
Ki Wangsa Menggala yang merasa geram karena Arga Manika menyerang saat lawannya masih terdiam karena terluka, seperti dirinya kemaren, melompat ke arah Ki Penahun untuk membantu Ki Penahun melawan iblis iblis api.
Pada saat yang bersamaan, Arga Manika melenting ke arah Ki Penahun. Ki Penahun yang dibantu Ki Wangsa Menggala sedang menghadapi keroyokan dari para iblis api sehingga tidak menduga akan datangnya serangan Arga Manika.
Begitu sudah dekat dengan Ki Penahun, Arga Manika melepaskan pukulan bola apinya ke arah Ki Penahun.
"Jangan serang !!! Akan ku berikan apa yang kau inginkan !" teriak Ki Dipa Menggala sambil melesat ke arah Ki Penahun.
Blaarrr !!!
Ki Dipa Menggala dan Ki Wangsa Menggala yang mencoba menangkis datangnya serangan energi Arga Manika, terdorong ke belakang dan terhuyung huyung kemudian jatuh terduduk. Wajah Ki Wangsa Menggala tampak pucat pertanda mengalami luka dalam. Sedangkan Ki Dipa Menggala merasakan sedikit sesak nafasnya. Sementara Arga Manika yang menyerang sambil melayang, terlempar kembali ke belakang hingga lima meter.
Bersamaan dengan suara ledakan itu, iblis iblis api yang tadinya menyerang Ki Penahun, ikut meledak. Melihat hal itu, Ki Penahun mencoba melindungi diri dengan membuat tameng energi dengan cara menyilangkan kedua tangannya di depan wajahnya.
Arga Manika kembali melompat ke arah Ki Dipa menggala yang berteriak akan memberikan senjata pusaka yang dia cari.
Berdiri di depan Ki Dipa Menggala yang masih terduduk, Arga Manika berkata mengancam, "berikan kepadaku sekarang juga atau kalian bertiga kubunuh satu persatu !!!
Ki Dipa Menggala memandang ke arah Ki Penahun dan Ki Wangsa Menggala sesaat, kemudian dengan tertatih tatih masuk ke dalam rumah. Ki Dipa Menggala menuju ke salah satu pilar tengah rumahnya dan mengkoyak salah satu bagian pilar itu. Kemudian Ki Dipa Menggala mengeluarkan sesuatu dari bagian pilar yang terkoyak itu.
Sebuah trisula bergagang pendek, hanya sekitar lima puluh centimeter.
Dengan langkah yang berat, Ki Dipa Menggala keluar ruangan itu dengan membawa trisula bergagang pendek .
Begitu sampai di depan Arga Manika, Ki Dipa Menggala menyerahkan senjata pusaka 'Trisula Nagari' yang selama ini diamanatkan kepadanya untuk dijaga. Kelak suatu saat, jika yang berhak memiliki datang, Ki Dipa Menggala harus menyerahkan senjata pusaka itu.
Ki Dipa Menggala sebenarnya mengetahui jikalau Arga Manika bukanlah orang yang berhak memiliki senjata trisula tersebut berdasarkan dari aura yang keluar dari tubuh Arga Manika, yang Ki Dipa Menggala rasakan.
__ADS_1
Tetapi apa boleh buat, demi menyelamatkan nyawa kedua temannya, Ki Dipa Menggala terpaksa melanggar sumpah yang dia ucapkan di depan Prabu Brawijaya saat menitipkan senjata pusaka itu.
Sekarang senjata pusaka 'Trisula Nagari' sudah berada di tangan Arga Manika.
Arga Manika diam diam heran, kenapa dia tidak bisa merasakan getaran ataupun suatu aura yang keluar dari senjata trisula yang dibawanya.
Tetapi Arga Manika sudah senang karena sudah mendapatkan senjata pusaka itu, dan sudah berhasil menjalankan apa yang menjadi pesan gurunya untuk membawa pulang senjata pusaka 'Trisula Nagari.
"Ha ha ha ha ....." Arga Manika tertawa senang dan berteriak sambil mengacungkan senjata trisulanya. "Guru, aku berhasil mendapatkannya !"
Galuh Pramusita yang sudah semakin pulih kondisinya, mendekati Arga Manika.
"Kakang, kau sudah mendapatkan senjata pusaka yang kau maksudkan. Apa rencana kakang selanjutnya ?" tanya Galuh Pramusita.
"Kita pulang ke tempat guru. Kita serahkan senjata pusaka ini pada guru," jawab Arga Manika sambil melihat ke arah Ki Dipa Menggala, Ki Penahun dan Ki Wangsa Menggala.
Tiba tiba Arga Manika melesat ke arah Ki Dipa Menggala dan Ki Penahun serta Ki Wangsa Menggala berada.
Tubuh Arga Manika dengan cepat berubah menjadi api seluruhnya. Kemudian tubuh Arga Manika melayang setinggi dua meter di depan Ki Dipa Menggala bertiga.
Dengan kedua tangan diangkat ke samping, Arga Manika tertawa dan berkata dengan suara yang berubah menjadi berat dan dalam.
"Ha ha ha ha ..... akan kubawa jiwa kalian, untuk menambah energiku. Ha ha ha ha ..... "
Kemudian dengan masih tertawa, Arga Manika mengarahkan kedua telapak tangannya ke bawah ke arah Ki Dipa Menggala, Ki Penahun dan Ki Wangsa Menggala.
Dari kedua telapak tangan Arga Manika keluar gumpalan gumpalan api yang membentuk wujud makhluk makhluk yang mengerikan.
__ADS_1
Semua makhluk itu adalah iblis iblis neraka yang sudah dikendalikan Arga Manika. Berwujud manusia, tetapi ada yang bertaring panjang, ada yang tumbuh tanduk di kepala, ada yang kuku kuku jarinya panjang panjang dan hitam dan berbagai wujud yang mengerikan.
Dengan sekali hentakan kedua tangan ke bawah, iblis iblis neraka itu melesat ke arah Ki Dipa Menggala, Ki Penahun dan Ki Wangsa Menggala.
"Serap sari jiwa mereka semua !" teriak Arga Manika.
Iblis iblis neraka itu mulai mendekat dan hendak mengeroyok Ki Dipa Menggala dan Ki Penahun serta Ki Wangsa Menggala.
Sebentar saja Ki Dipa Menggala, Ki Penahun dan Ki Wangsa Menggala telah disibukkan oleh iblis iblis neraka yang mengeroyoknya. Iblis iblis ini ternyata lebih kuat dari yang sebelumnya.
Karena kondisi tubuh yang masih lemah dan luka luka yang belum sembuh sepenuhnya, mereka bertiga sebentar saja sudah kesulitan bergerak. Tangan, kaki, kepala dan bagian tubuh mereka yang lain sudah tertangkap oleh iblis iblis itu.
Saat ketiga orang tua itu hampir kehilangan kesadaran, tiba tiba terdengar suara pelan tapi membahana dan yang terasa sangat menenangkan.
"Perbuatan yang sangat biadab," kata orang yang baru datang itu yang ternyata Lintang Rahina, yang tiba di tempat Ki Dipa Menggala saat eyangnya dan kedua teman eyangnya dalam bahaya.
Belum selesai berucap, Lintang Rahina sudah mengangkat kedua tangannya. Kemudian dari kedua telapak tangannya keluar energi berbentuk butiran butiran sangat kecil berwarna kuning keemasan.
Butiran energi kuning keemasan itu menuju ke arah Ki Dipa Menggala, Ki Penahun dan Ki Wangsa Menggala. Seketika tubuh mereka bertiga terselimuti butiran energi kuning keemasan itu. Bahkan iblis iblis neraka yang mengeroyok mereka bertiga juga diselimuti butiran energi kuning keemasan itu. Tetapi terjadi dua hal yang berbeda.
Butiran energi yang menyelimuti tubuh Ki Dipa Menggala, Ki Penahun dan Ki Wangsa Menggala, sebagian meresap ke tubuh mereka dan menyembuhkan setiap sel tubuh mereka yang sakit dan terluka.
Sedangkan butiran energi yang menyelimuti iblis iblis api neraka, sebagian meresap ke tubuh api iblis itu. Perlahan lahan tubuh api iblis itu semakin mengecil dan akhirnya lenyap tak berbekas.
Setelah semuanya selesai, Lintang Rahina menarik kembali butiran energi kuning keemasan itu. Semua itu terjadi hanya dalam beberapa saat.
___0___
__ADS_1