Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Kematian Ki Jiwo


__ADS_3

Saat tubuh Ki Jiwo meluncur turun, Lintang Rahina mengangkat tangan kirinya telapak tangannya menghadap ke arah tubuh Ki Jiwo.


Tiba tiba melesat aliran energi dari telapak tangan kiri Lintang Rahina yang membuat tubuh Ki Jiwo yang sedang meluncur jatuh mendadak berhenti dan seperti melayang di udara.


Telapak tangan kiri Lintang Rahina membuat gerakan gerakan tertentu yang membuat tubuh Ki Jiwo seperti berdiri di udara dengan kepala mendongak ke atas.


Saat itu Ki Jiwo merasakan lehernya tercekik dan rasanya panas, seperti dijepit dengan besi yang terbakar.


Ki Penahun yang tadinya diam saja karena masih berusaha menetralkan energinya yang sejak keris Ki Jiwo menusuk perutnya terus bergejolak, tiba tiba berkata, "ngger.... Lintang.... dialah yang telah menangkap Ki Sardulo."


Mendengar perkataan kakeknya, Lintang Rahina sedikit terkejut. Karena sebelumnya sudah sempat merasakan keberadaan energi Ki Sardulo.


Sambil tangan kirinya melakukan suatu gerakan yang membuat tubuh Ki Jiwo yang tadinya melayang agak tinggi menjadi mendekat ke arah Lintang Rahina dengan tetap dalam keadaan melayang, Lintang Rahina memandang Ki Jiwo dan berkata, "Katakan, di mana gadis bernama Sekar itu !"


"Hah .... huk uhuk uhuk... ga ... gadis itu, akan segera menjadi korban ritual seseorang," jawab Ki Jiwo dengan nada menantang."


Mendengar jawaban Ki Jiwo itu, Lintang Rahina menggerakkan jari jari tangan kirinya.


Ki Jiwo merasakan jepitan di lehernya semakin kencang.


"Katakan, di mana gadis itu !" Lintang mengulangi pertanyaannya.


"Achkkk ackk .... ku... kukatakan pun, kau tak akan bisa menemukannya," jawab Ki Jiwo.


Lintang Rahina yang sudah sangat jengkel mendengar Ki Sardulo ditangkap oleh Ki Jiwo, kemudian menggerakkan jari tangan kirinya seperti orang meremas dan kemudian tangan kirinya dihentakkan ke depan dengan cepat.


Ki Jiwo yang posisinya masih melayang di depan Lintang Rahina, tiba tiba terlempar lebih tinggi lagi, dan kemudian jatuh berdebum di tanah dengan leher patah. Nyawanya sudah melayang sebelum tubuhnya mencapai tanah.


Begitu Ki Jiwo tewas, tiba tiba keris yang masih tertancap di perut sebelah kanan Ki Penahun, melesat ke udara dan bergerak naik turun tidak beraturan.


Lintang Rahina yang melihat itu, langsung menggerakkan tangan kanannya seperti orang menggapai. Kemudian dari telapak tangan kanan Lintang Rahina keluar aliran energi berwarna kuning keemasan yang mengarah ke keris yang melayang itu.

__ADS_1


Begitu aliran energi dari Lintang Rahina mengenai keris itu, terjadi ledakan sinar berwarna putih keperakan.


Blarrr !!!


Sinar putih keperakan yang menyelimuti keris itu semakin membesar dan berbentuk bulatan hingga mencapai diameter sekitar dua meter.


Setelah pancaran sinar putih keperakan itu berhenti bertambah besar, dari tengah tengah bulatan sinar putih keperakan itu muncul bulatan sinar berwarna kuning keemasan.


Awalnya bulatan sinar kuning keemasan itu hanya sebesar kepalan tangan orang dewasa. Semakin lama semakin bertambah besar hingga sinar yang berwarna putih keperakan hilang seluruhnya.


Kemudian perlahan Lintang Rahina menurunkan aliran energi dari tangan kanannya, sehingga bulatan sinar kuning keemasan itu seperti terletak di tanah dan tidak lagi melayang.


Sesaat kemudian terjadi ledakan lagi, sehingga bulatan sinar kuning keemasan itu menyebar ke semua arah.


Plassshhh !!!


Perlahan lahan sinar kuning keemasan yang menyebar menyelimuti area pertarungan menipis dan menghilang.


Harimau itu adalah siluman harimau Ki Sardulo.


Setelah terbebas dari ikatan energi dengan Ki Jiwo yang telah tewas, Ki Sardulo langsung mengalami peningkatan kekuatan, saat masih berwujud sinar putih keperakan. Maka sinar putih keperakan itu perlahan lahan menghilang diganti dengan bulatan sinar kuning keemasan.


"Terimakasih den Lintang, telah membebaskan saya " kata Ki Sardulo, "dan maafkan saya yang tidak bisa melakukan tugas menjaga Sekar teman den Lintang."


"Tidak apa apa Ki Sardulo. Itu bukan kesalahan Ki Sardulo," jawab Lintang Rahina.


Kemudian Lintang Rahina segera menuju ke tempat Ki Penahun lagi untuk melihat kondisi eyangnya.


Tanpa berkata kata, Lintang Rahina segera duduk bersila di belakang eyangnya yang juga duduk bersila sambil tangan kanannya menekan luka bekas tusukan keris Ki Jiwo. Kedua telapak tangan Lintang Rahina ditempelkan pada punggung Ki Penahun.


Sebentar kemudian aliran energi hangat keluar dari kedua tangan Lintang Rahina dan masuk ke seluruh tubuh Ki Penahun.

__ADS_1


Ki Penahun merasakan seluruh tubuhnya hangat yang menimbulkan perasaan nyaman dan rileks.


Begitu energi dan stamina Ki Penahun pulih sekitar lima puluh persen, tiba tiba ada suatu energi yang rasanya sejuk seperti hembusan angin berputar putar mengelilingi luka di perut Ki Penahun.


Putaran energi sejuk yang awalnya hanya pelan sedikit demi sedikit bertambah cepat, hingga Ki Penahun merasakan agak sedikit perih dan dingin. Begitu cepatnya putaran energi sejuk mengitari luka Ki Penahun. Hingga akhirnya Ki Penahun tidak merasakan lagi perih di lukanya.


Dalam beberapa saat, Ki Penahun merasakan seperti kebas dan mati rasa pada daerah lukanya. Hingga tanpa sadar tangan kanan Ki Penahun meraba lukanya.


Ki Penahun terkejut mendapati bekas lukanya hilang.


Sesaat kemudian energi sejuk yang mengitari luka diperut Ki Penahun menghilang.


Yang dirasakan Ki Penahun, energi hangat yang masuk ke tubuhnya semakin lama semakin besar. Hingga Ki Penahun sampai merasakan panas di seluruh tubuhnya. Keringat keluar dari seluruh permukaan kulitnya.


Begitu Lintang Rahina merasakan putaran energi yang dia masukkan ke dalam tubuh Ki Penahun sudah stabil, sedikit demi sedikit Lintang Rahina menarik kembali energinya. Setelah semua energinya sudah ditarik, Lintang Rahina menarik kedua tangan dari punggung Ki Penahun.


Ki Penahun dalam beberapa saat masih tetap dalam posisi bersila. Ki Penahun sangat terkejut dan sekaligus gembira. Energinya telah pulih seutuhnya. Bahkan Ki Penahun merasa, sekarang energinya lebih besar dari sebelumnya. Ki Penahun juga merasakan, badannya menjadi ringan dari sebelumnya.


Ki Penahun sangat gembira, karena cucunya Lintang Rahina sudah bertambah semakin kuat. Bahkan kemungkinan besar sudah jauh melebihi kekuatannya.


Ki Penahun membuka matanya dan berkata, "Terimakasih ngger, sudah menyelamatkan eyang."


"Itu sudah menjadi kewajiban Lintang untuk menjaga eyang," jawab Lintang Rahina.


---


Sementara itu bersamaan dengan saat Lintang Rahina berusaha menyembuhkan eyangnya, Ki Sardulo segera melompat menuju tempat Ki Brata berada.


Ki Sardulo merasakan energinya bertambah kuat dan bertambah cepat. Hingga dia membatin, "Den Lintang mengalami peningkatan kekuatan yang luar biasa."


Dengan tingkat kekuatan energi seperti yang Ki Sardulo rasakan kali ini, Ki Sardulo sudah tidak berwujud harimau raksasa. Tetapi wujudnya yang sekarang adalah seukuran harimau biasa.

__ADS_1


Tetapi walaupun seukuran harimau biasa, energinya jauh lebih kuat dibanding saat masih berwujud harimau raksasa.


__ADS_2