
Merasa belum juga bisa mendesak lawannya, Dua Iblis Tertawa mulai saling mengaitkan senjata cakar baja di tangan kirinya.
Mereka meloncat bergantian mengarah ke tiga orang tua yang menjadi lawannya. Terkadang senjata pisau mereka yang menusuk ke arah leher atau kepala lawannya, kadang diselingi dengan tendangan kaki.
Lintang Rahina melihat, dengan tehnik yang sama saat bertarung dengannya, kali ini energi Dua Iblis Tertawa lebih kuat lagi. Kecepatannya pun juga meningkat. Sehingga walaupun mereka berdua menyerangnya secara bergantian, tetapi rentetan serangannya sama dengan saat mereka menyerang sendiri sendiri.
Pada suatu kesempatan, Resi Nirartha Pradnya harus menghadapi serangan Dua Iblis Tertawa yang meloncat ke atas dan kemudian melesat ke bawah mengarah pada Resi Nirartha Pradnya. Tidak ada pilihan lain, Resi Nirartha Pradnya harus menangkis tendangan Dua Iblis Tertawa yang datang melesat seperti cangkul.
Buuummm !!!
Terjadi ledakan yang sangat keras saat tendangan Dua Iblis Tertawa dapat ditangkis oleh Resi Nirartha Pradnya dengan kedua tangannya yang telah dialiri energi.
Akibat benturan energi itu, tubuh Dua Iblis yang melayang, terpental kembali ke belakang. Sementara Resi Nirartha Pradnya terdorong mundur sampai dengan tiga langkah dalam posisi tetap dalam kuda kuda sehingga kedua telapak kakinya membentuk garis di tanah hingga sedalam mata kaki.
Terlihat sedikit darah di kedua ujung bibir Resi Nirartha Pradnya.
Melihat hal tersebut, Lintang segera melesat ke arah pertarungan.
"Maaf guru dan eyang, biar Lintang yang menghadapi mereka," kata Lintang kepada eyang dan gurunya.
Mereka bertiga mengangguk dan agak menjauh dari tempat pertarungan.
"Dua Iblis Tertawa, kali ini kalian tidak akan bisa lolos dari tanganku !" kata Lintang Rahina.
"Kek keh keh keh ..... Majulah bocah ! Kami tidak takut padamu !" teriak Dua Iblis Tertawa.
Tanpa berpikir panjang, Dua Iblis Tertawa segera melesat ke arah Lintang Rahina.
Lintang Rahina segera menyambut serangan Dua Iblis Tertawa dengan membuka kedua telapak tangannya yang telah dialiri energi.
Plaaak ! Plaaak ! Plaaak ! Plaaak !
Tendangan Dua Iblis Tertawa yang dilakukan secara bergantian dengan melayang memutar dihadang dengan pukulan telapak tangan Lintang Rahina yang menggunakan ilmu pukulan 'Tapak Wulung'. Kedua lengan Lintang Rahina sampai dengan pangkal lengan berubah warna menjadi ungu pekat.
Benturan tendangan Dua Iblis Tertawa dengan pukulan telapak Lintang Rahina memang tidak menimbulkan suara yang keras, namun akibatnya, Dua Iblis Tertawa terlempar ke belakang keduanya, dengan telapak kaki hancur terkoyak.
__ADS_1
Merasa tidak terima kalah, Dua Iblis Tertawa menambah aliran energi ke seluruh tubuhnya. Tiba tiba telapak kaki mereka berdua yang hancur, secara perlahan pulih dan akhirnya kembali utuh lagi seperti tidak pernah terluka. Bahkan lebih dari itu. Telapak kaki mereka membesar dengan jari jari yang besar. Di setiap jari jarinya muncul kuku kuku yang panjang dan keras seperti baja.
Dua Iblis Tertawa dalam hati merasa gembira, luka lukanya dapat sembuh dengan cepat walau agak kaget dengan perubahan fisik di kaki mereka.
Tanpa mengulur waktu lagi, Dua Iblis Tertawa meloncat ke arah Lintang Rahina. Tidak mereka duga, kecepatan meloncat mereka menjadi berkali kali lipat dari sebelumnya. Dengan bentuk kaki yang sekarang, dengan menotolkan telapak kaki mereka sedikit saja, tubuh mereka akan melesat dengan sangat cepat.
Melihat perubahan bentuk kaki Dua Iblis Tertawa dan kecepatan mereka yang meningkat, Lintang Rahina menambah aliran energi ke seluruh tubuhnya terutama ke kedua lengannya.
Saat kaki Dua Iblis Tertawa hampir mengenai kepalanya, Lintang Rahina menotolkan kakinya membuat tubuhnya melesat ke atas, sehingga tendangan Dua Iblis Tertawa hanya mengenai tanah tempat tadi Lintang Rahina berdiri.
Buuummm ! Buuummm !
Muncul lubang yang cukup lebar dan dalam akibat kaki mereka yang menghujam ke tanah.
Melihat efek serangan mereka yang dahsyat, Dua Iblis Tertawa sangat gembira. Senjata cakar baja di tangan kiri mereka yang saling mengait, mereka lepaskan sehingga tidak saling mengait lagi. Mereka berencana menyerang dengan sendiri sendiri.
Setelah mereka berdua saling pandang sejenak, tiba tiba tubuh mereka melesat cepat ke arah Lintang Rahina dari arah yang berbeda.
Plaaasss ! Plaaasss !
Tidak mungkin menghindar lagi, Lintang Rahina memapaki datangnya tendangan Dua Iblis Tertawa dari dua arah dengan pukulan 'Tapak Wulung' yang sudah ditambah energinya.
Plaaakkk ! Plaaakkk !
Dalam benturan itu, tubuh Dua Iblis Tertawa terlempar mundur hingga beberapa langkah. Sedangkan kedua telapak kaki Lintang Rahina amblas ke tanah sedalam mata kaki.
Setelah kembali mendarat di tanah, sejenak Dua Iblis Tertawa mengamati kaki mereka yang tadi berbenturan dengan pukulan tapak lawannya.
Melihat kaki mereka tetap utuh dan tidak merasakan sakit sedikitpun, Dua Iblis Tertawa menjadi semakin bersemangat.
Segera saja Dua Iblis Tertawa kembali memasang kuda kuda untuk menyerang.
Kemudian seperti tadi, tubuh mereka melesat dari arah kiri dan kanan seolah menutup gerak menghindar Lintang Rahina.
Sementara itu, Lintang Rahina mulai menggabungkan ilmu 'Tapak Wulung' dengan tehnik 'Nafas raja'.
__ADS_1
Kedua lengannya yang berwarna ungu, segera mengeluarkan pendaran sinar warna kuning keemasan. Demikian juga dengan seluruh badannya.
Saat serangan tendangan kali Dua Iblis Tertawa sudah dekat, Lintang Rahina kembali memapaki datangnya dua tendangan dari arah yang berbeda.
Praaakkk ! Praaakkk !
Akibat benturan itu, tubuh Dua Iblis Tertawa terlempar ke belakang.
Berbeda dengan benturan yang pertama, pada benturan kali ini membuat kaki Dua Iblis Tertawa pecah berhamburan.
Sebelum Dua Iblis Tertawa mengalirkan energinya untuk melakukan penyembuhan, Lintang Rahina mendahului dengan melesat ke arah Dua Iblis Tertawa.
Karena tidak mengira lawannya akan berani menyerang dahulu, Dua Iblis Tertawa tidak sempat menghindar.
Dengan senjata pisaunya, Dua Iblis Tertawa menangkis datangnya pukulan telapak Lintang Rahina.
Traaang ! Traaang !
Kedua pisau mereka tidak berhasil menghadang datangnya pukulan 'Tapak Wulung' yang berakibat, kedua pisau mereka sampai terlepas dari genggaman mereka.
Tidak berhenti disitu, Lintang Rahina menyambung serangannya dengan pukulan tapak ke arah dada Dua Iblis Tertawa.
Buuummm ! Buuummm !
Kembali tubuh Dua Iblis Tertawa terdorong ke belakang sampai jatuh bergulingan.
Terlihat darah memercik kemana mana. Saat tubuh Dua Iblis Tertawa berhenti berguling, terlihat dada Dua Iblis Tertawa terluka menganga hingga terlihat organ dalamnya.
Dalam posisi Dua Iblis Tertawa tergeletak di tanah, tubuhnya tidak bergerak sama sekali. Hanya bola mata mereka yang sedikit bergerak.
Tetapi, beberapa saat kemudian, keluar kepulan asap hitam pekat dari luka di dada Dua Iblis Tertawa. Asap hitam itu mengeluarkan suara mendesis dan seakan menyelimuti tubuh Dua Iblis Tertawa.
Selanjutnya, tubuh Dua Iblis Tertawa tiba tiba terduduk dan kemudian berdiri walau dengan susah payah dan sempoyongan.
Terdengar suara teriakan yang memekakkan telinga saat terjadi perubahan dari tubuh Dua Iblis Tertawa.
__ADS_1
__________ 0 __________