Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Tewasnya Dharmajaya Pawatu


__ADS_3

Saat mengambil jalur ke arah timur itulah, Sekar Ayu Ningrum merasakan ada getaran energi yang sangat kuat. Jumlahnya lebih cukup banyak.


Sekar Ayu Ningrum segera menambah kecepatan larinya agar bisa segera sampai ditempat asalnya getaran energi yang dia rasakan.


Setelah beberapa waktu, akhirnya Sekar Ayu Ningrum mendapati, Lintang Rahina sedang bertarung melawan tiga orang yang kemampuan silat, kecepatan dan energinya masuk golongan sangat tinggi.


Sekar Ayu Ningrum melihat tepat saat Putri Dyah Pawatu bisa bangkit lagi setelah ada asap hitam yang keluar dari ujung tongkatnya dan masuk ke tubuhnya melalui mulut.


Seketika Sekar Ayu Ningrum teringat akan ucapan Ratu kerajaan gaib, Putri Kanistra, yang mengatakan, kekuatan sekaligus kelemahan trah Pawatu itu ada pada tongkatnya.


Sekarang Sekar Ayu Ningrum berdiri di sisi Lintang Rahina. Mereka sama sama sudah menggenggam senjata pedang di tangan kanan.


"Kakang Lintang, kita rebut tongkat mereka, dengan tongkat itu juga yang akan membuat mereka tewas," kata Sekar Ayu Ningrum.


"Baiklah adik Sekar. Adik Sekar hadapi kakek tua itu, biar dua orang lainnya kakang yang hadapi," kata Lintang Rahina menjawab perkataan Sekar Ayu Ningrum.


Lintang Rahina sudah memperhitungkan kekuatan dari ketiga lawannya. Yang paling kuat adalah Putri Galuh Pawatu sedangkan yang paling lemah adalah Putri Dyah Pawatu. Menilik dari kekuatan energi dan kecepatannya, Lintang Rahina menilai, Sekar Ayu Ningrum mampu menghadapi Dharmajaya Pawatu. Dan Lintang Rahina akan cukup leluasa menghadapi keroyokan Putri Galuh Pawatu dan Putri Dyah Pawatu.


Suasana di tempat pertarungan terasa hening untuk beberapa saat. Kelima orang itu saling berhadapan dan saling menatap lawan seolah sedang mengukur kekuatannya.


Kemudian, dengan mempererat genggaman pada tongkatnya, Putri Galuh Pawatu bersiap menyerang.


"Ayah, ... anakku, ...ayo kita selesaikan mereka !" kata Putri Galuh Pawatu.


Lalu, dengan sekali menotolkan kaki ke tanah, tubuh Putri Galuh Pawatu melayang dan memudian melesat terbang ke arah Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum. Namun, sebelum Putri Galuh Pawatu mencapai setengah jarak mereka, Lintang Rahina segera melesat maju untuk menghadangnya.


Dharmajaya Pawatu, begitu melihat anaknya sudah menyerang lagi, segera ikut melesat menyerang.


Melihat serangan itu, Sekar Ayu Ningrum segera menyambutnya dengan serangan pedang.


Sementara Putri Dyah Pawatu, masih melihat saja dua pertarungan itu. Tetapi kemudian terdengar kakeknya berkata.


"Cucuku, kamu bantu ibumu !"


Mendengar kakeknya menyuruh, Putri Dyah Pawatu segera melesat menuju ke pertarungan ibunya melawan Lintang Rahina.

__ADS_1


Akhirnya, hanya dalam waktu sebentar, terjadi dua pertarungan di tempat yang berbeda.


Dharmajaya Pawatu, yang menghadapi Sekar Ayu Ningrum, merasa sangat percaya diri. Dia merasa yakin bisa menang. Maka diapun menyuruh Putri Dyah Pawatu untuk membantu ibunya yang sedang melawan Lintang Rahina.


Awalnya Sekar Ayu Ningrum hanya menghindari setiap serangan Dharmajaya Pawatu. Hal itu membuat Dharmajaya Pawatu semakin berpikiran, jika perempuan muda yang menjadi lawannya ini merasa takut padanya.


Setelah selalu menghindar selama hampir sepuluh jurus, Sekar Ayu Ningrum mulai mencoba menangkis serangan tongkat Dharmajaya Pawatu. Dengan bilah pedang yang berpendar putih pekat dan seperti mengeluarkan kabut.


Sabetan tongkat kayu Dharmajaya Pawatu, terhenti setiap bertemu dengan pedang Sekar Ayu Ningrum.


Hal ini membuat Dharmajaya Pawatu terkejut. Karena tangannya bergetar setiap pukulan tongkat kayunya berbenturan dengan pedang perempuan muda yang menjadi lawannya ini.


Merasa kecolongan, Dharmajaya Pawatu menambah lagi aliran energi ke seluruh tubuhnya.


Kemudian, dengan hentakan kaki kanannya, tubuhnya melesat ke arah Sekar Ayu Ningrum.


Kembali terjadi benturan dua senjata berulang ulang. Kali ini keduanya sudah tidak menahan tenaganya lagi.


Walau terlihat menyerang dengan bertubi tubi, tetapi diam diam Dharmajaya Pawatu kembali merasa terkejut. Walaupun sudah meningkatkan aliran energinya, tetap saja tangannya terasa bergetar setiap kedua senjata berbenturan.


Dengan memutar tongkatnya dengan sedemikian rupa cepatnya, Dharmajaya Pawatu menangkis datangnya pendaran energi yang mengarah ke tubuhnya.


Trak ! Tak ! Trak ! Tak ! Tak ! Tak !


Tiba tiba tangkisannya berbenturan dengan sabetan pedang yang dilakukan Sekar Ayu Ningrum yang sudah mendekat menyerang.


Traaakkk !!!


Dharmajaya Pawatu merasakan tangannya bergetar hebat saat menangkis sabetan pedang Sekar Ayu Ningrum. Bahkan genggaman tangannya pada tongkatnya hampir terlepas.


Hal itu tidak terlepas dari strategi serangan Sekar Ayu Ningrum yang sengaja mencecar dengan serangan yang membuat Dharmajaya Pawatu harus menangkis dengan tongkat kayunya. Karena Sekar Ayu Ningrum memang mengincar senjata tongkat kayunya.


Melihat strateginya berhasil, Sekar Ayu Ningrum mengulang lagi mencecar Dharmajaya Pawatu dengan serangan pendaran energi berkali kali.


Hingga pada suatu kesempatan, Sekar Ayu Ningrum kembali membuat pendaran energi berbentuk ujung pedang, namun kali ini dengan energi yang sudah ditingkatkan. Kemudian, dengan sekali menotolkan ujung kaki ke tanah, tubuh Sekar Ayu Ningrum melayang ke atas.

__ADS_1


Lalu, dengan sekali hentak, pendaran energi itu melesat dengan sangat cepat dari atas menyasar ke beberapa titik tubuh Dharmajaya Pawatu. Diikuti tubuh Sekar Ayu Ningrum yang meluncur turun menuju ke tempat Dharmajaya Pawatu berdiri.


Saat Dharmajaya Pawatu disibukkan menangkis pendaran energi yang datang, Sekar Ayu Aningrum sudah meluncur mendekat dan mengayunkan pedangnya dari atas. Serangan pedang itu ditangkis Dharmajaya Pawatu dengan tongkat kayu yang dipegang dengan dua tangan.


Traaakkk ! Traaakkk ! Traaakkk !


Di sela sela serangan pedangnya, tiba tiba kaki kiri Sekar Ayu Ningrum mencuat dengan gerakan menendang ke arah perut Dharmajaya Pawatu.


Duuuaaakkk !!!


Tendangan Sekar Ayu Ningrum tepat mengenai perut Dharmajaya Pawatu. Tubuh Dharmajaya Pawatu terdorong ke belakang. Pegangan tangan kiri pada tongkatnya terlepas.


Dengan cepat, Sekar Ayu Ningrum kembali mengayunkan pedangnya ke arah tongkat kayu yang digenggam Dharmajaya Pawatu dengan tangan kanan.


Traaakkk !!!


Karena kurang sempurna dalam memegang tongkat kayunya, membuat tongkat kayu itu terlepas dari genggamannya.


Begitu lawannya kehilangan senjata, Sekar Ayu Ningrum semakin merangsek. Dan akhirnya, dengan kombinasi serangan tendangan kaki kanan mengenai bahu Dharmajaya Pawatu yang membuatnya terhuyung, disambung dengan pukulan tangan kiri yang mengenai lehernya yang membuat Dharmajaya Pawatu tersungkur. Lalu diakhiri dengan lemparan pedang yang tepat menghujam ke dada Dharmajaya Pawatu.


Kemudian, tanpa melihat hasil serangannya, Sekar Ayu Ningrum segera melesat ke arah tongkat kayu Dharmajaya Pawatu yang terlempar dan menyambarnya digenggam dengan tangan kiri.


Sementara, Dharmajaya Pawatu yang jatuh terlentang dengan pedang menancap di dadanya, sudah tidak bergerak lagi.


Dengan tetap waspada, Sekar Ayu Ningrum mengamati semua yang terjadi pada tongkat kayu yang dia pegang.


Tiba tiba, tongkat kayu itu sedikit bergetar dan dari ujungnya mulai mengeluarkan asap hitam.


Melihat hal itu, Sekar Ayu Ningrum segera melenting ke atas dan memudian tubuhnya meluncur turun ke arah Dharmajaya Pawatu.


Dengan posisi mendarat, Sekar Ayu Ningrum menghujamkan senjata tongkat kayu itu ke dada Dharmajaya Pawatu.


Jleeebbb !!!


Tubuh Dharmajaya Pawatu bergerak sebentar dan kemudian terdiam.

__ADS_1


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2