Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Masuk Ke Pulau Liliputan


__ADS_3

"Ayo kita ke arah bangunan yang mirip candi itu, adik Sekar. Tetap hati hati, karena mendengar cerita karakter mereka, tentunya banyak jebakan di pulau ini !" kata Lintang Rahina.


Namun, baru saja mereka berdua melangkah, tempat yang mereka injak bergerak dan berbalik posisinya.


Untuk menghindari terkena jebakan itu, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum mempercepat langkahnya. Namun tetap saja, setiap bagian tanah yang mereka berdua injak, bergerak dan membalik.


Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh mereka, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum berlompatan dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Bahkan bangunan bangunan yang ada pun mereka injak. Hingga akhirnya terdengar suara berderak berkali kali saat semua bangunan dan semua yang ada di permukaan tanah pulau itu, termasuk pohon pohonnya membalik semua seperti ditelan bumi, kecuali gunung berapi yang berada di tengah tengah pulau.


Kraaakkk ! Kraaakkk ! Kraaakkk !


Greeekkk ! Greeekkk !


Setelah suara berderak itu berhenti, pulau itu terlihat tandus. Sepanjang permukaan pulau, hanya terlihat tanah kering mengelilingi gunung berapi yang terlihat selalu mengeluarkan letupan lava pijar serta menyemburkan asap yang sangat panas.


"Hahhh ... !!! Inikah penampakan asli pulau ini ?!" kata Lintang Rahina pelan.


Kemudian, Lintang Rahina menoleh ke arah Sekar Ayu Ningrum yang sedang jongkok sambil telapak tangannya menempel di permukaan tanah.


"Terkadang terasa ada getaran energi dari dalam tanah, walaupun sangat lemah, kakang," kata Sekar Ayu Ningrum, "Bagaimana cara kita masuk ke kerajaan mereka yang ternyata berada di dalam tanah. Apakah kita harus menghancurkan sebagian permukaan tanah ini ?"


Lintang Rahina baru saja hendak menjawab pertanyaan Sekar Ayu Ningrum, ketika tiba tiba dari arah kawah gunung berapi di tengah tengah pulau itu melesat dengan sangat cepatnya, tiga manusia kerdil yang menaiki batang pohon pendek seperti orang menunggang kuda.


"Hehhh he he he he .... ! Rupanya ada dua ikan besar yang terjebak di pulau ini !" terdengar suara cempreng dari manusia kerdil yang melesat paling depan.


"Bahkan sangat besar, kakang ! Energi mereka berdua mungkin cukup untuk kita serap selama satu bulan !" jawab manusia kerdil yang satunya.


"Anak muda ! Siapa kau dan dari mana asalmu !" bentak manusia kerdil yang paling depan.


"Kami hanya pengembara yang tersesat sampai di pulau ini. Kami berasal dari Negeri Jawadwipa," jawab Lintang Rahina sambil memperhatikan ketiga manusia kerdil yang melayang sambil menunggang potongan batang pohon pendek.


"Dari Negeri Jawadwipa ? Heeehhh he he he he .... ! Teman teman, mereka dari Negeri Jawadwipa !" teriak manusia kerdil yang paling depan.


"Anak muda ! Kami semua bisa begini dan bisa sampai di sini, karena para penguasa Negeri Jawadwipa !" kata manusia kerdil yang paling depan lagi, "Mereka, dengan kekuasaannya, sudah mengusir kami, hingga kami terlunta lunta hingga ke pulau ini !"


"Kami datang kesini, karena ada hubungannya dengan Kerajaan Gaib," jawab Lintang Rahina.


"Mereka sama saja. Mereka menipu kami, hingga membuat kami terkurung di pulau ini !" kata manusia kerdil yang tertua.


Kemudian, tanpa berkata kata lagi, mereka bertiga melesat ke arah Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum yang masih berdiri di tanah dan menabraknya dengan keras.


Dbaaammm ! Dbaaammm ! Dbaaammm !

__ADS_1


Melihat serangan yang sangat nekat dan sangat kejam itu, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum secepat kilat menghindar.


Terlihat kepulan debu tebal dari tempat Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum berdiri tadi.


Sesaat kemudian, tiga potongan pendek batang pohon itu melesat lagi keluar dari tanah. Ternyata, saat meluncur sangat cepat tadi, yang menghujam deras hanyalah potongan batang pohon yang ditungganginya. Sedangkan manusia manusia kerdil yang menungganginya melesat ke arah lain.


Seperti dikendalikan, potongan batang pohon itu melesat menuju ke penunggangnya masing masing.


Kemudian dua manusia kerdil kembali melesat ke arah Lintang Rahina, sedangkan yang satunya lagi menyerang ke arah Sekar Ayu Ningrum.


Mereka bertiga meluncur dengan sangat cepat. Tangan mereka sudah memegang senjata tongkat yang sangat panjang hingga menyerupai galah, yang diujungnya terdapat kain jaring berwarna hitam legam.


Kali ini, gerakan meluncur mereka turun menyambar kemudian melesat naik lagi dengan sangat cepatnya. Sehingga gerakan mereka mirip burung elang yang menyambar mangsanya.


Saat menyambar ke bawah, mereka mengayunkan ujung galahnya ke arah Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum.


Awalnya Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum hanya menghindar terus. Namun, karena serangan mereka yang terus menerus seperti tidak ada habisnya, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum pun mulai menangkis dan berusaha bisa membalas serangan. Mereka berdua menambah aliran energi ke seluruh tubuhnya.


Perlahan, dua pedang dari pendaran sinar, terbentuk di kedua tangan mereka.


Praaakkk ! Praaakkk !


Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum menangkis galah yang mengarah ke tubuh mereka.


Takkk ! Takkk ! Takkk ! Takkk !


Jleeebbb ! Jleeebbb !


Hanya dalam sesaat, potongan batang pohon itu terpotong menjadi potongan kecil kecil dan kemudian melayang turun dan jatuh ke tanah.


Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum terkejut saat melihat, ternyata yang terkena tebasan dan tusukan pedang mereka berdua hanyalah potongan batang pohon yang tadinya mereka naiki. Sedangkan manusia manusia kerdil penunggangnya telah melesat ke lain tempat.


Sementara itu, manusia manusia kerdil yang mendapat serangan dari Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum, melesat ke atas dan melayang dalam posisi berdiri. Mereka bertiga tertawa terkekeh kekeh melihat kedua lawannya terkecoh menyerang potongan batang pohon.


Heeehhh he he he he he ..... !!!


Namun, dalam tertawanya, diam diam mereka terkejut.


"Sangat berbahaya ! Kedua anak muda ini mempunyai energi tingkat tinggi dan kecepatannya luar biasa !" kata manusia kerdil yang tertua.


Kemudian, ketiga manusia kerdil itu mengacungkan tangan kirinya ke arah potongan potongan kecil batang pohon dan bergerak dengan pola pola tertentu.

__ADS_1


Tiba tiba, potongan potongan kecil batang pohon itu melesat kembali ke atas ke arah mereka dan menyatu kembali membentuk potongan batang pohon lagi, yang kemudian mereka tunggangi lagi.


Melihat ketiga manusia kerdil itu melayang di udara, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum segera melesat juga ke atas dan melayang di depan mereka bertiga.


Kemudian, secara bersamaan, mereka melesat maju untuk melakukan serangan. Sesaat kemudian, terdengar berulang ulang benturan senjata galah panjang dengan pedang yang terbentuk dari pendaran sinar.


Taaakkk ! Taaakkk ! Taaakkk !


Taaannnggg ! Taaannnggg !


Pada suatu saat, ketiga manusia kerdil itu mengarahkan jaring mereka yang berada di ujung galah ke arah kepala Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum.


Melihat serangan yang terkesan brutal dan sangat tidak elok itu, mereka berdua segera menyapok datangnya jaring dengan pedang mereka.


Sraaattt ! Sraaattt ! Sraaattt !


Breeettt ! Breeettt ! Breeettt !


Jaring jaring hitam itu terkoyak terkena pedang Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum.


Kemudian, belum selesai keterkejutan mereka dengan robeknya jaring mereka, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum sudah kembali mencecar mereka dengan serangan pedang.


Ketiga manusia kerdil itu berusaha melesat menjauh untuk menghindari serangan pedang.


Namun, kemanapun mereka bergerak, pedang yang terbentuk dari pendaran sinar itu selalu membuntuti mereka.


Ketiga manusia kerdil itu sudah berusaha meliuk liukkan gerakan tubuh mereka untuk menghindar. Akan tetapi, ujung pedang yang mengejar mereka bertiga serasa semakin dekat saja.


Akhirnya, mereka bertiga meluncur ke bawah dengan sangat cepat hingga tubuh mereka membentur tanah.


Dbuuummm ! Dbuuummm ! Dbuuummm !


Kembali debu mengepul dengan sangat pekatnya. Setelah ditunggu beberapa saat, akhirnya kepulan debu menghilang. Di tanah tempat ketiga manusia kerdil itu jatuh, terlihat tiga potongan batang pohon, terhujam ke dalam tanah hingga setengahnya. Namun tubuh ketiga manusia kerdil lenyap tak berbekas.


"Sepertinya, mereka kembali masuk ke dalam tanah. Sungguh trik menghindar yang sangat beresiko tinggi !" kata Lintang Rahina dalam hati.


Kemudian Lintang Rahina turun untuk memeriksa tempat terhujamnya potongan batang pohon yang menjadi tunggangan ketiga manusia kerdil itu.


Saat Lintang mencoba menggeser potongan batang kayu itu, potongan batang kayu itu tertancap di tanah dengan kuatnya.


Kemudian, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum, melesat kembali ke atas untuk melihat situasi permukaan pulau dari udara.

__ADS_1


__________ 0 __________


__ADS_2