
Setelah berhasil menemui dan membujuk Ki Dipa dan Ki Wangsa, mereka bertiga, Ki Rekso, Ki Prantanda dan Ki Kawungka langsung pergi ke arah Parangtritis, tempat Ki Ageng Arisboyo tinggal. Sesampainya di Parangtritis, mereka bertiga tidak mendapati Ki Ageng Arisboyo tidak ada di tempat.
Ki Rekso, Ki Pratanda dan Ki Kawungka sepakat untuk meneruskan perjalanannya menuju Gunung Merbabu tempat Ki Penahun tinggal. Siapa tahu Ki Ageng Arisboyo juga sedang berada di tempat Ki Penahun. Mereka bertiga juga sepakat untuk mengambil jalan yang biasa dilewati orang kebanyakan, siapa tahu bisa menemukan hal hal penting.
Tidak mereka duga, dalam perjalanannya ke Gunung Merbabu, mereka bertemu dengan Ki Ageng Arisboyo yang hendak pulang ke Parangtritis.
Sebenarnya tidak hanya Ki Ageng Arisboyo yang terkejut. Ki Rekso, Ki Pratanda dan Ki Kawungka pun sebenarnya juga terkejut, bisa bertemu Ki Ageng Arisboyo di tengah perjalanan seperti sekarang ini.
"Ho ho... ternyata engkau Ki Rekso," jawab K Ageng Arisboyo, "lama tidak berjumpa, dan engkau semakin tua semakin lincah saja."
"He he he... terimakasih," jawab Ki Rekso sambil tertawa, "terimakasih atas pujiannya, Ki Ageng."
"Ada angin apakah, hingga sampai menghadang langkahku ?" tanya Ki Ageng Arisboyo.
"Ki Ageng sekarang tidak sabaran," jawab Ki Rekso, "baiklah, kami akan langsung ke inti maksud kedatangan kami."
"Ki Ageng," sambung Ki Rekso lagi, "sudah saatnya Kerajaan besar Majapahit bangkit kembali. Kami berharap Ki Ageng berkenan bergabung bersama kami, menjadi saksi bangkitnya Majapahit dan mendarma baktikan diri untuk kebesaran Majapahit."
"Ki Rekso, Ki Pratanda dan Ki Kawungka," kata Ki Ageng Arisboyo, "aku memang orang Majapahit. Dan sampai habis usiaku aku akan tetap setia pada Majapahit. Kesetiaanku itu termasuk menjaga titah Paduka Prabu Brawijaya.
Sebelum berangkat menyepi untuk bertapa, Paduka Prabu Brawijaya telah menitahkan kepada kita semua berdasarkan wangsit yang beliau terima. Beliaulah pemegang wahyu keprabon Majapahit yang terakhir. Beliau sudah bersabda, sepeninggal beliau turun tahta, sebagai penanda pudarnya kejayaan Majapahit. Dan akan muncul kerajaan baru sebagai penerus kejayaan Majapahit. Beliau sudah ikhlas dan legowo. Beliau menitahkan agar kita mendukung atau paling tidak, tidak mengganggu berdirinya kerajaan itu.
Saya kira titah itu sudah jelas dan siapapun siapapun yang mendengarkan titahnya seharusnya paham.
Jadi, Ki Rekso, Ki Pratanda dan Ki Kawungka mestinya sudah paham bagaimana prinsip dan keputusanku."
"He he he....Ki Pratanda, Ki Kawungka," sambil tertawa, Ki Rekso berkata, "sepertinya Ki Ageng memilih cara lama untuk berembug. Terpaksa kita harus mengikuti cara yang Ki Ageng pilih."
"Sebagai teman lama, kita harus menghormati cara yang dipilih, Ki Rekso," jawab Ki Pratanda.
__ADS_1
"Aku juga tidak masalah, cara apapun yang dipilih Ki Ageng," jawab pula Ki Kawungka.
"Baiklah Ki Ageng," Ki Rekso berkata lagi, "sebagai teman lama, teman seperjuangan, kita bertiga tidak keberatan dengan cara yang Ki Ageng pilih. He he he.... mari kita mulai sekarang."
Begitu Ki Rekso selesai berbicara, Ki Pratanda dan Ki Kawungka bersiap di kiri dan kanan Ki Rekso, mengambil jarak sedepa dengan Ki Rekso. Ki Pratanda mengeluarkan senjata kerisnya, sedangkan Ki Kawungka tampak mulai mengencangkan otot otot seluruh tubuhnya terutama otot tangan dan kakinya.
Mereka bertiga memang sudah berencana untuk mengeroyok saat menghadapi Ki Ageng Arisboyo atau Ki Penahun ataupun Ki Pradah. Karena mereka bertiga menyadari, masih sedikit di bawah tingkat tiga orang itu. Hal itu disebabkan karena tehnik latihan mereka masih kalah murni dan kalah bersih dari tehnik latihan Ki Penahun, Ki Pradah dan terutama Ki Ageng Arisboyo.
Ki Ageng juga bersiap dengan menyiapkan tongkatnya untuk senjata pengganti pedang.
Sebenarnya senjata andalan Ki Ageng Arisboyo adalah keris, tetapi dia belum mau mengeluarkannya, karena merasa masih belum tega melawan temannya sendiri.
Tongkat Ki Ageng Arisboyo mulai diselimuti asap tipis, begitu juga dengan seluruh tubuhnya bahkan jubah putih yang dipakai saat dalam perjalanan pun juga terselimuti asap tipis seperti kabut.
Merasakan betapa sulitnya karena dikeroyok tiga orang yang ilmunya masing masing hanya sedikit di bawahnya, Ki Ageng Arisboyo langsung menyiapkan tehnik perubahan energi.
Ki Kawungka yang mengandalkan tenaga kasar menyerang pertama dengan meloncat maju ke arah Ki Ageng Arisboyo sambil melontarkan pukulan tangan kanannya sebagai pembuka ilmu 'Kebo Seketi'nya. Ki Ageng Arisboyo menghindari dengan sedikit menggeser kaki kirinya ke belakang.
Setelah sapuan kakinya tidak mengenai sasaran, Ki Kawungka menghantamkan kedua kepalan tangannya ke dada Ki Ageng Arisboyo. Ki Ageng Arisboyo meloncat ke atas dengan ujung tongkat diarahkan ke bahu kanan Ki Kawungka.
Tugghh!!!
Bahu kanannya terkena ketukan tongkat yang sudah dilapisi energi yang dipadatkan, Ki Kawungka terhuyung huyung terdorong ke depan dan merasakan nyeri di bahu kanannya.
Melihat temannya terdesak dan terkena serangan hanya dalam satu gebrakan, Ki Rekso dan Ki Pratanda langsung ikut menyerang.
Ki Rekso dengan kedua tangannya yang berubah menjadi merah, mengeluarkan jurus jurus pukulannya diselingi dengan lemparan lemparan jarum beracunnya.
Tidak ketinggalan, Ki Pratanda mencecar Ki Ageng Arisboyo dengan tusukan tusukan kerisnya yang berbahaya dan mengarah ke titik titik vital Ki Ageng Arisboyo.
__ADS_1
Dengan ketenangannya yang luar biasa, Ki Ageng Arisboyo berusaha menghadapi serangan tiga orang lawannya dengan hati hati.
Walaupun unggul dalam hal kecepatan, tingkat energi dan tingkat ilmu silatnya, tetapi, menghadapi tiga orang berilmu tinggi yang masing masing hanya sedikit di bawah tingkatannya, adalah bukan hal yang mudah. Membutuhkan ketenangan dan kehati hatian tingkat tinggi.
Dalam lima puluh jurus pertama, ketiga lawannya sudah terkena tusukan dan pukulan tongkat Ki Ageng Arisboyo. Serta beberapa kali terkena lesatan energi yang dipadatkan, dari ujung tongkatnya ataupun dari ujung ujung jubahnya yang ternyata juga digunakan sebagai senjata.
Dalam pertarungan tingkat tinggi, ketika Ki Ageng Arisboyo selalu memainkan jurus jurusnya pada level maksimal, semua yang ada pada tubuhnya bisa digunakan sebagai senjata. Begitu juga dengan jubahnya. Bila sudah dilapisi energi hingga seperti diselimuti kabut tipis, ujung ujung jubah dan ujung lengannya bisa menjadi setajam pedang.
Bagaimanapun, Ki Rekso, Ki Pratanda dan Ki Kawungka adalah orang orang yang sangat berpengalaman dalam berbagai pertarungan. Walaupun awal awalnya mereka bertiga beberapa kali terkena serangan tongkat, mereka berusaha menahan dan memperlihatkan seolah olah tidak berdampak pada mereka bertiga.
Setelah saling bertukar serangan hingga seratusan jurus, mulai terlihat, Ki Ageng Arisboyo mulai kesulitan menjaga ketenangannya dan mulai keteteran. Beberapa pukulan Ki Rekso dan Ki Kawungka mulai mendarat di tubuhnya.
Empat orang yang sedang bertarung itu mulai mendapat luka luka di tubuhnya. Pengaturan nafasnya pun mulai tidak sempurna.
Dan yang terlihat paling parah luka lukanya adalah Ki Ageng Arisboyo. Hanya keteguhan hati dan kedisiplinannya sebagai seorang ksatria sajalah yang membuatnya masih bisa bertahan.
___ 0 ___
Penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada para pembaca yang telah memberikan dukungan dan semangat kepada penulis, baik lewat like, vote, komentar, saran dan kritiknya.
Kepada Kak 'Anny Yuliastuti', Bung 'Lukito Utomo' dan masih banyak lagi pembaca yang maaf belum sempat penulis sebutkan nama namanya.
Semua menjadi masukan yang sangat bermanfat bagi penulis.
Cerita ini baru memasuki awalan kompleksitas permasalahan. Tokoh utama masih dalam tahap pengembangan kemampuan diri sehingga masih lemah dan belum sempurna.
Penulis sangat berharap para pembaca tetap semangat membaca dan mengikuti jalan ceritanya. Dan tetap ditunggu Like, Vote, Komentar, Saran dan Kritiknya. Karena semangat para pembaca juga menjadi semangat bagi penulisnya.
Salam hormat dari penulis untuk semua pembaca tercinta.
__ADS_1
Luv U all