Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Penyelamatan Oleh Tokoh Misterius


__ADS_3

Lintang segera menyalurkan tenaga dalam ke punggungnya yang semakin nyeri. Beberapa saat kemudian rasa nyeri itu semakin berkurang dan luka lukanya berhenti mengeluarkan darah. Tetapi rasa panas di punggungnya tidak berkurang.


"Racun. Aku terkena racun dari cakaran kuku tangannya," kata Lintang dalam hati.


Sementara itu, Warok Bandring Saloka, setelah pertemuan kedua energi serangan yang membuatnya terlempar kebelakang, merasakan dadanya semakin sesak. Nafasnya berat dan pandangan matanya agak gelap dan berkunang kunang.


"Anak ini kecepatan dan energinya diatas kekuatanku," batin Warok Bandring Saloka.


Warok Bandring Saloka bangkit lagi, walau dengan sempoyongan. Hanya karena kekuatan fisiknya yang luar biasa, dia masih bisa bertahan.


"Anak muda, si...siapa nama gurumu ?" tanya Warok Bandring Saloka dengan nafas berat.


Lintang yang terlempar ke belakang tapi tetap dalam posisi berdiri, bisa segera mengembalikan posisi kuda kudanya. Sambil menyiapkan serangan berikutnya, Lintang Rahina menjawab pertanyaan itu, "Sebelum aku terpaksa melenyapkanmu karena ilmu yang berbahaya milikmu, agar tidak mati penasaran, akan kuberitahu. Aku murid dan sekaligus cucu dari Ki Penahun dari gunung Merbabu."


"Sekarang saatnya kita akhiri pertarungan ini," lanjut Lintang Rahina,"Surya Anala Bhumi."


Sambil berteriak, Lintang maju mendekati Warok Bandring Saloka. Kali ini gerakan Lintang perlahan lahan, tapi terlihat, dalam setiap langkahnya yang mantap, energi Lintang semakin bertambah kuat. Gerakan gerakan Lintang, sekilas agak aneh. Karena jurus ini menyerap energi bumi/tanah.


Kerisnya berpendar tidak lagi putih, tapi sekarang pendaran sinar yang keluar berwarna kekuningan dan transparan, sehingga wujud kerisnya kelihatan, menjadi kuning menyala seperti matahari.


Setelah jarak hanya tinggal tiga meter, Lintang menotolkan kaki kanannya. Dia meloncat setinggi atap rumah ke arah Warok Bandring Saloka.


Dengan daya luncur yang cepat, Lintang menyerang Warok Bandring Saloka dengan tusukan ke arah dada.


Merasa sudah terlambat menghindar, Warok Bandring Saloka mencoba menangkis datangnya keris dengan kedua lengannya yang telah berubah warna menjadi hitam legam.


BLARRR !!!!


Tap tap tap tap !!!


Kepulan asap putih bercampur dengan asap hitam terlihat di tempat dimana posisi Warok Bandring Saloka.

__ADS_1


Bersamaan dengan keluarnya asap itu, sesaat setelah terdengar suara ledakan, terlihat Lintang Rahina terlempar ke belakang sejauh lebih dari sepuluh meter.


Walaupun jatuhnya masih dalam posisi berdiri, tetapi tampak seluruh tubuh Lintang Rahina gemetar.


Belum juga Lintang Rahina menyadari keadaannya, tanpa menimbulkan suara, tiba tiba beberapa jarum hitam menancap di tubuh Lintang Rahina.


Seketika Lintang Rahina jatuh terduduk dengan wajah pucat, nafasnya lemah.


Pandangan mata Lintang Rahina menjadi buram. Dalam buramnya penglihatannya, begitu kepulan asap menghilang Lintang Rahina secara samar melihat sekelebatan tubuh kurus berpakaian hitam hitam, menyambar tubuh Warok Bandring Saloka, dipanggul dan kemudian melesat pergi.


Pandangan mata Lintang Rahina semakin nanar. Sesaat sebelum Lintang Rahina kehilangan kesadarannya, dia merasa ada yang menangkapnya saat tubuhnya jatuh, kemudian pandangannya gelap dan tidak mendengar apa apa.


----- 0 -----


Dua minggu sejak Lintang Rahina kehilangan kesadarannya, Lintang Rahina belum pulih kesadarannya. Selama itu pula, seorang kakek tua, kira kira seumuran dengan Ki Penahun, dengan telaten merawatnya.


Lintang mengalami luka yang sangat parah.


Tidak itu saja. Sosok yang menangkis serangan Lintang Rahina juga melepaskan serangan jarum beracun, begitu Lintang Rahina baru saja jatuh dan belum siap kuda kudanya, karena merasakan seluruh tubuhnya bergetar, seperti ada dua kekuatan yang saling dorong mendorong, di sekujur tubuhnya.


Sosok yang menangkis serangan Lintang Rahina itulah, yang kemudian membawa pergi Warok Bandring Saloka.


Luka parah yang dialami Lintang Rahina berasal dari serangan jarum beracun yang mengenai beberapa bagian tubuhnya.


Racun dari jarum itu masuk ke peredaran darahnya, di saat seluruh tubuh Lintang Rahina sedang mengalami pergolakan akibat bertemunya dua energi yang saling berlawanan. Itulah yang membuat Lintang Rahina tidak sadarkan diri sampai saat ini.


Sungguh beruntung Lintang Rahina, di saat kondisinya kritis, ditolong oleh seorang kakek yang sangat ahli dalam hal pengobatan. Sehingga racun yang sempat masuk ke peredaran darah Lintang Rahina, bisa dikeluarkan dan dinetralkan. Sedangkan luka dalam akibat pergolakan dari benturan dua energi, sedikit demi sedikit bisa diredakan dan akhirnya bisa diselaraskan.


"Anak ini punya struktur tubuh yang unik dan istimewa. Energi besar yang mendorong balik energi miliknya, seharusnya langsung menghancurkan organ organ dalamnya. Tetapi tubuh anak ini mampu menahannya dan tidak merusaknya. Hanya menyebabkan organ dalamnya, terutama jantung dan paru paru, bekerja ekstra karena ada dua energi di dalamnya. Dan hebatnya lagi, energi dari luar yang mendorong balik energinya, tidak lenyap setelah kunetralkan. Malah menyatu dan menambah kuat energinya," kakek penolong itu berkata dalam hati.


"Sekarang tinggal pengobatan di bagian kepalanya. Semoga organ organ kepala dan syaraf syarafnya tidak ada yang rusak. Dan semoga tidak menghilangkan ingatannya," kata kakek itu lagi dalam hati.

__ADS_1


Kakek itu kemudian melakukan totokan totokan di area leher dan kepala Lintang Rahina. Dan di beberapa tempat, kakek itu menusukkan jarum jarum emas. Didiamkan beberapa saat, kemudian dicabut lagi. Kadang juga diselingi pijatan pijatan di jalur jalur syaraf tertentu.


Setelah lima hari kakek itu melakukan pengobatan dan therapi di bagian leher dan kepala Lintang Rahina, perlahan lahan kesadaran Lintang Rahina mulai pulih.


Masih dalam keadaan setengah sadar, sayup sayup Lintang mendengar suara daun daun tertiup angin. Lintang berusaha membuka matanya.


Begitu matanya terbuka, semua terlihat berputar. Setelah mencoba bertahan, akhirnya Lintang tidak kuat lagi, karena dirasakan sakit di kepalanya.


Seiring dengan pulihnya kesadaran, mulailah beberapa hal dirasakan oleh Lintang.


Selain merasa pusing, Lintang Rahina juga mulai merasakan haus sekali, lapar dan ngilu di sekujur tubuhnya. Juga dirasakan lelah seperti tak bertenaga.


Tiba tiba terdengar suara pelan seorang kakek, "Akhirnya kamu sadar juga anak muda."


"Ha....haus....haus..." Lintang mengucapkan hampir tidak keluar suaranya.


"Ini....minum dulu," kata kakek itu sambil meminumkan Lintang secangkir air putih.


Setelah minum air putih beberapa tegukan, Lintang merasa agak enak.


Lintang mencoba bangun dan dibantu kakek penolongnya, Lintang berhasil duduk bersandar pada dinding.


"Owhhh......kakek, di mana saya ? Dan apa yang terjadi dengan saya ?" tanya Lintang dengan suara lemah.


"Kamu ada di rumah kakek. Kamu sudah hampir dua puluh hari tak sadarkan diri," jawab kakek itu.


Kakek itu menyuapi Lintang dengan beberapa sendok bubur.


Kemudian kakek itu memberikan suatu ramuan dan meminta Lintang Rahina untuk segera meminumnya.


\_\_\_ 0 \_\_\_

__ADS_1


__ADS_2