Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Siasat Licik


__ADS_3

Ki Rekso, Ki Pratanda dan Ki Kawungka mengikuti masuk ke ruang tengah. Mereka bertiga duduk di depan Ki Dipa.


Dengan posisi duduk, Ki Dipa menoleh ke kiri ke pintu yang mengarah ke luar dan berkata, "paman, tolong panggil Ki Wangsa kemari."


Tanpa menjawab, orang yang disuruh oleh Ki Dipa langsung keluar lewat pintu belakang.


Tidak berapa lama, Ki Wangsa masuk ke ruang tengah dan langsung duduk di samping Ki Dipa. Kemudian Ki Wangsa melihat ke arah tiga orang tamu Ki Dipa, Ki Wangsa sedikit terkejut tetapi nampak kalau dia menahan rasa terkejutnya dan memilih diam dan menunggu.


"Ki Rekso, bagaimana kalian bisa menemukan kami ?" tanya Ki Dipa.


"He he he..... Mudah saja menemukan keberadaan Ki Dipa dan Ki Wangsa," jawab Ki Rekso, "siapa yang tidak tahu kebesaran nama Ki Dipa dan Ki Wangsa, senopati Majapahit yang terkenal sakti dan sangat dekat dengan Prabu Brawijaya."


"Baiklah, kabar apa yang kalian bertiga bawa, sehingga harus repot repot ke sini ?" tanya Ki Dipa.


Ki Rekso menjawab dan kemudian menceritakan.


Saat ini Kerajaan Demak yang didirikan oleh Raden Patah sedang melemah sepeninggal Raden Patah. Diam diam terjadi perebutan pengaruh antara Jipang dan Kotagedhe.


Kedatangan mereka bertiga bermaksud meminta dukungan dari Ki Dipa dan Ki Wangsa yang mantan senopati Majapahit, untuk menggalang kekuatan untuk melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Demak dan meneruskan berdirinya Kerajaan Majapahit dengan mengangkat salah satu keturunan Prabu Brawijaya sebagai raja baru Majapahit.


Ki Rekso dan kawan kawan mempunyai rencana untuk mengangkat salah satu murid mereka sebagai raja Majapahit yang baru. Bisa Sunu Magani murid Ki Rekso atau Arga Manika murid Ki Jiwo. Atau kalau terpaksanya, mengangkat Galuh Pramusita murid perempuan Ki Brata.


Ki Rekso, Ki Jiwo dan Ki Brata sama sama mengaku telah menyelamatkan anak keturunan Prabu Brawijaya saat terjadi ontran ontran dalam keluarga istana.


Ki Rekso dan teman temannya yang sepemikiran dengannya, mengatakan bahwa tidak masalah siapapun yang akan menjadi raja, yang penting Majapahit tetap berdiri.


Walaupun mengatakan itu, diam diam Ki Rekso berambisi untuk menjadikan muridnya, Sunu Magani muridnya yang menjadi raja.

__ADS_1


Ki Rekso juga tahu, Ki Dipa dan Ki Wangsa kalau hanya diberi informasi tentang rencana mengangkat raja penerus Majapahit tidak akan bisa ditarik menjadi sekutunya. Bisa bisa Ki Dipa dan Ki Wangsa akan menolak mentah mentah. Mengingat kesetiaan Ki Dipa dan Ki Wangsa kepada Prabu Brawijaya yang sangat besar.


Maka dari itu, selain menyampaikan tentang rencana menggalang kekuatan untuk mengangkat raja baru kerajaan Majapahit, Ki Rekso juga menambah cerita mengenai rencana pembunuhan keluarga anak turun Prabu Brawijaya, terutama anak turun yang berhak atas tahta Majapahit.


Ki Rekso mengatakan kalau rencana pembunuhan itu dibuat dan akan dilakukan oleh Ki Penahun, Ki Ageng Arisboyo, Ki Pradah, Ki Pandya dan semua tokoh tokoh yang memihak pada Ki Penahun dan teman temannya.


Ki Rekso yang sangat pandai memainkan kata kata berhasil meyakinkan Ki Dipa dan Ki Wangsa sehingga Ki Dipa dan Ki Wangsa bersedia membantu Ki Rekso melawan Ki Penahun dan Ki Ageng Arisboyo dan kelompoknya.


"Bangsaaattt !!!" Ki Dipa yang emosi mengumpat sambil berdiri. Kedua tangannya mengepal dan ditekankan pada meja.


"Berani beraninya mereka mengancam keselamatan anak turun Prabu Brawijaya raja Majapahit," kata Ki Dipa lagi, "akan ku tumpas mereka."


"Ki Rekso," kata Ki Dipo, "lanjutkan rencanamu. Lindungi semua anak keturunan Prabu Brawijaya. Kalau Ki Penahun, Ki Ageng Arisboyo dan yang lainnya berani macam macam, aku yang akan menghentikannya."


Dalam hatinya, Ki Rekso bersorak. Umpannya termakan oleh Ki Dipa dan Ki Wangsa. Dan yang lebih menggembirakan Ki Rekso lagi adalah bertambahmya kekuatan yang berada di pihak mereka. Ki Dipa dan Ki Wangsa adalah senopati yang sangat diandalkan dan sangat dipercaya oleh Prabu Brawijaya semasa menjadi raja.


 


Turun dari Lawu tempat tinggal Ki Dipa dan Ki Wangsa, Ki Rekso, Ki Pratanda dan Ki Kawungka langsung menuju Parangtritis. Mereka bertiga tidak ke tempat Ki Pradah karena mereka tahu Ki Pradah sering tidak berada di rumahnya. Ki Pradah selalu berkelana.


 


Setelah beberapa hari melakukan perjalanan mencari keberadaan Lintang Rahina, Sekar Ayu Ningrum yang ditemani oleh Ki Sardulo dan Nyi Wilis sampai di sungai Bengawan. Mereka menuju ke air terjun tempat Lintang Rahina terjatuh.


Tetapi walaupun telah mencari ke beberapa tempat menyusuri tepian sungai Bengawan, keberadaan Lintang tidak ditemukan.


Ki Sardulo segera mengajak Nyi Wilis dan Sekar Ayu Ningrum untuk pergi dari tempat itu dengan mengatakan ingin segera menemukan Lintang Rahina. Sebenarnya Ki Sardulo sejak memasuki daerah dekat sungai, merasakan sesuatu yang mencurigakan.

__ADS_1


Hingga sampailah mereka bertiga di suatu tempat yang cukup luas. Air sungai mengalir tenang. Tempat yang menyajikan pemandangan yang indah. Di kiri kanan sungai terdapat petak petak sawah yang sangat luas. Memandang jauh kedepan terlihat perbukitan yang menghijau. Orang orang menamakan tempat itu 'Lembah Bengawan'.


Mereka berhenti sejenak untuk beristirahat sambil melihat lihat pemandangan.


Ki Sardulo memilih untuk mengawasi sekeliling, Karena Ki Sardulo merasa ada sesuatu yang mengawasi dengan energi yang mengancam.


Tiba tiba dari arah yang sama saat mereka datang ke tempat itu, tampak empat orang mendekati mereka. Sekar Ayu Ningrum merasakan energi yang tidak bersahabat dari keempat orang yang datang itu.


"Aku merasakan hawa siluman," kata laki laki tua yang berperawakan tinggi kurus, berpakaian seperti pakaian petani berwarna serba hitam.


"Betul Ki Jiwo, "jawab laki laki tua yang satunya yang berkumis tebal dan tinggi badan sedang saja.


Orang yang dipanggil dengan nama Ki Jiwo tertawa.


"Ha ha ha ha...." jawab Ki Jiwo, "aku merasakan ada dua hawa siluman Ki Brata."


Mereka yang datang berempat adalah Ki Jiwo bersama muridnya Arga Manika dan Ki Brata bersama murid perempuannya Galuh Pramusita.


Berdasar informasi dari pasukan mata mata yang mereka sebar, mereka berempat tahu siapa dan kemana sasaran mereka. Hingga akhirnya mereka yakin kalau mereka tidak salah sasaran setelah mereka menguntit saat Sekar Ayu Ningrum dan Ki Sardulo dan Nyi Wilis tiba di air terjun tempat Lintang Rahina jatuh.


"Ayo kita tangkap siluman itu Ki," ajak Ki Jiwo, "aku satu Ki Brata satu."


"Ha ha ha ha.... aku tidak bisa menolaknya Ki Jiwo, jawab Ki Brata sambil tertawa.


"Kisanak, siapa kalian dan ada perlu apa dengan kami ?" tanya Ki Sardulo.


"Ha ha ha ha.... kami adalah orang yang akan menangkap kamu," jawab Ki Jiwo.

__ADS_1


\_\_\_ 0 \_\_\_


__ADS_2