
Waktu berjalan begitu cepat. Tanpa terasa, waktu yang sudah dijanjikan oleh Dharmajaya Pawatu tiba.
Pagi hari saat matahari baru saja menampakkan wajahnya untuk memberikan kehangatan pada semua makhluk yang ada di bumi, terlihat dua bayangan tubuh yang berlari tidak begitu cepat, menuju sebuah tebing di punggung gunung yang terlihat sangat tinggi dan curam. Selain itu, dinding tebing curam itu juga sangat licin dengan adanya tumbuhan lumut dan getah yang keluar dari suatu tanaman perdu yang tumbuh di permukaan tebing itu. Namun dua orang itu terlihat menaiki tebing dengan mudahnya menggunakan ilmu meringankan tubuh mereka yang sangat tinggi.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua tiba di atas tebing yang berbentuk tanah datar yang cukup luas. Jauh di sudut tanah datar itu berdiri suatu bangunan yang cukup luas dan megah berbentuk seperti bangunan keraton. Bangunan itu dikelilingi oleh pagar tembok yang cukup tinggi dengan pintu gerbang yang besar. Namun bangunan megah itu terlihat sepi.
Mereka berdua adalah Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum. Sesampai di tanah datar itu, mereka berjalan maju agak ke tengah dan berdiri diam.
Lintang Rahina belum merasakan adanya getaran energi dari Dharmajaya Pawatu.
Setelah beberapa saat berdiri diam menunggu, tiba tiba terasa getaran energi siluman yang sangat kuat yang berasal dari dalam bangunan besar itu.
Terdengar suara tertawa dari dalam bangunan itu.
"Heeeh he he he ..... Kalian memang anak muda pemberani dan menepati janjinya,"
Ketika suara itu baru saja berhenti, Lintang Rahina merasakan datangnya kesiuran menuju ke arahnya. Lintang Rahina bereaksi dengan cepat. Terdengar suara benturan ketika Lintang Rahina menyilangkan kedua lengannya di depan dada.
Duuuaaakkk !!!
Lintang Rahina terdorong ke belakang dua langkah namun posisi kuda kudanya tidak berubah.
Baru saja tubuhnya berhenti, Lintang Rahina merasakan getaran energi yang sangat dingin dari arah belakangnya. Dengan cepat Lintang Rahina memutar tubuhnya sambil merendahkan posisi kuda kudanya. Kelebatan kepalan tangan terlihat dan Lintang Rahina pun segera memapakinya dengan pukulan tapaknya.
Plaaakkk !!!
Kembali tubuh Lintang Rahina tersurut ke belakang dua langkah. Belum juga Lintang Rahina menegakkan tubuhnya kelebatan kaki melesat dengan sangat cepat mengenai dadanya.
Buuukkk !!!
Tubuh Lintang Rahina terlempar ke atas ke belakang.
__ADS_1
"Heeh he he .... anak muda ! Kalau kemampuanmu hanya segini, kenapa cucuku bisa kalah darimu ?" tanya Dharmajaya Pawatu.
"Terimalah ini anak muda, sesuai dengan janjiku !" kata Dharmajaya Pawatu.
Kemudian Dharmajaya Pawatu terlihat melemparkan buntalan kecil berwarna hitam sebesar genggaman tangan ke arah Lintang Rahina, yang segera ditangkap oleh Lintang Rahina.
"Kau bisa membawanya pulang untuk mengobati gurumu. Itu kalau kau bisa keluar dari sini !" lanjut Dharmajaya Pawatu.
Lintang Rahina sejenak melihat buntalan hitam yang dia tangkap. Kemudian menyelipkan ke dalam kantong bajunya.
Sebenarnya, Lintang Rahina memang masih belum terlalu memperhatikan lawannya, karena hatinya masih mengkhawatirkan Sekar Ayu Ningrum. Apalagi sekarang mereka cukup jauh jaraknya dengan Dharmajaya Pawatu berada di tengah tengah mereka.
Tetapi yang membuat Lintang Rahina heran, kenapa Dharmajaya Pawatu tidak menyerang Sekar Ayu Ningrum.
Mendengar kata kata Dharmajaya Pawatu, Lintang Rahina segera menambah aliran energi ke seluruh tubuhnya. Seluruh tubuhnya diselimuti butiran sinar kuning keemasan. Kedua tangannya langsung berwarna ungu kehitaman.
"Kau menginginkan ini, kakek tua ? Ayo, mendekatlah padaku. Kuberikan apa yang kau mau, bahkan akan lebih dari yang kau pikirkan !" jawab Lintang Rahina yang berusaha menjauhkan Dharmajaya Pawatu dari Sekar Ayu Ningrum.
Sesaat kemudian, tubuh Lintang Rahina sudah melesat ke arah Dharmajaya Pawatu.
Dhatmajaya Pawatu yang tidak menyangka dengan kecepatan lawannya, tidak ada waktu untuk menghindar dan terpaksa menangkis serangan Lintang Rahina.
Plaaakkk ! Plaaakkk !
Deeesss !!!
Tubuh Dharmajaya Pawatu meluncur deras ke atas, akibat tendangan terkena Lintang Rahina setelah sebelumnya berhasil menangkis dua pukulan Lintang Rahina.
Sementara itu, Lintang Rahina yang tubuhnya mendarat di dekat Sekar Ayu Ningrum berdiri, segera meminta Sekar Ayu Ningrum agak menjauh, selama dia bertarung melawan Dharmajaya Pawatu.
"Adik Sekar, menjauhlah dulu dan cari tempat yang aman," kata Lintang Rahina.
__ADS_1
Sementara itu, Dharmajaya Pawatu yang merasa kecolongan, bisa terkena tendangan lawan, segera mengempos energinya, sehingga tubuhnya melesat dengan sangat cepat ke arah Lintang Rahina.
Bersamaan dengan itu, sesaat setelah Sekar Ayu Ningrum menjauh, tubuh Lintang Rahina berkelebat cepat menghadang datangnya serangan Dharmajaya Pawatu.
Sebentar kemudian, dua kelebatan tubuh saling menyerang dan saling mendesak dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata. Kadang saling berbenturan kemudian salong menjauh. Kadang terdengar tangan atau kaki saling bertemu.
Sementara Sekar Ayu Ningrum yang berdiri dan melihat dari tempat yang agak jauh, tetap bisa mengikuti jalannya pertarungan. Bisa dilihat olehnya, Lintang Rahina tidak kesulitan untuk mengimbangi Dharmajaya Pawatu.
Pada suatu kesempatan, mereka berdua sama sama saling menyerang secara beruntun, hingga terdengar suara pukulan ataupun benturan yang disusul dengan berkelebatnya dua tubuh saling menjauh.
Plaaakkk ! Plak ! Plak !
Deeesss !!!
Mereka berdua sama sama tersurut ke belakang dan sama sama segera memantapkan kembali kuda kuda mereka.
Terlihat wajah Dharmajaya Pawatu memerah. Sedikit senyuman yang sejak tadi tergambar di tarikan bibirnya, menghilang berganti dengan kertakan rahang dan tatapan mata yang tajam mengancam.
Kemudian, dengan cepat Dharmajaya Pawatu melakukan gerakan gerakan tertentu dengan kedua tangannya disertai gerakan bibir yang komat kamit mengucapkan sesuatu.
Secara perlahan, suhu udara di tanah datar di atas tebing itu menjadi semakin dingin. Hawa dingin yang sangat menekan perasaan.
Tiba tiba tangan kanannya memegang sebuah tongkat kayu yang sekilas terlihat rapuh. Namun, dibalik tampilan rapuhnya, tongkat itu sangat kuat dan keras. Bahkan sebuah batu besar yang sangat keras pun akan hancur berkeping keping jika terkena sabetan tongkat itu dan akan berlubang dengan mudahnya saat ditusuk dengan ujung tongkat itu.
Di saat yang bersamaan, melihat lawannya mengeluarkan senjata tongkatnya, Lintang Rahina pun segera mengeluarkan pedangnya. Seketika bilah pedangnya diselimuti pendaran sinar putih pekat yang dilapisi butiran sinar kuning keemasan. Demikian juga dengan tubuhnya. Tangan kirinya tetap berwarna ungu kehitaman yang juga mengeluarkan pendaran sinar ungu tipis. Sedangkan tangan kanannya sudah kembali seperti semula.
Sesaat kemudian, hampir bersamaan, tubuh mereka berdua sama sama melesat ke depan dengan sangat cepatnya hingga hanya terlihat kelebatan bayangan tubuh mereka.
Benturan senjata keduanya terdengar berulang ulang dan menimbulkan suara yang sangat nyaring serta beberapa kali menimbulkan percikan api.
Klang ! Klang ! Klang !
__ADS_1
Benturan senjata dan saling gempur semakin lama semakin bertambah cepat dan semakin bertambah besar energi yang mereka keluarkan.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ ◇ \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_