
Lintang Rahina beserta eyang dan gurunya duduk bersila saling berhadapan, sekalian sejenak beristirahat setelah mereka berlatih ersama sambil melayang di udara, sekalian sejenak sebagai hiburan, untuk menghilangkan kepenatan.
Lintang Rahina sangat kagum dengan perkembangan energi dan kemampuan silat eyang dan gurunya.
"Ngger Lintang, coba kamu rasakan dengan energimu, keberadaan mereka semua," kata Ki Penahun.
"Baik eyang," jawab Lintang Rahina.
Kemudian Lintang Rahina mencoba merasakan getaran energi di sekitar tempat pertempuran kemaren.
Tetapi bahkan sampai mencoba merasakan lewat udara dengan melayang ke atas, agar bisa menjangkau lebih jauh, Lintang Rahina tetap tidak bisa merasakan getaran energi Sekar Ayu Ningrum dan yang lainnya.
Kemudian Lintang Rahina teringat akan beberapa hal. Senjata trisula yang lenyap itu Lintang Rahina peroleh saat dia dibawa masuk ke alam lain. Selain itu, pendaran putih pekat yang keluar dari senjata trisula, kemungkinan sama dengan pendaran sinar saat dia masuk ke alam jiwa.
Lintang Rahina segera turun untuk menemui eyang dan gurunya.
Kemudian Lintang Rahina menceritakan tentang kemungkinan Sekar Ayu Ningrum dan yang lainnya terlempar ke alam jiwa.
"Kalau begitu, segera saja kamu masuk ke alam jiwa ngger. Utamakan mencari Sekar Ayu Ningrum dulu. Setelah itu, kamu usahakan untuk bisa bertemu teman kami, Resi Nirartha Pradnya. Kemungkinan dia bisa membantumu mengurus yang lainnya," kata Ki Penahun.
Kemudian mereka bertiga mencari tempat yang cukup nyaman untuk tubuh Lintang Rahina duduk selama masuk ke alam jiwa.
Beberapa saat kemudian, Lintang Rahina sudah masuk ke alam jiwa. Segera saja Lintang Rahina menggunakan energinya untuk merasakan keberadaan Sekar Ayu Ningrum dan yang lainnya.
Perlahan lahan Lintang Rahina mulai bisa merasakan getaran energi mereka.
Dari yang Lintang Rahina rasakan, mereka tersebar dalam dua kelompok.
Memang, saat mereka terliputi pendaran sinar putih pekat yang keluar dari senjata trisula, yang kemudian meledak, mereka merasa seperti ditarik masuk ke 'dunia lain'. Mereka terlempar ke 'dunia lain', yang ternyata adalah alam jiwa, berikut tubuh mereka, karena tubuh mereka sudah terliputi pendaran sinar putih pekat sebelumnya.
Berbeda dengan Lintang Rahina yang masuk ke alam jiwa dengan sengaja, sehingga raganya tetap berada di alam dunia. Begitu juga dengan Ni Sriti dahulu.
Lintang Rahina segera mendekat ke kelompok yang berjumlah lebih banyak. Beberapa saat kemudian, Lintang Rahina bisa merasakan getaran energi Sekar Ayu Ningrum.
Setelah mendekat, Lintang Rahina melihat, Sekar Ayu Ningrum berdiri di dekat seorang berpakaian resi. Dialah Resi Nirartha Pradnya. Di sebelahnya lagi ada orang yang memakai caping lebar. Dia adalah Hima Ledo.
__ADS_1
Ternyata mereka bertiga sedang bertarung melawan Lima Dewi Kematian.
Tampak oleh Lintang Rahina, mereka bertiga sedikit kewalahan menghadapi Lima Dewi Kematian.
"Apa boleh aku bergabung ?" tanya Lintang Rahina sambil mendekat ke arah Sekar Ayu Ningrum, tetapi tatapan matanya tajam ke arah Dewi Kematian.
Dewi Kematian dan kelima saudaranya terkejut dengan kemunculan Lintang Rahina. Karena mereka memperkirakan, Lintang Rahina tewas terkena ledakan dari senjata trisula.
Mereka sudah mencari kemana mana, hanya Lintang Rahina yang tidak bisa mereka ketemukan. Akhirnya mereka beranggapan, Lintang Rahina sudah tewas.
Bagi Dewi Kematian, keluar dari alam jiwa hal yang mudah, dan untuk saudara saudaranya yang lain, dia bisa membantu keluar dari alam jiwa.
Tetapi, mereka ingin memastikan, semua yang ikut terlempar ke alam jiwa, dalam kondisi tewas semua, sehingga kelak urusan mereka tinggal mencari keberadaan senjata pusaka trisula.
Tetapi di luar dugaan mereka, Lintang Rahina muncul kala mereka sedang mendesak tiga orang lawannya.
Sekar Ayu Ningrum seperti mendapat suntikan energi, tatkala Lintang Rahina tiba tiba muncul di depannya.
"Paman berdua dan adik Sekar, biar aku yang menghadapi yang bersenjata pita dan seruling. Sisanya tolong kalian urus," kata Lintang Rahina.
Kemudian, dengan pedang yang sudah terhunus di tangan kanan, Lintang Rahina yang tubuhnya juga sudah mengeluarkan pendaran sinar kuning keemasan, melesat ke arah Dewi Kematian. Dengan sedikit digerakkan beberapa kali, dari ujung bilah pedangnya melesat pendaran energi berbentuk ujung pedang berwarna kuning keemasan.
Dewi Kematian yang sudah merasakan betapa berbahayanya serangan pedang Lintang Rahina, segera menghindar sambil pitanya berkelebat menyapok pendaran energi yang mengarah ke tubuhnya.
Lintang Rahina yang memang mengincar senjata pita Dewi Kematian, tidak memberi kesempatan Dewi Kematian untuk mengembangkan serangannya menggunakan senjata pita.
Saat pedang Lintang Rahina terus mencecar Dewi Kematian, tiba tiba berkelebat bayangan sebatang seruling yang menangkis serangan pedang Lintang Rahina.
Traaak ! Traaak ! Traaak !
Anggota Lima Dewi Kematian yang paling muda itu sampai secara tidak sadar berteriak saat serulingnya terpental dengan keras saat berbenturan dengan pedang Lintang Rahina.
"Aaaahhh !!!"
"Kenapa energinya menjadi sekuat ini ?" kata anggota Lima Dewi Kematian termuda itu.
__ADS_1
Sama dengan apa yang dirasakan anggota Lima Dewi Kematian yang paling bungsu, Dewi Kematian merasakan, energi dan kecepatan Lintang Rahina berbeda dengan saat mereka bentrok yang pertama.
Hal itu karena Lintang Rahina menggabungkan tehnik 'Nafas Raja' dengan ilmu 'puspa Nagari'. Kedua tehnik itu dimainkan dengan senjata pedang. Karena Lintang Rahina ingin secepatnya menyelesaikan pertarungan dan segera mengajak Sekar Ayu Ningrum keluar dari alam jiwa.
Pertarungan baru berjalan sekitar dua puluh jurus. Pada suatu kesempatan, Lintang Rahina berhasil memaksakan Dewi Kematian untuk menangkis pedangnya dengan menggunakan senjata pitanya.
Taaasss ! Taaasss ! Taaasss !
Pita di tangan Dewi Kematian tidak mampu lagi menahan sabetan pedang Lintang Rahina. Sehingga akhirnya putus menjadi beberapa potong.
Namun walaupun tanpa bersenjatakan pita, serangan serangan Dewi Kematian tetap berbahaya.
Melihat Dewi Kematian terdesak, anggota Lima Dewi Kematian yang paling muda melesat ke arah Lintang Rahina.
Dengan sedikit melayang, ujung serulingnya sudah mengarah ke ubun ubun Lintang Rahina.
Taaakkk !!!
Terdengar suara yang cukup nyaring saat seruling menangkis datangnya serangan senjata pedang.
Seruling itu terpental kembali ke belakang. Anggota Lima Dewi Kematian yang paling muda itu pun terdorong ke belakang, sehingga jatuh bergulingan.
Dengan cepat Lintang Rahina melesat mendekat dengan melayangkan serangan telapak tangan kirinya.
Plaaakkk !!!
Pukulan telapak tangan kiri Lintang Rahina tepat mengenai punggung atas anggota termuda Lima Dewi Kematian. Sehingga menjadikannya kembali jatuh bergulingan hingga beberapa depa.
Tubuhnya berhenti bergulingan dalam posisi duduk berlutut. Sesaat kemudian, dia memuntahkan darah segar. Tubuhnya bergetar dan wajahnya terlihat semakin bertambah pucat.
Dewi Kematian yang melihat saudara termudanya terluka, segera membuang sisa senjata pita yang masih tergenggam di tangannya.
Sekali melenting, Dewi Kematian sudah sampai di dekat saudara bungsunya.
Dengan cepat Dewi Kematian melakukan beberapa totokan pada tubuh saudara termudanya dan dengan cepat, dipanggulnya di pundak sambil berkata, "Anak muda, terpaksa harus kita lanjutkan lain waktu."
__ADS_1
Setelah itu, Dewi Kematian melesat pergi dengan membawa saudara termudanya sambil bibirnya mengeluarkan siutan panjang sebagai kode untuk saudaranya yang lain untuk pergi meninggalkan pertarungan.
__________ 0 __________