Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Menuju Laut Timur Pulau Dewata


__ADS_3

Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum tidak terlalu cepat dalam melakukan perjalanan walaupun tetap menggunakan ilmu meringankan tubuh. Karena selama perjalanan, Lintang Rahina terkadang sambil merasakan getaran energi dari senjata trisula yang dibawanya.


Hingga sampai di pantai timur Pulau Dewata, senjata trisula yang dimasukkan dalam buntalannya bergetar pelan.


Lintang Rahina segera mengeluarkan senjata trisula dari buntalan, kemudian dengan memegang gagangnya, Lintang Rahina mengacungkan senjata trisula ke arah timur, mulai dari lurus ke timur, arah agak ke kanan dan memudian arah agak ke kiri.


Saat mengarah ke timur agak ke kiri, senjata trisula itu bergetar agak keras.


"Adik Sekar, kita menuju ke arah sana, sekarang," kata Lintang Rahina sambil menunjuk ke arah yang dimaksud.


Segera mereka berdua melesat keatas dan kemudian melayang menuju ke arah timur.


Ketika baru melayang selama lima tarikan nafas, Lintang Rahina merasakan ada energi besar yang mengikuti mereka.


Lintang Rahina pun berhenti dan membalikkan badan.


"Kita tunggu sebentar, siapa yang mengejar kita," kata Lintang Rahina.


Energi yang mengikuti mereka terasa semakin kuat. Beberapa saat kemudian, di tengah tengah hamparan air laut yang selalu bergerak permukaannya, terlihat seseorang yang seperti berjalan di atas air laut dengan kecepatan yang sangat cepat.


Setelah cukup dekat, Lintang Rahina mengenali, yang melesat di atas permukaan air laut menuju ke arah mereka adalah Ugra Asipatra.


Hal itu menjadikan Lintang Rahina teringat pada dua resi teman dari Resi Nirartha Pradnya yang berdua menghadapi tiga lawan.


"Heh he he he .... anak muda, sekarang tidak ada melindungi dirimu lagi," kata Ugra Asipatra sambil tubuhnya melesat naik ke arah Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum melayang.


"Kakek tua, katakan, di mana dua guru resi teman guru Resi Nirartha Pradnya ?" tanya Lintang Rahina sambil menatap tajam Ugra Asipatra.


Heh he he he .... supaya kau tidak penasaran, akan kuberitahukan padamu," jawab Ugra Asipatra sambil tertawa, "Mereka berdua sudah aku kirim ke Nirwana !"


Lintang Rahina yang sejak awal telah mencemaskan nasib dua guru resi yang ditinggal oleh Resi Nirartha Pradnya.


Setelah Resi Nirartha Pradnya melesat pergi mnyusul Ni Luh Pawitra, dua resi temannya itu menjadi menghadapi tiga lawan.


Resi yang satu menghadapi Ugra Asipatra sedangkan resi yang lain menghadapi keroyokan Resi Jalada Mawa dan Mahiya Keswari.

__ADS_1


Sebenarnya saat satu lawan satu, kedua resi itu mampu mengimbangi kesaktian lawan.


Setelah Resi Nirartha Pradnya pergi menyusul Ni Luh Pawitra, Resi Jalada Mawa yang kehilangan lawan, bergabung dengan Mahiya Keswari mengeroyok resi yang lain. Sedangkan resi yang satunya masih tetap mampu mengimbangi Ugra Asipatra.


Tetapi, resi yang dikeroyok Mahiya Keswari dan Resi Jalada Mawa, sedikit demi sedikit menjadi terdesak.


"Resi Jalada Mawa, kuharap kau sadar apa yang kau lakukan dan swgera bertobat pada Hyang Widi," kata resi yang melawan Resi Jalada Mawa dan Mahiya Keswari.


"Kamu yang seharus segera bertobat ! Karena sebentar lagi akan ku antar kau menghadap Hyang Widi," jawab Resi Jalada Mawa.


Resi yang dikeroyok tidak bisa menjawab karena sibuk mempertahankan diri didesak oleh dua lawannya.


Pada suatu kesempatan, resi itu sedang menangkis serangan pukulan Resi Jalada Mawa.


Plakkk !


Keduanya sama sama terdorong mundur dua langkah. Hanya berjarak satu kedipan mata, serangan tongkat Mahiya Keswari melayang dan tepat mengenai bahu kanan resi itu yang tidak sempat menghindar ataupun menangkis.


Tukkk !!!


Bresss !!!


Resi itu jatuh tersungkur dengan posisi kepala jatuh lebih dulu. Disusul dengan ujung tongkat Mahiya Keswari yang tepat menotol mengenai ubun ubun.


Tukkk !!!


Resi yang dikeroyok itu seketika meninggal dengan kepala retak.


Melihat temannya gugur, resi yang melawan Ugra Asipatra mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mendesak Ugra Asipatra. Semua energinya dikeluarkan penuh ke arah kedua tangan dan kakinya. Sehingga serangannya bisa membuat Ugra Asipatra terdorong ke belakang.


Tetapi, belum sempat resi itu menyambung dengan serangan berikutnya, serangan tongkat Mahiya Keswari dan pukulan Resi Jalada Mawa sudah mengerubutinya.


Saat resi itu menghindari serangan tongkat Mahiya Keswari dan kemudian menangkis serangan pukulan Resi Jalada Mawa, satu pukulan dari Ugra Asipatra tidak bisa dihindarinya.


Plakkk !!!

__ADS_1


Bukkk !!!


Pukulan Ugra Asipatra dengan telak mengenai dada resi itu yang membuatnya terlempar ke belakang dan seketika memuntahkan darah segar.


"Heh he he he .... susullah temanmu menghadap Hyang Widi !" kata Ugra Asipatra sambil melayangkan tendangan ke arah dada resi yang jatuh terduduk itu.


Walaupun berusaha di tahan menggunaka kedua tangannya dengan sisa sisa energi miliknya, tendangan Ugra Asipatra tetap mengenai dadanya.


Resi itu terlempar ke belakang beberapa depa dan meninggal dengan dada remuk.


Setelah kedua lawannya mati, mereka bertiga sepakat untuk turun dulu pergi dari tempat itu untuk merencanakan penghadangan berikutnya. Hingga akhinya Ugra Asipatra bisa menyusul Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum saat perjalanan melatang di atas lautan timur Pulau Dewata.


Mendengar jawaban Ugra Asipatra, Lintang Rahina dengan masih menahan amarahnya bertanya kembali.


"Kakek tua ! Katakan sekali lagi, dimana keduaguru resi teman guru Resi Nirartha Pradnya ?" tanya Lintang Rahina.


"Mereka berdua sudah menghadap Hyang Widi !" jawab Ugra Asipatra, "Sekarang, serahkan senjata pusaka itu atau terpaksa kamu aku kirim menyusul kedua resi itu !"


"Adik Sekar, menjauhlah ! Biar kakang kali ini yang menghadapinya !" kata Lintang Rahina sambil menambah aliran energinya ke seluruh tubuhnya.


"Hati hati kakang ! Sepertinya dia sangat menguasai lautan !" jawab Sekar Ayu Ningrum sambil melayang agak jauh dari Lintang Rahina.


Setelah Sekar Ayu Ningrum sudah agak menjauh, Lintang Rahina segera mendekati Ugra Asipatra.


Ugra Asipatra yang merasa mendapatkan kesempatan, segera melayangkan serangan ke arah Lintang Rahina.


Kedua tangannya bergerak gerak seolah olah mengambil sesuatu diudara, kemudian menggerakkan kedua telapak tangannya ke arah Lintang Rahina.


Tiba tiba dari permukaan air laut, melesat ke atas banyak sekali gumpalan gumpalan air laut berbentuk bulatan dan mengarah ke tempat Lintang Rahina berdiri melayang.


Lintang Rahina yang sudah sangat siap segera membuat banyak kepalan tangan berwarna kuning keemasan dari energinya.


Energi berwujud kepalan tangan itu menyambut datangnya serangan bulatan air yang membuat bulatan bulatan air itu kembali melesat ke bawah dengan cepat.


Merasa serangannya tidak berhasil, Ugra Asipatra menggerakkan kedua tangannya lagi seperti gerakan orang mengangkat. Tiba tiba muncul gelombang air setinggi dua kali tinggi pohon kelapa. Gelombang air itu segera menerjang ke arah Lintang Rahina.

__ADS_1


___◇___


__ADS_2