
Sementara itu di dalam kota bawah tanah, pertarungan Lintang Rahina melawan manusia manusia kerdil yang menghadangnya belum juga selesai.
Sembilan manusia kerdil tua yang menjadi lawannya itu terkapar di tanah. Dada mereka terasa panas dan nafas mereka terasa berat. Mereka berusaha untuk menggerakkan tubuh, namun tidak bisa. Energi yang membalik ke tubuh mereka begitu besar sehingga membuat tubuh mereka serasa lumpuh. Hanya kedipan mata yang menunjukkan masih adanya kehidupan pada sembilan manusia kerdil tua itu.
Lintang Rahina sudah bersiap kembali dengan seluruh tubuh diselimuti pendaran sinar putih pekat bercampur dengan butiran sinar kuning keemasan.
Tiba tiba terdengar suara beruntun lecutan cambuk disertai suara teriakan cempreng manusia kerdil.
Ctar ! Tar ! Tar ! Tar ! Tar !
Ctar ! Tar ! Tar ! Tar ! Tar !
"Haaahhhh ! ..... Siapa yang berani mati masuk ke kerajaanku !"
Sesaat kemudian, terlihat melayang keluar tiga bayangan tubuh kecil menuju ke arah posisi Lintang Rahina.
Kemudian mereka berhenti dan melayang di depan Lintang Rahina. Lintang Rahina melihat, seorang manusia kerdil mengenakan busana raja lengkap dengan mahkotanya, duduk di singgasana yang melayang. Tangan kanannya memegang gagang cambuk berwarna hitam pekat yang batang cambuknya bercabang lima. Ujung kelima batang cambuk itu masing masing berbeda. Ada yang ujungnya berbentuk seperti mata panah dan mengeluarkan warna merah membara. Ada yang berbentuk seperti ujung pedang yang menyala biru. Ada yang ujungnya berbentuk bola berduri dengan warna yang hitam pekat. Ada yang berbentuk rumbai rumbai berwarna putih dan mengeluarkan kilatan kilatan petir. Dan ada yang berbentuk seperti kepala ular dengan lidah yang selalu menjulur menampakkan warna ungu tua.
Di samping kiri kanan raja itu, melayang dengan menunggangi potongan batang kayu, dua manusia kerdil yang masih cukup muda. Dua manusia kerdil itu memakai pakaian prajurit. Yang seorang, kedua bola matanya berwarna putih semua dan yang satunya lagi, kedua bola matanya berwarna hitam semua.
Lintang Rahina merasakan getaran energi yang sangat besar keluar dari ketiga manusia kerdil itu.
"Orang dari Negeri Jawadwipa ! Sebelum kau mati disini, katakan apa tujuanmu datang ke Kerajaan Liliputan dan membuat keributan disini !" ucap manusia kerdil berbusana raja itu.
Raja manusia kerdil itu tahu kalau Lintang Rahina berasal dari Negeri Jawadwipa, karena telah mendapatkan laporan dari orang orang kepercayaannya.
Sebenarnya ada yang membuat terkejut raja manusia kerdil itu, sehingga membuat dia harus turun tangan sendiri.
"Anak muda dari Negeri Jawadwipa ini mampu melewati semua tingkat hadangan dari pasukan andalanku. Membuatku penasaran, seberapa tinggi tingkat energi dan ilmu silat anak muda ini !" kata raja manusia kerdil itu dalam hati.
"Apakah kau raja Kerajaan Liliputan ini ?" Lintang Rahina balik bertanya.
"Haaahhh ha ha ha ha ... ! Benar sekali ! Akulah raja Kerajaan Liliputan !" jawab raja manusia kerdil itu.
"Aku datang kesini, untuk meminta agar Kerajaan Liliputan berhenti melakukan gangguan di wilayah Kerajaan Gaib !" kata Lintang Rahina lagi.
__ADS_1
"Haaahhh ha ha ha ha ... ! Apakah Ratu Naga Wilis Kencana sudah tidak punya kekuatan sehingga harus meminta bantuan orang Negeri Jawadwipa ?!" sahut raja manusia kerdil itu.
"Tidak masalah, apapun yang menjadi alasan Ratu Kerajaan Gaib. Aku menunggu jawabanmu sekarang !" kata Lintang Rahina.
"Haaahhh ha ha ha ha ... ! Sampaikan jawabanku pada Ratu Naga Wilis Kencana, Kerajaan Liliputan tetap akan mengganggu wilayah Kerajaan Gaib sampai dengan kami diperbolehkan melewati samudra menuju ke Negeri Jawadwipa !" jawab Raja manusia kerdil sambil tertawa.
"Tetapi sayangnya, aku juga diserahi wewenang mengambil keputusan untuk menyelesaikan masalah !" kata Lintang Rahina sambil menyelimuti seluruh tubuhnya dengan energi yang cukup besar.
Melihat anak muda dari Negeri Jawadwipa itu terlihat bersiap untuk bertarung, kedua manusia kerdil yang melayang dengan menunggangi potongan batang pohon, yang berada di samping kanan dan kiri raja manusia kerdil itu segera maju mendekat ke arah Lintang Rahina.
Kemudian, sebelum lawannya bergerak menyerang, kedua manusia kerdil itu mendahului menyerang.
Menghadapi dua lawan yang memiliki energi yang sangat tinggi, Lintang Rahina tidak berani main main. Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, Lintang Rahina melesat dengan sangat cepat, menghindari setiap sambaran kedua lawannya.
Saat menghindari serangan serangan kedua lawannya, Lintang Rahina merasakan getaran energi yang sangat kuat terlontar dari setiap serangan kedua manusia kerdil itu.
Namun, walaupun bergeraknya masih lebih cepat dari kedua lawannya, karena selalu dicecar oleh kedua lawannya dengan serangan yang bertubi tubi, akhirnya Lintang Rahina pada suatu saat terpaksa harus menangkis.
Blaaarrr ! Blaaarrr ! Blaaarrr ! Blaaarrr !
Dalam benturan pukulan dan tendangan itu, mereka bertiga tersurut ke belakang hingga dua langkah.
Sementara itu, raja manusia kerdil yang melihat pertarungan itu, semakin dibuat terkejut.
"Anak muda dari Negeri Jawadwipa ini, seberapa tinggi kemampuan yang dimilikinya ! Bahkan dikeroyok oleh dua wakilku saja masih bisa mengimbangi !" gumam raja manusia kerdil dengan gusar.
Sementara itu dalam pertarungan, Lintang Rahina sudah meningkatkan lagi aliran energinya. Pendaran sinar putih pekat yang bercampur dengan butiran sinar kuning keemasan semakin tebal menyelimuti seluruh tubuhnya. Kedua tangannya sudah berubah warna menjadi ungu kehitaman dan diseliputi pendaran sinar ungu keemasan.
Kemudian, dengan kecepatan yang sudah tidak bisa diikuti dengan mata, Lintang Rahina melesat ke arah kedua lawannya.
Bersamaan dengan itu, merasa terkejut bisa didorong mundur oleh lawannya yang masih sangat muda, kedua manusia kerdil itu kembali melesat menyerang dengan energi yang lebih besar lagi.
Hanya dalam waktu sesaat, terjadi benturan pukulan dan tendangan yang menimbulkan suara ledakan yang sangat keras.
Blaaarrr ! Blaaarrr !
__ADS_1
Dbaaammm ! Dbaaammm ! Dbaaammm !
Pada suatu saat, kedua manusia kerdil itu mendapatkan kesempatan melakukan serangan secara bersamaan dengan energi penuh. Lintang Rahina pun memapakinya dengan kedua tangannya yang menyimpan energi yang sangat tinggi.
Benturan pukulan yang mengandung energi yang sangat tinggi pun tidak bisa dielakkan lagi dan menimbulkan ledakan yang sangat besar.
Blaaannnggg ! Blaaannnggg !
Sesaat setelah ledakan itu, kedua manusia kerdil itu terlempar ke belakang, hingga kemudian jatuh dan terhempas hingga bergulingan di tanah. Potongan batang pohon yang mereka tunggangi, terlepas dari tubuh mereka.
Sedangkan Lintang Rahina, tubuhnya terdorong melayang ke belakang.
Baru saja gerakan tubuh Lintang Rahina berhenti, tiba tiba menyambar lima ujung cambuk ke beberapa titik berbahaya di tubuhnya. Terlihat, raja Kerajaan Liliput mengayunkan cambuk bertangkai lima ke arahnya.
Segera saja Lintang Rahina menggeser tubuhnya untuk menghindari datangnya serangan cambuk dari raja manusia kerdil itu, sehingga kelima ujung cambuk itu hanya mengenai tempat kosong.
Ctar ! Ctar ! Ctar ! Ctar ! Ctar !
Namun, walaupun berhasil menghindar, Lintang Rahina merasakan gerakannya sedikit terhambat seperti ada yang membatasi gerakannya.
Lintang Rahina belum sempat menemukan yang menghambat gerakannya, ketika tiba tiba terdengar suara raja Kerajaan Liliputan.
"Kalian berdua ! Cepat gunakan benang energi kalian untuk menjeratnya !" teriak raja Kerajaan Liliputan itu.
Dua manusia kerdil yang baru saja berdiri di tanah setelah tadi jatuh bergulingan di tanah, segera menggerakkan kedua tangannya ke arah Lintang Rahina.
Tiba tiba Lintang Rahina merasakan, seluruh tubuhnya seperti diikat oleh tali tali lembut yang jumlahnya sangat banyak dan mengandung energi yang sangat tinggi.
Segera saja Lintang Rahina menguatkan aliran energi ke seluruh tubuhnya untuk melindungi dari semua hal yang bisa membahayakan tubuhnya.
Sesaat kemudian, terlihat butiran sinar kuning keemasan semakin bertambah tebal menyelimuti seluruh tubuh Lintang Rahina.
Melihat lawannya sudah terjerat benang energi dari kedua wakilnya, raja Kerajaan Liliputan itu kembali mengayunkan cambuknya dengan cepat. Kali ini tidak terdengar suara lecutan cambuk. Karena begitu mengenai tubuh Lintang Rahina, kelima ujung cambuk itu segera menjerat leher, kedua tangan dan kedua kaki Lintang Rahina.
Lima ujung cambuk itu menjerat semakin erat, hingga membuat secara reflek pendaran sinar putih pekat yang menyelimuti tubuhnya semakin bertambah pekat. Kedua mata Lintang Rahina pun berubah mengeluarkan pendaran sinar putih pekat.
__ADS_1
Pendaran sinar putih pekat yang bercampur butiran sinar kuning keemasan yang semakin bertambah tebal itu membuat benang energi dari kedua wakil raja Kerajaan Liliputan itu samar samar mulai terlihat. Bahkan pendaran sinar putih pekat yang bercampur butiran sinar kuning keemasan itu mulai menyelimuti benang energi yang merentang ke arah ke dua tangan wakil raja Kerajaan Liliputan.
__________ 0 __________