
Pada saat Sekar Ayu Ningrum terkena pukulan tapak Prabu Wisa dan terlempar hingga beberapa langkah ke belakang, Lintang Rahina sedang menghadapi lima tehnik serangan yang berbeda beda.
Dewi Kematian, dengan sisa pitanya menyerang dengan energi 'lembut'nya yang sangat menjerat dan mematikan.
Dengan tehnik 'Nafas Raja', tubuh Lintang Rahina diselimuti pendaran energi berwarna kuning keemasan.
Saat pendaran energi dari tubuh Lintang Rahina menyebar ke sekitarnya, bertepatan dengan itu, Lintang Rahina mendengar suara pukulan. Sesaat Lintang Rahina bisa melihat, tubuh Sekar Ayu Ningrum terdorong beberapa langkah setelah terkena pukulan. Seketika hati Lintang Rahina menjadi cemas. Sehingga kewaspadaannya menjadi sedikit ada celah.
Di saat itulah terjadi dua hal yang pada diri Lintang Rahina.
Saat pendaran energi dari tubuh Lintang Rahina yang menyebar, mencapai tempat melayangnya senjata trisula, tiba tiba energi Lintang Rahina seperti ditarik keluar semua dan masuk ke dalam senjata trisula yang melayang itu.
Sehingga senjata trisula itu semakin keras getarannya dan berpendar kuning keemasan yang makin lama makin pekat. Begitu pekatnya pendaran dari senjata trisula sehingga akhirnya warnanya berubah menjadi putih pekat.
Pendaran sinar putih lekat itu semakin lama semakin membesar dan semakin melebar hingga menjangkau dan meliputi semua orang yang sedang bertarung.
Pada waktu yang bersamaan, saat Lintang Rahina mencemaskan keadaan Sekar Ayu Ningrum sehingga kewaspadaannya menjadi sedikit longgar, hal itu dimanfaatkan oleh lawannya yang paling muda dengan menyerangnya menggunakan alunan suara seruling yang telah dimasuki dengan mantera mantera sihir. Hal itu karena dia memang ditugasi untuk menunggu lawannya lelah atau lengah dan kemudian menyerangnya dengan alunan suara seruling.
Karena Lintang Rahina sedang mencemaskan keadaan Sekar Ayu Ningrum, serangan alunan suara seruling itu berhasil memasuki hati dan pikiran Lintang Rahina yang saat itu energinya sedang membanjir keluar ke arah senjata trisula yang melayang tidak jauh dari tempat Lintang Rahina.
Karena hati dan pikirannya sedang mencemaskan Sekar Ayu Ningrum, serangan alunan suara seruling itu membuat Lintang Rahina berhalusinasi tentang Sekar Ayu Ningrum.
Kemudian disusul dengan meluasnya pendaran sinar putih pekat yang keluar sari senjata trisula yang melayang.
Saat semua yang berada disitu merasakan semuanya menjadi putih pekat sehingga tidak bisa melihat apa apa selain warna putih pekat, tiba tiba senjata trisula itu mengeluarkan suara ledakan yang sangat keras.
__ADS_1
Baaanggg !!!
Beberapa saat setelah suara ledakan itu, semua menjadi serba hitam dan suasana menjadi sunyi.
Suasana tempat pertarungan menjadi sunyi. Benerapa saat kemudian, Lintang Rahina merasakan ada aliran energi hangat yang memasuki seluruh tubuhnya.
Hingga kemudian, saat Lintang Rahina membuka kelopak matanya, terdengar suara laki laki tua.
"Syukurlah kau sudah kembali ngger Lintang," kata laki laki itu yang ternyata adalah Ki Penahun. Di samping Ki Penahun, berdiri Ki Pradah. Ki Penahun berjongkok dengan satu lutut sedang menyangga punggung Lintang Rahina yang dalam posisi berlutut, sambil menyalurkan energinya lewat telapak tangannya yang menempel di punggung Lintang Rahina.
"Apa yang terjadi eyang ?" tanya Lintang Rahina.
"Maafkan eyang dan gurumu yang terlambat datang membantumu," kata Ki Penahun.
"Di mana yang lainnya ? Di mana Adik Sekar ? Di mana kelima perempuan berbaju putih tadi eyang ?" tanya Lintang Rahina beruntun.
"Itulah .... saat senjata trisula yang melayang itu ikut terselimuti pendaran energi yang meluar dari tubuhmu, senjata trisula tersebut langsung bereaksi dan menyerap energi dari tubuhmu," jawab Ki Penahun, "Setelah proses menyerap energimu itu membuat senjata trisula itu mengeluarkan pendaran sinar putih pekat yang juga menyebar ke semua arah hingga meliputi semua yang sedang bertarung tadi, senjata trisula itu langsung mengeluarkan ledakan disertai dengan letupan warna putih pekat. Setelah itu, semuanya menghilang bersamaan dengan menghilangnya pendaran sinar putih pekat itu, hanya tertinggal dirimu yang hampir jatuh pingsan."
"Tentang mereka yang ikut lenyap, nanti kita coba telusuri dengan merasakan getaran energinya. Termasuk senjata trisula yang juga lenyap, bisa kamu rasakan keberadaannya dengan merasakan getaran energinya," sambung Ki Pradah.
"Kenapa senjata trisula itu menyerap pendaran energi yang keluar dari tubuh Lintang eyang ?" tanya Lintang Rahina lagi.
"Coba kamu ingat ingat, pesan apa yang kamu terima hingga kamu bisa sampai di tempat ini," jawab Ki Penahun.
"Lintang dipesan untuk pergi ke tempat yang menjadi berhentinya senjata trisula. Saat senjata trisula itu melayang diam, Lintang disuruh menyalurkan energi ke senjata itu dan kemudian menancapkan ke tanah tempat senjata trisula itu berhenti melayang," jawab Lintang Rahina.
__ADS_1
"Sekarang kamu istirahat dulu, kamu pulihkan energimu dulu. Baru setelah energimu sudah pulih, kita coba merasakan getaran energi semua yang lenyap," kata Ki Penahun.
Akhirnya Lintang Rahina duduk bersila dan istirahat dalam posisi semedi.
Sementara Ki Pradah dan Ki Penahun berjaga bergantian, agar tidak ada gangguan selama Lintang Rahina beristirahat dan bersemedi.
Tanpa terasa, Lintang Rahina beristirahat dalam posisi semedi, selama semalam penuh. Saat hari menjelang pagi, barulah Lintang Rahina terbangun dari semedinya.
Begitu Lintang Rahina membuka matanya, dia melihat hal yang mengejutkan sekaligus membuatnya senang.
Dia melihat, tubuh eyang dan gurunya sedang melayang dalam posisi duduk bersila saling berhadapan. Mata mereka terpejam. Tetapi kedua tangan mereka saling melakukan serangan.
Gerakan tangan eyang dan gurunya terlihat hanya pelan, tetapi energi yang dikeluarkan dan daya serangnya sangat kuat.
Setelah saling serang dengan kedua tangan dalam posisi bersila berlangsung selama sekitar dua puluh jurus, kedua kakek tua itu tiba tiba berdiri saat masih dalam keadaan melayang.
Kemudian mereka melanjutkan saling serang, kali ini dalam keadaan terbang melayang. Terkadang mereka saling melesat menjauh, kemudian saling mendekat hingga seperti bertubrukan. Semua itu mereka berdua lakukan sambil tertawa tawa gembira.
Lintang Rahina yang sudah pulih energinya seperti sedia kala, dari bawah bisa merasakan, betapa ada energi yang sangat besar yang keluar dari tubuh eyang dan gurunya. Lintang Rahina merasakan, energi eyang dan gurunya seimbang dengan Dewi Kematian, bahkan mungkin agak sedikit di atasnya.
Melihat kegembiraan eyang dan gurunya, Lintang Rahina tergoda dan terpancing. Diapun ikut melesat melayang ke arah eyang dan gurunya.
Sesampai di dekat mereka, Lintang Rahina langsung disambut dengan serangan beruntun dari eyang dan gurunya.
__________ 0 __________
__ADS_1