
Melihat kedua muridnya mencoba bertahan sampai pingsan, Empu Bajang Geni masih dalam posisi melayang di tengah tengah dinding 'Batu Cekung' membuat gerakan memutar jari telunjuk kanannya. Seketika sinar energi berwarna merah kehitaman yang menyelimuti permukaan 'Batu Cekung' ikut berputar dengan tubuh kedua muridnya yang masih pingsan sebagai pusatnya.
Perlahan lahan sinar energi merah kehitaman yang berputar itu masuk ke dalam tubuh Arga Manika dan Galuh Pramusita melalui punggung mereka.
Setelah sinar energi merah itu habis, masuk ke tubuh Arga Manika dan Galuh Pramusita, suasana menjadi gelap kembali.
Masih dalam posisi melayang, Empu Bajang Geni mengayunkan telapak tangan kanannya ke arah bawahnya yang dekat dengan 'Batu Cekung'. Tiba tiba melesat beberapa sinar energi merah kehitaman mengenai obor obor yang berjajar. Obor obor itupun seketika menyala menerangi 'Batu Cekung' dan padang rumput di sekitarnya.
Uniknya, dinding setinggi dua puluh meter itu begitu terkena sinar dari obor obor yang menyala memantulkan sinar. Seakan akan dinding itu bisa bersinar. Sehingga menambah terangnya suasana malam itu.
Tidak lama kemudian, Arga Manika dan Galuh Pramusita siuman bersamaan dengan habisnya sinar energi merah kehitaman yang masuk ke tubuh mereka berdua.
Setelah kesadaran mereka pulih seutuhnya, mereka berdua merasakan energi mereka penuh kembali, bahkan mereka merasakan energi mereka bertambah kuat.
Mengetahui kedua muridnya sudah siuman, Empu Bajang Geni perlahan turun mendekati muridnya.
"Energi kalian sudah lebih dari cukup untuk mempelajari ilmu yang akan ku ajarkan," kata Empu Bajang Geni, "besok kita mulai latihan."
Kemudian Empu Bajang Geni menyuruh kedua muridnya untuk beristirahat.
Di tebing dekat 'Batu Cekung' itu ternyata ada lorong yang berisi ruangan ruangan seperti rumah. Lorong itu bisa dibuka dan ditutup dengan cara mengalirkan energinya pada tempat tempat tertentu di dinding itu.
Setelah mendengar semua yang diceritakan oleh Ki Wangsa Menggala, Ki Dipa Menggala memutuskan untuk menahan Ki Penahun dalam ruangan rahasia. Tujuannya adalah agar Ki Penahun aman dan hanya dia dan Ki Wangsa Menggala Yang dapat menemui Ki Penahun.
Walaupun statusnya di penjara, tetapi Ki Penahun bebas untuk melakukan apa saja. Termasuk juga, Ki Penahun bisa leluasa untuk melatih ilmu ilmunya.
__ADS_1
Hal itu dilakukan Ki Dipa Menggala dan Ki Wangsa Menggala karena mereka merasakan ada yang janggal dengan situasinya.
Karena Ki Dipa Menggala tahu persis semua anggota prajurit elite 'Adhyaksa Bhumi'. Ki Dipa Menggala heran, kenapa tokoh tokoh seperti Ki Ageng Arisboyo, Ki Penahun dan Ki Pradah bisa diberitakan memusuhi anak keturunan trah Prabu Brawijaya.
Walaupun Ki Dipa Menggala dan Ki Wangsa Menggala sejak memutuskan untuk bertapa sudah tidak pernah turun gunung, tetapi masih bisa mendengar kabar berita tentang teman teman tokoh tokoh kerajaan Majapahit. Karena walaupun mereka semua dikatakan bertapa, tetapi masih saling mengunjungi untuk sekedar menanyakan kabarnya.
Di tempat Ki Penahun ditahan, tidak ada penjagaan ataupun ruang tahanan. Tetapi Ki Penahun tidak ada niatan sedikitpun untuk melarikan diri, karena dia merasanya tidak ditahan. Bahkan mereka bertiga kadang kadang mengobrol untuk membahas sesuatu.
Seperti halnya sore itu. Mereka bertiga sedang berdiskusi tentang pengembangan ilmu serta energi mereka. Kadang mereka saling mempraktekan gerakannya, kadang saling memberi masukan ataupun saran.
Ketika Ki Dipa Menggala sedang menyampaikan pada Ki Penahun dan Ki Wangsa Menggala tentang rencananya mengembangkan ilmu khusus para senopati utama dan para anggota pasukan prajurit elite 'Adhyaksa Bhumi' yaitu ilmu 'Banteng Majapahit', untuk dikembangkan menjadi ilmu silat yang bisa diwariskan ke murid.
Tiba tiba Ki Dipa menggala menghentikan bicaranya. Mereka bertiga merasakan tempat mereka bertiga mengobrok bergetar lemah. Kemudian mereka memfokuskan semua indra mereka untuk merasakan arah asalnya getaran itu.
Sesaat kemudian, Ki Dipa Menggala melesat keluar diikuti oleh Ki Penahun dan Ki Wangsa Menggala. Beberapa menit kemudian mereka bertiga sampai di puncak.
Ki Dipa Menggala melihat ke arah langit di sekeliling puncak gunung itu, tidak ada yang aneh.
Kemudian Ki Dipa Menggala mengangkat tangan kanannya dengan telapak tangan terbuka. Ki Dipa Menggala mencoba merasakan suara atau hawa panas dari benturan energi yang dia kekuarkan dari telapak tangannya.
Ketika Ki Dipa Menggala sedang mengarah ke utara, sesaat dia merasakan ada hawa panas akibat dari energi yang dia lepaskan dari telapak tangan kanannya berbenturan dengan sesuatu yang juga mempunyai energi.
Tetapi hanya sesaat, karena setelah itu hilang dan Ki Dipa Menggala tidak bisa merasakannya lagi.
"Ada sesuatu yang mencurigakan Ki Dipa ?" tanya Ki Penahun.
Sejenak Ki Dipa Menggala terdiam dan menghela nafas panjang. Barulah kemudian menjawab pertanyaan Ki Penahun, "Sesaat ku rasakan ada energi yang bersifat panas dari arah utara Ki Penahun. Tetapi hanya sesaat dan kemudian hilang lagi."
__ADS_1
"Kira kira apa itu Ki Dipa ?" tanya Ki Wangsa Menggala.
"Aku belum bisa memperkirakan Ki Wangsa," jawab Ki Dipa Menggala.
Mereka bertiga mencoba lagi mempertajam semua indra mereka untuk bisa merasakan sekecil apapun hal hal yang mencurigakan. Tetapi tetap tidak bisa menemukan hal hal yang mencurigakan.
"Kita harus lebih waspada Ki Wangsa," kata Ki Dipa Menggala, "Ki Penahun, tolong bantu kami dengan ikut waspada pada hal apapun."
Ki Wangsa Menggala dan Ki Penahun tidak menjawab, hanya mengangguk tanda mengiyakan permintaan Ki Dipa Menggala.
Sampai hari berikutnya, tidak terjadi hal hal mencurigakan yang mereka khawatirkan.
Hingga sore harinya, saat mereka bertiga Berkumpul kembali di tempat Ki Dipa Menggala.
"Setelah matahari tenggelam, kita tambah kewaspadaan kita," kata Ki Dipa Menggala, "Ki Wangsa Menggala, coba kamu tengok puncak yang satunya tempat Ki Wangsa Menggala bertapa. Kalau ada sesuatu yang mencurigakan, segera kabari kami."
"Baiklah Ki Dipa, aku pamit dulu," jawab Ki Wangsa Menggala sambil menjura ke arah Ki Dipa dan Ki Penahun.
"Ki Penahun, tolong malam ini kita mengontrol keadaan di sekitar puncak. Ki Penahun memutar dari kiri saya akan memutar dari kanan," kata Ki Dipa Menggala.
"Akan aku bantu semampuku Ki Dipa," jawab Ki Penahun.
Begitu malam hari menjelang, mereka bertiga mulai melakukan tugas yang telah direncanakan tadi sore.
Ki Wangsa Menggala langsung melesat ke puncak gunung yang satunya tempat dia biasanya bertapa. Ki Wangsa Menggala langsung berkeliling di sekitar puncak sambil seluruh indranya bersiap merasakan apabila ada yang mencurigakan.
Sampai tiga kali Ki Wangsa Menggala mengelilingi puncak tempatnya bertapa.
__ADS_1
Begitu dirasa tidak ada sesuatu yang mencurigakan, Ki Wangsa Menggala segera melesat kembali ke tempat Ki Dipa Menggala.