Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Pertarungan Di Pantai Parangtritis V


__ADS_3

Telapak tangan kiri Lintang Rahina mengenai dada Maheso Suro tidak terlalu keras.


Buuuggghhh !!!


Tubuh Maheso Suro langsung melengkung terlempar ke belakang hingga sepuluh langkah lebih dan jatuh terhempas di tanah berpasir.


Baaammm !!!


Muncul sedikit kepulan debu di tempat Maheso Suro terjatuh. Tubuhnya tergeletak di tanah, diam tak bergerak.


Melihat hal itu, Bango Suro sejenak terdiam. Pikirannya berkecamuk penuh dendam. Namun dia adalah seorang yang penuh pertimbangan.


Bango Suro tidak lagi berniat menyerang. Dia sejenak melihat ke tempat Maheso Suro tergeletak. Kemudian memandang ke arah tiga temannya yang masih bertempur. Keadaan mereka juga sudah sangat kepayahan.


Sebagai anggota pasukan 'Suro Benowo' yang paling dituakan, dia tidak ingin kehilangan banyak anggotanya untuk urusan yang belum jelas. Yang mereka bantu juga sudah tewas.


Maka tanpa memperdulikan harga dirinya, dia memilih mundur dulu.


"Anak muda, aku akui, kami kalah. Tapi secepatnya kita pasti bertemu kembali !" kata Bango Suro.


Tanpa menunggu jawaban dari Lintang Rahina, Bango Suro memberikan kode suitan mengajak semua teman yang masih bertarung untuk mundur.


"Tapi kakang !" teriak Gajah Suro dan Badak Suro.


"Kita bawa teman kita yang terluka. Tinggalkan saja pangeran lemah itu !" kata Bango Suro cepat. Kemudian dia segera menyahut tubuh Maheso Suro dan segera melesat ke arah timur disusul Lembu Suro, Gajah Suro dan Badak Suro yang masing masing memanggul tubuh satu temannya.


Lintang Rahina membiarkan saja mereka pergi. Karena memang sebenarnya tidak ada urusan dengan mereka. Tentang kerusakan pada tempat tinggal Ki Ageng Arisboyo, sudah terbayarkan dengan kematian Menak Manila dan empat anggota pasukan 'Suro Benowo' yang terluka parah, atau bahkan mungkin mereka bisa tewas, jika tidak segera diobati. Dia lebih memilih untuk melihat keadaan Sekar Ayu Ningrum dan ketiga gurunya.


Tiba tiba, dilihatnya tubuh Sekar Ayu Ningrum berdiri gontai. Dengan cepat Lintang Rahina melesat mendekatinya. Tepat saat Lintang Rahina sampai di dekatnya, tubuh Sekar Ayu Ningrum merosot jatuh. Lintang Rahina segera meraih tubuh Sekar Ayu Ningrum sehingga tidak sampai jatuh ke tanah berpasir.


Kemudian, sambil membopong yang pingsan, Lintang Rahina menunggu ketiga gurunya. Sesaat kemudian mereka berempat sudah melesat ke tempat tinggal Ki Ageng Arisboyo, setelah sebelumnya Ki Pradah menguburkan jasad Menak Manila.


----- o -----


Pada hari berikutnya, masih beristirahat sambil duduk bersila memulihkan energi.

__ADS_1


Namun, sejak kemaren saat mereka selesai bertarung hingga sekarang, ada yang aneh pada diri Ki Penahun. Mereka heran dengan sikap Ki Penahun. Bukannya bersedih atau diam karena selesai bertarung. Tetapi Ki Penahun justru sering tersenyum.


Akhirnya karena penasaran, Lintang Rahina bertanya pada Ki Penahun.


"Eyang, eyang mengalami banyak luka saat bertarung kemaren. Kenapa eyang malahan tersenyum senyum ?" tanya Lintang Rahina.


"He he he he .... ngger Lintang .... walaupun eyang banyak mendapatkan luka, tapi eyang sangat puas saat kemaren bertarung," jawab Ki Penahun, "Karena eyang menemukan lawan yang membuat eyang bisa mengeluarkan energi dan kemampuan eyang dengan sepenuhnya. Karena sejak eyang mendapat transferan energi darimu, eyang belum pernah lagi bertarung dengan penuh kekuatan."


"Tetapi sebaiknya eyang jangan terlalu sering memaksakan diri," kata Lintang Rahina lagi.


"Dasar kakek kakek tidak ingat usia heh he he he !" sahut Ki Pradah.


Ki Penahun hanya menatap Ki Pradah yang tersenyum senyum.


Ki Penahun dan Ki Pradah sudah sangat saling memahami. Sebenarnya Ki Penahun juga tahu kalau Ki Pradah juga menikmati pertarungan kemaren.


Karena sejak energi mereka meningkat lagi, mereka belum pernah mendapatkan kesempatan seperti kemaren.


"Begitulah orang, kalau sudah terjun di dunia persilatan. Bukan usia yang menjadi ukuran, tetapi kerasnya tulang dan liatnya kulit," kata Ki Ageng Arisboyo yang tiba tiba masuk ke tempat mereka mengobrol.


"Ki Ageng, bagaimana keadaan Sekar ?" tanya Ki Penahun.


"Ngger Lintang, kau bantu Sekar agar proses pemulihannya bisa cepat," kata Ki Pradah.


"Baik guru," jawab Lintang Rahina sambil beranjak menuju tempat Sekar Ayu Ningrum.


Setelah Lintang Rahina keluar dari ruangan itu, Ki Penahun menatap Ki Ageng Arisboyo dengan serius.


"Ki Ageng, bagaimana kalau cucumu Sekar kulamar dan kujodohkan dengan cucuku Lintang ?" tanya Ki Penahun pada Ki Ageng Arisboyo.


"Hah ha ha ha ..... besok kalau waktunya tepat, kita tanyakan langsung pada mereka berdua yang akan menjalaninya," jawab Ki Ageng Arisboyo santai walaupun diam diam dia juga berharap begitu.


Kalau Sekar Ayu Ningrum menjadi istri Lintang Rahina, dia bisa menghabiskan sisa waktu hidupnya dengan tenang. Karena sudah tidak mencemaskan keselamatan cucunya.


Sementara itu di ruangan tempat Sekar Ayu Ningrum dirawat, Lintang Rahina sedang membantu Sekar Ayu Ningrum mempercepat pulihnya energi, dengan menyalurkan energinya ke tubuh Sekar Ayu Ningrum.

__ADS_1


----- o -----


Lima hari berlalu dengan cepat. Semua orang yang tinggal di tempat Ki Ageng Arisboyo sudah pulih seperti sedia kala.


Sekar Ayu Ningrum sudah pulih energinya di hari ke tiga. Hal ini karena Lintang Rahina selalu membantunya dengan menyalurkan energinya.


Bahkan pada hari ke empat, Sekar Ayu Ningrum sudah mulai berlatih lagi.


Pada kesempatan itu, secara kilat Ki Pradah mengajarkan tehnik meringankan tubuh yang dimilikinya.


Bahkan Ki Pradah mengajarkan ilmu yang dia ciptakan sendiri, yaitu ilmu 'Kipas Lima Jari'. Suatu ilmu yang hanya bisa dipelajari oleh ahli silat yang sudah memiliki energi tinggi, karena ilmu ini berdasar pada perubahan dan pengendalian energi.


Ilmu 'Kipas Lima Jari' terdiri dari lima jurus. Jurus pertama yaitu 'Kipas Kebangkitan', jurus kedua yaitu 'Kipas Perpindahan', jurus ke tiga yaitu 'Kipas Perpisahan', jurus ke empat yaitu jurus 'Kipas Kehancuran' dan jurus terakhir atau ke lima yaitu jurus 'Kipas Keabadian'.


Ki Pradah merasa Sekar Ayu Ningrum sanggup menerima ilmu ini, karena tingkat energi Sekar Ayu Ningrum yang sudah tinggi.


Hanya dalam waktu dua Hari, Sekar Ayu Ningrum mampu menguasai ilmu Kipas Lima Jari.


Seperti halnya siang yang cerah ini, Sekar Ayu Ningrum baru saja menyelesaikan latihannya yang ke sekian kali.


Sambil beristirahat, mereka semua berkumpul dan mengobrol di halaman depan.


Tiba tiba cuaca menjadi temaram. Matahari terlihat redup sinarnya. Sesaat kemudian seluruh tempat itu diselimuti kabut.


"Kabut ini seharusnya ada di tengah samudra, bukan di pantai," kata Ki Ageng Arisboyo dalam hati.


"Sepertinya kita akan kedatangan tamu lagi," kata Ki Pradah.


Lintang Rahina yang juga merasakan keanehan, segera mengaktifkan tehnik 'Nafas Raja'. Pendaran energi putih keluar dari seluruh tubuhnya dan segera menyebar ke seluruh daerah pantai untuk menetralkan dan mengusir kabut yang aneh itu. Beberapa saat kemudian, Lintang Rahina menarik kembali energinya dan keadaan pun pulih seperti semula. Matahari bersinar cukup terik pada siang hari itu.


Baru saja mereka semua merasakan adanya beberapa energi yang mengarah ke tempat mereka, dari arah langit timur mereka melihat ada gumpalan awan atau kabut yang mengeluarkan energi yang sangat besar, yang melesat ke arah mereka.


__________ 0 __________


Para pembaca yang berbahagia

__ADS_1


Sebenarnya author selalu berusaha untuk bisa update chapter setiap hari. Namun karena kesibukan akhir akhir ini, mohon maaf apabila updatenya tidak teratur.


Author mengucapkan Selamat merayakan Iedul Fitri 1443 H bagi yang beragama Islam. Taqoballahu minna wa minkum, minal aidin wal faidzin. Segala kesalahan author mohon maaf lahir dan batin.


__ADS_2