
GRRRHH !!!
AAUMMMH !!!
Ki Sardulo muncul di samping kanan Lintang Rahina dalam wujud harimau setinggi lima meter. Besarnya wujud Ki Sardulo ikut bertambah karena kekuatan energi Lintang yang bertambah kuat.
Mata Ki Sardulo menyalang merah. Mulutnya setengah terbuka dan dari hidung dan mulutnya mengeluarkan asap panas. Taring dan gigi giginya semakin panjang dan tajam, berwarna seperti logam.
Sekarang ekor Ki Sardulo di bagian ujungnya yang berbulu menyala merah.
Menyaksikan itu semua, Warok Bandring Saloka terkejut bukan main. Di depannya tiba tiba muncul siluman harimau yang sangat besar, setinggi lima meter.
Segera Warok Bandring Saloka menyiapkan kain hitam ikat kepalanya lagi sambil mulutnya komat kamit membaca mantra, disertai dengan gerakan gerakan tangan yang aneh.
Kemudian ribuan kelelawar itu terpisah pisah membentuk banyak kelompok dan menyebar dalam berbagai tempat. Ada puluhan kelompok yang berada di belakang Warok Bandring Saloka. Ada puluhan kelompok berada di sisi kiri dan kanan lokasi pertarungan. Dan sebagian besar kelompok tetap berada di angkasa.
Tampaknya Warok Bandring Saloka akan mengeluarkan jurus simpanannya, 'Hujan Bunga Iblis'.
Jurus yang sangat berbahaya. Karena bersifat meledakkan apapun yang terkena serangannya, bahkan yang berada di dekat jatuhnya serangan. Tetapi jurus itu juga berbahaya bagi pemakainya, karena setiap kelompok kelelawar yang dipakai menyerang akan meledak saat membentur sasaran. Tentunya kelompok kelelawar yang meledak itu akan musnah. Efeknya, setiap ledakan dan berkurangnya jumlah kelelawar juga berarti berkurangnya jumlah energi yang dimiliki penggunanya.
"He he he he.....bocah....sekarang rasakan jurusku ini.....Hujan Bunga Iblis," teriak Warok Bandring Saloka.
Slap slap slap !!!
Siutt siutt siiiuuuttttt !!!
Dari berbagai arah, meluncur kelompok kelelawar dengan kecepatan yang sangat tinggi. Kelelawar kelelawar yang sudah berubah warna menjadi merah itu, terbang cepat dan rapat secara berkelompok, membuat tampak seperti bola bola api yang meluncur dari berbagai arah.
"Ki Sardulo, tolong bantu hadapi kelelawar kelelawar itu. Aku akan mencari celah untuk menghentikan Warok itu !!!" teriak Lintang Rahina.
"Siap den !!! Percayakan padaku !" jawab Ki Sardulo sambil langsung bersiap.
Begitu ada serangan kelompok kelelawar yang mendekat, Ki Sardulo langsung menyambutnya dengan semburan api dari mulutnya. Banyak kelompok kelelawar yang membentuk bola api itu, terbakar dan langsung menjadi abu begitu terkena semburan api Ki Sardulo. Sehingga tidak sempat menimbulkan ledakan.
Ada beberapa yang bisa lolos dan berhasil mendekati tubuh Ki Sardulo, disambut dengan hantaman ekor Ki Sardulo.
Benturan antara ekor Ki Sardulo dengan kelompok kelompok kelelawar itu menimbulkan ledakan yang sangat keras. Tetapi ledakan yang ditimbulkan tidak memberi dampak apa apa pada Ki Sardulo.
Blammm !!!
Duaarrrr duaarrrrr duaaarrrr !!!
__ADS_1
Karena sebenarnya di dunia siluman, tingkatannya tetap lebih tinggi Ki Sardulo yang sudah berusia ribuan tahun, dibandingkan dengan para siluman kelelawar itu.
Lintang Rahina juga sudah mengalirkan energi tenaga dalamnya ke seluruh tubuhnya, sehingga seluruh tubuhnya diliputi pendaran cahaya putih.
Demikian pula senjata tongkat dari ranting kayu yang dibawa juga menyala putih pekat.
Lintang juga ikut menangkis datangnya serangan kelompok kelompok kelelawar itu beberapa kali sambil menunggu kesempatan.
Ki Sardulo yang tahu kalau Lintang sedang mencari celah, segera menghadang datangnya serangan kelelawar yang mengarah ke Lintang Rahina.
Setelah kelelawar yang terbakar semburan api dari Ki Sardulo dan yang meledak karena berhasil ditangkis mencapai hampir sepertiga, Ki Sardulo mengingatkan Lintang Rahina lagi.
"Fokus saja ke warok itu den. Siluman kelelawar ini biar saya yang mengurus," kata Ki Sardulo.
"Terimakasih Ki," jawab Lintang Rahina.
Lintang Rahina berencana menggabungkan dua jurusnya lagi.
Tangan kanan beserta tongkat yang dipegangnya semakin berpendar putih pekat, sedangkan tangan kirinya berubah menjadi berwarna ungu menyala.
Begitu kelompok kelelawar yang ke arah Lintang Rahina agak berkurang, Lintang Rahina langsung melenting ke depan menyerang Warok Bandring Saloka. Rantingnya mengarah ke kepala Warok Bandring Saloka.
Warok Bandring Saloka memapaki datangnya serangan tongkat dengan libatan kain hitamnya.
Warok Bandring Saloka melompat menghindar dengan memanfaatkan tarikan energi saat kain hitam ikat kepalanya melibat tongkat Lintang Rahina.
Saat masih setengah melayang, tiba tiba,
Desss !!!
Tangan kiri Lintang Rahina tepat mengenai dada kanan Warok Bandring Saloka.
Warok Bandring Saloka terdorong mundur tiga langkah dengan sempoyongan. Libatan kain hitamnya agak melonggar. Dimanfaatkan Lintang dengan gerakan tongkat menotol ke leher samping.
Tuuukkk !!!
Hrrrrrggghtt !!!
Warok Bandring Saloka menggeram kesakitan. Tubuhnya doyong ke belakang.
Lintang tidak memberi kesempatan Warok Bandring Saloka untuk membalas serangan.
__ADS_1
"Surya Anala Bhumi"
Sambil setengah melayang, Lintang Rahina meluncur ke arah Warok Bandring Saloka. Tongkat diacungkan mengarah ke dada Warok Bandring Saloka.
Takkkk !!!
Bummmm !!!
Tongkat Lintang Rahina tepat mengenai dada Warok Bandring Saloka.
Warok Bandring Saloka yang tidak sempat menghindar, merasakan dadanya seperti tertimpa bukit, kemudian terhempas dan terlempar jauh ke belakang.
Sebelum tubuhnya jatuh ke tanah, Warok Bandring Saloka memuntahkan darah segar dan tewas seketika.
Dengan tewasnya Warok Bandring Saloka, sisa sisa siluman kelelawarnya juga ikut terbakar dengan sendirinya dan hanya menyisakan abu yang beterbangan.
Pertarungan selesai sudah. Keadaan menjadi senyap beberapa saat. Tetapi Lintang segera sadar dan berkata "Ki, Ki Sardulo kumohon cepat masuk kembali ke cincin. Saya akan menanyai para prajurit itu."
"Baik den," jawab Ki Sardulo yang langsung menghilang lagi karena sudah masuk ke dalam cincin di tangan kiri Lintang Rahina.
Kemudian Lintang Rahina mendekati kereta dan para prajurit yang mengawalnya. Ternyata para prajurit itu pingsan disebabkan fisiknya yang sudah lemah karena luka luka ditambah imbas dari pertempuran Lintang Rahina melawan Warok Bandring Saloka.
Setelah Lintang Rahina menyentuh dan mengurut di beberapa bagian tubuh para prajurit itu, mereka segera siuman. Kemudian Lintang Rahina memberi mereka ramuan yang sudah berwujud pil untuk mengobati luka mereka.
"Terimakasih den, telah menyelamatkan kami semua," kata komandan prajurit sambil hendak berlutut.
"Cepat berdiri paman, jangan berlutut di depan saya," kata Lintang Rahina sambil membangunkan komandan prajurit itu.
"Paman, ini rombongan siapa ? Dan kemana tujuan paman ?" tanya Lintang Rahina.
"Kami prajurit Mataram yang sedang mengawal Putri Nimas Waskita yang hendak pulang ke Kotagedhe, den," jawab komandan prajurit.
"Siapa nama kamu, raden ?" tiba tiba Putri Nimas Waskita bertanya dari tempat duduk kereta.
Dengan kepala ditundukkan, Lintang Rahina menjawab, "Nama Saya Lintang Rahina, Putri."
"Raden Lintang, aku berterimakasih karena raden telah menyelamatkan kami semua. Kalau Raden Lintang tidak keberatan, tolong antar dan kawal kami menuju ke Kotagedhe," kata Putri Nimas Waskita.
"Kalau Putri meminta, saya akan mengantar Putri pulang ke Kotagedhe," jawab Lintang Rahina.
"Paman, tolong paman meyuruh beberapa prajurit untuk membenahi bekas bekas pertempuran dan menguburkan jasad Warok Bandring Saloka. Sisanya langsung sekarang langsung berangkat ke Kotagedhe," kata Lintang pada komandan prajurit.
__ADS_1
"Baik den," jawab komandan prajurit.
--- 0 ---