Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Pertarungan Para Tokoh Sakti II


__ADS_3

Melihat kemunculan dua orang kembar itu, Ki Wangsa Menggala segera meloncat mendekat ke arah Ki Dipa Menggala.


"Dayu Diyu, ternyata tangan kalian masih gatal juga hingga turun gunung sampai ke sini," kata Ki Wangsa Menggala.


"Ha ha ha ha ha .... Ki Wangsa dan Ki Dipa, kenapa kalian mengadakan acara tidak mengundang kami ?" kata Dayu dengan senyum mengejek tanpa memperdulikan pertanyaan Ki Wangsa Menggala.


"Maafkan kami Dayu Diyu. Karena buru buru, undangan tidak sampai ke tlatah kulon," jawab Ki Dipa Menggala.


"Tidak masalah. Kami dengan senang hati akan tetap ikut bermain di sini," ucap Diyu sambil memegang gagang golok yang berada di pinggangnya.


Sebelum menghilang dari dunia persilatan, si kembar Dayu Diyu adalah orang yang gemar bertarung. Mereka sangat senang jika mendapati lawan yang kuat. Bahkan kadang kadang, jika mereka mendengar ada tokoh sakti, mereka mendatanginya untuk menantang berduel.


Mereka pernah bertarung dengan Ki Dipa Menggala dan Ki Wangsa Menggala saat masih sama sama muda. Hampir setengah hari mereka gunakan untuk bertarung, tetapi hasilnya mereka berimbang.


Setelah itu mereka lama tidak bertemu. Ki Dipa Menggala dan Ki Wangsa Menggala mendengar berita kalau Dayu Diyu setelah memasuk usia tua, mereka menetap dan bertapa di lembah Sindoro Sumbing.


Makanya harin ini Ki Dipa Menggala dan Ki Wangsa Menggala terkejut ketika tiba tiba mereka berdua muncul kembali ke dunia persilatan.


Sebenarnya Dayu Diyu keluar dari pertapaannya bukan karena tertarik dengan adanya undangan pertemuan. Mereka lebih tertarik ketika yang mengundang adalah Ki Dipa Menggala dan Ki Wangsa Menggala, dua orang yang dulu menahan imbang diri mereka.


Maka hari ini mereka datang dan sengaja membuat masalah dengan Ki Dipa Menggala dan Ki Wangsa Menggala. Selain itu, mereka juga sangat tertarik dengan munculnya tokoh tokoh yang saat mereka muda usia belum pernah bertemu, seperti halnya Prabu Wisa dan Ki Goprak. Kalau dengan Biksu Wisnu Gatti, mereka berdua pernah bentrok, dan saat itu mereka dibiat keok karena di kepung oleh empat biksu, yaitu Biksu Wisnu Gatti dan tiga orang teman Biksu Wisnu Gatti.


"Ha ha ha ha ha .... apakah sekarang kalian juga akan menghentikan kami ?" tanya Dayu sambil tertawa, "mari kita coba, apa kalian masih mampu menahan kami."


Kemudian, tanpa memperdulikan sekitarnya, Dayu dan Diyu bersiap menyerang Ki Dipa Menggala dan Ki Wangsa Menggala.


Sejenak Ki Dipa Menggala melirik ke arah Ki Pradah yang tadi terancam nyawanya oleh serangan Prabu Wisa.

__ADS_1


Melihat Prabu Wisa sudah dihadapi oleh Ki Penahun dibantu oleh Ki Pradah, Ki Dipa Menggala tidak khawatir lagi dan segera mengalihkan perhatiannya untuk menghadapi Dayu Diyu.


Sementara itu, saat tadi serangannya terhadap Ki Pradah dapat ditangkis oleh Ki Dipa Menggala, Prabu Wisa yang semakin marah segera menyerang Ki Pradah kembali, setelah melihat Ki Dipa Menggala dan Ki Wangsa Menggala dihadapi oleh dua orang kembar yang dia tidak kenal.


Dengan kuku kuku yang putih pucat mengkilat, Prabu Wisa mengembangkan jari jari tangannya membentuk cakar. Kemudian melesat ke arah Ki Pradah dan melayangkan cakaran tangan kanannya ke wajah Ki Pradah.


Blaarrr !!!


Blaarrr !!!


Terdengar ledakan yang keras saat terjadi dua kali benturan cakar Prabu Wisa dengan 'Tapak Wulung' Ki Penahun. Keduanya sama sama terdorong mundur dua langkah.


Merasa penasaran dan didorong rasa marah, Prabu Wisa melesat cepat mengejar Ki Penahun dan menghujaninya dengan serangan cakaran maupun tendangan. Terjadilah saling tukar serangan dan terjadi benturan pukulan antara Prabu Wisa dan Ki Penahun.


Walaupun setiap terjadi benturan energi dengan Prabu Wisa selalu merasakan sedikit bergetar kedua tangannya, tetapi Ki Penahun sangat bersyukur, selama tinggal ditempat Ki Dipa Menggala dan selalu latihan bersama sama, Ki Penahun mengalami peningkatan energi dan kekuatan berkat saran dan masukan dari Ki Dipa Menggala.


Melihat Ki Penahun mulai keteter, Ki Pradah kembali ikut terjun ke pertarungan membantu Ki Penahun. Kali ini Ki Pradah lebih berhati hati dan lebih mengandalkan kecepatannya.


Tetapi dengan tingkat energinya yang sudah tinggi ditambah hawa racun yang mulai dikeluarkan, Prabu Wisa tetap mampu bertahan walaupun dikerubut dua orang.


Ketiganya sudah mulai saling mengenai tubuh lawan masing masing.


Pada pertarungan yang lain, Ki Dipa Menggala dan Ki Wangsa Menggala bisa mengimbangi serangan si kembar Dayu Diyu, walaupun masih belum menggunakan senjata dalam memainkan jurus 'Banteng Majapahit' secara berpasangan.


Dimainkan oleh Ki Dipa Menggala dan Ki Wangsa Menggala, jurus 'Banteng Majapahit' tampak lugas, efektif tanpa mengurangi keganasan dan daya serangnya.


Sehingga setelah pertukaran serangan selama kurang lebih lima puluh jurus, Ki Dipa Menggala dan Ki Wangsa Menggala berhasil melukai Dayu Diyu, walaupun golok Dayu Diyu juga sempat menggores tipis lengan dan dada Ki Dipa Menggala dan Ki Wangsa Menggala.

__ADS_1


Melihat hari yang sudah semakin sore, Ki Dipa Menggala dan Ki Wangsa Menggala ingin segera menyudahi pertarungannya. Maka dari itu Ki Dipa Menggala dan Kj Wangsa Menggala mulai mengeluarkan senjatanya. Pedang di tangan kanan dan keris di tangan kiri.


Setelah dimainkan dengan memakai senjata, keganasan dan kelugasan jurus 'Banteng Majapahit' semakin tampak nyata.


Dalam setiap benturan senjata diam diam Dayu Diyu merasakan telapak tangannya pedas dan kedua lengannya bergetar.


Akhirnya, Dayu Diyu hanya mampu bertahan saja tanpa bisa lagi membalas menyerang.


Ki Dipa Menggala baru akan menyudahi perlawanan Dayu Diyu ketika kembali terdengar alunan suara seruling. Kali ini suara seruling terdengar dengan nada yang berbeda dan bertujuan menyerang Ki Dipa Menggala dengan serangan energi suara.


Untuk beberapa saat, Ki Dipa Menggala sempat terpengaruh oleh serangan energi suara itu, sehingga Ki Dipa Menggala segera meningkatkan tenaga dalamnya untuk melindungi pendengarannya.


Tiba tiba muncul suara dengungan seperti suara logam yang berdenting. Suara dengungan itu tidak membawa pengaruh apa apa pada orang orang yang berada di tempat pertemuan. Tetapi suara dengungan itu membentuk energi angin yang transparan yang mengakibatkan dahan dahan dan daun daun sebuah pohon besar di sebelah kiri agak jauh tempat pertemuan, bergoyang goyang keras seperti terkena angin ribut.


Suara dengungan itu semakin cepat sehingga bergoyangnya dahan dahan dan daun daun semakin cepat dan semakin kuat hingga membuat suara seruling terhenti dan kemudian terlihat dua orang turun dari dahan pohon yang bergoyang keras.


Salah satu dari orang yang turun dari dahan pohon itu terdengar marah marah dan mengumpat.


"Bangsat !!! Keluar kau jangan bersembunyi !" teriak orang itu.


"He he he .... kenapa harus marah marah Ki Goprak," kata orang yang satunya.


"Biksu Wisnu Gatti, kamu tidak membantu, malah mengolok olok," jawab Ki Goprak.


Biksu Wisnu Gatti sebenarnya terkejut, ada orang yang mampu menyerang dengan energi suara yang bisa dengan mudahnya menjatuhkan Ki Goprak.


___0___

__ADS_1


__ADS_2