
Ketika sampai didepan Ki Brata yang masih terduduk karena masih berusaha menyembuhkan luka dalamnya, Ki Sardulo sudah berubah ke dalam wujud manusia tua seusia Ki Penahun.
"Manusia licik," kata Ki Sardulo, "serahkan kerismu !"
Ki Brata dengan sedikit mengangkat kepalanya memandang Ki Sardulo yang berdiri di depannya.
"Kerisku terlempar saat ditangkis oleh Ki Penahun," jawab Ki Brata dengan suara lemah.
Mendengar jawaban Ki Brata, Ki Penahun merubah wujudnya ke dalam wujud siluman harimau. Kemudian Ki Sardulo mengeluarkan energinya untuk merasakan keberadaan aura Nyi Wilis yang dimasukkan ke dalam keris Ki Brata.
Ketika Ki Sardulo merasakan ada getaran yang sangat lemah di rerumputan tanah lapang yang agak jauh dari tempat pertarungan, Ki Sardulo segera menuju ke tempat itu setelah sebelumnya merubah wujud lagi menjadi wujud seorang kakek.
Telihat keris itu menancap di tanah dengan posisi agak miring. Ki Sardulo segera mencabut keris itu dan membawanya mendekat ke tempat Lintang Rahina yang sudah selesai mengobati Ki Penahun.
Baru saja Lintang Rahina menarik kedua tangannya dari punggung Ki Penahun, Ki Sardulo sudah duduk di depannya dengan menyodorkan keris yang diambilnya tadi dan berkata, "maaf den, tolong selamatkan saudara saya."
Lintang bisa merasakan, di dalam keris yang dipegang Ki Sardulo ada aura siluman yang sangat lemah. Segera saja Lintang Rahina menerima keris itu.
Dengan menyalurkan energinya ke keris itu, Lintang Rahina membuat keris itu melayang di depannya dalam jarak sekitar dua meter dengan menggunakan tangan kanannya.
Tidak berapa lama, keris itu mengeluarkan pendaran sinar putih keperakan yang semakin lama semakin membesar.
Setelah pendaran sinar itu berhenti bertambah besar, dari tangan kiri Lintang Rahina keluar secarik sinar kuning keemasan melesat menuju ke pendaran sinar putih keemasan yang menyelimuti keris.
Hanya butuh waktu beberapa detik, pendaran sinar putih keemasan itu lenyap berganti menjadi berwarna kuning keemasan.
Kemudian seperti tadi yang terjadi pada Ki Sardulo, pendaran sinar kuning keemasan itu turun dan menghilang meninggalkan wujud siluman harimau Nyi Wilis.
__ADS_1
Nyi Wilis yang sudah terbebaskan, baru akan berkata kata ketika Ki Sardulo tersenyum padanya dan telunjuknya mengarah ke Lintang Rahina.
Nyi Wilis pun menghadap ke arah Lintang Rahina dan segera mengucapkan terimakasih atas segala pertolongannya.
Setelah menjawab ucapan terimakasih Nyi Wilis dan mengenalkan diri serta menanyakan nama dan asal Nyi Wilis , Lintang Rahina segera menatap Ki Sardulo dan bertanya, "Ki Sardulo, ke mana perginya adik Sekar ?"
"Saat kami tertangkap, kami berdua dibawa ke tlatah wetan den," jawab Ki Sardulo, "saya sempat mendengar mereka berbicara, hendak pergi ke lereng Gunung Semeru. Dan saat kami dikurung, saya sempat melihat den Sekar juga ada di tempat itu, sepertinya ditahan. Tempatnya seperti bekas candi pemujaan den."
"Terimakasih Ki Sardulo," kata Lintang Rahina lagi, "Saya akan segera ke Gunung Semeru mencari adik Sekar. Saya minta tolong, Ki Sardulo menjaga dan menemani eyang Penahun. Dengan kekuatan Ki Sardulo sekarang, tidak banyak yang bisa mengimbangi kekuatan Ki Sardulo, saya percaya, Ki Sardulo bisa menjaga diri dan eyang Penahun. Dan saya minta tolong, Nyi Wilis mau menunjukkan jalan ke Gunung Semeru."
Kemudian Lintang Rahina mendekati Ki Penahun dan berkata, "Eyang, Lintang mohon pamit hendak mencari adik Sekar cucu Ki Ageng Arisboyo yang semula menemani pengembaraan Lintang.
Ki Penahun yang sudah sehat dan pulih kembali staminanya, berdiri dan sambil memegang bahu kiri Lintang. Kemudian Ki Penahun berkata, "Pergilah ngger. Cari temanmu itu sampai ketemu. Eyang akan menceritakan hal ini pada Ki Ageng Arisboyo. Kami berjanji akan bertemu di tempat tinggal Ki Pradah. Setelah temanmu Sekar ketemu, segeralah menyusul eyang."
Setelah meminta Nyi Wilis berubah ke wujud manusia, seorang nenek nenek, Lintang menggandeng Nyi Wilis, sesaat kemudian tubuh mereka berdua sudah melesat ke atas dan tak berapa lama sudah terlihat sangat jauh.
Ki Penahun kagum dan bangga melihat ilmu meringankan tubuh Lintang Rahina yang sudah seperti orang terbang. Dengan menotol udara tipis saja, Lintang sudah bisa meluncur sangat jauh.
Ki Penahun sudah hendak melesat pergi ketika menyadari ada yang masih di dekatnya.
"He he he he ..... " sambil tertawa Ki Penahun berkata sambil menoleh ke Ki Sardulo, "rupanya aku tidak akan kesepian selama perjalananku. Ayo kita berangkat Ki Sardulo."
"Maaf Ki Penahun," kata Ki Sardulo, "bagaimama dengan Ki Brata ? Apa yang harus kita lakukan kepadanya ?"
Ki Penahun melihat ke arah Ki Brata. Kemudian berjalan mendekati Ki Brata.
"Kali ini Ki Brata masih saya maafkan," kata Ki Penahun, "sekarang cepat pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran."
__ADS_1
Ki Brata yang masih mengalami luka dalam, segera pergi dari tempat itu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Setelah Ki Brata pergi, Ki Penahun juga segera pergi dari tempat itu.
"He he he he ..... Ki Sardulo," kata Ki Penahun lagi, "apakah kita sudah dapat berangkat sekarang ?"
"Silahkan Ki," jawab Ki Sardulo.
Sesaat kemudian tampak dua bayangan berkelebat meninggalkan tempat itu. Mereka adalah Ki Penahun dan Ki Sardulo. Mereka berencana pergi ke lereng Semeru pada sisi yang lain, tempat Ki Pradah tinggal.
Sementara itu, jauh di tlatah wetan di tempat tinggal Ni Sriti, di lereng Gunung Semeru. Terlihat Ni Sriti sedang menyuapi Sekar Ayu Ningrum agar mau makan.
Selama beberapa hari sejak hari pertama Sekar Ayu Ningrum dibawa oleh Ki Jiwo dan Ki Brata untuk dihadiahkan pada Ni Sriti, Sekar tidak pernah mau makan. Sehingga Ni Sriti harus sering memaksanya makan dengan cara menyuapinya.
Dalam beberapa hari itu, Sekar Ayu Ningrum selalu dalam keadaan tertotok. Setiap beberapa jam, Ni Sriti selalu mengulang totokannya, sehingga setiap Sekar mencoba mengurai syaraf syaraf yang tertotok dengan mengalirkan tenaga dalamnya tidak pernah berhasil.
Setiap hari Ni Sriti selalu membujuk Sekar Ayu Ningrum untuk bersedia menjadi muridnya. Tetapi berkali kali juga Sekar Ayu Ningrum mengatakan tidak mau.
Sejak bertemu Sekar Ayu Ningrum, Ni Sriti berkepikiran hendak mengangkat murid. Harus ada yang mewarisi ilmu ilmunya sebelum dia mati.
Demikian juga pada pagi itu. Untuk kesekian kalinya, Ni Sriti sedang menyuapi Sekar Ayu Ningrum sambil membujuknya agar bersedia menjadi muridnya.
Tiba tiba terdengar suara yang mencelanya, "Niat baik yang dilakukan dengan tidak baik akan menjadi tidak baik."
Ni Sriti sangat terkejut ketika di belakangnya tiba tiba telah berdiri seorang pemuda bersama seorang nenek.
__ADS_1
Mereka adalah Lintang Rahina bersama Nyi Wilis yang telah sampai di tempat tinggal Ni Sriti.
\_\_\_ 0 \_\_\_