Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Menyerap Pendaran Sinar Hijau


__ADS_3

Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum, disertai oleh Sindu Amarajati dan rombongannya segera berangkat ke arah daratan besar. Mereka hanya menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk berlari cepat di daratan. Hal itu karena ternyata Sindu Amarajati dan rombongannya memiliki kapal besar yang mereka tinggal di ujung barat pulau Jawadwipa.


Sebenarnya Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum bisa saja terbang dengan melesat di udara, namun mereka masih menghormati Sindu Amarajati yang berniat menemani perjalanan mereka.


Selama perjalanan darat kemudian dilanjutkan dengan perjalanan melalui laut itu, semua berjalan lancar dan mereka semua tidak mendapatkan gangguan apa apa.


Setelah memakan waktu hampir lima belas hari, mereka semua tiba di negeri Campa, yang membuat mereka harus berpisah, karena Sindu Amarajati harus kembali ke negaranya.


Kemudian, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum segera melanjutkan perjalanan mereka menuju ke daratan besar, setelah sebelumnya berpamitan pada Sindu Amarajati dan rombongannya.


Setelah cukup jauh dari negeri Campa, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum segera melesat ke udara dan selanjutnya melayang dengan sangat cepat menuju ke negeri Atap Langit.


Dalam bayangan mereka, rasanya mereka seperti sudah pernah ke negeri ini, sehingga mereka berdua merasa yakin dengan rute yang mereka ambil.


Sehari penuh mereka melayang, hingga kemudian sampai di suatu tempat yang dimana mana semuanya terlihat putih pucat dan mengeluarkan hawa dingin. Namun bagi Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum yang tingkat energinya sudah sangat tinggi, hawa dingin itu tidak menjadikannya masalah.


Karena sinar matahari sudah menghilang sejak tadi, mereka berdua mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat sekaligus untuk memulihkan energi mereka, agar pada pagi hari berikutnya, mereka bisa segar kembali.


Tanpa terasa, dalam istirahat mereka, sambil duduk bersila bersemedi, malam berlalu dengan cepat dan kemudian digantikan dengan indahnya pagi hari.


Pada terang hari, walaupun sejauh mata memandang hanya terlihat warna putih salju, namun semua terlihat lebih jelas.


Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum melihat, betapa pegunungan Himalaya terdiri dari banyak sekali puncak. Banyak sekali puncak puncak itu yang di atasnya didirikan kuil kuil untuk peribadatan mereka.


Namun, dari banyak kuil di setiap puncak pegunungan Himalaya itu, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum belum menemukan kuil yang mengeluarkan pendaran sinar berwarna hijau.


Maka untuk memastikannya agar tidak ada yang terlewat, mereka berdua mendekati setiap puncak pegunungan yang ada kuilnya.

__ADS_1


Walaupun untuk kegiatan spiritual, namun keadaan kuil itu berbanding lurus dengan keadaan masyarakat di sekitarnya.


Mereka berdua beberapa kali menemui ada kuil yang besar berdiri megah bahkan dikelilingi pagar tembok yang tinggi dengan gerbang yang mewah. Biksu yang berada di situ banyak, dan dijaga oleh para biksu muda yang pakaiannya bagus bagus. Bisa dipastikan, masyarakat di sekitarnya adalah warga dengan tingkat ekonomi yang tinggi, paling tidak berkecukupan.


Namun, sering juga Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum menemui kuil dengan bangunan yang sudah sangat tua dan kurang terurus dengan jumlah biksu yang hanya beberapa orang, itupun sudah tua tua dan berbadan kurus. Masyarakat di sekitarnya pun sama, terdiri dari penduduk miskin dan cenderung serba kekurangan.


Hingga pada suatu ketika, mereka berdua sampai di suatu puncak pegunungan, yang cukup tengah letaknya dan termasuk salah satu puncak yang tertinggi. Kuil yang dibangun di puncak itu cukup besar. Namun terlihat kurang terawat. Para biksu yang berada di situ pun semuanya sudah berusia tua.


Karena sudah setengah hari lebih mereka berkeliling dari satu puncak ke puncak yang lain, mereka berdua ingin beristirahat dulu sekedar melepaskan penat pikiran.


Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum turun di daerah yang sepi dari manusia. Kemudian mereka segera menuju ke kuil yang tampak sederhana itu.


Ketika mereka sampai di halaman kuil yang terlihat bersih, mereka disambut oleh seorang biksu tua berbadan kurus namun kulit keriputnya nampak bersih.


"Silahkan. Mungkin ada yang bisa kami bantu ?" kata biksu tua itu dengan ramah.


"Paman biksu, bolehkah kami menumpang beristirahat sebentar ? Di samping kuil juga tidak apa apa," tanya Lintang Rahina.


"Terimakasih paman biksu. Bagaimana paman biksu bisa tahu, kalau kami berdua datang dari negeri yang sangat jauh ?" kata Lintang Rahina lagi.


"Heehh he ... tidak usah dipikirkan dan jangan sungkan sungkan. Kuil ini sudah sangat lama tidak kedatangan tamu. Akan kami siapkan tempat beristirahat untuk kalian berdua," jawab biksu tua tadi.


Mereka masuk ke dalam kuil. Selain altar tengah yang dipakai untuk kegiatan spiritual para biksu, di keempat sudut dibuat ruangan untuk kamar ataupun untuk meletakkan barang barang.


Di sudut sebelah kiri kuil itu, ada satu ruang yang pintunya selalu tertutup rapat bahkan terkancing dengan gembok.


Tina tiba Sekar Ayu Ningrum berhenti di depan pintu yang tergembok itu.

__ADS_1


"Itu ruangan apa, paman biksu ?" tanya Sekar Ayu Ningrum.


"Owhhh ... itu sebenarnya sebuah kamar, namun sudah lama sekali tidak pernah dipakai, karena tidak ada yang kuat dan tahan tinggal di kamar itu, bahkan para biksu sekalipun," jawab biksu tua itu.


"Kalau begitu, aku istirahat di kamar itu saja, paman biksu," pinta Sekar Ayu Ningrum.


"Sebenarnya sangat tidak pantas, kami memberikan tempat yang sangat tidak layak. Tetapi, ..." jawab biksu tua itu.


"Tidak apa apa paman," sahut Sekar Ayu Ningrum cepat sambil segera mendekati pintu yang tertutup rapat itu.


Namun, sebelum Sekar Ayu Ningrum tiba di depan pintu itu, tiba tiba gembok pengancing pintu itu pecah berkeping keping dan jatuh ke tanah. Kemudian pintu itu terbuka seperti ditarik dari dalam.


Sekar Ayu Ningrum segera memasuki ruangan itu. Begitu sampai di dalam ruangan, Sekar Ayu Ningrum merasakan hawa dingin yang seolah hawa dingin itu sudah pernah dia rasakan.


Secara reflek, Sekar Ayu Ningrum mengeluarkan energinya untuk sedikit memberikan perlindungan pada kulitnya.


Bersamaan dengan energinya menyebar ke seluruh tubuhnya, tiba tiba ruangan itu mengeluarkan pendaran sinar berwarna kehijauan yang semakin lama semakin terang dan semakin pekat.


"Akhirnya berhasil juga menemukan kuil yang memendarkan warna hijau," kata Lintang Rahina dalam hati.


Sementara itu, biksu tua yang berdiri di samping Lintang Rahina terus saja berdoa, begitu melihat kejadian itu.


Sementara itu di dalam ruangan, pendaran warna hijau itu semakin meluas hingga menyelimuti seluruh ruangan kuil.


Sementara itu, energi Sekar Ayu Ningrum terus saja membanjir mengalir keluar melalui seluruh permukaan kulitnya. Energi yang berwarna putih keperakan itu berputar putar, bergerak kemanapun pendaran sinar berwarna hijau itu ada. Seolah pendaran energi putih keperakan itu menangkap dan menyerap pendaran sinar berwarna hijau itu.


Setelah berlangsung sekitar setengah jam, pendaran energi putih keperakan itu kembali masuk ke tubuh Sekar Ayu Ningrum melalui seluruh permukaan kulitnya dengan membawa pendaran sinar berwarna hijau.

__ADS_1


Sekitar satu jam kemudian, seluruh pendaran sinar berwarna hijau sudah terserap seluruhnya ke dalam tubuh Sekar Ayu Ningrum.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2