
"Huahhh .... ." Ugra Asipatra menghembuskan nafas dengan keras, di sertai dengan kedua lengannya mengibas ke samping.
Ugra Asipatra kembali merubah tehnik serangannya. Kedua telapak tangannya membuat gerakan meremas dua kali dengan lambat.
Sekar Ayu Ningrum merasakan energi yang menekan semakin bertambah ketika Ugra Asipatra meningkatkan aliran energi di tubuhnya. Sekar Ayu Ningrum juga merasakan sedikit kesiuran angin mengarah ke tubuh Ugra Asipatra. Terlihat oleh Sekar Ayu Ningrum, kedua lengan Ugra Asipatra sedikit mengkilap.
"Dia melapisi lengannya dengan butiran air yang dikeraskan," kata Sekar Ayu Ningrum dalam hati.
Melihat hal itu, Sekar Ayu Ningrum menambah aliran energi ke tubuhnya, terutama ke bilah pedangnya.
Pedangnya sudah sepenuhnya berubah menjadi pendaran sinar putih pekat yang mengeluarkan kepulan asap tipis sehingga seperti berkabut.
Sambil melompat cepat ke arah lawan, dari ujung pedang Sekar Ayu Ningrum keluar lagi pendaran sinar putih pekat yang membentuk seperti ujung pedang berjumlah tiga buah. Tiga pendaran putih pekat itu melesat mendahului gerakan Sekar Ayu Ningrum, mengarah ke kepala, dada dan paha kiri Ugra Asipatra.
Tak ! Tak ! Tak !
Ugra Asipatra menangkis serangan energi berbentuk ujung pedang itu dengan lengannya yang sudah dilapisi kumpulan butiran air yang dilapisi energi yang membuat kedua lengannya keras seperti baja.
Saat Ugra Asipatra menangkis tiga serangan energinya, Sekar Ayu Ningrum segera menyusul dengan serangan sabetan pedang beberapa kali.
Trak ! Trak ! Trak ! Trak !
Terjadi benturan berkali kali saat sabetan pedang Sekar Ayu Ningrum ditangkis dengan kedua lengan Ugra Asipatra yang telah mengeras.
Saat pertarungan Sekar Ayu Ningrum melawan Ugra Asipatra sedang sengit sengitnya, tiba tiba Lintang Rahina yang berdiri di dekat pertarungan merasakan adanya tiga energi besar yang melesat cepat ke arah mereka dari dua arah.
Energi yang melesat ke arah mereka itu belum sampai ketika terdengar suara perempuan, "Hih hi hi hi ... Ugra Asipatra, sampai di sini juga kau rupanya !"
Baru saja suara itu selesai, di depan Lintang Rahina sudah berdiri Ni Luh Pawitra.
Sementara dua energi yang datang dari arah yang lain, jarak sebentar kemudian sampai di tempat itu. Terlihat seorang kakek tua dan perempuan paruh baya, yang ternyata Resi Jalada Mawa dan Nyi Mahiya Keswari sudah berdiri agak jauh dari Ni Luh Pawitra.
Saat itu hari sudah menjelang petang. Matahari sebentar lagi akan kembali ke peraduannya.
__ADS_1
Resi Jalada Mawa dan Nyi Mahiya Keswari melihat sejenak ke arah pemuda di depannya yang ternyata adalah Lintang Rahina. Kemudian melihat ke sekelilingnya dan menoleh sekejap ke arah pertarungan.
Kemudian dua orang yang baru datang itu saling memandang dan kemudian tersenyum.
Resi Jalada Mawa dan Nyi Mahiya Keswari hilang rasa jerinya melihat Lintang Rahina hanya berdua.
Rencana mereka memecah kekuatan lawan berhasil.
Resi Jalada Mawa dan Nyi Mahiya Keswari memang meminta tolong pada teman mereka yang bernama Kacung Aswa. Seorang pendekar sepuh yang mempunyai ilmu silat dan energi yang tinggi. Senjata andalannya adalah cemeti dengan dua ujungnya diberi pisau.
Kacung Aswa sudah puluhan tahun malang melintang di dunia persilatan. Dia menguasai lembah gunung Raung bagian barat.
Saat Lintang Rahina berempat mrlakukan perjalanan ke timur, Kacung Aswa sengaja mendekat dan mengeluarkan energinya sehingga bisa dirasakan oleh Lintang Rahina dan Sindunata. Hingga akhirnya Sindunata dan Puruhita mengejarnya agar Lintang Rahina bisa segera meneruskan perjalanan.
Ternyata Resi Jalada Mawa dan Nyi Mahiya Keswari tetap mengejar Lintang Rahina sampai ke Pulau Dewata.
"Hih hi hi hi ... Anak muda, sekarang serahkan pusaka yang kamu bawa itu pada kami !" kata Nyi Mahiya Keswari.
"Heiii perempuan tua ! Apa kau tidak memandang diriku yang jadi tuan rumah di sini ?" sahut Ni Luh Pawitra.
Resi Jalada Mawa yang berdiri di samping Nyi Mahiya Keswari, begitu melihat ada kesempatan segera mendahului menyerang Lintang Rahina.
Wusss !!!
Tangan kanan Resi Jalada Mawa melakukan sapokan dengan jari jari terbuka ke arah wajah Lintang Rahina, sementara tangan kirinya bergerak menyambar buntalan di punggung Lintang Rahina. Lintang Rahina memiringkan sedikit kepalanya sehingga telapak tangan kanan Resi Jalada Mawa lewat di samping wajahnya hanya dalam jarak seruas jari.
Plakkk !!!
Terdengar suara yang cukup nyaring saat Lintang Rahina menyapok lengan kiri Resi Jalada Mawa.
Resi Jalada Mawa yang belum tahu kekuatan lawannya, terpelanting ke kiri dan terhuyung huyung hingga tiga langkah. Dia merasakan lengan kirinya bergetar hebat dan seperti kehilangan rasa dalam beberapa saat.
Lintang Rahina yang belum bergeser dari tempatnya berdiri, tiba tiba merasakan getaran energi yang sangat hebat yang berasal dari senjata trisula yang berada di dalam buntalan.
__ADS_1
Segera saja Lintang Rahina menyadari keadaan. Matahari sudah tenggelam. Sudah waktunya dia membawa senjata trisula naik ke puncak.
Terdengar suara mendengung ketika getaran dari senjata trisula itu semakin kuat.
Lintang Rahina sesaat teringat saat sesudah senjata trisula itu menyerap energi di Puncak Mahameru. Dia mencoba memasukkan kembali senjata trisula ke dalam lengan kanannya dan ternyata bisa.
Kemudian disambung dengan meyelamatkan teman temannya dan kemudian harus segera membawa senjata trisula itu ke pulau sebrang wetan.
Pada malam harinya saat masih berempat dalam melakukan perjalanan, Lintang Rahina merasakan lengan kanannya bergetar hebat dan seperti ada energi yang memaksa keluar.
Karena curiga ada sesuatu dengan senjata trisula itu, Lintang Rahina mengeluarkan senjata trisula dari lengannya dan kemudian mencoba memeriksanya.
Ternyata, senjata trisula itu menyerap energi dari dalam bumi saat malam hari. Maka sejak saat itu Lintang Rahina menyimpan swnjata trisulanya dalam buntalan.
Getaran yang disertai gerakan ke atas dari senjata trisula di punggungya, menyadarkan Lintang Rahina akan keadaan saat ini.
Saat Lintang Rahina hendak memindah buntalan di punggungnya ke depan dada, tiba tiba datang tiga orang berpakaian resi dan segera mendekat ke arah Lontang Rahina.
"Jagad Dewa Bathara ! Raden, cepat bawa senjata pusaka itu ke atas. Mereka, biar kami yang mengurusnya," kata resi yang berdiri paling depan.
Lintang Rahina sejenak memandang mereka berlima dalam kegamangan.
"Sekarang raden, segera bawa pusaka itu ke puncak gunung, ajak serta temanmu yang baru bertarung !" kata resi yang di depan pelan saja tapi tegas.
Swinggg !!!
Tib tiba saja senjata trisula itu bergetar hebat. Tanpa bisa ditahan lagi, senjata trisula itu menerobos kain yang membuntalnya.
Kemudian dengan kecepatan yang sangat tinggi, senjata trisula itu melesat ke arah puncak gunung dengan mengeluarkan suara dengungan.
"Jagad Dewa Bathara ! Cepat susul pusaka itu raden, jangan sampai terlambat. Kami akan menahan mereka semua semampu kami. Jangan khawatirkan kami !" kata resi yang paling depan lagi.
"Baik guru ! Terimakasih atas bantuannya," jawab Lintang Rahina.
__ADS_1
Walaupun masih bingung dengan situasinya, Lintang Rahina segera melesat ke arah puncak sambil menyaut tangan Sekar Ayu Ningrum.
\_\_\_◇\_\_\_