
Pada pagi hari berikutnya, semua tamu undangan sudah datang dan menempati deretan tamu undangan. Bahkan di deretan belakang terlihat lebih ramai dibanding kemaren. Dan ada beberapa yang hadir dan duduk di deretan belakang memiliki energi yang tinggi.
Setelah dirasa semua undangan telah hadir, Ki Dipa Menggala mulai membuka acaranya dan memberikan sambutan secukupnya.
Kemudian untuk menentukan keputusan mana yang akan diambil, Ki Dipa Menggala telah membagi tempat duduk menjadi dua kelompok dipisahkan ditengahnya oleh jalur jalan menuju panggung.
"Kepada semuanya yang hadir di sini, untuk yang setuju kita menjaga dan melaksanakan amanat dari titah Prabu Brawijaya, silahkan duduk di deretan tempat duduk sebelah kanan. Bagi hadirin yang mendukung rencana untuk membangkitkan kembali kerajaan Majapahit, silahkan duduk di deretan tempat duduk sebelah kiri," kata Ki Dipa Menggala menjelaskan.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, para undangan yang hadir di pertemuan itu sudah menempati tempat duduk sesuai dengan keinginan dan pendirian mereka.
Ki Dipa Menggala melihat, jumlah masing masing kelompok terlihat seimbang.
Ki Dipa Menggala baru saja hendak melanjutkan memberikan pengumuman, ketika tiba tiba ada yang menyela.
"Ki Dipa Menggala, kita semua yang hadir di sini adalah orang orang dunia persilatan. Kita lebih percaya pada kekuatan dan ilmu silat. Untuk menentukan pilihan mana yang harus kita putuskan, kita adakan pertarungan yang adil. Kelompok yang duduk di sebelah kanan dan yang duduk di sebelab kiri, masing masing memilih perwakilannya untuk bertarung. Siapa yang menang, suara atau sikap dukungannya, itu yang akan kita ikuti," kata Ki Rekso yang berada di deretan tempat duduk sebelah kiri.
Ki Rekso berani berkata begitu setelah melihat, pada deretan kelompok tamu undangan yang duduk di sebelah kiri, ada beberapa orang yang ilmu kesaktiannya sudah masuk pada tingkatan sangat tinggi, seperti Prabu Wisa yang kemaren sudah menunjukkan kesaktiannya, ada Ki Goprak, ada Dayu Diyu yang ternyata belum kembali ke tempat tinggalnya. Sementara deretan kelompok tamu undangan di sebelah kanan ada Ki Dipa Menggala, Lintang Rahina kemaren Ki Rekso kemaren melihatnya.
Melihat perbandingan kekuatan itu, Ki Rekso berani mengusulkan untuk diadakan pertarungan, karena yakin kelompok yang mendukung dibangkitkannya kerajaan Majapahit lebih kuat sehingga nanti keputusan adalah semua pendekar yang hadir di pertemuan ini mendukung perjuangan membangkitkan kembali kerajaan Majapahit.
Terdengar sorak sorai dari deretan tempat duduk di sebelah kiri yang mendukung usulan dari Ki Rekso.
Mendengar usulan dari Ki Rekso, Ki Dipa Menggala melihat ke semua yang hadir, kemudian bertanya lagi, "Apakah ada yang mempunyai usulan lagi ?"
Tepat saat Ki Dipa berhenti berucap, tiba tiba terdengar suara tertawa cempreng yang keras. Suara tawa itu terdengar seperti berada di mana mana.
__ADS_1
"Kek kek kek kek ..... Ayo diselesaikan dengan bertarung saja !"
Kemudian, udara di sekitar tempat pertemuan itu berubah menjadi hangat bersamaan dengan munculnya dua titik merah di langit dari arah depan panggung pertemuan. Dua titik merah itu dengan cepat membesar dan berubah menjadi wujud dua orang manusia yang melayang melesat ke arah tempat pertemuan dan mendarat di belakang agak jauh deretan tempat duduk tamu undangan.
Tampak mendekat ke arah tempat pertemuan seorang kakek bertubuh kecil dan pendek dan di sampingnya seorang pemuda tampan tinggi besar.
Melihat kedatangan pemuda itu, Ki Rekso bertanya pelan, "Arga Manika ?"
"Salam hormat saya paman," jawab pemuda yang ternyata Arga Manika, "Perkenalkan, beliau guru saya, Ki Bajang Geni."
Melihat kedatangan Arga Manika dan Ki Bajang Geni, diam diam Ki Rekso gembira, mendapat tambahan sekutu.
"Selamat datang Ki Bajang Geni," kata Ki Rekso.
Tiba tiba dari arah deretan tempat duduk tamu undangan, berhembus angin agak kencang yang mengusir hawa hangat akibat kemunculan Ki Bajang Geni dan Arga Manika.
Angin kencang tersebut berasal dari seseorang berpakaian biksu yang berdiri sambing menjura mengibaskan kedua lengan bajunya sambil berkata, "Selamat datang Ki Bajang Geni. Kedatanganmu sudah lama saya tunggu tunggu. Perkenalkan saya Biksu Wisnu Gatti."
Ki Bajang Geni diam diam terkejut dengan adanya Biksu Wisnu Gatti. Untuk mnutupi kekagetannya, Ki Bajang Geni tertawa sambil berkata, "Kek kek kek ... terima kasih terima kasih atas sambutannya."
"Heh he he he .... Ki Bajang Geni, kalau ternyata tujuanmu kesini, kenapa tidak tidak mengajak kami ? Malahan pergi meninggalkan kami ?" terdengar suara perempuan tua bersamaan dengan munculnya tiga orang yang berjalan kaki di jalan ke arah tempat pertemuan. Seorang wanita tua bertubuh pendek kecil dan seorang laki laki tua bertubuh tinggi kurus, keduanya mengapit seorang gadis cantik jelita. Ketiganya berjalan pelan ke arah tempat pertemuan.
Kedatangan ketiganya membuat kaget banyak orang.
Ki Bajang Geni dan Arga Manika kaget karena mereka bisa cepat menyusul setelah mereka berdua melarikan diri untuk menghindari bentrok.
__ADS_1
Sementara Lintang Rahina dan orang orang di deretan tempat duduk sebelah kanan kaget tetapi gembira dengan kedatangan gadis muda itu. Sedangkan Galuh Pramusita yang berada di samping Lintang Rahina, kaget dengan pikiran berkecamuk tidak karuan karena kehadiran gadis cantik itu.
"Adik sekar," kata Lintang Rahina sambil berjalan mendekati tiga orang yang baru datang itu.
"Kakang Lintang," jawab Sekar Ayu Ningrum sambil mendekat ke Lintang Rahina.
"Kakang senang, adik Sekar selamat," kata Lintang Rahina.
Sekar Ayu Ningrum kemudian memperkenalkan kedua orang yang datang bersamanya, sebagai gurunya yang bernama Nyi Rikmo Ore dan Ki Jangkung.
Lintang Rahina sebenarnya merasakan masih ada beberapa orang yang berenergi sangat tinggi belum memunculkan diri. Sehingga Lintang Rahina tetap menjaga kewaspadaannya.
Sementara bagi Ki Dipa Menggala yang sudah berpuluh tahun malang melintang di dunia persilatan, sudah tidak kaget dengan munculnya banyak tokoh sakti dalam acara tertemuan yang diadakannya.
Sudah menjadi kebiasaan di dunia persilatan, jika ada pertemuan para tokoh persilatan, selalu mengundang minat para tokoh persilatan baik yang diundang maupun yang tidak diundang. Selain mereka para tokoh persilatan selalu ingin menjajal kemampuan ilmu silatnya, juga dalam setiap pertemuan para tokoh persilatan, selalu memunculkan kejutan.
"Baiklah Ki Rekso dan para hadirin semua, mari kita buat aturannya," kata Ki Dipa Menggala.
"Ki Dipa Menggala, kita semua yang hadir pastinya sudah tahu dan sudah mempersiapkan diri. Tidak usah dibuat aturan. Kita bertarung, siapa yang menang, keputusannya yang akan kita ikuti !" jawab Ki Rekso, "Sekarang aku yang akan mengawalinya. Aku menantang siapapun yang tidak setuju dengan usulanku untuk bertarung !"
Ki Dipa baru hendak menjawab, ketika Ki Penahun melompat ke atas panggung dan berkata, "Ki Dipa Menggala, ijinkan aku yang melawan Ki Rekso."
Karena situasinya sudah tidak bisa ditunda lagi, Ki Dipa Menggala hanya bisa melihat ke arah Ki Penahun dan berkata, "Baiklah Ki Penahun, berhati hatilah. Semoga Ki Penahun memenangkan pertarungan ini."
\_\_\_0\_\_\_
__ADS_1