
Tiba tiba dari belakang Esana Tara, melesat ke atas empat orang berpakaian biksu, dan mendarat di atas benteng. Salah seorang dari mereka mengatakan pada para prajurit yang menjaga pintu gerbang.
"Pada akhirnya, kebenaranlah yang akan menang, kejahatan akan hancur !"
Mereka menengok dari lubang pengintai yang ada di pintu gerbang. Terlihat, pendaran cahaya putih keperakan di seluruh tubuh Esana Tara semakin terang.
Di saat yang bersamaan, para biksu yang mendukung paman dari Esana Tara mulai keluar dan berhadap hadapan dengan keempat biksu yang mendukung Esana Tara.
Sementara, para senopati yang memimpin langsung para prajurit, mulai memerintah para prajurit untuk melakukan serangan.
Seraaannnggg !!!
Segera saja para prajurit menyebar dan bergerak sesuai dengan tugasnya masing masing.
Ada yang mendobrak pintu gerbang, ada yang memanjat dinding benteng, ada yang melakukan serangan panah.
Keempat biksu yang berdiri di atas benteng masih diam saja, karena belum ada lawan bagi mereka berempat.
Para prajurit dan para senopati, didampingi oleh Esana Tara menggempur pintu gerbang hingga akhirnya, pintu gerbang kerajaan bisa dijebol. Pasukan Esana Tara terus merangsek ke depan dan tak terelakkan lagi, terjadi saling duel, baik dengan senjata maupun dengan tangan kosong.
Terlihat, sedikit demi sedikit, prajurit pendukung Esana Tara bisa menekan prajurit lawan, walaupun sebenarnya kalah dalam jumlah. Namun pasukan Esana Tara menang dalam hal semangat bertempur, karena merasa mendapat restu dari Dewi Tara.
Pertempuran tidak lagi hanya terjadi di sekitar pintu gerbang. Namun sudah semakin mendekat ke arah istana.
Saat pasukan Esana Tara sudah mulai bergembira merasa sebentar lagi menang, tiba tiba dari arah bangunan istana melesat ke atas pertempuran, delapan bayangan tubuh berpakaian seperti biksu namun berwarna coklat. Masing masing dari mereka mempunyai energi yang sangat tinggi. Mereka berjuluk Penjaga Mata Angin. Termasuk sepuluh biksu inti yang menjadi pemimpin spiritual di negeri itu.
Melihat delapan biksu Penjaga Mata Angin sudah mulai keluar, keempat biksu berpakaian orange yang tadi sudah berdiri di atas tembok benteng, segera melesat ke atas melayang di depan mereka.
__ADS_1
"Biksu Penjaga Mata Angin yang terhormat, apa yang menutup mata batin kalian, sehingga kalian tidak bisa merasakan kalau Ratu Esana Tara yang mendapatkan restu dari Dewi Tara ?" kata salah seorang biksu berjubah orange.
"Kalian jangan mengigau ! Sudah jelas dalam petunjuk yang kami dapatkan, kalau Dewi Tara, turun dan menitis di negeri pulau pulau yang jauh dari daratan besar ! Apakah kalian masih mengingkari itu ?" jawab salah satu biksu berjubah coklat.
Kemudian, entah siapa yang memulainya, empat biksu berjubah orange sudah saling menggempur melawan delapan biksu berjubah coklat.
Karena tingkat ilmu mereka yang relatif seimbang, membuat pertarungan para biksu itu menjadi tidak seimbang, karena empat melawan delapan.
Namun tiba tiba, muncul kakek tua berpakaian petani yang segera bergabung dengan pertarungan itu.
Sejenak delapan biksu berjubah coklat itu terkejut. Biksu Penjaga Bumi yang merupakan biksu tertinggi nomer dua, yang sudah tidak pernah keluar dari bertapanya, tiba tiba muncul dan berhadapan menjadi lawan mereka.
Walaupun kakek tua berpakaian petani itu sedikit lebih tinggi ilmunya dari ke dua belas biksu yang sedang bertarung, namun belum bisa merubah keadaan. Akhirnya, keempat biksu berjubah orange yang dibantu oleh biksu berpakaian petani tetap terdesak.
Sementara itu dalam pertempuran sesama prajurit, pasukan Esana Tara semakin terlihat unggul. Esana Tara dalam keunggulan pasukannya, mencoba menebarkan pandangannya untuk melihat ke pertempuran yang lain. Dilihatnya, dalam pertarungan para biksu, biksu berjubah orange yang mendukung dirinya sebagai pewaris sah tahta kerajaan, terlihat terdesak dalam pertarungan yang tidsk seimbang.
Melihat Esana Tara mendekat, para biksu berjubah coklat terlihat tersenyum penuh kemenangan sementara biksu berjubah orange yang mendukungnya, terlihat gelisah.
"Gadis muda ! Kebetulan ! Kami juga ditugaskan untuk menangkapmu !" kata salah seorang biksu berjubah coklat.
Namun, walaupun Esana Tara sudah membantu, tetapi belum bisa merubah situasi pertempuran. Para biksu berjubah orange tetap terdesak walaupun sudah dibantu oleh biksu berpakaian petani dan Esana Tara.
Bahkan, tanpa Esana Tara sadari, pertempuran sesama prajurit yang dia tinggalkan, berubah situasinya.
Karena ditinggal oleh Esana Tara, para prajurit lawan seperti mendapatkan semangat bertarungnya. Hingga akhirnya pasukan yang berpihak pada Esana Tara, sedikit demi sedikit berganti terdesak. Hal ini membuat semangat prajurit agak menurun.
Dalam situasi terdesak, tiba tiba dari arah belakang prajurit Esana Tara, melesat terbang sesosok tubuh perempuan yang kedua matanya mengeluarkan cahaya putih dan seluruh tubuhnya mengeluarkan pendaran cahaya putih keperakan. Pendaran cahaya yang dikeluarkan jauh lebih terang dari yang dikeluarkan oleh tubuh Esana Tara. Bahkan, selain pendaran cahaya, tubuh perempuan itu mengeluarkan getaran energi yang sangat besar dan memberikan tekanan pada semua orang yang sedang bertempur di bawahnya.
__ADS_1
Sosok itu adalah Sekar Ayu Ningrum yang melayang dengan pakaiannya yang serba putih dan rambut yang sedikit berkibaran tertiup angin. Hal itu membuat Sekar Ayu Ningrum bak seorang dewi khayangan.
Namun dalam pandangan semua yang sedang bertempur, apalagi bagi para biksu, Sekar Ayu Ningrum dianggap Dewi Tara yang turun untuk membantu menyelesaikan konflik di negeri ini.
"Apakah kalian tetap akan berperang memperebutkan sesuatu yang bukan menjadi hak kalian ?" kata Sekar Ayu Ningrum pelan, namun bisa di dengar oleh semua yang berada di tempat pertempuran.
"Maafkan kami Dewi," kata para biksu berjubah orange dan biksu yang berpakaian petani.
Sekar Ayu Ningrum menoleh ke arah mereka. Ditatap dengan tatapan tajam oleh Sekar Ayu Ningrum, membuat tubuh para biksu berjubah orange seperti menyangga beban berat di pundaknya, yang membuat mereka hanya bisa menunduk.
"Kalian mundurlah," kata Sekar Ayu Ningrum.
Namun tiba tiba, terdengar suara terkekeh yang sangat berat namun seperti di dekat mereka.
"Kheh ke ke ke ....... Biksu Penjaga Mata Angin, dia adalah Dewi Tara palsu. Karena Dewi Tara yang sebenarnya adalah sudah turun di negeri pulau pulau yang sangat jauh dari daratan besar !" kata orang yang baru datang.
Orang yang baru datang itu adalah biksu Chittavake, pemimpin spiritual nomer satu di negeri ini.
"Biksu Chittavake, apa yang membuat belum terbuka juga mata batinmu ? Cobalah kau rasakan dan renungkan !" kata biksu berpakaian petani yang merupakan pemimpin spiritual nomer dua.
"Kalian semua yang harus dipertanyakan. Kalian ditawari kemuliaan, tetapi kalian menolaknya !" jawab Biksu Chittavake.
"Biksu Chittavake, itu bukan kemuliaan, namun gemerlap materi yang membutakanmu !" kata biksu berpakaian petani lagi.
Tiba tiba tubuh Sekar Ayu Ningrum mengeluarkan cahaya yang lebih terang lagi dan lebih luas. Kedua matanya sepenuhnya berwarna putih.
Kemudian, Sekar Ayu Ningrum merentangkan kedua tangannya. Sesaat kemudian, dari kedua telapak tangannya, keluar sinar putih yang melesat ke angkasa dan membentuk wujud pohon keabadian yang melayang di atas mereka yang tadinya saling bertempur.
__ADS_1
__________ 0 __________