Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Pertarungan Di Pasar


__ADS_3

Panembahan Senopati mulai melakukan hal hal untuk memperkuat Mataram juga hal hal yang bisa melemahkan Pajang.


Ditambah dengan Pangeran Benowo yang meminta bantuannya untuk merebut kekuasaan dari tangan Arya Pangiri.


Pada masa masa perang ini, membuat daerah daerah yang jauh dari pengawasan pemerintah merajaan menjadi daerah yang rawan akan terjadinya kejahatan.


Maka dari itu, selama perjalanan menuju ke tlatah wetan, Lintang Rahina sering sekali menjumpai tindak kejahatan yang dilakukan oleh pendekar atau ahli silat yang menggunakan kepandaian bela dirinya untuk memaksakan kehendaknya. Hal itulah yang membuat perjalanan Lintang Rahina menjadi agak lama. Lintang Rahina berusaha memberantas setiap kejahatan yang ditemuinya karena Lintang Rahina tidak tega dengan keadaan masyarakat yang tertindas.


Dalam pertarungannya melawan para pendekar yang melakukan kejahatan, Lintang Rahina tidak pernah lagi menggunakan senjata trisulanya.


Dalam perjalanannya, Lintang Rahina sempat memesan pedang yang hanya satu sisi yang bermata tajam pada seorang pandai besi. Walaupun bukan pedang pusaka, tetapi terbuat dari bahan pilihan sehingga cukup bagus dan mampu dialiri energi dari Lintang Rahina.


Pada suatu pagi, Lintang Rahina sampai di suatu pasar, di sebuah kota di tepi sungai Brantas.


Pasar itu terlihat padat bangunannya. Tetapi hanya sedikit pedagang yang menjajakan dagangannya. Hanya ada beberapa pedagang dan beberapa warung makan yang buka.


Kemudian Lintang Rahina masuk ke sebuah warung makan yang paling pinggir. Warung makan yang tidak terlalu besar dan belum terlalu banyak pengunjungnya, tetapi terlihat rapi dan bersih.


Seorang laki laki paruh baya, pemilik warung makan itu segera menghampirinya, kemudian mempersilahkan memilih tempat duduk dan menanyakan hendak memesan apa saja.


Lintang Rahina memilih tempat duduk yang menghadap ke jalan, kemudian mengatakan makanan yang hendak dipesannya. Sang pemilik warung makan segera mengiyakan dan segera menuju dapur untuk menyiapkan semua pesanan Lintang Rahina.


Dari tempat duduknya, Lintang Rahina bisa melihat suasana luar. Di depan warung makan, di seberang jalan, berjajar beberapa warung yang menjajakan beberapa keperluan dapur. Ada yang menyediakan aneka macam bumbu masak dan rempah rempah, ada yang menyediakan daging, ada juga yang menggelar dagangan sayurnya di tepi jalan.


Terdengar juga suara orang sedang memotong daging dan tulang.


Tidak berapa lama, semua makanan pesanan Lintang Rahina sudah disajikan di atas mejanya. Segera saja Lintang Rahina menyantap makanan yang dia pesan.


Saat sedang menikmati hidangan yang dia makan, tiba tiba ada keramaian di deretan warung seberang.


Terlihat empat orang berpakaian pendekar berwarna putih. Di pinggang keempat orang itu terselip golok. Di baju bagian dada kirinya ada gambar kepala harimau.


Keempat pendekar itu mengikuti seorang laki laki yang sudah cukup tua. Laki laki tua itu berjalan sambil menunduk.


"Mantri pasar, tunjukkan, siapa pedagang yang menolak untuk membayar upeti !" bentak salah seorang pendekar di belakangnya.

__ADS_1


Sambil sinar matanya memperlihatkan rasa takut dan gelisah, laki laki tua yang ternyata menjabat sebagai mantri pasar itu menunjuk ke warung yang menjual daging.


"I ...itu ..." jawab sang mantri pasar.


"Yang menjual daging itu ?" tanya pendekar tadi.


"I ...iya ..." jawab mantri pasar dengan badan gemetar.


Kemudian dua orang pendekar yang berdiri di samping pendekar yang berbicara tadi, melangkah ke arah warung yang menjual daging, sambil menghunus goloknya. Mereka berdua berniat membabat bangku panjang yang berada di depan warung.


Tetapi, belum juga mereka mengayunkan goloknya, tiba tiba dihadapannya telah berdiri seorang laki laki yang hanya bercelana kolor dan bertelanjang dada. Laki laki bertelanjang dada itu berdiri dengan kaki agak terbuka dan kedua tangan di belakang pinggang.


"Kamukah pemilik warung yang tidak mau membayar upeti ?" tanya salah seorang pendekar yang tadi melangkah maju ke arah warung daging.


"Iya. Benar," jawab laki laki pemilik warung daging.


"Apa alasanmu tidak mau membayar upeti ?" tanya pendekar tadi.


"Kewajibanku hanya membayar pajak pada pemerintah kerajaan, dan itu sudah aku serahkan pada mantri pasar itu. Tidak ada kewajiban lagi bagi para pedagang di sini untuk membayar upeti pada siapapun," jawab laki laki pemilik warung daging.


"Aku tidak menentang siapapun ! Aku hanya membela hak para pedagang !" jawab laki laki pemilik warung itu.


""Kalau kalian tidak mau membayar upeti untuk Padepokan Macan Putih, kalian harus diberi pelajaran !" teriak seorang pendekar yang sudah menghunus goloknya.


Sringgg !!!


Tiba tiba kedua tangan laki laki pemilik warung daging itu masing masing sudah memegang golok pemotong daging berbentuk kotak yang lebarnya satu jengkal tangan dan panjangnya dua jengkal tangan.


"Aku tidak peduli ! Siapapun yang mengganggu kami akan kami lawan !" jawab laki laki pemilik warung daging.


"Bedebah kurang ajar ! Kuhajar kau !" teriak pendekar dari Padepokan Macan Putih itu.


Dua orang pendekar yang sudah menghunus goloknya, segera mengayunkan goloknya untuk membabat leher pemilik warung daging.


Tang ! Tang !

__ADS_1


Terdengar dentingan keras saat dua golok pendekar itu ditangkis oleh laki laki pemilik warung daging dengan golok besarnya.


Golok milik dua pendekar itu terpental balik dengan bergetar sampai ke tangan kedua pendekar itu.


Karena sudah dipenuhi rasa marah, kedua pendekar itu tidak melihat kekuatan.


Kemudian mereka kembali menyerang laki laki pemilik warung daging. Sebentar saja sudah terjadi benturan senjata yang berulang ulang.


Tang ! Tang ! Klang !!!


Setelah terjadi benturan senjata beberapa kali, golok dari salah seorang pendekar yang menyerang itu terpental dan jatuh ke tanah dengan kondisi terpotong menjadi dua.


"Kuperingatkan sekali lagi ! Kalian pergilah, dan jangan pernah mengganggu kami lagi !" kata pemilik warung daging pelan tapi tegas.


Melihat golok seorang temannya jatuh, dua pendekar yang masih di belakang mantri pasar langsung mendekat.


"Bunuh dia !" teriak seorang pendekar yang baru tiba.


Tanpa menunggu lagi, keempat pendekar dari Padepokan Macan Putih itu mengeroyok laki laki pemilik warung daging.


Tang ! Tang ! Tang ! Tang !


Terjadi benturan senjata berkali kali saat keempat pendekar dari Padepokan Macan Putih menyerang laki laki pemilik warung berkali kali.


Tetapi laki laki pemilik warung daging itu tidak bergeming sama sekali. Kedua kalinya tidak pernah bergeser dari kuda kudanya. Hanya kedua tangannya yang bergerak mengayunkan kedua golok besarnya ke kiri dan ke kanan dengan ringannya seperti memegang ranting.


Setelah beberapa saat laki laki pemilim warung daging hanya menangkis saja, tiba tiba dia mempercepat gerakan mengayunkan goloknya.


Klang ! Klang ! Klang !


Tiga golok pendekar dari Padepokan Macan Putih beterbangan dan kemudian jatuh ke tanah dalam keadaan patah menjadi dua menyusul golok yang patah pertama kali.


"Pergilah kalian ! Dan jangan pernah lagi mengganggu kami !" bentak laki laki pemilik warung daging.


\_\_\_◇\_\_\_

__ADS_1


__ADS_2