
Lintang Rahina mencoba mengecek, apakah dua energi yang dia tangkap tadi.
Lintang Rahina mencoba mengeluarkan lagi dari dalam lengan kanannya. Yang pertama dia ambil ternyata bilah mata tombak yang mengeluarkan pendaran sinar berwarna kuning terang.
Kemudian, saat Lintang Rahina mengeluarkan satu lagi energi yang dia tangkap, didapatinya anak siluman naga yang sepertinya tertidur dan seluruh tubuhnya diselimuti pendaran sinar keemasan.
Saat itulah, Lintang Rahina mendengar suara yang yang sangat mirip dengan suara laki laki kurus jelmaan siluman naga, yang terdengar jelas namun seperti berasal dari jauh.
"Anak manusia ! Terimakasih sudah bersedia memenuhi permintaan terakhirku. Aku juga titip anakku. Masukkanlah ke dalam lengan anakmu. Energinya akan menyatu dengan energi dari mustika hijau yang sudah berada di dalam tubuhnya. Energi silumannya akan meningkat seiring dengan bertambahnya usianya dan semoga kelak kemudian bisa menambah kekuatan anakmu !"
Sesaat setelah suara itu hilang, Lintang Rahina kembali memasukkan bilah ujung tombak ke dalam lengan kanannya dan segera mendekati Seruni anaknya yang masih berada di dalam gendongan punggung ibunya.
Ketika akan memasukkan siluman naga yang diselimuti pendaran sinar keemasan ke dalam dada anaknya, Lintang Rahina mendapati, kekuatan kegelapan yang berada di dalam tubuh anaknya, terserap masuk ke dalam mustika hijau.
Kemudian Lintang Rahina segera memasukkan siluman naga itu ke dalam dada Seruni anaknya.
----- * -----
Armada kapal perang yang dipimpin oleh Jalu Samodra melaju dengan tenang dan stabil walaupun tetap dalam kecepatan yang cukup tinggi.
Beberapa kali mereka berpapasan dengan armada perang yang dipimpin oleh senopati teman seangkatan Raksa Samodra. Terkadang mereka melambat hanya untuk melakukan komunikasi.
Awalnya armada kapal kelompok lain itu sangat bersemangat mendengar kabar, bisa dikalahkannya siluman naga yang menghuni jajaran kepulauan di tengah tengah lautan itu.
Namun, saat mereka mendengar cerita kalau sekarang mereka hendak menuju ke Pulau Neraka, armada kapal kelompok lain itu terlihat sedikit ketakutan.
Udara dan perairan pun semakin terasa hangat. Sinar matahari bersinar dengan teriknya. Namun armada kapal perang yang ditumpangi oleh Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum tetap bersemangat dalam pelayarannya.
"Apakah pelayaran kita masih jauh, Ki Raksa Samodra ?" tanya Lintang Rahina.
"Kita sudah dua hari dua malam berlayar tanpa henti. Artinya kita akan sampai ke Pulau Neraka tidak sampai sehari lagi," jawab Raksa menjelaskan.
Sore menjelang malam, armada kapal mereka tiba di perairan yang hawanya sangat hangat. Bahkan air lautan seperti mengeluarkan uap.
Dari kejauhan, air laut tampak berwarna jingga. Jalu Samodra dengan alat sejenis peluitnya, memberi aba aba agar semua kapal berhenti.
Setelah semua armada berhenti, Jalu Samodra dan Jenar Samodra melesat terbang ke arah kapal yang paling depan. Tatapan mata mereka lurus ke dspan. Sesampainya di kapal yang terdepan, mereka melihat, perairan yang membentang di depan mereka, dimana mana mengeluarkan gelembung gelembung udara.
"Adik Jenar, sepertinya kita sudah sampai di wilayah yang bernama Pulau Neraka," kata Jalu Samodra.
"Tapi ..... tidak terlihat satupun pulau, kakang Jalu," jawab Jenar Samodra menyampaikan keheranannya.
"Menurut informasi, Pulau Neraka terkadang muncul, namun terkadang hilang seperti ditelan ombak," kata Jalu Samodra lagi.
"Apa mungkin Pulau Neraka sudah berada di bawah kita, kakang ?" tanya Jenar Samodra sambil memperhatikan lautan di bawah kapal mereka.
Terlihat kapal mereka bergoyang goyang, tidak berhenti dengan tenang seperti tadi.
__ADS_1
Belum juga Jalu Samodra menjawab pertanyaan Jenar Samodra adiknya, tiba tiba kapal bergoyang semakin kencang kemudian seperti membentur sesuatu di bawah sana.
Braaakkk !
Seketika Jalu Samodra dan Jenar Samodra melayang di atas geladak sambil memberikan peringatan.
"Awas ! Jangan sampai lengah !" teriak Jalu Samodra memperingatkan para awak kapalnya.
Tiba tiba dari arah samping kiri kapal ada sesuatu yang sangat besar menabrak lambung kapal dengan kerasnya.
Bruuuaaakkk !
Terlihat, geladak kapal yang terkena benturan, hancur. Sedangkan lamnung kapal terlihat sobek.
Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum yang melihat hal itu dari geladak kapal yang terbesar, segera melesat melayang ke arah kapal yang diserang.
"Paman Raksa ! Selamatkan prajurit dan kapalmu ! Suruh mereka semua menjauh dari tempat ini !" teriak Lintang Rahina sambil tubuhnya melesat.
Hanya dalam sesaat, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum telah sampai di dekat kapal yang diserang.
Terlihat kapal itu kembali terkena sabetan lagi pada lambungnya membuat kapal itu retak pada bagian lambung dan hampir patah. Terlihat juga lambung kirinya berlubang. Air laut mengalir deras masuk melalui lubang di lambung kiri.
Dengan cepat Jalu Samodra menyelamatkan semua awak kapal. Mereka dinaikkan ke perahu perahu kecil yang didorong dengan energi yang mereka keluarkan dari tangan mereka.
Tepat saat semua awak kapal sudah mulai menjauh dari kapal, kapal yang diserang sesuatu itu terbelah menjadi dua tepat pada lambungnya.
"Adik Sekar ! Tolong kau jaga di permukaan air !" teriak Lintang Rahina yang kemudian tubuhnya terjun ke dalam laut.
Byuuurrr !
Setelah di dalam air, Lintang Rahina segera melihat ke sekeliling. Namun, belum melihat sesuatu yang mencurigakan, Lintang Rahina merasakan datangnya energi yang sangat besar dari arah bawah mendekat ke arahnya dengan sangat cepat.
Setelah cukup dekat, Lintang Rahina baru bisa menyimpulkan bahwa yang menyerang dan membuat kapal tadi tenggelam adalah ekor siluman naga yang berwarna hitam legam. Yang bergerak seperti cambuk.
Melihat gerakan ekor siluman naga itu yang begitu cepat, Lintang Rahina segera menghindar dengan bergerak ke arah kanan sambil tatapan matanya melihat lihat dimana posisi badan dan kepala siluman naga itu.
Ternyata kepala siluman naga itu berada jauh di depannya. Segera saja Lintang Rahina bergerak mendekat ke arah kepala siluman naga itu.
"Grrrhhh ... manusia ! Hebat juga kau bisa membunuh siluman naga api biru. Tetapi aku ucapkan terimakasih, karena kau telah membunuh musuh bebuyutanku !" kata siluman naga itu yang walaupun sedang di dalam air, namun terdengar di otaknya.
Mendengar perkataan siluman naga di depannya yang badannya berwarna hitam legam itu, Lintang Rahina agak terkejut.
"Telepati ? Siluman ini bisa mengirimkan suara langsung ke otakku. Aku harus hati hati !" kata Lintang Rahina dalam hati.
Kemudian Lintang Rahina mencoba membalas perkataan siluman naga.
"Aku ke sini juga hendak membunuhmu !" jawab Lintang Rahina.
__ADS_1
"Grrrhhh ... jangan kau kira, dengan bisa membunuh musuh bebuyutanku, kau juga akan bisa membunuhku !" jawab siluman naga itu.
"Aku pasti bisa membunuhmu !" kata Lintang Rahina singkat.
"Grrrhhh ... Kau manusia yang tidak bisa melihat tingginya gunung dan dalamnya lautan !" teriak siluman naga yang suaranya terasa mengiang di otak dan telinga Lintang Rahina.
Kemudian siluman naga itu melesat dan menyerang ke arah Lintang Rahina. Sabetan ekornya, hempasan badannya dan caplokan mulutnya bergantian menyasar ke arah tubuh Lintang Rahina.
Lintang Rahina terus bergerak menghindar, karena dia masih terus mempelajari gerakan siluman naga itu.
Di sela sela gerakan menghindar, Lintang Rahina mencoba berganti menyerang. Kedua lengannya yang sudah berubah warna menjadi ungu kehitaman, beberapa kali melakukan gerakan memukul ke arah tubuh siluman naga.
Buuuggghhh Buuuggghhh !!!
Tubuh siluman naga itu terlihat menggeliat setiap tubuhnya terkena pukulan Lintang Rahina.
Di saat yang bersamaan beberapa kali, serangan ekor siluman naga itu, hampir mengenai tubuhnya, sehingga terpaksa ditangkis. Namun, setiap kedua tangannya berbenturan dengan ekor siluman naga itu, tubuh Lintang Rahina terdorong mundur.
Sementara itu, dari atas permukaan air laut. Sekar Ayu Ningrum melihat, setiap pergerakan tubuh siluman naga itu, mengakibatkan air laut bergolak hebat hingga akhirnya menimbulkan ombak yang besar.
Sekar Ayu Ningrum segera melesat ke arah kapal yang terbesar dan menemui Jenar Samodra, untuk menitipkan Seruni anaknya.
"Aku akan membantu suamiku melawan siluman naga di bawah itu. Aku titipkan anakku kepadamu. Bawalah agak menjauh lagi dari tempat ini. Aku pasti bisa menemukan dimanapun kalian berdiri !" kata Sekar Ayu Ningrum.
Setelah Jenar Samodra menerima titipan dari Sekar Ayu Ningrum, Jenar Samodra dan Jalu samodra memberi aba aba untuk bergerak lebih menjauh lagi.
Sementara Sekar Ayu Ningrum langsung melesat dan bergabung dalam pertarungan Lintang Rahina melawan siluman ular itu.
Setelah benturan ekor siluman naga dengan kedua lengannya yang ke sekian kalinya, yang mengakibatkan tubuhnya kembali terlempar ke belakang, Lintang Rahina segera mengeluarkan energinya dalam jumlah yang cukup besar. Seketika seluruh tubuh Lintang Rahina dipenuhi dengan pendaran sinar putih pekat yang bercampur dengan butiran sinar kuning keemasan.
Di kedua lengannya, dengan segera tergenggam dua buah bilah pedang yang terbentuk dari pendaran energi.
Tanpa menunggu lebih lama, Lintang Rahina segera kembali melesat ke arah siluman naga, sambil melakukan serangkaian serangan dengan pedangnya.
Craaakkk ! Craaakkk ! Craaakkk !"
Berkali kali, terlihat pedang Lintang Rahina mengenai tubuhnya dan membuatnya luka.
Karena mendapatkan luka dan rasa sakit, Siluman naga itu kembali mengeluarkan energinya yang sangat besar.
Tiba tiba, di seluruh tubuhnya keluar pendaran sinar berwarna jingga dan terlihat seperti menempel di setiap permukaan kulit. Hingga jika dilihat dari kejauhan, tubuh hitamnya seperti dihiasi pendaran sinar jingga di setiap sisik sisiknya.
Setelah munculnya pendaran energi berwarna jingga, merata sempurna di seluruh tubuhnya, siluman naga itu kembali melesat ke arah Lintang Rahina. Kecepatan dan energinya bertambah lagi.
Lintang Rahina pun juga merasakan, siluman naga yang menjadi lawannya itu semakin lama semakin kuat.
__________ ◇ __________
__ADS_1