Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Racun Penghisap Energi


__ADS_3

Setelah menghindari serangan Nyi Lanjar Wangi, Ki Penahun langsung menangkis datangnya pukulan Ki Aswa Komara.


Deeesss !!!


Terdengar suara benturan dua pukulan yang membuat Ki Penahun dan Ki Aswa Komara sama sama terdorong mundur dua langkah dan sama sama terkejut dengan kekuatan lawannya.


"Pantas saja Nyi Lanjar Wangi tidak mampu mengalahkannya. Laki laki tua ini sangat tinggi tingkat energinya," kata Ki Aswa Komara dalam hati.


Kemudian, mereka berdua segera saja menguatkan kuda kudanya. Sesaat kemudian, kembali terjadi berkali kali benturan pukulan yang mengandung energi tingkat tinggi.


Hal ini karena Ki Penahun dan Ki Aswa Komara sama sama seorang pendekar yang mengandalkan ilmu tangan kosong.


Sementara itu, Ki Pradah yang tadinya sedikit demi sedikit mulai bisa mendesak lawannya, agak terkejut dengan datang dan bergabungnya Nyi Lanjar Wangi ke dalam pertarungannya melawan Ki Rowangbala.


Walau masih tetap unggul dalam ilmu meringankan tubuh, namun menghadapi lawan sekelas Ki Rowangbala dan Nyi Lanjar Wangi sekaligus, tetaplah berat bagi Ki Pradah. Karena harus terus menerus bergerak sedangkan kedua lawannya sangat cerdik dengan tidak memberikan keleluasaan pada Ki Pradah untuk sekedar menarik nafas.


Waktu terus berjalan. Tanpa terasa kedua pertarungan itu sudah berjalan sekitar seratusan jurus. Walaupun terdesak karena menghadapi dua lawan sekaligus, Ki Pradah masih tetap bisa bertahan karena keunggulan ilmu meringankan tubuhnya. Sementara itu, di pertarungan Ki Penahun melawan Ki Aswa Komara, terlihat masih sulit untuk dikatakan unggul siapa.


Dua pertarungan orang orang yang mempunyai energi yang tinggi, dengan pengerahan energi tingkat tinggi, yang telah berlangsung lebih dari seratus jurus, mengakibatkan rumput hijau di padang tumput itu berubah warna menjadi kecoklatan dan di tempat tempat tertentu menjadi berwarna kehitaman.


Begitu melihat rerumputan di sekitar tempat pertarungan sudah berubah warna, Ki Aswa Komara mengeluarkan suitan keras dan segera meningkatkan energinya lalu kembali menggempur Ki Penahun. Kembali lagi terjadi benturan pukulan yang mengandung energi tinggi.


Blaaammm !!!


Dalam benturan pukulan berenergi tinggi itu, Ki Penahun terdorong ke belakang dua langkah. Sedangkan tubuh Ki Aswa Komara melayang ke belakang karena disambung dengan gerakan mundur menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.

__ADS_1


Saat tubuhnya melayang, Ki Aswa Komara berteriak, "Sekarang ! Ki Rowangbala !"


Sementara itu, saat mendengar suara suitan, Ki Rowangbala dan Nyi Lanjar Wangi segera melakukan serangan dengan bersamaan.


Mendapati serangan itu, Ki Pradah tidak gentar. Dengan bergantian dalam jarak waktu yang sangat pendek, Ki Pradah menangkis datangnya dua pukulan yang datang hampir bersamaan.


Deeesss ! Deeesss !


Dalam benturan pukulan itu, Ki Pradah terdorong hingga tiga langkah, sedangkan kedua lawannya melenting ke belakang hingga agak jauh.


Bertepatan dengan saat mendarat di tanah, Ki Rowangbala mendengar teriakan Ki Aswa Komara. Segera saja Ki Rowangbala mengeluarkan kedua kain hitamnya, kemudian mengalirinya dengan energi dan segera melemparkan kedua kain hitamnya ke arah rumput yang berubah warna menjadi menghitam.


Psssttt ! Psssttt !


Begitu kain hitam yang dialiri energi itu menyentuh rerumputan yang menghitam, seketika seluruh rerumputan yang berubah warna menjadi kecoklatan dan kehitaman di padang rumput itu, mengeluarkan asap hitam yang dengan sangat cepat memenuhi udara di sekitar tempat pertarungan.


Dalam keheningan itu, di padang rumput tempat dua pertarungan berlangsung, yang rumputnya telah menghitam semuanya, terlihat Ki Penahun dan Ki Pradah yang berdiri namun terlihat sangat lemas. Mereka berdua telah terkena racun penghisap energi.


Oleh Ki Ujang Galih, racun itu sengaja disebar di padang rumput memang untuk menjebak dan mengalahkan Ki Penahun dan Ki Pradah.


Racun itu tidak terasa dan tidak bisa dirasakan oleh siapapun. Karena racun itu baru akan bekerja setelah rerumputan yang terkena racun berubah warna menjadi coklat atau hitam. Begitu dipancing dengan racun yang terkandung dalam kain hitam Ki Rowangbala, racun itu langsung bekerja dengan cepat, dengan mengeluarkan asap hitam yang memenuhi udara.


Hebatnya lagi, racun dari Ki Ujang Galih itu tidak harus terhirup oleh lawan. Menempel sedikit saja di kulit lawan, racun itu langsung bekerja menghisap energi milik siapapun yang terkena.


Itulah yang terjadi pada Ki Penahun dan Ki Pradah. Saat rerumputan mengeluarkan asap, mereka berdua segera menutup jalan pernafasan mereka. Tetapi tanpa mereka duga, ada racun yang berhasil menempel di kulit mereka dan racun itulah yang bekerja menghisap energi mereka, lebih tepatnya memusnahkan energi mereka, walau tidak secara permanen.

__ADS_1


Karena mereka melawan racun itu dengan mengalirkan energi ke seluruh tubuh mereka, sehingga akhirnya energi mereka terserap dan menjadikan mereka berdua lemas dan tidak bertenaga.


Sementara itu, saat terjadi kepulan asap dari rerumputan di padang rumput, Ki Rowangbala, Ki Aswa Komara dan Nyi Lanjar Wangi, segera melesat ke arah padang rumput yang tidak berubah warna menjadi kecoklatan dan kehitaman, menunggu asap hitam itu habis. Selain itu, oleh Ki Ujang Galih, mereka bertiga sebenarnya juga diberi obat yang membuat mereka tidak terpengaruh racun penghisap energi.


Setelah racun asap hitam yang keluar dari rerumputan yang berubah warna menjadi kecoklatan dan kehitaman itu habis, segera saja Ki Aswa Komara berkata, "Ringkus mereka ! Kita bawa mereka menghadap Putri Dyah Pawatu ! Awas jangan sampai mereka terluka !"


Segera saja Ki Rowangbala dan Nyi Lanjar Wangi menotok Ki Penahun dan Ki Pradah dan melesat pergi meninggalkan padang rumput dan kemudian disusul oleh Ki Aswa Komara.


----- o -----


Baru saja melangkah hendak meninggalkan kolam air hangat yang selalu mengeluarkan uap, Ki Jagad Dahana dan Ki Jagad Anila dihadang oleh dua orang.


Satu orang bertubuh seperti anak kecil dan yang satunya orang tua bertubuh kecil yang rambutnya sudah memutih semua.


Mereka berdua adalah Ki Ujang Galih, yang menjebak Ki Jagad Dahana dan Ki Jagad Anila agar mendekat dan masuk ke dalam area kolam air hangat. Dan yang satunya adalah Ki Buyut Jalu Wisesa yang sudah kembali dari lereng Merapi.


Melihat ada dua orang yang menghadang jalannya, Ki Jagad Anila berkata, "Ternyata kamu ! Kamu sudah kembali ke daerah asalmu ! Tetapi, kenapa kamu menghadang perjalanan kami ?"


"He he he he ... Kalian masih ingat padaku. Kami menghadangmu, karena kami ingin menangkap kalian berdua !" jawab Ki Buyut Jalu Wisesa.


"Ternyata benar dugaanku. Kalian berniat buruk pada kami dan menjebak kami !" sahut Ki Jagad Dahana.


"Karena kalian berdua sudah tahu, kami harus menangkap kalian untuk membungkam mulut kalian !" jawab Ki Ujang Galih.


"Akan aku ladeni apapun yang akan kalian !" kata Ki Jagad Anila.

__ADS_1


Tanpa berkata kata lagi, Ki Ujang Galih dan Ki Buyut Jalu Wisesa segera melesat dan menyerang.


__________ 0 __________


__ADS_2