
Dengan tingkat energi yang Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum miliki sekarang ini, mereka bisa menyembunyikan getaran energi mereka.
Sehingga mereka bisa masuk ke perkampungan yang agak jauh dari pesisir Parangtritis.
Di perkampungan itu, mereka menanyakan pada para penduduk tentang apa yang telah terjadi di pesisir Parangtritis.
Setelah beberapa kali Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum datang ke perkampungan penduduk dan menanyakan lagi tentang apa yang telah terjadi, akhirnya pada suatu kesempatan, ada salah satu warga yang mengatakan, kalau dia pernah ditemui seorang yang asing, orang yang belum pernah dia temui sebelumnya. Orang itu berdandan dan mengenakan pakaian seperti yang biasa dipakai oleh orang orang dari negeri daratan besar. Orang asing itu menanyakan dimana tempat tinggal Lintang Rahina. Dan juga menanyakan siapa Lintang Rahina dan bagaimana ciri cirinya.
Akhirnya, kepada warga yang bercerita itu, Lintang Rahina menanyakan semua ciri ciri orang asing itu.
Merasa mendapatkan informasi penting yang bisa menjadi petunjuk awal bagi mereka berdua, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum hendak mencoba mendekat ke arah pesisir pantai lagi.
Pada suatu pagi, Lintang Rahina dengan menyembunyikan getaran energinya, mendatangi pantai sendirian.
Sampai di bibir pantai, kedatangan Lintang Rahina belum ada yang menyadarinya.
Namun, saat Lintang Rahina berjalan menyusuri pantai, tiba tiba Lintang Rahina merasakan adanya getaran energi yang tinggi dari arah depannya agak jauh. Beberapa saat kemudian, di depannya berdiri sepasang laki laki dan perempuan. Mereka berdua adalah Sindunata dan Puruhita.
Lintang Rahina mencoba untuk menjalin komunikasi dengan mereka berdua. Namun, Sindunata dan Puruhita seperti orang yang tidak mengenalnya.
Bahkan tanpa ada perkataan apa apa, Sindunata dan Puruhita langsung menyerangnya.
Lintang Rahina mencoba meladeni serangan serangan Sindunata dan Puruhita, sambil mengamati apakah ada yang aneh pada diri mereka.
Namun, selain mereka berdua menjadi tidak kenal dengannya, tidak ada yang aneh pada diri mereka.
Sampai saat ini, Lintang Rahina masih belum bisa memperkirakan, apa yang menyebabkan mereka berdua dan juga guru gurunya menjadi seperti ini.
"Kalau akibat terkena racun, paling tidak ada juga imbasnya pada tubuh mereka. Tetapi tubuh mereka sepertinya baik baik saja," kata Lintang Rahina dalam hati.
Baru saja di pikiran Lintang Rahina terlintas satu hal, ketika tiba tiba di sekeliling pertarungan mereka muncul semua gurunya yang juga telah bersiap untuk mengeroyoknya.
Keheranan Lintang Rahina semakin bertambah, karena keadaan guru gurunya juga sama dengan keadaan Sindunata dan Puruhita.
Melawan mereka semua yang dalam keadaan tidak ingat siapa dia, membuat Lintang Rahina semakin tertekan. Tanpa terasa, air mata membasahi pelupuk matanya.
Sementara itu, bersamaan dengan saat Lintang Rahina menghadapi Sindunata dan Puruhita serta semua gurunya, Sekar Ayu Ningrum dari ketinggian yang tidak bisa dilihat dengan mata biasa, karena terhalang awan, mengamati setiap apapun yang bergerak di pesisir Parangtritis.
__ADS_1
Dengan situasi Sindunata dan Puruhita serta semua guru berada dalam satu tempat mengepung Lintang Rahina, membuat Sekar Ayu Ningrum.lebih mudah untuk mengamati keadaan sekitarnya.
Namun, hingga waktu berjalan cukup lama dan pertarungan Lintang Rahina melawan Sindunata dan Puruhita yang dibantu oleh guru guru Lintang Rahina sudah berlangsung hingga lebih dari seratus jurus, namun Sekar Ayu Ningrum belum menemukan gerakan yang mencurigakan.
Setelah cukup lama menunggu dan belum menemukan sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk, Sekar Ayu Ningrum melesat pergi sambil memberi tanda dengan suara pekikan burung pada Lintang Rahina untuk mengakhiri pertarungan.
Kemudian dengan cepat mereka bertemu lagi di rumah warga kampung yang kemaren bercerita bahwa dia sempat ditanya oleh orang asing.
"Bagaimana hasil pengamatan kakang Lintang ?" tanya Sekar Ayu Ningrum.
"Kakang belum menemukan sesuatu yang mencurigakan yang bisa kita jadikan petunjuk !" jawab Lintang Rahina.
"Dari angkasa, Sekar juga belum bisa mendapatkan petunjuk apapun," kata Sekar Ayu Ningrum.
"Guru guru serta kakang Sindunata dan mbakyu Puruhita, secara fisik mereka semua sehat. Apabila hal itu disebabkan karena racun, seberapapun kecilnya, pasti berimbas pada fisiknya," kata Lintang Rahina.
"Kekuatan apa yang bisa membuat akal pikiran dan perasaan mereka jadi bergeser ?" gumam Lintang Rahina, "Jadi orang ini mempengaruhi dengan jalan masuk ke akal pikiran serta perasaan yang saat itu mereka rasakan dan pikirkan."
"Besok pagi kita coba lagi," kata Lintang Rahina, "Kalau perlu, salah satu guru, kita buat tidak berdaya dan mencoba memeriksanya.
Sebenarnya, dengan menangkap satu persatu, kemudian membawanya menjauh dari tempat itu, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum kemungkinan bisa menyembuhkan mereka semua. Namun, mereka tidak menemukan yang menjadi penyebabnya. Maka Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum memilih untuk memancing apa yang menjadi penyebabnya itu keluar.
Keesokan harinya, pagi pagi sekali, Lintang Rahina sudah kembali berjalan di pesisir pantai Parangtritis. Dia dengan sengaja memperlihatkan getaran energinya, sehingga seperti kemaren, tidak berapa lama, Sindunata dan Puruhita muncul disertai juga keenam guru Lintang Rahina.
Lintang Rahina mencoba mengajak mereka semua berbicara, namun mereka tetap tidak menggubrisnya seolah olah mereka tidak mendengar perkataannya.
Sehingga pagi itu di pantai Parangtritis, kembali terjadi pertarungan, Lintang Rahina dikeroyok oleh keenam gurunya serta Sindunata dan Puruhita.
Namun, Lintang Rahina juga tidak bisa tergesa gesa menjatuhkan salah satu dari mereka, karena menunggu tanda dari Sekar Ayu Ningrum yang pada saat yang bersamaan, sedang melakukan rencana lainnya.
Sementara itu, Sekar Ayu Ningrum yang selalu menggendong Seruni anaknya di punggungnya, kembali berada di balik awan untuk mengamati dari ketinggian, kembali mengerahkan semua inderanya untuk bisa menemukan sekecil apapun yang mencurigakan.
Namun seperti kemaren, sudah beberapa lama menunggu, Sekar Ayu Ningrum belum juga menemukan sesuatu yang mencurigakan.
Saat Sekar Ayu Ningrum hendak kembali turun, tiba tiba terdengar suara anak perempuan dari punggungnya.
"Apakah aku boleh membantu, ibu ?" tanya suara itu.
__ADS_1
Dengan tanpa menoleh, Sekar Ayu Ningrum balik bertanya, "Apakah kau anak siluman naga itu ?"
"Iya ibu. Terimakasih telah menolong aku," jawab suara itu yang ternyata adalah anak siluman naga yang berada di dalam dada Seruni anaknya.
"Apa yang bisa kau lakukan untuk ibumu ini, anakku ?" tanya Sekar Ayu Ningrum yang dalam hati menganggap anak siluman naga itu, sebagai anaknya, sama dengan Seruni anaknya.
"Untuk memancing orang supaya keluar dari persembunyiannya, harus dipancing dengan sesuatu yang tidak biasa, ibu. Di tempat ini tidak ada naga. Jatuhkan aku di tempat diperkirakan dia sembunyi. Dia akan tertarik dan keluar dari tempat persembunyiannya, ibu," kata anak siluman naga itu menjelaskan.
Dalam hati, Sekar Ayu Ningrum terkejut dengan ide yang diberikan oleh anak siluman naga itu. Dia terlalu fokus untuk menunggu sehingga tidak terpikirkan untuk memancingnya keluar.
"Apakah kau yakin, itu tidak membahayakan kamu ?" tanya Sekar Ayu Ningrum.
"Tidak ibu. Kemungkinan dia akan tertarik dan berusaha mengambilku. Tetapi tidak akan semudah yang dia pikirkan," jawab anak siluman naga itu mantap.
"Baiklah anakku. Kau turunlah, bantu kami untuk memancing orang itu. Ibu akan selalu berusaha tidak jauh darimu. Apabila merasakan ada bahaya, segera kembali ke ibu !" kata Sekar Ayu Ningrum sambil mengambil keranjang gendong yang berada di punggungnya tempat Seruni digendong.
Kemudian, dengan telapak tangan kanannya yang sudah dialiri energi, Sekar Ayu Ningrum mengusap dada Seruni untuk menarik keluar anak siluman naga yang kembali berwujud sinar putih.
Dengan membuka telapak tangannya, Sekar Ayu Ningrum melepas anak siluman naga itu untuk turun ke tanah.
"Turunlah anakku ! Berhati hatilah dan jangan lengah !" kata Sekar Ayu Ningrum.
Sinar putih sebesar kepalan tangan orang dewasa itu sejenak melayang di depan Sekar Ayu Ningrum.
Kemudian, dengan sangat cepatnya, sinar putih itu melesat ke bawah dan kemudian mendarat di tanah halaman depan rumah Sekar Ayu Ningrum dengan tanpa menimbulkan suara.
Bisa dirasakan, sinar putih yang melayang setinggi dada itu mengeluarkan getaran energi yang sangat besar.
Merasakan ada sesuatu yang tidak biasa, Tuan Muda Kim yang juga menyembunyikan energinya, menengok ke arah jatuhnya sinar putih.
Begitu melihat ada sinar putih sebesar kepalan tangan orang dewasa, Tuan Muda Kim tertarik.
"Inti siluman naga ? Kenapa di sini ada siluman naga ?" tanya Tuan Muda Kim dengan heran.
"Kamu heran ya ?" anak siluman naga itu balik bertanya.
Sejenak Tuan muda Kim menatap sinar yang menyala putih di depannya.
__ADS_1
Kemudian, dengan gerakan yang sangat cepat, Tuan Muda Kim menyambar sinar putih yang mengambang.
__________ 0 __________