Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Bertemu Dengan Guru Dan Eyangnya


__ADS_3

"Kek keh keh keh .... Dewi Kematian, kalau boleh tahu, kamu datang sebagai pribadi atau sebagai utusan kerajaan ?" tanya Dua Iblis Tertawa.


"Itu bukan urusanmu, sebagaimana halnya aku tidak menanyakan maksudmu datang ke sini !" jawab Dewi Kematian, "Aku menyelamatkanmu karena kita sama sama datang dari jauh. Kasihan kalau sampai kalian pulang tinggal nama !"


"Kek keh keh keh .... Dewi Kematian, kami ucapkan terimakasih, telah menyelamatkan selembar nyawa kami," kata Dua Iblis Tertawa, "Tetapi itu bukan berarti kemampuanmu lebih tinggi dari kami."


--- 0 ---


Dua Iblis Kembar dan Dewi Kematian sudah kenal sejak lama. Mereka selalu bersaing untuk menunjukkan dirinya lebih hebat.


Pada saat masih sama sama muda, mereka pernah bertarung, tetapi hasilnya tidak ada yang lebih unggul.


Dua Iblis Tertawa adalah salah satu dari golongan sesat yang telah malang melintang di dunia persilatan, datang ke pulau Sumbawa untuk kepentingan mereka pribadi. Sebelumnya mereka sudah ke Pulau Jawa Dwipa. Karena benda pusaka yang mereka kejar, mereka rasakan energinya sudah dibawa ke arah timur, mereka mengejar hingga ke Pulau Sumbawa. Mereka berdua berniat membawa pulang ke negaranya, senjata pusaka yang mereka buru. Akan mereka gunakan untuk meningkatkan tingkat energi mereka.


Sedangkan Dewi Kematian, walaupun tidak pernah mau mengaku, diduga adalah utusan rahasia dari kerajaan di daratan Tiongkok. Di negaranya sedang terjadi perpecahan, ditambah terancam dijajah oleh negeri lain. Maka diam diam pihak kerajaan mengutusnya untuk mencari dan membawa pulang ke negaranya, senjata pusaka yang dikabarkan sebagai peninggalan kerajaan Majapahit.


--- o ---


Sementara itu, di saat yang bersamaan, saat sedang terdiam sambil melihat situasi, Lintang Rahina baru merasakan ada getaran energi dari buntalan di punggungnya. Karena situasinya yang tidak memungkinkan untuk mengeluarkan senjata trisula dari dalam buntalan, Lintang Rahina berencana menyelesaikan dulu urusan dengan orang orang yang berdiri di depannya.


Tetapi terjadi hal yang tidak dia duga. Senjata trisula itu tiba tiba bergetar sangat kencang dan kemudian keluar dari buntalan di punggung Lintang Rahina. Lintang Rahina yang terkejut, hendak meraih gagang senjata trisula itu, tetapi tidak terpegang.


Senjata trisula itu melayang di sebelah kanan kepala Lintang Rahina. Setelah mengeluarkan bunyi dengungan seperti sekumpulan lebah, senjata trisula itu kemudian melesat lurus ke atas.


Sesaat setelah senjata trisula itu lenyap di kegelapan langit malam, tiba tiba ada getaran dua energi yang datang mendekat ke tempat itu dengan sangat cepat.


Ketika getaran dua energi itu tiba di tempat itu, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum sangat terkejut. Karena dua orang itu adalah Ki penahun dan Ki Pradah.


"Eyang ! Guru !" kata Lintang Rahina sambil memberikan sungkem kepada keduanya.


Lintang Rahina diam diam terkejut merasakan besarnya getaran energi dari Ki Penahun dan Ki Pradah.

__ADS_1


Eyang dan gurunya mengalami peningkatan energi yang sangat pesat, sehingga kecepatannya pun juga meningkat.


--- o ---


Memang, semenjak terluka pada pertarungan di Puncak Lawu, Ki Penahun dan Ki Pradah berlatih lebih giat lagi. Mereka merasa selama ini terlalu bermalas malasan sehingga peningkatan ilmu dan energinya tertinggal dari tokoh tokoh dunia persilatan lainnya.


Ki Penahun dan Ki Pradah sempat beberapa pekan berlatih bersama Ki Dipo Menggala dan juga bersama Ki Ageng Arisboyo, hingga akhirnya Ki Penahun dan Ki Pradah mengalami kemajuan dalam ilmu silat ataupun kecepatan mereka.


--- o ---


Belum juga Ki Penahun dan Ki Pradah berkata kata pada Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum, tiba tiba terdengar satu suara.


"Ki Penahun, Ki Pradah, lama tidak berjumpa," kata Reo Karai yang sudah mendekat dan sudah pulih sebagian energinya.


"Heh he he he ... adi Reo dan adi Kei, maaf kalau kedatangan kami mengejutkan kalian," jawab Ki Pradah.


"Ada hubungan apakah kedua anak muda itu dengan kalian ?" tanya Kei Sama sambil menuding ke arah Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum dengan rasa penasaran.


"Cucu ? Murid ? Jadi dia murid kalian ?" tanya Reo Karai.


"Heh he he he ... "


Ki Penahun dan Ki Pradah hanya tertawa dan tidak menjawab.


"Orang tua sialan !" teriak Kei Sama," kenapa tidak memberi kabar kalau dia muridmu dan hendak datang ke sini ?!"


"Heh he he he ..... dan kalian pastinya sudah mencicipi kemampuannya ?" Ki Penahun balik bertanya, "Maaf maaf, ada yang perlu aku tanyakan pada cucuku."


"Eyang dan gurumu sudah melihat senjata pusaka itu melesat ke atas. Tidak usah cemas ngger, kamu bisa merasakan keberadaannya dengan merasakan getaran energinya, karena energinya tetap terhubung dengan energi kamu," kata Ki Penahun.


"Sekarang pergilah ke mana arah senjata pusaka itu melesat," sahut Ki Pradah.

__ADS_1


"Baiklah eyang, guru," jawab Lintang Rahina, "Kami pergi dulu."


"Maaf tidak bisa menemani paman dan bibi semua, kami permisi," kata Lintang Rahina sambil menjura ke arah Dua Iblis Tertawa, Dewi Kematian dan yang lainnya.


Dua Iblis Tertawa, Dewi Kematian dan Pedang Pembelah Rembulan hanya tersenyum dan tertawa penuh makna.


Setelah Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum melesat pergi, Dua Iblis Tertawa berkata, "Maaf, urusan kami di sini sudah selesai. Kami mohon undur diri."


Tanpa menunggu jawaban yang lainnya, Dua Iblis Tertawa segera melesat pergi.


Demikian juga dengan Dewi Kematian dan Pedang Pembelah Rembulan, mereka berdua juga secepatnya pergi dari tempat pertarungan tadi. Karena mereka merasa, tidak ada urusan dengan mereka yang masih tertinggal di situ.


Akhirnya tinggal Kei Sama, Reo Karai serta Ki Penahun dan Ki Pradah yang ada di situ.


Mereka berempat sebenarnya sudah kenal sejak lama, sejak sama sama masih muda.


Kei Sama dan Reo Karai pernah beberapa kali berkunjung ke Majapahit saat Ki Penahun dan Ki Pradah masih menjadi Prajurit Elite.


Ki Penahun dan Ki Pradah juga sering ke kepulauan sebrang wetan termasuk ke Pulau Sumbawa hingga bisa kenal baik dengan Kei Sama dan Reo Karai.


"Di mana adi Hima Ledo ? Kok tidak terlihat bersama kalian ?" tanya Ki Penahun.


"Kemungkinan besar dia sudah lebih dulu bertemu dan bentrok dengan murid kalian," jawab Kei Sama.


"Hima Ledo juga akan marah jika tahu ternyata anak muda yang dilawannya adalah murid kalian !" sambung Reo Karai.


"Heh he he he .... kalian semua sejak dulu tidak pernah berubah. Setiap ada orang asing yang masuk ke pulau kalian, bukan kalian selidiki dulu atau kalian tanya. Malahan kalian langsung mengajak duel," jawab Ki Pradah.


Akhirnya, sambil berjalan mengikuti getaran energi yang mereka rasakan, mereka saling bercerita tentang pengalaman masing masing.


\_\_\_\_\_0 \_\_\_\_\_

__ADS_1


__ADS_2