Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Benang Jiwa Iblis


__ADS_3

Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum terus saja melakukan perjalanan dengan terbang sehingga hanya dalam waktu satu hari, mereka sudah sampai di kaki gunung Lawu.


Mereka sengaja turun di gunung Lawu, karena Lintang Rahina ingin memastikan kalau gurunya baik baik saja.


Dan mereka memang turun di kaki gunung Lawu, karena sebelum bertemu dengan Ki Pradah, mereka ingin memulihkan kondisi mereka dahulu.


Mereka berdua beristirahat di tepi sebuah hutan sambil bersemedi memulihkan energi mereka yang cukup banyak terkuras selama terbang sehari penuh.


Setelah beristirahat selama setengah hari, mereka menghentikan semedi mereka, karena mereka merasakan ada getaran energi yang merambat di tanah. Mereka merasa, getaran energi ini sangat aneh, kadang getaran energi yang mereka rasakan bersifat panas itu mengalir deras, namun tiba tiba getaran energi itu seperti membeku.


"Ada apakah dengan getaran energi ini kakang ?" tanya Sekar Ayu Ningrum.


"Kakang belum bisa menduganya," jawab Lintang Rahina.


"Ayo kita telusuri arah getaran ini," ajak Lintang sambil beranjak.


"Kita harus tetap hati hati kakang. Energi kita baru pulih setengahnya," Sekar Ayu Ningrum mengingatkan.


Lintang mengangguk senang, diingatkan oleh Sekar Ayu Ningrum.


Mereka berdua kemudian melesat ke atas menuju punggung gunung tempat tinggal Ki Pradah.


Tidak berapa lama, mereka sampai di tempat tinggal Ki Pradah. Mereka merasakan, ada getaran energi yang tidak stabil dari dalam rumah.


"Guru, kami datang," sapa Lintang Rahina saat melihat gurunya sedang bersila di ruang tengah.


"Kembalilah," jawab Ki Pradah dengan suara agak serak.


Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum terkejut mendengar jawaban Ki Pradah. Mereka berdua menatap tajam pada seluruh tubuh Ki Pradah.


Terlihat setitik air mata di kedua ujung mata Ki Pradah yang sudah penuh keriput.


"Bagaimana keadaan guru ?" tanya Lintang Rahina sambil mengeluarkan energinya untuk merasakan getaran energi dari tubuh Ki Pradah.

__ADS_1


"Baik," jawab Ki Pradah sambil memejamkan matanya, "Kembalilah."


"Guru sedang tidak baik baik saja !" jawab Lintang Rahina sambil mendekat dan kemudian hendak memegang tangan Ki Pradah.


Tetapi ketika tinggal berjarak satu depa dari Ki Pradah, Lintang Rahina terhenti mendadak dan kemudian jatuh berlutut dengan kepala agak mendongak.


Lintang Rahina merasa seperti ada tangan besar yang mencekik lehernya dan seperti ada pipa besar yang menusuk dadanya.


Yang membuat Lintang Rahina terjatuh adalah karena pipa besar yang menusuk dadanya itu menyerap energinya.


Semua kejadian itu tidak kasat mata, maka Sekar Ayu Ningrum tidak bisa melihat apa yang membuat Lintang Rahina terjatuh.


Melihat kejadian itu, Ki Pradah tidak bereaksi, tetapi terlihat sebutir air mata yang menggenang di kedua sudut matanya, jatuh mengalir.


Tepat saat Lintang Rahina dalam bahaya, datanglah dua orang tinggi besar yang masuk ke ruang tengah sambil berteriak.


"Ki Pradah ! Apa yang terjadi di sini !" tanya orang yang baru saja datang. Kedua orang itu adalah Ki Dipo Menggala dan Ki Wangsa Menggala.


Mereka berdua bisa datang tepat saat Lintang dalam bahaya karena mereka berdua merasakan getaran getaran energi yang mereka rasakan sangat aneh. Getaran energi itu sangat mengganggu semedi mereka.


Walau tidak bisa melihat sesuatu yang kasat mata yang mencekik dan menyerap energi Lintang Rahina, tetapi karena mereka pertapa, dengan kebersihan energi dan jiwa, mereka bisa merasakan ada sesuatu yang berbahaya.


Dengan cepat Ki Wongso Menggala menyerang Ki Pradah dengan serangan jarak jauh sedangkan Ki Dipa Menggala menyerang sesuatu yang di depan Lintang Rahina.


Begitu selesai menyerang, mereka berdua segera melompat ke arah Lintang Rahina dan menariknya keluar dari tempat tinggal Ki Pradah.


Lintang Rahina yang merasakan tubuhnya sangat lemas karena hampir habis energinya, segera duduk bersila untuk memulihkan energinya.


Setelah tidak lemas lagi, walaupun energinya baru pulih sedikit, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum diajak ke tempat Ki Dipo Menggala.


Di tempat Ki Dipo Menggala, Lintang Rahina bersemedi selama sehari semalam. Begitu bangun dari semedinya, Lintang Rahina merasakan energinya sudah pulih walau belum seratus persen.


"Apa yang tadi itu Ki ?" tanya Lintang Rahina.

__ADS_1


"Kalau dugaanku tidak salah, itu Benang Jiwa Ibis. Kenapa bisa muncul disini ?" jawab Ki Dipo Menggala.


Lintang Rahina kemudian menceritakan semua yang terjadi di puncak Rinjani.


"Jagad Dewa Bathara .... pantas pantas pantas..." kata Ki Dipo Menggala, "Untuk sempurnanya hasil kurungan benang Jiwa, seharusnya dibuat oleh empat orang. Kamu ngger, bisa terjerat benang iblis ada dua kemungkinan. Pertama, energi kamu memang yang disasar atau saat itu energi kamu hanya sedikit.


Dahulu memang Ki Pradah setiap melakukan tehnik kurungan benang jiwa, dilakukan dengan empat orang. Yang biasa berpasangan adalah Ki Pradah, Ki Penahun, Resi Nirartha Pradnya serta Ki Ageng Arisboyo.


Tetapi karena kemaren itu darurat, merska melakukannya hanya bertiga.


"Kita memerlukan dua orang lagi, untuk membuat kurungan. Semoga selama menunggu datangnya dua orang lagi, Ki Pradah kuat menahan benang jiwa Iblis," kata Ki Dipo Menggala, "Kalau itu orang lain yang menyentuh benang jiwa Iblis, kemungkinan besar jiwanya sudah terpengaruh dan dikuasai oleh benang jiwa iblis."


"Ngger Lintang, segeralah kamu ke tempat Ki Ageng Arisboyo dan Ki Penahun, kabarkan hal ini dan ajak beliau ke sini," kata Ki Dipo Menggala lagi.


Setelah energinya pulih sepenuhnya, Lintang Rahina segera meninggalkan gunung Lawu untuk ke tempat Ki Ageng Arisboyo dan tempat Ki Penahun.


Untuk mempercepat, mereka berdua berbagi tugas.


Sekar Ayu Ningrum ke Parangtritis, untuk mengabarkan hal ini pada kakeknya, Ki Ageng Arisboyo.


Sedangkan Lintang Rahina langsung melesat ke gunung Mebabu, untuk menemui eyangnya, Ki Penahun dan segera mengajaknya ke tempat Ki Pradah.


"Semoga saja eyang sudah pulang dari tempat Resi Nirartha Pradnya," kata Lintang Rahina dalam hati.


----- o -----


Sementara itu saat kurungan benang jiwa yang dibuat oleh Ki Pradah, Ki Penahun dan Resi Nirartha Pradnya, bergetar hebat dan menjelang hendak meledak, Ki Pradah melihat ada yang melayang layang seolah ingin keluar dari kurungan.


Setelah melihat dan merasakan getarannya, Ki Pradah tahu kalau benang jiwa iblis belum terbakar sepenuhnya.


Maka, dari pada membahayakan banyak orang, Ki Pradah sengaja membuka sedikit celah pada bagian tangan kirinya.


Bersamaan dengan terjadinya ledakan yang membuat kurungan benang jiwa tergetar hebat, Ki Pradah membuka sedikit celah di bagian kirinya. Sehingga saat meledak, benang jiwa iblis terlempar keluar dari lubang yang dibuat oleh Ki Pradah. Dan segera ditangkap oleh Ki Pradah dengan telapak tangan kirinya.

__ADS_1


Tanpa diketahui oleh yang lainnya, di dalam tubuh Ki Pradah terjadi pergolakan energi.


__________ 0 __________


__ADS_2