
Saat Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum melesat ke atas, mereka melihat melesatnya lima bayangan yang keluar dari kawah gunung berapi.
Kelima bayangan itu dengan cepat mendekat ke arah Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum melayang.
"Apa mungkin pintu masuknya ke tempat persembunyian mereka di dalam tanah, melalui lava pijar itu ?" kata Lintang Rahina pelan.
"Sepertinya begitu, kakang," jawab Sekar Ayu Ningrum, "Kalau memang begitu caranya, mereka semua memiliki energi tingkat tinggi, dan mempunyai tehnik pengendalian energi tingkat tinggi."
Namun Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum harus menghentikan pembicaraan mereka, karena di depan mereka sudah ada lima orang manusia kerdil yang melayang dengan menunggang potongan batang kayu. Melihat dari cara berpakaiannya, mereka semua perempuan. Di pinggang mereka terselip peralatan masak yang sepertinya menjadi senjata mereka.
"Hiihhh hi hi hi hi .... inikah manusia dari Negeri Jawadwipa ? Mereka sangat gagah, cantik dan tampan. Tapi sayangnya, mereka harus menyerahkan energi mereka pada kita !" kata salah satu manusia kerdil dengan suara wanita yang cempreng.
"Sudah sangat lama kita tidak menangkap manusia dari Negeri Jawadwipa ! Ayo kita tangkap mereka ! Aku sudah tidak sabar untuk menyerap energi mereka !" sahut yang lainnya.
Kemudian, diiringi suara tertawa cekikikan mereka, kelima manusia kerdil itu mengepung Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum. Dengan sangat cepat, mereka melesat menyerang dari lima arah.
Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum berkelit menghindari sambaran senjata kelima manusia kerdil itu. Walaupun hanya alat memasak, namun senjata itu tidak kalah berbahayanya dengan senjata tajam. Tingkat energi kelima perempuan kerdil inipun tidak kalah dari tiga laki laki kerdil yang menyerang pertama tadi.
Setelah beberapa kali menghindari serangan, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum mencoba menangkis datangannya serangan dengan pedang yang mereka buat dari pendaran energi. Benturan senjata mereka menimbulkan suara suara yang sangat nyaring.
Tang ! Tang ! Tang !
Tring ! Tring !
Saat terdengar suara suara nyaring itulah, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum sedikit terkejut.
Ternyata, kelima perempuan kerdil itu, tidak hanya menyerang menggunakan senjata mereka, namun, mereka juga menyerang dengan memasukkan energi ke dalam suara suara benturan senjata itu. Sehingga suara dentingan yang sangat nyaring itu membuat sakit telinga lawannya.
Merasakan hal itu, Sekar Ayu Ningrum dan Lintang Rahina segera menambah aliran energi ke telinga mereka untuk melindungi pendengaran mereka.
"Adik Sekar, kelihatannya bentuk unik senjata mereka itu yang membuat keluarnya getaran suara yang menyerang pendengaran !" kata Lintang Rahina di sela sela menghindari ataupun menangkis serangan kelima perempuan kerdil itu.
Kelima perempuan kerdil itu menerjang secara beruntun bergantian sambil menebaskan senjatanya. Walaupun tidak berbenturan, saat berkelebat, senjata mereka tetap mengeluarkan suara berdenging.
Untuk mengurangi suara berdenging di sekitar mereka, Lintang Rahina menggunakan tehnik Sindhung Alit yang di ajarkan oleh Ki Jagad Anila.
Udara di sekeliling Lintang Rahina mulai berputar mengelilingi mereka berdua. Putaran udara itu mulai membentuk angin yang semakin lama semakin kencang dan semakin besar hingga semakin menjangkau tempat yang lebih luas.
Melihat putaran angin yang mengelilingi kedua lawannya, semakin kencang dan semakin meluas hingga hampir menjangkau mereka berlima, lima perempuan kerdil itu sedikit menjauh. Namun gerakan mereka sedikit terlambat yang membuat tubuh lima perempuan kerdil itu tersambar pusaran angin.
Seolah terhisap, tubuh mereka ikut berputar bersama putaran angin. Namun mereka berlima segera mengerahkan energinya, untuk bisa keluar dari pusaran angin.
Setelah beberapa waktu berusaha, akhirnya mereka berlima bisa melepaskan diri dari pusaran angin yang dibuat oleh Lintang Rahina.
Keluarnya tubuh mereka dari pusaran angin itu, membuat tubuh mereka terpental dan terhempas ke tanah.
Buuummm ! Buuummm ! Buuummm !
Buuummm ! Buuummm !
Melihat kelima perempuan kerdil itu terjatuh ke tanah, Sekar Ayu Ningrum meminta Lintang Rahina untuk menghentikan pusaran angin yang dibuatnya.
__ADS_1
"Kakang, hentikan pusaran angin itu. Mereka semua sepertinya terjatuh ke tanah !" kata Sekar Ayu Ningrum.
Mendengar perkataan istrinya, Lintang Rahina segera menghentikan penggunaan jurus Sindhung Alit.
Kemudian, Sekar Ayu Ningrum segera melesat ke bawah untuk mengecek keadaan tempat terjatuhnya lima manusia kerdil tadi.
Tetapi, sama dengan ketiga manusia kerdil yang pertama, lima perempuan kerdil itu juga lenyap saat lenyap di tanah dan hanya menyisakan potongan batang kayu yang tertancap di tanah.
"Kakang Lintang, sudah dua kali, selalu mereka menghilang saat jatuh di tanah. Bagaimana kalau kita mencoba masuk lewat kawah gunung api itu. Bukankah mereka keluarnya juga melalui kawah gunung api itu ?" kata Sekar Ayu Ningrum.
"Baiklah, ayo adik Sekar !" jawab Lintang Rahina.
Kemudian, mereka berdua mendekat ke arah kawah gunung api yang berada di tengah tengah pulau.
Perlahan, mereka berdua terbang melayang ks arah tengah tengah kawah.
Namun, baru saja mereka melayang maju sekitar sepuluh meter, tiba tiba, tengah tengah kawah itu sedikit bergolak dan mengeluarkan banyak gelembung yang cukup besar.
Sesaat kemudian, keluarnya belakang gelembung gelembung itu, diikuti dengan keluarnya kepulan asap yang sangat tebal.
Dari kepulan asap yang sangat tebal itu, tiba tiba melesat keluar dengan sangat cepat, sesosok tubuh yang sangat kecil.
Tubuh manusia kerdil yang sudah sangat tua itu lebih kecil dari mereka semua yang sudah keluar sebelumnya. Tubuhnya kurus dan berkulit hitam. Rambut dan jenggot serta kumisnya sudah memutih semua.
Manusia kerdil tua itu terbang melayang dalam posisi duduk bersila. Dia hanya memakai celana pendek putih yang masih dibebat kain putih hingga di pinggangnya. Sedangkan badan bagian atasnya tidak berbaju hingga menampakkan tulang tulang iganya yang terbungkus kulit keriput dan hitam.
Dengan kedua tangan yang terentang ke samping kiri kanan, manusia kerdil tua itu melesat dengan sangat cepat menerjang ke arah Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum yang melayang di pinggir kawah.
Melihat serangan mendadak yang sangat cepat dan mengandung energi yang sangat besar itu, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum, menghindar dengan melesat mundur jauh, hingga keluar jauh dari kawah.
Manusia kerdil tua itu terus saja mengejar sambil kedua tangannya melakukan serangan pukulan.
Setelah serangan pertamanya yang mendadak itu tidak mengenai sasaran, manusia kerdil tua itu sejenak menatap tajam ke arah Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum.
"Dua anak muda dengan tingkat energi yang sangat tinggi. Ada urusan apa mereka datang ke pulau ini ? Apakah mereka berasal dari Negeri Jawadwipa ?" tanya manusia kerdil tua itu dalam hati.
Sementara itu, saat ditatap tajam manusia kerdil tua itu, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum, merasakan adanya getaran energi yang sangat kuat.
"Manusia kerdil tua yang tubuhnya sangat kecil ini, memiliki energi yang sangat tinggi. Lebih tinggi dari mereka yang awal awal tadi," kata Lintang Rahina dalam hati.
"Adik Sekar, tolong berjaga agak jauh dulu. Biar kakang yang menghadapi kakek kecil ini !" kata Lintang Rahina pada Sekar Ayu Ningrum.
Mendengar perkataan Lintang Rahina suaminya, Sekar Ayu Ningrum langsung melesat ke belakang, dan berdiri melayang agak jauh dari posisi Lintang Rahina.
Sementara itu, menghadapi manusia kerdil tua yang tingkat energinya sangat tinggi, Lintang Rahina perlahan menambah aliran energi ke seluruh tubuhnya.
Tampak pendaran sinar putih pekat bercampur dengan butiran sinar kuning keemasan, menyelimuti seluruh tubuhnya.
Bersamaan dengan itu, manusia kerdil tua itu menggerak gerakkan kedua tangannya dengan pola tertentu.
Tiba tiba, dari arah bawah melesat beberapa potongan batang pohon yang tadi ditunggangi oleh manusia kerdil yang keluar di awal awal.
__ADS_1
Potongan batang pohon itu melesat cepat ke arah Lintang Rahina berdiri.
Melihat ada serangan yang meluncur deras dari bawah, Lintang Rahina menghindar dengan sedikit menggeser tubuhnya, kemudian kepalan tangannya menghantam setiap potongan batang pohon yang mengarah ke tubuhnya.
Braaakkk ! Braaakkk ! Braaakkk !
Dbaaammm ! Dbaaammm ! Dbaaammm !
Potongan batang pohon itu terpental dan jatuh menghujam ke tanah, setiap terkena hantaman Lintang Rahina.
Manusia kerdil tua itu sangat terkejut melihat lawannya yang masih muda, mampu menahan serangannya.
"Setinggi apa tingkat energi anak muda ini ?" tanya manusia kerdil tua itu.
Sementara itu, Lintang Rahina juga tidak kalah kagumnya pada kakek kecil lawannya itu.
"Tubuhnya yang sangat kecil, ternyata menyimpan energi yang sangat besar !" gumam Lintang Rahina.
"Anak muda ! Dari mana kau berasal ?" tanya kakek kerdil itu.
"Kami berasal dari Negeri Jawadwipa !" jawab Lintang Rahina.
"Benar dugaanku ! Mereka berasal dari Negeri Jawadwipa !" kata kakek kerdil itu sambil kedua tangannya kembali melakukan gerakan dengan pola pola tertentu.
Bersamaan dengan gerakan tangan manusia kerdil tua itu, potongan potongan batang kayu yang tertancap dan terbenam di tanah, tercabut dan melayang ke atas di belakang dan samping kiri kanan manusia kerdil tua itu, hingga sejajar dengan posisi melayang mereka berdua.
Kemudian, manusia kerdil tua itu kembali menggerakkan kedua tangannya ke depan dan samping. Tiba tiba, potongan potongan batang kayu itu melesat secara bergantian menuju ke tempat Lintang Rahina melayang.
Plaaasss ! Plaaasss ! Plaaasss !
Mendapat serangan dari banyak arah yang datangnya beruntun, Lintang Rahina kembali menambah aliran energinya. Perlahan di kedua tangannya muncul bilah pedang yang terbentuk dari pendaran energi.
Kemudian, dengan kedua pedang di tangan, Lintang Rahina memutar tubuhnya sedemikian rupa untuk menghindari datangnya potongan batang kayu yang menghujam ke arahnya, sambil kedua pedangnya digerakkan untuk menyapok potongan batang kayu itu.
Praaakkk ! Praaakkk ! Praaakkk !
Taaakkk ! Taaakkk !
Potongan batang pohon yang meluncur ke tubuh Lintang Rahina seperti tidak ada habisnya.
Merasakan hal itu, Lintang Rahina menarik kembali kedua pedangnya, dan digantikan dengan kedua kepalan tangannya yang di selimuti pendaran sinar putih pekat bercampur dengan butiran sinar kuning keemasan.
Kemudian, dengan kedua kepalan tangannya, Lintang Rahina menyapok dan mendorong kembali luncuran potongan batang kayu, hingga melesat balik ke arah kakek kecil itu, dengan kecepatan yang lebih cepat lagi.
Pack ! Pack ! Pack ! Pack !
Plass ! Plass ! Plass !
Meluncurnya kembali potongan batang kayu ke arahnya yang tidak dia perkirakan sebelumnya, membuat kakek kecil itu pontang banting menghindarinya.
__________ 0 __________
__ADS_1