Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Ki Wangsa Menggala turun gunung


__ADS_3

Setelah beberapa hari beristirahat dan diobati luka lukanya, Ki Brata kembali segar dan pulih staminanya.


Begitu Ki Brata sudah pulih kembali, Ki Rekso mengajak Ki Brata naik ke Gunung Lawu untuk menemui Ki Dipa Menggala dan Wangsa Menggala.


Hanya butuh waktu sehari bagi Ki Rekso dan Ki Brata untuk sampai di kediaman Ki Dipa Menggala.


Setelah berbasa basi sebentar, Ki Dipa mengajak mereka berdua masuk ke pendopo. Ki Dipa juga menyuruh salah seorang anak buahnya untuk memanggil Ki Wangsa Menggala.


Kepada Ki Dipa Menggala dan Ki Wangsa Menggala, Ki Brata menceritakan semua kejadian yang dia alami.


Pada kesempatan itu, Ki Rekso juga menambahkan bahwa mereka butuh bantuan pada Ki Dipa Menggala dan Ki Wangsa Menggala untuk menghadapi Ki Penahun, Ki Pradah dan Ki Ageng Arisboyo.


Ki Dipa terdiam mendengar semua yang diceritakan oleh Ki Rekso dan Ki Brata. Dia sangat tahu orang per orang anggota prajurit elite 'Adhyasta Bhumi'. Karena Ki Dipa salah seorang senopati utama yang mengajarkan ilmu 'Banteng Majapahit', ilmu yang khusus untuk anggota prajurit elite 'Adhyasta Bhumi'.


Maka Ki Dipa diam diam agak heran, kenapa Ki Penahun, Ki Pradah dan Ki Ageng Arisboyo melakukan hal yang diceritakan oleh Ki Rekso dan Ki Brata.


Diam diam, dengan tujuan untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi, Ki Dipa meminta pada Ki Wangsa Menggala untuk turun gunung bersama Ki Rekso dan Ki Brata.


Ki Dipa pun diam diam berpesan pada Ki Wangsa untuk hati hati dalam bertindak dan sebisa mungkin jangan membunuh sebelum semuanya jadi jelas.


 


Setelah dari Gunung Merbabu dan berpisah dengan Ki Penahun dan Ki Ageng Arisboyo, ternyata Ki Pradah hanya sebentar berdiam di tempat tinggalnya di Gunung Lawu. Ki Pradah teringat pada Ki Baskoro dan Ki Pandya, yang kabarnya mengembara ke tlatah wetan. Maka Ki Pradah kembali melakukan perjalanan ke tlatah wetan untuk mencari Ki Baskoro dan Ki Pandya.


Setelah beberapa hari mencari dengan bertanya tanya dan mendengar berita berita dari orang orang yang ditemuinya, akhirnya Ki Pradah tahu jika Ki Pandya dan Ki Baskoro tinggal dipinggir sungai Kali Brantas di desa yang bernama Mojokerto.


Segera Ki Pradah menuju ke tempat yang diperkirakan tempat Ki Baskoro dan Ki Pandya tinggal.


Benar saja, setelah Ki Pradah sampai di tempat itu, bertemu dengan Ki Pandya yang ternyata menjalani hidup sebagai seorang nelayan.


Ki Pandya sangat terkejut sekaligus sangat senang, bisa bertemu sahabat lamanya setelah berpuluh puluh tahun mereka berpisah.


Mereka berdua saling menanyakan dan saling menceritakan perjalanan hidup mereka setelah berpisah.


Hingga akhirnya, Ki Pradah menanyakan tentang keberadaan Ki Baskoro pada Ki Pandya.

__ADS_1


Ki Pandya pun menceritakan kalau Ki Baskoro tinggal di daerah Trowulan.


Karena Ki Pradah sangat ingin bertemu dengan Ki Baskoro, akhirnya mereka berdua menuju Trowulan.


Tidak sampai setengah hari, mereka berdua tiba di tempat Ki Baskoro yang hidup sebagai pertapa. Tetapi Ki Baskoro tidak menetap di satu tempat, namun berpindah pindah. Kadang bertapa beberapa hari di suatu bangunan candi. Kemudian pindah lagi ke candi yang lain. Dan lama bertapanya tidak tentu. Kadang di candi pertama hanya bertapa selama beberapa hari. Namun terkadang bertapa di candi yang lain bisa berminggu minggu.


Semua itu dilakukan oleh Ki Baskoro karena di sekitar Trowulan banyak tedapat candi. Selain itu karena Ki Baskoro tidak ingin melepaskan kenangannya tentang Majapahit.


Sejenak mereka bertiga saling memceritakan perjalanan hidup masing masing. Hingga pada suatu kesempatan, Ki Pradah mulai menceritakan tentang adanya pergerakan untuk membangkitkan kerajaan Majapahit kembali. Pegerakan yang dipelopori oleh Ki Rekso, Ki Jiwo dan Ki Brata.


"Maka tujuan sebenarnya saya kesini adalah untuk mengundang Ki Pandya dan Ki Baskoro menghadiri pertemuan di tempatku untuk membahas tentang mencegah rencana didirikannya kembali kerajaan Majapahit," kata Ki Pradah.


"Ki Pradah," Ki Pandya menjawab, "demi menjaga amanat dalam titah Prabu Brawijaya, kami akan ikut berusaha mencegah apa yang hendak dilakukan Ki Rekso dan kawan kawannya."


"Terimakasih Ki Pandya dan Ki Baskoro," Ki Pradah menjawab kembali.


"Kapan kita berangkat Ki ?" tanya Ki Baskoro pada Ki Pradah.


"He he he he ... "Ki Pradah senang mendengar pertanyaan dari Ki Baskoro, "kapanpun Ki Baskoro dan Ki Pandya siap."


Akhirnya setelah panjang lebar mereka bertiga mengobrol, mereka sepakat akan berangkat besok pagi.


Mereka menghabiskan hari dengan saling bercerita, kemudian mereka beristirahat sambil bersemedi.


 


Selepas berpisah dengan Lintang Rahina, Ki Penahun melakukan perjalanan ke Gunung Lawu ke tempat Ki Pradah tinggal dengan perlahan lahan. Karena Ki Penahun ingin selama dalam perjalanan bisa mendapatkan informasi yang dibutuhkan.


Ketika sampai di kaki gunung Lawu, Ki Penahun juga tidak buru buru naik menuju ke tempat Ki Pradah tinggal.


Tiba tiba terdengar suara memanggil namanya dengan keras.


"Ki Penahun !" teriak orang memanggil.


Ki Penahun diam diam terkejut. Karena dia belum sempat merasakan kehadiran energi dari seseorang, tetapi orangnya sudah ada di hadapannya.

__ADS_1


Di depan Ki Penahun, berdiri tiga orang yang ternyata adalah Ki Rekso, Ki Brata dan Ki Wangsa Menggala.


Sementara itu, melihat Ki Penahun hanya sendirian, Ki Rekso dan Ki Brata tersenyum penuh kemenangan.


"Ha ha ha .... Ki Penahun," kata Ki Brata, "kita bertemu lagi. Sudah saatnya kau membayar hutangmu !"


"He he he he .... ada Ki Brata dan Rekso. Tiada hujan tiada angin tiba tiba menagih hutang," jawab Ki Penahun, "owhhh ... ada juga Ki Wangsa Menggala rupanya. Terimalah salam hormatku Ki Wangsa."


"Ki Penahun," jawab Ki Wangsa Menggala, "salam hormat juga dariku."


Ki Rekso yang sejak awal sudah menahan emosi segera menyahut, "Ki Penahun, tidak usah basa basi. Kita selesaikan urusan kita yang belum selesai !"


"He he he he ... Ki Rekso belum kapok juga rupanya dengan yang kemaren," jawab Ki Penahun.


"Ki Penahun telah menyebabkan terbunuhnya Ki Jiwo ! Hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa !" kata Ki Rekso dengan keras.


"Ki Rekso, jangan memutar balikkan fakta. Kalian berbuat apa, aku yang kena getahnya !" jawab Ki Penahun.


"Tidak usah banyak alasan Ki Penahun," teriak Ki Brata sambil melompat menyerang Ki Penahun, "serahkan nyawamu sekarang juga !"


Wussshhh !!!


Plaakkk !!!


Pukulan Ki Brata yang tiba tiba menyerang, ditangkis Ki Penahun hingga Ki Brata terdorong mundur lagi beberapa langkah.


"Aku harus memancing Ki Wangsa Menggala untuk ikut bertarung. Kekuatan Ki Penahun diatas kekuatanku dan Ki Rekso," kata Ki Brata dalam hati.


"Kalian berdua orang yang tidak tahu diri !" kata Ki Penahun lagi.


Mendengar kata kata Ki Penahun, Ki Rekso ikut melompat menyerang.


Wuuttt !!! Wuuttt !!!


Plakkk !!! Bukkk !!!

__ADS_1


Ki Rekso melayangkan dua pukulan dari tangannya yang sudah berwarna merah menghitam.


__ADS_2