Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Pertarungan Di Atas Permukaan Danau


__ADS_3

Sekar Ayu Ningrum merasakan energi yang sangat besar masuk ke dalam tubuhnya tanpa bisa dibendung.


Seluruh tubuhnya mulai dari ujung rambut sampai ke ujung jarinya ikut mengeluarkan pendaran sinar putih keperakan. Kedua bola matanya pun mengeluarkan kilatan putih keperakan, pun juga dengan pakaiannya.


Proses penggabungan energi itu sudah berjalan hampir sehari. Selama dalam proses itu, semua rasa dialami oleh Sekar Ayu Ningrum. Rasa panas di tubuhnya, yang sekaligus disertai dengan rasa dingin. Rasa nyeri, rasa perih, rasa hendak meledak seluruh tubuhnya.


Setelah melewati sehari mulai terlihat, pendaran sinar putih keperakan yang menyelimuti seluruh tubuh Sekar Ayu Ningrum semakin tebal dan semakin terlihat nyata.


Sedangkan pendaran sinar putih keperakan dari pohon keabadian serta tubuh Dewi Tara semakin tipis dan semakin transparan.


Kemudian secara perlahan, tubuh Sekar Ayu Ningrum mulai terangkat hingga ketinggian kepala orang dewasa.


----- * -----


Sementara itu di lain tempat, Putri Kalistra yang sedang bertarung melawan Akasma, tiba tiba merasakan tempat mereka bertarung jadi berbeda.


Mereka berdua segera menambah aliran energi mereka, yang membuat tubuh mereka berdua melayang. Tiba tiba di bawah mereka terbentang air yang luas, karena mereka terlempar ke alam dunia, di tengah tengah hamparan Danau Panjalu.


"Ppfff .... Aku ingin tahu, apa yang bisa kau perbuat, sekarang !" kata Putri Kalistra.


Dari semua yang saat itu berada di ruang singgasana kerajaan gaib hutan Panjalu, hanya Putri Kalistra yang secara sadar bisa mengetahui kalau pohon keabadian mengeluarkan ledakan energi karena melawan energi dari biksu Chanddara dan kelompoknya. Putri Kalistra juga mengetahui kalau dirinya akan terlempar ke alam dunia, sehingga dia tidak terkejut. Walaupun tidak terkejut, Putri Kalistra tetap saja sedikit terlambat bersiap, karena tidak tahu kapan akan terlemparnya. Namun Putri Kalistra merasa sedikit lega, karena dia bisa merasakan getaran energi dari para bawahannya, para prajurit dan rakyatnya, selamat dan bersembunyi tidak jauh dari danau hutan Panjalu.


Sementara Akasma mencoba menyembunyikan rasa terkejutnya. Dan diapun juga bersiap ketika melihat Putri Kalistra sudah bersiap menyerangnya.


"Akan kutangkap kau, dan akan kuserahkan kau pada pimpinan, agar kau bisa tahu rasanya dimusnahkan !" jawab Akasma.


"Cobalah kalau kau mampu !" sahut Putri Kalistra sambil melesat dan langsung menerjang Akasma.


Seketika permukaan air danau hutan Panjalu menjadi bergolak dan mengeluarkan suara yang bergemuruh, saat terjadi benturan benturan energi antara Putri Kalistra dan Akasma. Bahkan udara di sekitar permukaan air danau itu pun menjadi berhembus tak tentu arah. Kedua hal itu membuat seolah terjadi badai di tengah danau hutan Panjalu.


Sementara itu, di lain tempat, yang tidak jauh dari tertarungan di atas permukaan danau itu, tepatnya di hutan Panjalu itu sendiri, guguran daun daun dan patahan patahan ranting dan cabang pohon hutan Panjalu terjadi sangat hebat, saat angin kencang berkali kali menerjang pepehonan di dalam hutan itu.

__ADS_1


Angin kencang itu berasal ajang pertarungan yang sedang berlangsung di dalam hutan Panjalu.


Saat Putri Dyah Pawatu baru mulai pertarungan melawan Lunara, terjadi ledakan hebat yang berasal dari dalam ruangan di sebelah ruang singgasana istana kerajaan gaib. Ledakan itu juga menyebabkan tubuh Putri Dyah Pawatu dan lawannya, Lunara, terlempar keluar dari alam siluman dan muncul kembali di alam dunia tepatnya di tengah hutan Panjalu.


Karena mereka terlempar ke dunia asli mereka, mereka hanya melirik sebentar tempat mereka berpindah alam kemudian mengacuhkannya dan kembali perhatiannya terfokus pada lawannya. Sebentar kemudian mereka kembali bertarung dengan sengit, hingga memporak porandakan semua yang ada di dalam hutan Panjalu.


Pertarungan Putri Dyah Pawatu melawan Lunara sudah berlangsung lebih dari tujuh puluh jurus, bahkan sudah memasuki tahap di mana mereka sudah mengerahkan seluruh kemampuan mereka.


Hingga kemudian perlahan lahan mulai terlihat, Putri Dyah Pawatu sedikit demi sedikit bisa mengungguli lawannya.


Dengan senjata tongkat kayu yang dia dapatkan saat ditolong dan dirawat oleh Putri Kalistra, Putri Dyah Pawatu bisa mendesak lawannya.


Pada satu kesempatan, serangan tongkat kayu Putri Dya Pawatu berhasil mengenai perut Lunara.


Buuuggghhh !


Tubuh Lunara terbungkuk, terkena totokan tongkat di perutnya. Pada saat itulah, tongkat Putri Dyah Pawatu sekali lagi berhasil menotok tengkuk Lunara.


Totokan itu membuat Lunara langsung pingsan.


Dengan langkah pelan, Putri Dyah Pawatu mendekati tubuh Lunara. Setelah dipastikan lawannya memang sudah pingsan, Putri Dyah Pawatu tiba tiba membunyikan suitan.


Sssuuuiiitttt !!!


Beberapa saat kemudian, di depan Putri Dyah Pawatu, muncul tiga orang berpakaian prajurit.


"Ternyata tuan Putri masih selamat. Kami siap menerima perintah," kata salah seorang yang sepertinya pimpinan prajurit.


"Senopati Ragasuci, masukkan perempuan ini ke dalam tahanan. Kemudian, kumpulkan semua punggawa kerajaan di istana. Tunggu kedatanganku !" kata Putri Dyah Pawatu memberi perintah.


"Siap menjalankan perintah Putri !" jawab senopati Ragasuci.

__ADS_1


Kemudian dengan cepat senopati Ragasuci dan dua prajurit yang mengikutinya membawa Lunara pergi dari tempat itu.


Setelah semuanya pergi, Putri Dyah Pawatu pun segera melesat ke arah lebih tengah lagi dari hutan Panjalu, dimana terdapat sebuah danau yang bernama danau Panjalu.


-----*-----


Di tengah tengah danau, air di permukaan danau bergolak semakin hebat disertai hembusan angin kencang ke semua arah sehingga terkadang tercipta ombak yang tinggi yang kemudian terhempas lagi ke bawah dengan cepatnya.


Di antara luapan air yang membentuk ombak itu, berkelebat dua tubuh yang saling berbenturan saling menyerang dengan penuh energi yang juga menimbulkan suara suara benturan yang menambah seram suasana di tengah tengah danau.


Putri Kalistra dengan tubuh silumannya, telah mengerahkan sebagian energinya yang membuat kedua bola matanya menjadi merah membara. Wajah cantiknya dihiasi empat taring yang menambah kewibawaannya. Seluruh jari jari tangannya telah ditumbuhi kuku kuku berwarna merah yang tidak terlalu panjang. Lengkingan bernada tinggi yang selalu menyertai serangannya menimbulkan perasaan yang mencekik bagi yang mendengarnya.


Pun demikian dengan Akasma, yang sudah mengeluarkan seluruh energinya. Walaupun sudah mendapatkan gambaran, betapa daerah yang mereka datangi, dihuni oleh banyak siluman yang mempunyai energi yang sangat tinggi, namun dirinya tidak menduga betapa kekuatan sang ratu siluman, Putri Kalistra akan membuat dirinya sangat kewalahan menghadapinya. Dan sekarang, sendirian tanpa ada kawan yang membantunya, dia menghadapi salah satu siluman terkuat tlatah kulon negeri Jawadwipa.


Di sela sela air ombak yang mencuat ke atas, kilatan kilatan api dari benturan benturan pukulan mereka tidak pernah berhenti.


Putri Kalistra yang sudah sepenuhnya berwujud siluman, kembali melesat menerjang Akasma. Kedua tangannya dengan posisi jari jari terbuka, bergantian melakukan serangan cakaran ke berbagai bagian tubuh Akasma. Akasma yang energinya sudah pada titik maksimal, tubuhnya berkelebat menghindar. Kedua tangannya kadang menangkis dan kadang berusaha balas menyerang.


Pada serangan Putri Kalistra, yang sudah tidak bisa dihindari lagi oleh Akasma, satu cakaran tangan kiri Putri Kalistra berhasil mengenai leher Akasma.


Sraaattt !!!


Melihat lawannya terluka, Putri Kalistra terus merangsek dengan serangan serangannya. Hasilnya, beberapa cakaran Putri Kalistra yang mengenai tubuh Akasma, membuat Akasma semakin lemah dan kecepatannya semakin melambat.


Walaupu tidak beracun, namun luka luka yang di dapat oleh Akasma tetaplah berbahaya. Hingga suatu saat, cakaran tangan kanan Putri Kalistra berhasil menghujam ke dada Akasma yang membuat Akasma tewas.


Tubuh tanpa nyawa Akasma, terjatuh ke permukaan air danau yang masih bergolak.


Namun, sesaat kemudian setelah pertarungan berhenti, keadaan permukaan air danau Hutan Panjalu kembali tenang. Terlihat jasad Akasma mengambang.


__________0__________

__ADS_1


__ADS_2