Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Musnahnya Nigul Dedan


__ADS_3

Sementara dalam ledakan itu, pertarungan Lintang Rahina melawan Nigul Dedan seperti tidak terpengaruh. Hal ini karena mereka bertarung di dalam kurungan dari jaring benang api merah. Sehingga tidak seperti yang lainnya, Lintang Rahina dan Nigul Dedan bersama sama di dalam kurungan benang api merah, lenyap seperti terhisap sesuatu.


Pada saat itu, pertarungan mereka, Nigul Dedan berhasil mengikat kedua tangan Lintang Rahina, masing masing tangan dengan dua benang api merah.


Itulah tehnik ilmu yang menjadi andalan Nigul Dedan hingga yang menjadikan Nigul Dedan tersohor sebagai pemimpin spiritual yang ahli dalam menghancurkan jiwa dan mendapatkan julukan Dewa Penghancur Jiwa.


Karena, dalam setiap pertarungannya, lawannya akan hancur terbakar, tidak hanya tubuhnya, namun jiwanya pun ikut hancur.


Maka walaupun mengalami sedikit luka dalam saat berkali kali menerima hantaman telapak tangan Lintang Rahina, Nigul Dedan tersenyum penuh kemenangan saat berhasil menjerat kedua tangan Lintang Rahina.


"He he he heee .... anak muda ! Ucapkanlah kata kata perpisahanmu pada keluarga dan temanmu ! Karena tubuh dan jiwamu akan aku kirim ke alam kehampaan !" kata Nigul Dedan sambil tertawa.


Melihat Lintang Rahina terdiam saja, Nigul Dedan merasa, lawannya sudah tidak berdaya, sehingga kemudian Nigul Dedan menarik kedua lengannya ke samping sambil berteriak.


"Api Penghancur Jiwa !" teriak Nigul Dedan.


Tiba tiba api merah keluar dari kedua tangan Nigul Dedan dan langsung menjalar menyusuri benang api merah menuju ke arah Lintang Rahina.


Namun, kegembiraan Nigul Dedan hanya sesaat, karena tiba tiba kedua telapak tangannya merasa sangat panas hingga tembus ke tulang. Rasa panas yang dengan cepat merambat ke seluruh tubuhnya.


Tanpa mengetahui apa yang terjadi pada dirinya, tubuh Nigul Dedan langsung menguap dan lenyap terbakar api putih yang sebelumnya melahap api merah miliknya.


Sebenarnya, saat diam saja ketika kedua tangannya diikat oleh Nigul Dedan dengan benang api merah, tubuh Lintang Rahina melakukan perlawanan.


Benang api merah yang panas, pada saat mengenai kulit tangannya, secara reflek membuat Lintang Rahina mengaktifkan tehnik 'Bramaseta', sehingga tubuhnya mengeluarkan api putih dan memudian digabungkan dengan tehnik 'Puspa Nagari' yang mengeluarkan butiran sinar kuning keemasan.


Api putih yang menyelimuti seluruh tubuh Lintang Rahina bergabung dengan butiran sinar kuning keemasan yang langsung menyebar dan memenuhi kurungan benang api merah yang dibuat oleh Nigul Dedan. Selain itu, butiran sinar kuning keemasan itu juga merambat ke benang api merah yang dikendalikan kedua tangan Nigul Dedan.


Karena sifat api putih yang panasnya berkali lipat membuat benang api merah pun ikut terbakar.


Begitu api putih yang dibawa oleh butiran sinar kuning keemasan mencapai tubuh Nigul Dedan, membuat tubuh Nigul Dedan terbakar dengan cepat tanpa menimbulkan apu ataupun sisa sisa pembakaran lainnya.

__ADS_1


Setelah tubuh Nigul Dedan lenyap terbakar, kurungan benang api merah pun juga ikut lenyap. Namun, begitu terlepas dari kurungan benang api merah, Lintang Rahina merasakan tubuhnya seperti tidak kembali ke tempat awal dia bertarung, yaitu ruang singgasana kerajaan gaib.


Semua sudut dan penjuru, hanya terlihat berwarna putih.


Lintang Rahina baru saja hendak menambah energinya lagi, saat tiba tiba terdengar suara Ki Sardulo seperti mengiang di kepalanya.


"Den Lintang, ini tetap di tempat yang sama, hanya saja, kita masuk ke alam yang lain" kata Ki Sardulo.


"Kalau begitu, kita berada di alam apa Ki Sardulo ?" tanya Lintang Rahina dalam hati.


"Kita berada di perbatasan alam dunia dengan alam siluman, den. Namanya alam kehampaan," jawab Ki Sardulo.


"Aku mengkhawatirkan keadaan adik Sekar, Ki Sardulo," kata Lintang Rahina.


"Den Lintang coba keluarkan energi yang cukup besar. Kita coba rasakan keberadaan den Sekar dengan merasakan getaran energinya. Kalau sudah bisa kita rasakan, kita susul. Caranya sama dengan saat den Lintang masuk ke alam siluman," Ki Sardulo menjelaskan.


Kemudian, tanpa menunggu lagi, Lintang Rahina mengeluarkan energinya dan mencoba merasakan getaran energi siapapun, terutama getaran energi Sekar Ayu Ningrum.


Dari beberapa getaran energi itu, Lintang Rahina bisa merasakan getaran energi milik Sekar Ayu Ningrum. Namun anehnya, getaran energi Sekar Ayu Ningrum dirasakannya berada di dua tempat sekaligus yang berbeda dan berjarak cukup jauh.


Lintang segera mengatakan hal itu pada Ki Sardulo melalui pikirannya.


"Saya coba mencari informasi dari Nyi Wilis, den," jawab Ki Sardulo.


Lintang Rahina segera menambah aliran energinya lagi untuk memberikan energi pada Ki Sardulo, agar Ki Sardulo bisa merasakan getaran energi dari tempat yang jauh.


Setelah beberapa kali mencoba menghubungi Nyi Wilis, Ki Sardulo mulai bisa merasakan keberadaan Nyi Wilis dan kemudian menanyakan keberadaan dirinya dan Sekar Ayu Ningrum.


Tetapi jawaban Nyi Wilis membuat Ki Sardulo bingung. Nyi Wilis mengatakan tidak tahu kalau Sekar Ayu Ningrum berada di dua tempat. Tetapi yang Nyi Wilis tahu, Sekar Ayu Ningrum masih bertarung melawan seorang pemimpin Spiritual bernama Gulizar. Nyi Wilis mengatakan itu, karena saat ini dirinya berada di dalam tubuh Sekar Ayu Ningrum yang sedang bertarung melawan Gulizar.


Sementara itu, pada waktu yang bersamaan. Sekar Ayu Ningrum dan Gulizar yang saat sedang bertarung, tubuhnya secara bersamaan lenyap seperti terhisap sesuatu, di tempat munculnya, mereka berdua bertemu kembali. Tubuh mereka berdua muncul kembali di suatu padang rumput yang sangat luas, namun hawanya sangat dingin.

__ADS_1


Karena di depan mereka hanya ada lawan bertarungnya tadi, di pikiran mereka, hanya melanjutkan pertarungan, sehingga mereka tidak memikirkan keanehan tempat tubuh mereka muncul lagi.


Di tempat yang luas itu, Gulizar lebih leluasa memainkan jurus cambuknya.


Sekar Ayu Ningrum merasakan, cambuk kulit tanpa gagang yang dipegang Gulizar bisa bertambah panjang dan ujungnya seperti mempunyai mata, sehingga bisa tiba tiba menyerang Sekar Ayu Ningrum dari belakang.


Walaupun Sekar Ayu Ningrum sudah menambah kecepatannya, kedua ujung cambuk Gulizar bisa mengimbanginya. Sehingga pertarungan jarak jauh ini sangat menguntungkan Gulizar.


Sekar Ayu Ningrum kembali berusaha untuk mengajak Gulizar bertarung jarak pendek.


Saat ujung cambuk Gulizar meluncur ke arah kepalanya, Sekar Ayu Ningrum mencoba menepisnya dengan menggerakkan kedua pedangnya ke arah kanan dan kiri.


Trak Trak !!!


Kedua ujung cambuk itu tersibak menjauh dari tubuh Sekar Ayu Ningrum. Memanfaatkan peluang itu, Sekar Ayu Ningrum segera menambah aliran energinya ke seluruh tubuhnya dan merangsek ke arah Gulizar.


Kedua bilah pedangnya bahkan sampai mengeluarkan suara cuitan, karena begitu cepatnya meluncur ke arah tubuh Gulizar.


Dengan memanfaatkan keunggulan dalam kecepatan, dalam sesaat, Sekar Ayu Ningrum sudah berada dekat dengan posisi Gulizar.


Kemudian, dengan sedikit melayangkan tubuhnya, kedua pedang pendek Sekar Ayu Ningrum mengarah ke dada Gulizar dan sepertinya tanpa bisa dihindari lagi.


Jleeeppp ! Jleeeppp !


Claaappp ! Claaappp !


Tubuh Gulizar terdorong ke belakang saat kedua pedang pendek Sekar Ayu Ningrum menghujam ke dadanya.


Namun, dalam posisi melayang, tiba tiba Sekar Ayu Ningrum memuntahkan darah segar, saat kedua ujung cambuk Gulizar menembus dari punggung hingga tembus ke dada.


__________0__________

__ADS_1


__ADS_2