
Kedua tangan Lintang Rahina yang berwarna ungu kehitaman, setiap berbenturan dengan ekor siluman naga itu, selalu membuat tubuh mereka berdua kembali terpental ke belakang.
"Sisik siluman naga ini sangat kuat melebihi baja. Setiap terkena pukulanku, siluman naga ini hanya terpental, seperti tidak berpengaruh pada tubuhnya !" kata Lintang Rahina dalam hati.
Kemudian dengan cepat Lintang Rahina menambah aliran energinya. Dari kedua telapak tangannya keluar pusaran angin yang lebih kencang lagi.
Dengan memutar telapak langannya mengelilingi tubuhnya, Lintang Rahina membuat air laut di sekitar tubuh siluman naga itu bergolak dan kemudian perlahan berputar mengikuti gedakan telapak tangan Lintang Rahina.
Putaran air laut itu semakin lama semakin cepat sehingga permukaan air yang ikut berputar itu terangkat, dan terus terangkat semakin tinggi hingga membentuk dinding air yang mengitari tubuh siluman naga dan juga Lintang Rahina.
Dinding air itu sebenarnya tidak menjadi ancaman bagi siluman naga itu. Namun, dengan adanya dinding air itu, semburan api biru dan sinar hijau yang keluar dari mustika di dahi siluman naga itu tidak menyebar kemana mana dan tidak membahayakan armada kapal perang milik Raksa Samodra.
Karena Lintang Rahina sempat menyaksikan, lesatan sinar hijau dari mustika hijau di dahi siluman naga itu, saat dihindari dan akhirnya terkena air laut, membuat air laut yang terkena itu langsung terbakar menguap dan mengeluarkan uap panas.
Dalam kepungan dinding air, siluman naga itu merasa mereka berdua seperti di dalam kurungan sehingga jarak mereka berdekatan.
Memanfaatkan posisi itu, siluman naga itu segera menyemburkan lagi api birunya ke arah tubuh Lintang Rahina.
Lintang Rahina yang sudah memperkirakan apa yang akan dilakukan siluman naga, segera mengarahkan telapak tangan kanannya yang mengeluarkan hembusan angin ke arah datangnya semburan api yang memanjang yang mendekat ke tubuhnya.
Begitu terkena hembusan angin, semburan api itu kembali memendek dan kemudian padam.
Merasa serangannya tidak berhasil, siluman naga itu meraung dengan sangat kerasnya.
Ggrrraaawwwww .... !!!
"Manusia ! Kau yang memaksaku melakukan ini !" teriak siluman naga itu dengan geram.
Bersamaan dengan itu, sisik sisik di seluruh tubuh siluman naga itu bergerak semua, hingga menimbulkan suara berderak. Kemudian, satu persatu, sisik sisik itu mengeluarkan pendaran sinar keemasan yang sangat terang. Ujung ekornya menjadi kuning keemasan dan mengkilat. Kedua tanduknya berubah warna menjadi hijau kehitaman dan kedua bola matanya berwarna merah menyala. Sementara, mustika hijau yang berada di dahinya terlihat lebih menonjol keluar dan terlihat lebih hijau mengkilat. Dari permukaan mustika hiau mengkilat itu keluar pendaran sinar hijau yang memenuhi tempat itu.
Kemudian, dengan gerakan yang sangat cepat, siluman naga yang sangat besar itu melesat melayang ke arah Lintang Rahina.
Lintang Rahina yang dalam keadaan melayang dan tidak pernah mengendorkan kewaspadaannya, dicecarnya dengan serangan bertubi tubi. Semburan api biru kembali menyambar tubuh Lintang Rahina. Disambung dengan gerakan kepala siluman naga yang menyambar dengan mulut yang terbuka. Lalu dilanjut lagi dengan hantaman badan siluman naga yang membuat tubuh Lintang Rahina terhempas ke belakang hingga menghantam dinding air. Kemudian disusul sabetan ekor siluman naga yang dikombinasi dengan tusukan ujung ekor yang menjadi sangat keras melebihi baja.
__ADS_1
Semua serangan yang beruntun dan bertubi tubi itu membuat Lintang Rahina pontang panting menghindari, terkadang membuat tubuh Lintang Rahina terhempas ke belakang karena harus menangkis.
Sementara itu dari atas kapal perang besar. Sekar Ayu Ningrum selalu memperhatikan jalannya pertarungan suaminya melawan siluman naga.
Melihat air laut yang meninggi dan kemudian mengepung suaminya bersama siluman naga itu, Sekar Ayu Ningrum bersiap dan memindahkan gendongan Seruni anaknya ke punggung.
Saat melihat sinar kuning gemerlapan yang sangat panjang dan sangat terang, Sekar Ayu Ningrum yang selalu mengkhawatirkan Lintang Rahina suaminya, segera melesat melayang ke arah air laut yang meninggi itu.
Dari arah atas dinding air yang berbentuk melingkar, Sekar Ayu Ningrum melihat, Lintang Rahina dicecar habis habisan dengan variasi serangan yang tiada hentinya.
Maka dari itu, Sekar Ayu Ningrum langsung melesat turun membantu suaminya.
Dengan seluruh tubuh yang berpendar putih keperakan dan kedua tangan yang sudah memegang sepasang pedang yang terbentuk dari pendaran energi putih keperakan, Sekar Ayu Ningrum terjun ke pertarungan dan mencoba mencecar siluman naga dengan serangan serangan jurus pedangnya yang sempat membuat siluman naga itu sibuk menghindar untuk beberapa saat.
Peluang yang dibuat oleh Sekar Ayu Ningrum istrinya itu dimanfaatkan Lintang Rahina untuk menambah aliran energinya. Di kedua tangannya sekarang tergenggam sepasang pedang yang terbentuk dari pendaran sinar putih pekat dan diselimuti butiran sinar kuning keemasan.
Kemudian tanpa berlama lama, Lintang Rahina segera menyusul Sekar Ayu Ningrum.
Namun tebasan ataupun tusukan pedang yang dilakukan oleh Lintang Rahina maupun Sekar Ayu Ningrum seolah tidak dirasakan oleh siluman naga itu.
Bahkan gerakan siluman naga itu semakin cepat dan semakin bertenaga. Sabetan ekornya dan hempasan tubuhnya masih bisa membuat tubuh Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum terpental kembali ke belakang.
Namun setiap kali terpental ke belakang, mereka berdua segera melesat lagi dan kembali mencecar siluman naga itu dengan tebasan dan tusukan tusukan pedang.
Setelah berkali kali melakukan serangan dengan tehnik yang sama dan di sasaran tempat yang selalu sama, tergurat senyuman tipis di bibir Lintang Rahina.
"Adik Sekar, kau serang terus bagian kepalanya. Jangan hiraukan semua serangannya, kakang akan melindungi adik !" teriak Lintang Rahina.
"Baiklah kakang !" jawab Sekar Ayu Ningrum.
Kemudian, sambil menambah aliran energinya, tubuh Sekar Ayu Ningrum kembali melesat dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti dengan mata.
Beberapa saat kemudian terdengar suara dentangan berkali kali, saat sabetan dan tusukan pedang Sekar Ayu Ningrum yang menghujani kepala siluman naga itu, mengenai sisik sisik di kepala siluman naga itu.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, setiap sabetan ekor atau hempasan tubuh siluman naga itu datang, selalu terpental kembali ke belakang karena selalu.dihadang oleh Lintang Rahina dengan tebasan tebasan pedangnya.
Walaupun hal itu juga membuat tubuh Lintang Rahina berkali kali terhempas ke belakang hingga menghantam dinding air, namun juga membuat siluman naga itu tidak bisa.mengarahkan serangannya pada Sekar Ayu Ningrum.
Hingga pada satu kesempatan, Lintang Rahina melihat celah yang selalu dinantinya.
Saat kepala siluman naga itu berusaha bergerak menghindari serangan Sekar Ayu Ningrum ataupun sisik sisik di kepalanya yang berbenturan dengan kedua pedang Sekar Ayu Ningrum, Lintang Rahina melihat kepala siluman naga itu sedikit terangkat dan dimiringkan. Dengan cepat Lintang Rahina melesat ke bawah dan menghujamkan kedua pedangnya ke bagian bawah kepala siluman naga itu.
Claaappp ! Claaappp !
Siluman naga itu menggeliat kesakitan sekaligus marah. Dalam kemarahannya, siluman naga itu membuka mulutnya lebar lebar. Dari mulutnya itu menyembur api biru yang sangat besar bahkan lebih besar dari yang pernah dia semburkan.
Melihat besarnya semburan api biru itu, kedua tangan Lintang Rahina yang sudah tidak memegang pedang, segera memainkan jurus 'Sindhung Alit'. Kedua tangannya mengeluarkan angin yang menderu deru dan menghantam api biru yang menyembur panjang itu.
Terkena hantaman hembusan angin yang keluar dari kedua tangan Lintang Rahina, perlahan lahan semburan api biru itu mengecil dan terus mengecil.
Saat semburan api itu padam, tiba tiba dari arah atas melesat turun dengan sangat cepatnya tubuh Sekar Ayu Ningrum yang telah merubah pendaran sinar yang membentuk bilah pedang. Pendaran sinar di kedua telapak tangannya berubah menjadi selarik sinar putih keperakan. Tanpa bisa dihindari lagi, sinar putih keperakan itu menghantam punggung siluman naga dengan kerasnya.
Siluman naga itu menggeliat tubuhnya saat terkena hantaman sinar putih keperakan yang keluar dari telapak tangan Sekar Ayu Ningrum yang masih menggendong Seruni anaknya di punggungnya. Kemudian Sekar Ayu Ningrum melayang di samping Lintang Rahina.
Siluman naga itu mengeluarkan teriakan.
Hhhrrr ..... !!!
Aarrrccchhh !!!
Kemudian, disertai dengan teriakan yang sangat keras tadi, batu mustika di dahi siluman naga itu mengeluarkan suara dengungan yang memekakkan telinga. Setelah beberapa saat dengungan itu terdengar, tiba tiba terjadi ledakan dari arah batu mustika di dahi siluman naga disertai keluarnya pendaran sinar berwarna hijau yang membutakan mata untuk beberapa saat.
Blaaabbb !!!
Sesaat setelah ledakan itu, suasana menjadi senyap. Kemudian, hanya dalam satu kedipan mata, semua yang ada di sekeliling Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum berubah.
__________ 0 __________
__ADS_1