Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Dua Pertarungan Di Atas Lautan II


__ADS_3

Sekar Ayu Ningrum meluncur turun dengan sangat cepatnya ke arah Ratu Naga Wilis Kencana yang juga melesat ke atas dengan sangat cepatnya.


Sesaat kemudian, terjadi benturan berkali kali dua senjata pedang Sekar Ayu Ningrum dengan keempat ujung selendang Ratu Naga Wilis Kencana yang bergerak mengikuti gerakan kedua tangannya.


Taaakkk ! Taaakkk ! Taaakkk !


Benturan senjata bertubi tubi yang terjadi dalam waktu yang singkat itu membuat tubuh mereka berdua kembali terlempar ke belakang, bahkan sekarang lebih jauh lagi.


Ketika jarak mereka berjauhan, sesaat kemudian terjadi ledakan energi yang sangat besar dari tubuh keduanya.


Blaaarrr ! Blaaarrr !


Terlihat pendaran sinar kehijauan keluar dari tubuh Ratu Naga Wilis Kencana. Pendaran sinar itu dengan cepat merambat meluas hingga mencapai jarak yang jauh. Terlihat kedua mata Ratu Naga Wilis Kencana berubah warna menjadi hijau menyala seutuhnya. Tubuhnya melayang perlahan dengan kedua tangan berada di sisi tubuhnya. Ujung ujung selendang dan bajunya melambai lambai pelan seolah tidak terpengaruh oleh angin lautan.


Sementara jauh di depan Ratu Naga Wilis Kencana, tubuh Sekar Ayu Ningrum juga memendarkan sinar putih keperakan. Kedua matanya berubah putih seluruhnya. Kedua pedangnya yang terbentuk dari pendaran sinar putih keperakan, perlahan menghilang. Pendaran sinar yang keluar dari tubuh Sekar Ayu Ningrum dengan cepat meluas hingga seluas pendaran sinar yang keluar dari tubuh Ratu Naga Wilis Kencana.


Tubuh Sekar Ayu Ningrum melayang perlahan mendekat ke arah Ratu Naga Wilis Kencana.


Pendaran sinar yang keluar dari tubuh mereka berdua, dari kejauhan, terlihat seperti dua bola cahaya yang sangat besar dengan mereka berdua yang melayang di tengah tengahnya, yang bergerak saling mendekat.


----- * -----


Sementara itu, di waktu yang bersamaan, pertarungan Lintang Rahina melawan Dewi Gayatri semakin berada pada tingkat yang tinggi.


Terlihat tubuh Lintang Rahina melayang di tengah tengah butiran sinar kuning keemasan yang menyebar sangat luas. Dengan kedua telapak tangan yang tetap tertangkup di depan dada, Lintang Rahina seakan menginjak dan menaiki bunga teratai raksasa yang melayang pelan menuju ke arah datangnya Dewi Gayatri.


Sedangkan Dewi Gayatri yang sudah mengeluarkan energi penuhnya, melesat sangat cepat ke arah Lintang Rahina.


Hanya dalam sesaat, tubuh Dewi Gayatri masuk ke butiran sinar kuning keemasan yang menyebar luas itu.


Slaaappp !!!


Gerakan tubuh Dewi Gayatri yang sangat cepat itu, segera melambat bahkan kemudian berhenti, saat memasuki sinar kuning keemasan itu.


"Ke ... kuatan .... ini ... kena ... pa bisa mun ... cul ... la ... gi .... !" kata Dewi Gayatri terbata bata. Tubuhnya terasa sulit digerakkan. Walaupun tidak ada yang menyentuhnya, tubuhnya seperti didorong melayang ke arah Lintang Rahina. Walaupun sudah mengerahkan energinya secara penuh dan melakukan segala cara, namun Dewi Gayatri tetap tidak bisa mengontrol gerak tubuhnya. Perlahan, tubuhnya melayang mendekat ke arah Lintang Rahina yang juga melayang mendekat ke arahnya.


Karena merasa semua cara telah dicoba namun tetap tidak membawa hasil, Dewi Gayatri membulatkan tekatnya untuk mengeluarkan tehnik simpanannya yang belum pernah dia gunakan. Dewi Gayatri yakin, tehnik itu akan bisa membuat dirinya bisa terlepas dari cengkeraman kekuatan yang sekarang membuatnya tidak bisa bergerak.

__ADS_1


Kedua tangan Dewi Gayatri baru saja akan membuat gerakan gerakan tertentu disertai mulutnya yang mengucapkan mantera, ketika tiba tiba terdengar suara Lintang Rahina. Dalam pandangannya, terlihat pula wujud Lintang Rahina yang seakan akan berubah ubah. Kadang terlihat wujud Lintang Rahina, kadang terlihat menjadi sosok lain yang seakan akan dia pernah mengenalnya.


"Kalau kau ingat apa tugas utamamu berada di dunia ini, seharusnya kau tidak akan melakukan tindakan bodoh mengikuti keegoisanmu seperti yang kau pikirkan itu !" kata Lintang Rahina.


Mendengar suara Lintang Rahina yang mengingatkannya tentang tugasnya, seketika tubuh Dewi Gayatri gemetar hebat. Kemudian dengan perlahan, energi yang dia keluarkan dia tarik kembali.


Setelah tidak mengeluarkan energinya untuk melawan, barulah tubuh Dewi Gayatri bisa bergerak lagi.


"Aku akui kekalahanku darimu, Lintang Rahina !" kata Dewi Gayatri setelah bisa menguasai tubuhnya seutuhnya.


Mendengar ucapan Dewi Gayatri, Lintang Rahina hanya tersenyum tipis.


"Sekarang katakan, apa maksud dari semua ini !" kata Lintang Rahina.


"Baiklah. Mari kita kembali ke Pantai Parangtritis. Di sana, Kanjeng Ratu Naga Wilis Kencana sudah menunggu kita. Dialah yang akan mengatakan maksud dari semua ini !" jawab Dewi Gayatri.


Perlahan lahan, Lintang Rahina menarik energinya. Butiran sinar kuning keemasan yang menyebar luas itu, perlahan menyusut dan menipis masuk kembali ke telapak tangan Lintang Rahina.


"Ayo kita ke sana secepatnya !" kata Lintang Rahina yang tubuhnya sudah lenyap, melesat ke arah barat menuju ke Pantai Parangtritis.


Melihat hal itu, Dewi Gayatri menggelengkan kepalanya.


Lintang Rahina sendiri segera kembali ke Pantai Parangtritis, karena dia merasakan adanya dua getaran energi yang sangat besar dari arah Pantai Parangtritis.


Hanya dalam beberapa saat, Lintang Rahina telah sampai di Pesisir Parangtritis. Dari kejauhan, Lintang Rahina melihat, dua bola yang sangat besar yang terbentuk dari pendaran sinar. Di dalam masing masing bola pendaran sinar itu, Lintang Rahina melihat tubuh Sekar Ayu Ningrum dan tubuh Ratu Naga Wilis Kencana berdiri melayang di tengah tengah pendaran sinar. Tubuh mereka berdua terlihat mengeluarkan energi yang sangat kuat.


"Apa yang mereka lakukan, hingga sampai mengeluarkan energi yang sangat besar ? Tetapi dua energi ini .... tingkatan energi para dewa !" kata Lintang Rahina dalam hati.


Kemudian, Lintang Rahina perlahan lahan mendekat, namun tetap berusaha tidak menyinggung kedua bola raksasa pendaran energi itu.


----- * -----


Kedua bola raksasa yang terbentuk dari pendaran energi itu saling mendekat. Hingga akhirnya kedua bola raksasa dari pendaran energi itu saling menempel. Anehnya, pendaran energi yang mengandung energi yang sangat tinggi itu, saat saling menempel, tidak menimbulkan reaksi apapun, apalagi ledakan yang sangat kuat. Kemudian, posisi kedua bola pendaran energi itu saling menempel dan terdiam, berlangsung dalam waktu yang cukup lama.


Dalam keadaan kedua bola pendaran energi saling menempel itu, terjadi hal yang sangat luar biasa bagi Sekar Ayu Ningrum dan Ratu Naga Wilis Kencana.


Dalam perasaan Sekar Ayu Ningrum, bayangan Dewi Tara keluar dari tubuhnya dan melayang sangat dekat dengan tubuhnya. Tergiang di dalam kepalanya, Dewi Tara berkata kepadanya.

__ADS_1


"Sekar anakku, kalian tidak bisa melanjutkan saling bertarung, karena kamu adalah titisanku dan mewarisi kekuatanku. Sedangkan yang kau lawan itu adalah titisan dari Dewi Sri yang membawa kemakmuran !" kata bayangan Dewi Tara di dalam kepala Sekar Ayu Ningrum.


Bersamaan dengan itu, dalam perasaan Ratu Naga Wilis Kencana, dari dalam tubuhnya keluar bayangan yang merupakan perwujudan dari Dewi Sri.


Dewi Sri itu juga berkata langsung ke dalam kepala Ratu Naga Wilis Kencana.


"Kalian berdua tidak akan bisa saling bertarung. Karena kamu adalah titisanku dan pewaris kekuatanku. Sedangkan gadis di depanmu itu, adalah titisan dari Dewi Tara, Dewi Welas asih dan Ketenteraman !" kata Dewi Sri di dalam kepala Ratu Naga Wilis kencana.


Mengalami hal itu secara bersama sama, Sekar Ayu Ningrum dan Ratu Naga Wilis Kencana segera menarik semua energi yang mereka keluarkan.


Kemudian, bola raksasa yang terbentuk dari pendaran energi itu perlahan menyusut, mengecil dan akhirnya kembali masuk ke dalam tubuh mereka.


Setelah seluruh energi dan bola pendaran energi itu menghilang, berangsur angsur, pulih kembali kesadaran mereka berdua.


Hampir secara bersamaan, walaupun dalam jarak yang cukup jauh, terlihat Ratu Naga Wilis Kencana dan Sekar Ayu Ningrum menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.


"Terima kasih, Dewi !" ucap mereka bersamaan.


Kemudian, Ratu Naga Wilis Kencana dan Sekar Ayu Ningrum saling melayang mendekat. Bersamaan dengan itu, Lintang Rahina yang di belakangnya ada Dewi Gayatri, dengan cepat melesat mendekat.


Begitu mereka berempat saling mendekat, Dewi Gayatri segera jongkok di depan Ratu Naga Wilis Kencana.


"Kanjeng Ratu, titah sudah dilaksanakan. Sepertinya sesuai dengan harapan Kanjeng Ratu !" kata Dewi Gayatri.


"Bangunlah Senopati Dewi Gayatri ! Aku tahu, anak muda itu akan bisa mengalahkanmu ! Sekarang tinggal menyampaikan kepada mereka maksud dan tujuan kita !" jawab Ratu Naga Wilis Kencana.


"Baik Kanjeng Ratu !" kata Dewi Gayatri lagi.


Kemudian, Dewi Gayatri mengatakan pada Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum, bahwa Ratu Naga Wilis Kencana mengundang mereka berdua datang ke istana, karena Kanjeng Ratu Naga Wilis Kencana hendak meminta pertolongan.


Mendengar apa yang disampaikan oleh Dewi Gayatri, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum menyanggupinya.


Setelah melihat Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum bersedia, Ratu Naga Wilis Kencana pun kembali ke dalam kereta kencananya.


Sesaat kemudian, kereta kencana yang ditarik oleh enam ekor kuda itu melesat di udara diiringi suara gemerincing yang tiada hentinya.


Kemudian, Dewi Gayatri mengajak Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum, menuju ke istana kerajaan gaib. Sesaat kemudian, terlihat tiga tubuh melesat ke arah tengah samudra, menuju ke istana kerajaan gaib.

__ADS_1


__________ 0 __________


__ADS_2