
"Bagaimana rasanya gadis muda ?" Kata Parastri yang melihat lawannya terluka dan terjatuh.
Puruhita menggelengkan kepalanya dan tersenyum sedikit.
"Tunggu dulu sebentar," jawab Puruhita sambil memaksakan diri berdiri setelah menghentikan keluarnya darah dengan totokan di beberapa titik.
"Ha ha ha ha .... menunggu kau mat.... achh..... !!!" Parastri tidak bisa melanjutkan bicaranya saat dia tiba tiba jatuh terduduk. Pinggang kiri, dada dan bahu kirinya mengeluarkan darah segar dari lubang luka yang hanya sebesar jari kelingking.
Pandang mata Parastri masih menunjukkan kebingungan saat melihat luka lukanya. Dia belum bisa memahami, kapan dan bagaimana lawannya bisa menyarangkan tiga tusukan yang dia tidak lihat.
Sementara itu, Sindunata yang melawan Resi Kapigotra, masih memikirkan bagaimana cara menghadapi hawa beracun itu supaya tidak membahayakan dia maupun orang lain. Saat melihat Puruhita jatuh terduduk, tanpa meperdulikan keselamatannya, Sindunata melesat ke arah Puruhita.
"Yayi Puruhita ... !" kata Sindunata setengah berteriak.
Sambil berdiri, Puruhita tersenyum dan menjawab, "aku tida apa apa kakang. Jangan cemas hanya satu luka luar."
Resi Kapigotra yang ditinggal lawannya, mengira lawannya takut dan hendak melarikan diri. Resi Kapigotra mengejar Sindunata sambil bersiap melayangkan serangan energi dari ujung bawah tongkat bajanya.
Saat hendak melayangkan seragan energi, tiba tiba ada sesuatu yang melesat mengarah ke tangan kanannya yang memegang tongkat.
Plasss !!!
Dengan cepat, Resi Kapigotra memutar tongkatnya untuk menangkis datangnya sesuatu yang mengarah ke tangannya.
Takkk !!!
Melihat yang mengarah kepadanya hanyalah sebuah daun, Resi Kapigotra naik pitam dan berteriak.
"Kurang ajar !!! teriak Resi Kapigotra, "Siapa yang hendak membokongku ?!"
Tiba tiba terdengar suara yang cukup pelan, tetapi terasa jelas suaranya seperti di dekat telinganya, "Kakek di sini saja, tidak usah ikut urusan mereka," kata Lintang Rahina yang tiba tiba sudah berada di tempat pertarungan.
"Siapa kau anak muda ?" bentak Resi Kapigotra, "kenapa kau ikut campur urusanku ?"
"Aku tidak ikut campur urusan kalian," jawab Lintang Rahina.
__ADS_1
Resi Kapigotra hendak melewati Lintang Rahina, tetapi dihalang halangi oleh Lintang Rahina.
"Sudah kukatakan, kakek di sini saja," kata Lintang Rahina lagi, "mereka sudah dua berhadapan dengan dua, biar mereka menyelesaikan urusannya."
"Bocah kurang ajar !" teriak Resi Kapigotra sambil menyerang Lintang Rahina menggunakan ketiga golok yang terhubung dengan ujung tongkatnya.
Lintang Rahina yang sejak awal sudah mengetahui duduk perkaranya, tidak segan segan lagi.
Serangan golok Resi Kapigotra dihadapi dengan jurus pedang yang diajarkan oleh Ki Ageng Arisboyo.
Walau bukan pedang pusaka, namun Lintang Rahina tetap memilih bahan yang bagus untuk membuat pedangnya.
Terdengar suara dentingan berkali kali saat Lintang Rahina menangkis datangnya serangan golok.
Resi Kapigotra kembali dibuat terkejut. Kali ini karena ada lawannya yang usianya masih muda mampu membuat ketiga goloknya terpental dan tergetar.
Karena berkali kali goloknya terpental dan tidak mampu menembus pertahanan lawan, Resi Kapigotra menambah aliran energinya.
Ketiga warna goloknya menjadi semakin mengkilap. Dari setiap bilah goloknya keluar asap yang berbau menyengat.
"Racun," kata Lintang Rahina dalam hati.
Bersamaan dengan Resi Kapigotra menyerang dengan ketiga bilah goloknya, dari ujung pedang Lintang Rahina melesat energi berbentuk ujung pedang berwarna kuning keemasan.
Jurus ini sama persis dengan jurus yang biasa Sekar Ayu Ningrum gunakan. Kalau Lintang Rahina, energinya menjadi wujud ujung pedang berwarna kuning keemasan transparan. Kemudian bilah pedangnya masih tetap terlihat dan terbungkus pendaran sinar kuning keemasan. Sedangkan Sekar Ayu Ningrum energinya menjadi wujud ujung pedang berwarna putih pekat dan berpendar dan bilah pedangnya tidak terlihat terbungkus pendaran sinar putih pekat, yang orang lain yang melihatnya, pedang Sekar Ayu Ningrum seperti berkabut.
Serangan energi Lintang Rahina, sebagian mengarah ke bilah bilah golok Resi Kapigotra, sebagian lagi mengarah ke tubuh Resi Kapigotra.
Tanggg ! Tanggg ! Tanggg !
Bilah bilah golok Resi Kapigotra terpental setiap terkena serangan energi dari Lintang Rahina.
Merasa setiap serangannya tidak berdampak pada lawannya, Resi Kapigotra menjadi agak resah. Matanya beberapa kali melihat ke arah Parastra dan Parastri yang keadaannya tidak lebih baik dari pada dirinya.
Sementara itu, Parastri dan Puruhita sama sama sedang mengobati lukanya. Sedangkan Sindunata dan Parastra sama sama mendampingi di sampingnya untuk berjaga bila ada yang menyerangnya.
__ADS_1
Puruhita yang hanya mendapatkan satu luka luar dengan cepat sudah bisa bersiap lagi setelah membebat lukanya dengan tali kain.
Sementara Parastri yang tidak menduga akan terluka oleh lawannya, dibantu oleh Parastra, berusaha menghentikan darah yang mengalir keluar dari lukanya dengan melakukan beberaapa totokan di titik titik tertentu. Setelah beberapa saat, Parastri bisa berdiri lagi dan bersiap untuk bertarung lagi walaupun pernafasannya masih sedikit terganggu. Keempat orang itu kembali berhadapan dan bersiap untuk menyerang.
Di saat yang bersamaan, Resi Kapigotra menambah aliran energi ke senjatanya. Tongkatnya menjadi sedikit bergetar dan ketiga bilah goloknya mengeluarkan suara bergemerincing yang lebih keras lagi.
Lintang Rahina yang berdiri di depannya segera meningkatkan aliran energi ke seluruh tubuhnya untuk melindungi pendengarannya.
Plasss !!!
Tiba tiba saja, tidak diduga, Resi Kapigotra melesat pergi setelah meninggalkan suara, "Anak muda, kita tidak ada urusan yang harus diselesaikan. Kita bertemu lagi lain waktu."
Parastra dan Parastri yang sudah bersiap untuk bertarung lagi, mengumpat dalam hati melihat Resi Kapigotra pergi begitu saja.
"Huhhh !!! Dasar kakek tua ! Selalu berbuat sesuka hatinya !" Umpat Parastri dalam hati.
Akhirnya, terpaksa Parastra dan Parastri segera ikut pergi tanpa berkata kata sedikitpun.
Melihat ketiga lawannya melarikan diri, Sindunata dan Puruhita baru saja akan ikut melesat mengejar lawan mereka.
Tetapi begitu mereka berdua melihat Lintang Rahina berdiri tidak jauh dari mereka berdua, mereka urungkan gerakan mereka.
Lintang Rahina segera menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Maaf, kakang dan mbakyu, saya turut campur urusan kalian," kata Lintang Rahina begitu Sindunata dan Puruhita mendekat.
"Owhhh ... tidak apa apa adi, kami berdua yang seharusnya berterimakasih telah kamu selamatkan," kata Sindunata sambil membalas hormat dengan melakukan hal yang sama.
"Kalau boleh bertanya, siapakah mereka itu kakang ?" tanya Lintang Rahina.
"Dia yang berjuluk Golok Tiga Racun beserta dua temannya. Mereka berasal dari Padepokan Macan Putih.
Kemudian Sindunata menceritakan dengan singkat tentang mereka dan tentang Padepokan Macan Putih. Kemudian mereka bertiga pun berkenalan dengan saling menyebutkan nama.
Karena sejak awal sudah sedikit tahu gambarannya, ditambah cerita dari Sindunata, Lintang Rahina pun mendukungnya, saat Sindunata dan Puruhita mengatakan akan pergi ke Padepokan Macan Putih.
__ADS_1
Akhirnya, Lintang Rahina beserta Sindunata dan Puruhita, melesat pergi menuju ke Padepokan Macan Putih.
___◇___