Wilis.
__ADS_1
"Ki Brata, ayo cepat kita selesaikan," ajak Ki Jiwo, "kita tangkap gadis itu. Dia akan sangat berguna untuk memaksa Ki Ageng Arisboyo."
___ 0 ___