
Kepala siluman naga api merah itu mulutnya terbuka lebar, melesat dengan sangat cepatnya menyambar tubuh Lintang Rahina. Mengetahui ada bahaya, Lintang Rahina pun melompat ke samping kanan. Namun, belum juga Lintang Rahina kembali bersiap, ujung ekor siluman naga api merah itu sudah menyusulnya dengan sambaran dari samping. Lintang Rahina pun kembali melempar tubuhnya ke atas, sehingga ujung ekor yang menebas dengan kecepatan yang sudah tidak bisa diikuti dengan mata itu hanya lewat di bawah kakinya.
Saat tubuh Lintang Rahina masih melayang, kepala siluman naga api merah itu tiba tiba sudah berada di depannya dan sudah melakukan patukan ke arah tubuhnya. Terpaksa Lintang Rahina berjumpalitan di udara untuk menjauh dari kepala siluman naga api merah.
Setelah berada pada jarak yang cukup jauh, Lintang Rahina dengan cepat mempelajari keadaan dan menghitung semua peluang dan kesempatan.
"Pusat kekuatan dan kecepatan gerak kepala dan ekor siluman naga ini terletak pada tubuh tengahnya yang menjadi tumpuan. Aku harus membuat ekor dan kepalanya saling menjauh, agar kekuatan tumpuan geraknya berkurang," kata Lintang Rahina dalam hati.
Kemudian Lintang Rahina bergeser ke samping kiri siluman naga api merah itu. Melihat lawannya berada lebih dekat lagi dengan tubuh tengahnya, siluman naga api merah itu segera menghentakkan ujung ekornya dengan kecepatan dan kekuatan yang penuh, membuat gerakan menyabet dari atas ke bawah.
Lintang Rahina yang sudah memperkirakan arah gerakan ujung ekor siluman naga api merah itu segera menyilangkan kedua lengannya ke atas kepalanya sambil mengalirkan energi ke seluruh tubuhnya terutama ke kedua lengannya dalam jumlah yang cukup besar. Kali ini Lintang Rahina berencana tidak menghindari serangan, melainkan akan menghadapi serangan itu dengan energinya.
Sesaat kemudian, terdengar suara ledakan yang sangat besar, saat ujung ekor siluman naga api merah itu menghantam tubuh Lintang Rahina yang menahan hempasan ujung ekor siluman naga api merah itu dengan kedua lengannya.
Ddbbaaammm !!!
Dalam benturan dua energi yang tingkatannya sudah sangat tinggi itu, terlihat ujung ekor siluman naga api merah itu terpental kembali ke belakang dengan sangat cepatnya dan kemudian terbanting dengan sangat kerasnya.
Sementara Lintang Rahina, tubuhnya dihempas ujung ekor siluman naga api merah yang sangat besar itu, membuat tubuhnya amblas ke bawah hingga pinggang.
Namun Lintang Rahina masih tidak bisa tinggal diam. Karena serangan berikutnya sudah menyusulnya. Mulut siluman naga api merah itu sudah meluncur dengan sangat cepatnya dan mencaplok tubuh Lintang Rahina yang hanya terlihat bagian atasnya.
Ddbbuuummm !!!
Kembali terdengar suara ledakan keras, saat kepala naga api merah itu menghujam tepat pada tempat Lintang Rahina berada.
Namun, belum sempat menggeser kepalanya, siluman naga api merah itu mendengar teriakan Lintang Rahina dari atas kepalanya.
"Saatnya kau mati !!!" teriak Lintang Rahina yang tubuhnya sudah meluncur turun dengan derasnya ke arah kepala siluman naga api merah.
Sesaat setelah mendengar teriakan Lintang Rahina, siluman naga itu reflek menyemburkan api merah sangat besar ke arah datangnya tubuh Lintang Rahina.
Sementara itu, tubuh Lintang Rahina yang meluncur turun, langsung masuk ke dalam semburan api merah yang sangat besar itu tanpa merasa terganggu sedikitpun. Tangan kiri Lintang Rahina menjulur ke depan di depan dada. Sedangkan tangan kanannya yang memegang gagang tombak, berada di samping bahu kanannya agak ke belakang.
Ketika hanya tinggal berjarak satu batang tombak, Lintang Rahina mengayunkan tangan kanannya dengan sangat kuat.
Saat itulah senjata tombak dengan mata tombak yang berasal dari ujung ekor siluman naga api biru, melesat dengan sangat cepat dan kemudian menghujam tepat pada kening siluman naga api merah tembus hingga tenggorokan.
__ADS_1
Jleeeppp !!!
Siluman naga api merah itu dengan cepat mengangkat kepalanya sambil meraung dengan sangat kerasnya.
"Aaarrrccchhh !!!"
Saat suara raungannya berhenti, kepala Siluman naga api merah itu jatuh terhempas ke bawah.
Brruuuaaakkk !
Sesaat setelah siluman naga api merah itu tewas, dari bilah mata tombak yang terlihat muncul dari tenggorokan siluman naga api merah keluar pendaran putih seperti asap yang membentuk tubuh manusia siluman naga api biru.
"Terimakasih manusia. Sekarang aku sudah tenang. Kutitipkan anakku padamu," kata siluman naga api biru itu.
Kemudian pendaran putih seperti asap itu melayang ke atas secara perlahan menuju ke permukaan.
Sementara itu, karena makluk yang mengendalikannya tewas, tempat pertarungan yang tadinya seperti ruangan besar berdinding api, meledak dan musnah.
Duuummm !!!
Air laut di dasar laut terlihat menjadi berwarna merah kekuningan dan hawanya naik secara drastis menjadi sangat panas.
Sementara itu, sesaat setelah ledakan terjadi, Lintang Rahina segera melesat ke atas dan naik ke permukaan air untuk mencari Sekar Ayu Ningrum.
Lintang Rahina mencari ke sekeliling permukaan air laut, namun tidak terlihat keberadaan Sekar Ayu Ningrum.
Namun tiba tiba Lintang Rahina merasakan getaran energi yang sangat kuat dari dalam lautan. Sejenak kemudian, dari dalam air laut, terlihat bergerak naik pendaran sinar putih keperakan. Di dalam pendaran sinar putih keperakan itu terlihat Sekar Ayu Ningrum yang berdiri dengan tersenyum. Di sampingnya terlihat ada seseorang yang juga seorang perempuan.
Mereka berdua tidak terpengaruh efek dari ledakan, karena , saat terjadi ledakan, Sekar Ayu Ningrum langsung membuat pendaran putih keperakan yang mampu menyelimuti tubuh mereka berdua.
Setelah pendaran sinar itu naik ke permukaan bahkan melayang di udara, terlihatlah seorang perempuan yang cukup cantik, namun badannya terlihat sangat kurus. Kulit perempuan itu terlihat pucat, namun wajahnya memaksakan diri untuk tersenyum.
Sesampai di udara, pendaran sinar berwarna putih keperakan itu semakin menipis dan kemudian hilang.
Saat itulah, senyuman perempuan kurus berkulit pucat itu merekah.
"Manusia cantik, terimakasih atas pertolonganmu. Sekarang aku sudah bisa lagi berkumpul dengan suamiku. Seperti kata suamiku, aku titipkan anakku pada kalian," kata perempuan kurus berkulit pucat itu.
__ADS_1
Kemudian, tubuhnya melayang ke atas dan ternyata dia sudah ditunggu oleh suaminya. Sesaat kemudian, penampakan tubuh mereka berdua semakin melayang tinggi hingga kemudian tidak terlihat lagi.
Sesaat kemudian, sambil melayang di udara, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum melihat ke sekeliling mereka. Mereka berdua melihat, armada kapal Raksa Samodra terlihat cukup jauh, sehingga semua kapalnya tampak kecil kecil.
Kemudian Lintang Rahina tersenyum sambil memandang Sekar Ayu Ningrum.
"Adik Sekar, kita tetap melakukan perjalanan bersama mereka, atau kita lakukan dengan melayang di udara ?" tanya Lintang Rahina.
Dengan tersenyum merekah yang menampakkan deretan giginya yang rapi dan indah, Sekar Ayu Ningrum menjawab, "Anak kita saat ini aku titipkan pada mereka. Mungkin kakang sudah lupa dengan anak kita."
Mendengar jawaban istrinya yang bernada menggoda, Lintang Rahina segera melesat dan kemudian menyambar tubuh Sekar Ayu Ningrum, kemudian dibawa melesat jauh ke atas, hingga armada kapal Raksa Samodra hanya terlihat seperti titik titik hitam sangat kecil.
Mereka berdua berciuman dengan sangat mesranya di angkasa. Menumpahkan rasa.sayang dan rasa kangen di antara mereka.
Setelah beberapa lama, dilihat dari kejauhan, terlihat dua sosok tubuh laki laki dan perempuan, dengan bergandengan tangan, terbang melayang di udara, menuju ke armada kapal Raksa Samodra.
Sesampainya di geladak kapal yang paling besar itu, mereka disambut oleh Raksa Samodra dan kedua cucunya, Jalu Samodra dan Jenar Samodra. Kemudian, armada kapal perang yang dipimpin oleh Raksa Samodra, kembali melanjutkan perjalanan menuju ke Negeri Jawadwipa.
Pada malam harinya, serombongan armada kapal perang terlihat berlayar dengan tenang. Pada pelayaran itu, formasi yang mereka gunakan, adalah formasi anak panah yang melesat membelah lautan. Dengan kapal terbesarnya berada di tengah.
Di dalam kapal yang terbesar itu, terlihat Raksa Samodra sedang berbincang dengan Lintang Rahina serta Sekar Ayu Ningrum. Ikut bergabung juga Jalu Samodra dan Jenar Samodra. Mereka semua menjadi sangat segan pada Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum.
Setelah tiga hari tiga malam, armada kapal pimpinan Raksa Samodra memasuki perairan hangat yang dekat dengan negeri Champa.
-----*-----
Di suatu tempat yang sangat jauh dari tempat Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum.
Di tepi pantai yang sangat indah, terlihat dua orang laki laki dan perempuan berdiri berdampingan sambil matanya mengawasi seorang anak kecil yang sedang bermain main pasir di pantai.
"Kakang Sindunata, ternyata tinggal di sini membuat hati tenteram," kata si perempuan.
"Adik Puruhita ingin menetap di pantai ?" tanya sang laki laki yang ternyata adalah Sindunata.
Puruhita yang ditanya hanya melirik sambil tersenyum.
"Tapi jangan di sini. Di sini sudah menjadi tempat tinggal adi Lintang dan istrinya," kata Sindunata lagi, "Kapan kapan kita melakukan perjalanan ke arah timur. Disana masih banyak pantai yang indah indah."
__ADS_1
"Terserah kakang Sindunata saja. Aku dan anak kita akan mengikuti dimanapun kakang Sindunata tinggal," jawab Puruhita.
__________ 0 __________