Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Menyelamatkan Ki Pradah II


__ADS_3

Saat Ki Penahun, Ki Dipo Menggala, Ki Ageng Arisboyo serta Resi Nirartha Pradnya menyebar ke masing masing sudut, Ki Pradah dalam posisi duduk bersila di ruang tengah. Sementara Lintang Rahina berdiri di halaman depan menghadap ke ruang tengah.


Terlihat keempat tokoh tua dunia persilatan itu, masing masing menggerakkan kedua tangannya membentuk pola pola tertentu.


Beberapa saat kemudian dari kedua telapak tangan mereka muncul energi murni yang berbentuk benang dan mengeluarkan sinar putih pekat. Energi murni yang muncul dari hasil bersemedi dan mengolah serta membersihkan jiwa mereka. Sehingga sinar itu dinamakan benang jiwa.


Setelah benang jiwa yang terbentuk di masing masing kedua telapak tangan mereka sudah cukup banyak, mereka berempat serentak mengarahkan telapak tangan mereka ke arah sudut yang di arah kanan dan kiri mereka.


Slasss ! Slasss ! Slasss ! Slasss !


Benang jiwa dari mereka berempat pun saling terhubung dan membuat bentuk persegi empat yang mengelilingi rumah Ki Pradah.


Kemudian mereka mengulang gerakan itu berkali kali sehingga terbentuk dinding dari benang jiwa yang setiap lapisnya berjarak satu jengkal hingga ketinggiannya mencapai lima belas depa.


Setelah itu, pada lapisan yang paling atas terbentuk jaring jaring sehingga membentuk kotak kotak kecil selebar satu jengkal.


Setelah beberapa waktu kemudian, kurungan benang jiwa berbentuk kotak itu menjadi sempurna.


Ki Wongso Menggala dan Sekar Ayu Ningrum serta Lian yang berdiri agak jauh dari bentuk kurungan benang jiwa, mulai berjalan keliling dari satu sudut kurungan benang jiwa ke sudut yang lain untuk berjaga jaga.


Bersamaan dengan itu, di dalam rumah, saat benang jiwa iblis itu merasakan dirinya terkepung oleh benang jiwa yang membentuk kurungan, benang jiwa iblis itu mulai bereaksi. Benang jiwa iblis itu berusaha menarik Ki Pradah ke atas, tetapi Ki Pradah berusaha tetap dekat dengan tanah. Karena dengan dekat atau terhubung ke tanah, benang jiwa iblis tidak bisa berkembang.


Tubuh Ki Pradah mulai bergetar dengan kuat. Begitu kuatnya getaran itu hingga merambat ke tempat yang dudukinya.


Lantai tanah di ruang tengah mulai bergetar. Getaran itu semakin lama semakin bertambah kuat sehingga getaran itu mulai merembet ke dinding rumah.


Getaran itu timbul karena benang jiwa iblis yang tidak bisa bergerak ke atas akhirnya berbalik menyerang Ki Pradah. Di dalam tubuh Ki Pradah terjadi pergolakan akibat pertarungan energi benang jiwa iblis dengan energi murni Ki Pradah.


Sementara di luar rumah, Lintang Rahina yang energinya sudah pulih sepenuhnya, mulai melepaskan tehnik 'Puspa Nagari'. Pendaran butiran sinar kuning keemasan mulai menyelimuti seluruh tubuhnya. Sebagian dari butiran sinar kuning keemasan itu membentuk bunga teratai tepat di bawah kakinya. Sebagian lagi butiran sinar kuning keemasan itu menyebar memenuhi seluruh ruang kurungan benang jiwa.

__ADS_1


Sementara tubuh Lintang Rahina sendiri sudah terangkat melayang setinggi satu depa dari tanah.


Dari luar rumah, Lintang Rahina bisa merasakan dengan jelas getaran energi yang sangat besar yang berbenturan dengan energi dari Ki Pradah.


Dalam kondisi begitu akan sangat berbahaya bagi gurunya jika terus mencoba menahan benang jiwa iblis itu tetap dekat dengan tanah.


"Guru ! Mohon sekarang lepaskan saja, biar Lintang yang menahannya !" kata Lintang Rahina sedikit berteriak.


Walau sedang dalam situasi yang mengancam keselamatannya, Ki Pradah tetap berusaha mempertahankan kesadarannya. Sehingga apa yang dikatakan oleh Lintang Rahina, dia bisa mengetahuinya. Ki Pradah pun mengangguk.


Kemudian Lintang Rahina menambah lagi jumlah energinya. Dari kedua telapak tangannya ada sebagian butiran sinar kuning keemasan yang melayang ke arah Ki Pradah dan bergerak mengelilinginya.


Begitu melihat Lintang Rahina sudah bersiap, Ki Pradah mulai beranjak dari duduknya.


Saat Ki Pradah berdiri, tiba tiba terjadi luapan energi yang sangat besar.


Timbul suara ledakan yang disertai dengan melayangnya tubuh Ki Pradah hingga menembus genteng rumah.


Praaakkk !!!


Melihat tubuh Ki Pradah melesat ke atas, Lintang Rahina segera mengejarnya.


Terlihat dua tubuh melayang di atas rumah.


Setelah cukup dekat, Lintang Rahina bisa melihat kondisi Ki Pradah dengan lebih jelas.


Lintang Rahina melihat, tubuh Ki Pradah sebelah kiri menjadi menghitam.


----- o -----

__ADS_1


Sementara itu, di luar kurungan benang jiwa. Ki Wongso Menggala dan Sekar Ayu Ningrum serta Lian terus berjaga mengawasi keadaan sekitar daerah itu.


Ki Wongso Menggala bahkan sampai agak mendekati kaki gunung Lawu untuk memastikan tidak ada orang yang berani mengganggu apa yang sedang terjadi di tempat kediaman Ki Pradah.


Sedangkan Sekar Ayu Ningrum bahkan sampai hampir ke wilayah puncak.


Ketika Sekar Ayu Ningrum sedang memperhatikan ke arah bawah tempat kurungan benang energi dibuat, tiba tiba dari atasnya terdengar suara perempuan.


"Heeiii .... perempuan, tugasmu kan berjaga, kenapa hingga sampai ke atas ?" kata suara perempuan yang ternyata adalah Lian.


Sekar Ayu Ningrum menoleh ke belakang. Terlihat di udara, di arah puncak, Lian terbang melayang pelan menuju ke arahnya.


Pakaiannya yang serba putih dan rambutnya yang panjang hitam legam, terlihat melambai lambai menambah keanggunannya.


"Wuiiihhh ... perempuan berkulit pucat, kenapa juga kau di atas ? Ingin pamer kekuatan ?" jawab Sekar Ayu Ningrum yang dalam hati terkejut, energi Lian sudah sampai tingkat dia bisa terbang.


"Aku hanya ingin memastikan, orang yang akan mengantarku pulang, selamat dan tidak terluka," kata Lian lagi setelah sampai di dekat Sekar Ayu Ningrum.


"Pulanglah sendiri ! Tidak ada yang akan mengantarmu pulang ! Dan aku jamin kakang Lintang tidak akan mengantarmu pulang !" balas Sekar Ayu Ningrum sambil perlahan tubuhnya terangkat ke udara hingga sejajar dengan Lian.


Melihat itu, Lian sebenarnya juga terkejut. Tetapi keterkejutannya tertutup oleh rasa dongkolnya mendengar kata kata Sekar Ayu Ningrum.


"Apa hakmu melarangnya ?" sahut Lian. Sebenarnya Lian sudah mendengar berita kalau perempuan yang selalu menyertai Lintang Rahina adalah calon istrinya. Bahkan Lian sudah dinasehati oleh Dewi Kematian tentang hal itu. Tetapi, karena perasaan yang muncul karena pandangan pertamanya, membuat Lian menutup mata akan semua berita itu. Lian sudah nekat dan berencana hendak menyampaikan perasaannya pada Lintang Rahina.


Lian, anggota Lima Dewi Kematian yang paling muda, memang merasa kagum saat pertama kali berjumpa dengan Lintang Rahina, walaupun saat itu dalam posisi sebagai lawan.


Selama ini, dia belum pernah menemukan pria yang bisa mengalahkan dirinya, apalagi mengalahkan Lima Dewi Kematian. Di antara Lima Dewi Kematian, walaupun usianya paling muda, namun Lian hanya kalah setingkat dengan Dewi Kematian dan pengaruhnya di Lima Dewi Kematian hanya di bawah Dewi Kematian.


Selain itu, selama melanglang buana di dunia persilatan mulai dari negerinya hingga sampai ke negeri Jawa dwipa, Lima Dewi Kematian belum menemukan lawan yang mampu bertahan melawan mereka. Oleh karena itu, Lian bertekad hendak menjadikan Lintang sebagai laki laki pendampingnya.

__ADS_1


__________ 0 __________


__ADS_2