Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Mengembalikan Energi Keempat Guru


__ADS_3

Setelah Sekar Ayu Ningrum mengatakan kalau dirinya tidak apa apa, Putri Kanistra mengatakan, sebaiknya Lintang Rahina segera membebaskan inti energi keempat gurunya. Dia yang akan menunggu dan menjaga Sekar Ayu Ningrum.


Mendengar saran Putri Kanistra, Lontang Rahina segera kembali masuk ke ruangan di mana keempat gurunya dibaringkan.


Pertama Lintang Rahina menuju ke tempat eyangnya, Ki Penahun. Setelah memeriksa keadaannya, Lintang mulai melakukan apa yang diajarkan oleh Putri Kanistra.


Dengan duduk bersila di sebelah eyangnya yang terbaring, Lintang meletakkan ujung tongkat kayu menempel di pusat eyangnya sedangkan ujung yang satunya dia genggam dengan tangan kanan.


Kemudian perlahan lahan, Lintang Rahina mengalirkan energinya ke tongkat kayu. Terlihat, tongkat kayu itu bergetar pelan. Lintang Rahina menunggu beberapa saat, karena belum terjadi apa apa, dia tingkatkan aliran energi ke tongkat kayu.


Beberapa saat memudian, getaran tongkat kayu itu bertambah kuat, namun sudah tidak mengeluarkan asap hitam.


Getaran tongkat kayu itu terus saja bertambah besar bahkan kemudian mengeluarkan suara berdengung seperti kawanan lebah.


Untuk menahan agar getaran kayu itu tidak membuat terlepas dari tangannya dan tidak terpental karena getarannya, Lintang Rahina secara bertahap menambah terus lagi aliran energinya.


Setelah beberapa saat, dari ujung tongkat yang menempel ke pusar eyangnya, keluar bola sinar berwarna ungu pekat sebesar kepalan tangan.


Sinar ungu sebesar kepalan tangan itu terus saja masuk ke tubuh Ki Penahun melalui pusatnya dengan perlahan.


Sesaat, kedua mata Ki Penahun terbelalak sambil terangkat tubuh bagian atasnya, namun kemudian terbaring lagi seperti orang tidur.


Setelah bola sinar berwarna ungu pekat itu masuk seluruhnya ke dalam pusar Ki Penahun,memudian diikuti dengan aliran energi yang berwarna ungu, yang keluar dari ujung tongkat kayu dan masuk ke pusar Ki Penahun.


Begitu aliran energi yang berwarna ungu itu habis, tiba tiba tongkat kayu itu terlepas sendiri dari pusar Ki Penahun.


Tanpa menunggu lama, Lintang Rahina segera melakukan hal serupa ke tubuh Ki Pradah.

__ADS_1


Semua proses yang terjadi pada Ki Pradah, Ki Jagad Dahana dan Ki Jagad Anila, sama seperti yang terjadi pada Ki Penahun.


Yang berbeda hanyalah, kalau Ki Pradah, bola sinar sebesar kepalan tangan yang keluar dari ujung tongkat kayu berwarna putih.


Sedangkan pada Ki Jagad Dahana, bola sinar sebesar kepalan tangan yang keluar dari ujung tongkat kayu itu berwarna merah menyala.


Yang terakhir, bola sinar yang masuk ke pusar Ki Jagad Anila, yang keluar dari ujung tongkat kayu, berwarna biru muda.


Setelah semua inti energi yang keluar dari ujung tongkat kayu itu habis, tongkat kayu itu berhenti bergetar.


Lintang Rahina menyimpan kembali tongkat kayu itu. Kemudian dia segera duduk bersila dengan telapak tangan kanan terbuka di depan sedangkan trlapak tangan kirinya membuka lurus menghadap ke atas dibawah telapak tangan kanan.


Sesaat kemudian, dari dada dan telapak tangan kanan Lintang Rahina, keluar sinar putih pekat yang bercampur dengan butiran sinar kining keemasan. Pendaran sinar itu segera membesar dan meluas hingga sampai melingkupi seluruh tubuh Lintang Rahina hingga ke seluruh tubuh keempat gurunya yang sedang duduk bersila bersemedi.


Pendaran sinar putih pekat bercampur butiran sinar kuning keemasan yang menyelimuti seluruh tubuh keempat gurunya semakin lama semakin tebal dan rapat seiring dengan semakin meningkatnya energi yang dikeluarkan oleh Lintang Rahina.


Setelah hampir setengah hari, akhirnya Lintang Rahina mengakhiri dalam membantu gurunya menyembuhkan dan mengembalikan energinya.


Setelah menarik kembali aliran energinya Lintang Rahina langsung melanjutkan tenggelam ke semedinya.


Sementara itu, keempat guru Lintang Rahina, begitu merasakan energinya pulih kembali, segera bangkit berdiri.


Mereka berempat hendak mendekat ke pohon yang seluruh bagiannya mengeluarkan sinar putih keperakan. Karena mereka berempat sudah penasaran sejak awal mereka dimasukkan ke sini.


Namun, saat mereka melihat Lintang Rahina yang sedang bersemedi untuk memulihkan tenaganya, mereka berempat mengurungkan niatnya dan melangkah keluar dari ruangan yang cukup luas itu. Karena mereka tidak ingin mengganggu semedi Lintang Rahina.


Sesampai di luar ruangan itu, mereka mendapati Sekar Ayu Ningrum yang ditemani oleh Putri Kalistra.

__ADS_1


Setelah keempatnya memberi penghormatan kepada Putri Kalistra, mereka pun segera menghampiri Sekar Ayu Ningrum.


Begitu mendekat dan melihat keadaan Sekar Ayu Ningrum, mereka berempat terkejut. Namun Sekar Ayu Ningrum segera mengatakan kalau dirinya baik baik saja dan tadi hanya sempat pingsan saat akan memasuki ruangan yang ada pohon sinar putih keperakan.


Karena penasaran, mereka menanyakan hal itu pada Putri Kalistra.


"Pohon apakah gerangan itu, Putri ?" tanya Ki Penahun.


"Saya sendiri kurang tahu tepatnya, Ki. Karena pohon itu sudah ada sejak dahulu kala. Hanya, secara turun temurun, dari orang tua kami, kami disuruh menjaganya, sampai pemilik sesungguhnya datang," jawab Putri Kalistra.


"Pohon itu menyimpan energi yang sangat besar, energi yang mirip dengan yang dimiliki Lintang Rahina, namun hanya berbeda sifat. Dilihat dari sifat energinya, energi pohon itu mirip sekali dengan energi yang dikeluarkan oleh Sekar. Tetapi, kalau mirip dengan energimu, kenapa kamu menjadi seperti kehabisan energi, saat hendak masuk ke ruangan itu ?" kata Ki Pradah.


----- o -----


Sementara itu, di dalam semedinya, Lintang Rahina berusaha secepatnya memulihkan energinya, agar bisa segera keluar dari kerajaan gaib dan mencari Dharmajaya Pawatu.


Saat masih asyik dengan semedinya, tiba tiba Lintang Rahina seperti ditarik ke atas dengan cepat. Sesaat kemudian, Lintang Rahina seperti berada di dalam ruang pisowanan sebuah keraton.


Tiba tiba terdengar suara merdu seorang wanita.


"Anak muda, istana ini tidak nyata. Sama seperti istana yang pernah kamu masuki saat kamu bertemu leluhurmu. Kelak kalau anakmu sudah terlahir, bawalah istrimu ke tempat ini. Ada yang akan aku sampaikan pada istrimu."


Tanpa tahu munculnya dari mana, di depan Lintang Rahina telah berdiri seorang wanita muda yang sangat cantik. Wanita itu terlihat sangat anggun dan berkharisma dalam balutan busana ratu yang dipakainya.


"Kalau memang Ratu menunggu istriku, kenapa saat masuk ke ruangan ini dia pingsan ?" tanya Lintang Rahina.


"Itu karena kekuatan yang dibawa oleh anak yang dikandungnya, yang memiliki inti dari energi kegelapan. Tetapi bukan berarti anakmu jahat atau sesat. Itu hanya energinya. Sama seperti energi yang kamu miliki dan yang dimiliki istrimu, hanya berbeda sifat. Ibaratnya, seperti mata yang terpejam dan mata yang terbuka. Energi milikmu dan energi milik istrimu ibarat mata yang terbuka, sebaliknya energi yang dibawa calon anakmu adalah ibarat mata yang tertutup. Karena energi yang dibawa oleh calon anakmu berkebalikan dengan energi istrimu, maka, saat energi yang dibawa oleh anakmu bereaksi dengan energi dari pohon sinar, energinyang dibawa anakmu akan selalu bertemu dengan energi istrimu. Karena berlawanan, maka akan saling melemahkan dan menghilangkan. Maka dari itu, istrimu menjadi seperti kehilangan energi," kata Ratu cantik menjelaskan.

__ADS_1


__________ 0 __________


__ADS_2