Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Persaingan Dua Gadis Cantik


__ADS_3

Lintang Rahina berpamitan pada Ni Sriti. Sekar Ayu Ningrum ikut berpamitan. Sedangkan Galuh Pramusita tetap berdiri dan hanya memandangi Lintang Rahina.


"Kakang, tunggu Galuh ya? Galuh akan segera menyusul," kata Galuh Pramusita sambil berjalan memdekati Lintang Rahina dan memegangi kedua tangan Lintang Rahina.


"Adik Galuh tidak ikut pulang bersama kakang ?" tanya Lintang Rahina.


Galuh Pramusita tidak menjawab pertanyaan Lintang Rahina. Tetapi berjalan menuju Sekar Ayu Ningrum sambil tersenyum. Mereka berdua saling memandang dan saling berpegangan tangan. Kemudian Galuh Pramusita berbisik, "Sekar, sementara kutitipkan kakang Lintang bersamamu. Kau jaga dia. Awas jangan sampai kenapa kenapa !"


Mendengar perkataan Galuh Pramusita, Sekar Ayu Ningrum mendelik sebentar dan mukanya memerah menahan marah. Tetapi kemudian tersenyum kikuk.


"Galuh, kau jangan pernah berharap bisa mendapatkan kakang Lintang !" jawab Sekar Ayu Ningrum sambil berbisik juga.


"Kita lihat saja nanti, kakang Lintang akan menjadi milikku !" bisik Galuh Pramusita lagi.


"Tak akan kuberi kesempatan dirimu mendekati kakang Lintangku," jawab Sekar Ayu Ningrum lagi.


Ni Sriti, yang sudah mengetahui perseteruan kedua gadis cantik itu dalam memperebutkan Lintang Rahina, hanya tersenyum melihat adegan mereka berdua.


Sementara Lintang Rahina, melihat tidak ada yang aneh. Terlihat mereka berdua menjadi akrab setelah bersama sama selama beberapa hari.


Sekar Ayu Ningrum juga ikut berpamitan. Kemudian mendekati Lintang Rahina dan mengajaknya segera berangkat.


"Ayo kita pergi sekarang, kakang," kata Sekar Ayu Ningrum sambil memegang tangan Lintang Rahina.


Kemudian Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum melesat meninggalkan bekas candi yang menjadi tempat tinggal Ni Sriti.


Sementara itu, Galuh Pramusita memang sengaja ingin tinggal lebih lama lagi di tempat Ni Sriti, karena Galuh Pramusita ingin belajar ilmu ilmu lain dari Ni Sriti.


"Tunggu aku kakang Lintang. Akan kubuktikan kalau aku pantas mendampingimu. Sekar, akan aku buktikan kalau aku mampu menyaingimu," kata Galuh Pramusita sambil pandangannya melayang jauh ke arah Lintang Rahina pergi.


"Kamu belum menyerah nduk ?" tiba tiba terdengar suara Ni Sriti bertanya.


"Bantu aku hingga bisa menjadi sekuat Sekar, Ni," kata Galuh Pramusita memohon pada Ni Sriti.


"Akan kubantu semampu Nini nduk," jawab Ni Sriti yang berdiri di belakang Galuh Pramusita sambil mengelus elus punggung Galuh Pramusita.


 


Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum berhenti sejenak setelah sampai di tepi hutan tempat Ni Sriti tinggal.


"Kita sudah keluar dari hutan dan di depan sudah jalan menuju ke kota, adik Sekar," kata Lintang Rahina, "Kita berjalan kaki biasa saja."

__ADS_1


Sekar Ayu Ningrum menjawab dengan anggukan kepala.


Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki biasa seperti yang sudah pernah mereka lakukan.


 


Sebulan telah berlalu.


Di depan gerbang menuju suatu kampung, sedang terjadi pertempuran. Penduduk warga kampung itu yang mayoritas sebagai petani, bersenjatakan seadanya seperti sabit, parang bahkan cemeti melawan sekelompok orang yang bukan penduduk kampung itu.


Sekelompok orang yang rata rata menguasai ilmu silat tingkat rendah itu, walaupun jumlahnya lebih sedikit, tetapi terlihat menguasai jalannya pertempuran. Sudah banyak para warga kampung itu yang terluka bahkan ada yang tewas, baik pria dewasa, wanita, orang tua bahkan anak anak ada yang menjadi korban.


Yang terlihat di gerbang kampung itu seperti bukan pertempuran, tetapi lebih mirip pembantaian. Karena para warga kampung itu hanya bermodal nekat, melawan orang orang yang bisa ilmu silat.


Disaat sudah lumayan banyak warga kampung yang menjadi korban, terdengar suara teriakan seorang gadis, "Bedebah !!! Orang orang jahat tidak punya hati !"


"Nduk, Galuh, mereka jangan dibunuh ! Dilumpuhkan saja. Ada yang aneh pada mereka !" kata perempuan yang lebih tua pada gadis yang berteriak tadi.


"Baik Ni !" jawab gadis yang bernama Galuh itu.


Tiba tiba tampak kelebatan tubuh yang sangat cepat ke arah para pendekar yang membantai warga kampung itu.


Desss !!!


Krak !!!


Dalam sekejap, puluhan pendekar itu terkapar di tanah. Ada yang pingsan, ada yang terjatuh dengan mengalami patah tulang. Ada beberapa ahli silat yang akhirnya tewas, setelah terjatuh. Karena langsung dikeroyok oleh penduduk kampung itu.


Setelah kelompok orang orang yang bisa silat itu semuanya terkapar di tanah, gadis yang dipanggil Galuh itu berteriak, "Berhenti ! Jangan ada yang membunuh lagi !"


Para penduduk kampung, begitu mendengar teriakan gadis yang telah melumpuhkan semua anggota kelompok ahli silat itu, berhenti menyerang, dan semuanya duduk bersila kemudian menyatakan rasa terimakasih mereka.


Setelah menanggapi para penduduk kampung, gadis yang ternyata adalah Galuh Pramusita bersama gurunya, Ni Sriti, menginterogasi sekelompok orang yang telah dia lumpuhkan.


Ni Sriti melihat, sekelompok orang itu sepertinya berada dalam pengaruh sesuatu.


Ni Sriti melihat ke sorot mata orang orang itu dan merasakan getaran energinya.


Kemudian, Ni Sriti menyalurkan energinya ke sekelompok orang itu lewat ubun ubun mereka, secara bergantian.


Sesaat mereka merasakan ubun ubunnya seperti tersengat sesuatu. Setelah itu, mereka mengejap kejapkan mata mereka seperti orang bingung.

__ADS_1


"Siapa kalian ? Dan kenapa kalian menyerang penduduk kampung ?" tanya Galuh Pramusita.


"Ka ... kami dari padepokan 'Wesi Kuning'. Kami juga tidak tahu kenapa kami melakukan penyerangan," jawab mereka.


Kemudian mereka menceritakan.


Bahwa pada suatu hari, padepokan 'Wesi Kuning' kedatangan seseorang yang sangat aneh.


Orang itu tinggi besar. Wajahnya memakai topeng hitam. Kedua lengannya dibebat kain hitam hingga ke pangkal lengan.


Pada murid padepokan yang melihat orang tinggi besar itu segera mengepungnya.


Tetapi, para murid padepokan itu belum melakukan apa apa, tiba tiba orang tinggi besar yang mereka kepung telah lenyap. Mereka sesaat hanya melihat kelebatan bayangan, sebelum kemudian mereka merasakan ada sesuatu yang seperti menusuk ubun ubun mereka. Setelah itu mereka tidak ingat apa apa.


Orang tinggi besar bertopeng itu, setelah bekelebat cepat menyentuh ubun ubun para murid yang mengepungnya yang membuat para murid padepokan seperti tidak ingat apa apa, langsung melesat menuju ke sebuah bangunan besar.


Di dalam bangunan itu, telah menunggu, lima orang yang dilihat dari gerakan dan energi yang terpancar dari dalam tubuhnya, mereka adalah para ketua Padepokan 'Wesi Kuning'.


Begitu sampai di depan kelima orang itu, orang bertopeng itu bertanya, "Siapa Ketua Padepokan sini ?"


Orang yang berdiri di tengah maju selangkah dan berkata, "Aku ketua padepokan ini. Siapa kamu ?"


"Aku butuh ruangan besar untuk semedi. Cepat sediakan !" kata orang bertopeng tanpa menjawab pertanyaan ketua padepokan.


"Ha ha ha ha .....!!!


Kelima orang itu tertawa bersamaan.


"Kamu siapa .... berani beraninya memerintah kami ...." jawab ketua padepokan.


"Cepat ! Sediakan !" kata orang bertopeng sambil menggerakkan tangan kirinya. Tangan kirinya mengayun ke orang yang berdiri di samping ketua padepokan.


Plassshh !!!


Bruaaakkk !!!


Tiba tiba melesat sinar merah dari tangan kiri orang bertopeng itu dan membuat orang di samping ketua padepokan terlempar ke belakang sampai menabrak dinding pendopo.


Sringg ! Sringg ! Sringg ! Sringg !


Terdengar suara golok ditarik keluar dari rangkanya.

__ADS_1


"Bedebah ! Berani beraninya kau membuat onar di padepokan ini !" bentak ketua padepokan, "bunuh dia !"


\_\_\_0\_\_\_


__ADS_2