
Beberapa kali terjadi benturan senjata dengan penggunaan energi yang makin meningkat. Pada suatu saat, mereka sama sama melepaskan serangan dengan melompat ke atas. Kali ini, benturan serangan mereka berdua menimbulkan suara ledakan yang cukup keras.
Blaaarrr !!!
Setelah suara ledakan itu, terlihat tubuh mereka sama sama terlempar ke belakang.
Lintang Rahina mendarat dengan kedua kakinya dan segera berdiri dengan kuda kudanya lagi.
Sementara itu, Dharmajaya Pawatu juga sudah bersiap dengan kuda kudanya. Terlihat dadanya naik turun dengan nafas yang sedikit memburu.
"Heh he he he .... anak muda. Kemampuanmu ternyata hebat juga. Matipun aku tak akan menyesal, bisa menghadapimu !" kata Dharmajaya Pawatu.
Kemudian Dharmajaya Pawatu memegang tongkat kayunya dengan kedua tangannya, sambil mulutnya komat kamit mengucapkan suatu mantera. Perlahan dari kedua ujungnya keluar asap hitam. Asap hitam itu semakin banyak dan terus naik ke atas. Sesampai di atas, asap dari kedua ujung tongkat kayu itu menyatu dan kemudian membentuk wujud makhluk siluman yang menyeramkan. Badannya seperti manusia namun berbulu sangat lebat. Kedua tangan dan jari jari yang besar besar dengan kuku yang pendek, namun lancip dan tajam. Kedua tangan makhluk itu berwarna hitam legam.
Mulut yang lebar dengan empat taring yang menyeruak keluar. Di kepalanya terdapat dua tanduk yang panjang dan agak melengkung. Matanya hitam seluruhnya.
Kemudian, dengan mengangsurkan ujung tongkatnya ke arah Lintang Rahina. Seketika, makhluk menyeramkan itu melesat ke arah Lintang Rahina.
Sementara itu di saat yang bersamaan. Saat melihat Dharmajaya Pawatu mengeluarkan senjata silumannya, Lintang Rahina segera menambah aliran energinya ke seluruh tubuhnya.
Pendaran sinar putih pekat yang bercampur dengan butiran sinar kuning keemasan yang menyelimuti seluruh tubuhnya menjadi semakin tebal. Warna ungu kehitaman di tangan kirinya perlahan menghilang.
Dengan bilah pedangnya yang sudah berubah menjadi sinar putih pekat, Lintang Rahina melesat ke arah Dharmajaya Pawatu.
Baru sampai di tengah tengah jarak antara dirinya dan lawannya, gerakan Lintang Rahina sudah dihadang makhluk menyeramkan.
Segera saja terjadi lagi benturan serangan di udara. Yang sedikit membuat Lintang Rahina terkejut adalah, tubuh makhluk itu keras, sehingga benturan pedang Lintang Rahina dengan kepalan tangan makhluk siluman itu.
Traaannnggg ! Traaannnggg !
Setelah dua kali berhasil ditangkis makhluk itu, pedang Lintang Rahina berhasil menembus dada makhluk itu.
__ADS_1
Jleeepppsss !!!
Makhluk itupun terkulai dengan dada tertembus pedang.
Namun hal itu tidak berlangsung lama. Beberapa saat kemudian ada serabut berwarna menyala yang merembet dari ujung tongkat Dharmajaya Pawatu menuju ke makhluk siluman, yang seketika membuat makhluk siluman itu bangkit lagi.
Melihat hal itu, Dharmajaya Pawatu tertawa, "Heh he he he ..... ayo anak muda, kerahkan kemampuanmu !"
Sementara itu, Lintang Rahina sedikit terkejut. Dia pun segera berpikir keras.
"Cara pengendalian energi siluman kakek tua ini berbeda dengan Empu Bajang Geni. Mungkin aku harus mengeluarkan terpisah energi Ki Sardulo," kata Lintang Rahina dalam hati.
Kemudian dengan cepat Lintang Rahina meningkatkan aliran energi ke seluruh tubuhnya. Sesaat kemudian, pendaran sinar putih pekat yang bercampur dengan butiran sinar kuning keemasan yang menyelimuti tubuhnya semakin bertambah tebal dan luas. Setelah pendaran sinar putih pekat itu mencapai tinggi sekitar lima kali tinggu tubuh manusia, segera berubah bentuk, membentuk siluet berwujud siluman harimau Ki Sardulo.
Begitu bentuk siluet harimau itu sempurna, siluet harimau itu segera melesat dengan sangat cepat menerkam ke arah makhluk siluman yang keluar dari tongkat Dharmajaya Pawatu.
Sesaat kemudian, terjadi pertarungan sesama siluman. Pertarungan dengan gerakan yang sangat cepat yang tidak bisa diikuti dengan mata.
Karena keluarnya energi siluman mereka membuat suhu udara di sekitar pertarungan mereka menjadi turun drastis. Energi siluman mereka pun sangat menekan, sehingga apabila ada pendekar dengan tingkat energi di bawah tingkat energi siluman Ki Sardulo ataupun lawannya, akan merasa seperti ditimpa batu yang sangat besar di pundaknya.
Setelah bertukar serangan selama beberapa kali, akhirnya dengan tingkat energi siluman miliknya yang sudah sangat tinggi, hanya dalam beberapa jurus, Ki Sardulo perlahan mulai bisa mendesak lawannya. Bahkan Ki Sardulo hanya butuh sepuluh jurus untuk bisa menggigit putus leher lawannya. Hingga akhirnya lawannya musnah meledak dan hanya menyisakan kepulan asap hitam yang kemudian melayang ke atas dan lenyap.
Namun, ternyata itu bukan akhir pertarungan dari Ki Sardulo. Karena, begitu siluman yang dikeluarkannya musnah, muncul lagi siluman yang lainnya lagi. Bahkan siluman yang berikutnya, memiliki tingkat energi yang lebih tinggi dari yang sudah musnah tadi.
Kembali terjadi pertarungan antara kedua siluman. Hingga suhu udara menjadi semakin dingin dan semakin menekan.
Namun, siluman yang dihadapi oleh Dharmajaya Pawatu adalah Ki Sardulo, rajanya siluman di tlatah wetan, yang mana, penguasa kerajaan siluman di perairan sebelah selatan pun enggan berurusan dengannya.
Sama dengan yang terjadi sebelumnya, Ki Sardulo hanya butuh sepuluh hingga dua puluh jurus untuk memusnahkan siluman yang keluar dari tongkat kayu Dharmajaya Pawatu.
Ketika hal itu terjadi berulang sampai tiga kali, Lintang Rahina kembali bersiap untuk menyerang Dharmajaya Pawatu.
__ADS_1
Kali ini, Lintang Rahina menggabungkan kedua tehnik yang sudah dia keluarkan, dengan tehnik 'Bramaseta'. Dengan kembali menambah aliran energinya, seluruh tubuh Lintang Rahina perlahan lahan mengeluarkan api berwarna putih.
Kemudian, dengan gerakan yang sangat cepat, Lintang Rahina melesat ke arah Dharmajaya.
Dharmajaya yang sejak tadi sudah bersiap, segera menyambut serangan Lintang Rahina.
Hingga akhirnya, pertukaran tendangan dan pukulan yang mengandung energi yang sangat tinggi, berlangsung lagi.
Hingga akhirnya terjadi dua pertarungan yang sama sama berlangsung dalam kecepatan yang sulit diikuti dengan mata.
Dengan hawa panas yang berasal dari api putih yang keluar dari seluruh tubuhnya, Lintang Rahina mulai bisa menekan hawa dingin yang keluar dari tongkat Dharmajaya Pawatu.
Perlahan, Lintang Rahina mulai bisa mengendalikan jalannya pertarungan.
Setelah melewati serangan demi serangan hingga hampir seratus jurus, pada satu kesempatan, Lintang Rahina berhasil melayangkan satu pukulan kanannya tepat mengenai dada Dharmajaya Pawatu.
Buuuggghhh !!!
Terkena pukulan di dadanya, tubuh Dharmajaya Pawatu tersurut mundur hingga tiga langkah.
Namun hal itu tidak membuatnya surut. Dengan menambah aliran energinya hingga hampir mencapai puncak kemampuannya, Dharmajaya Pawatu kembali melesat ke arah Lintang Rahina dan kemudian mengurungnya dengan serangan serangan.
Tidak mau ketinggalan, Lintang Ranina juga mengimbangi semua serangan Dharmajaya Pawatu. Sehingga yang terlihat hanya kelebatan dua tubuh mereka.
Traaakkk ! Traaakkk !
Traaannnggg ! Traaannng !
Tanpa terasa, tiga puluh jurus sudah mereka lalui. Lintang Rahina dan Dharmajaya Pawatu sama sama sudah beberapa kali berhasil menyarangkan serangannya dan sama sama sudah beberapa kali terkena pukulan dan tendangan.
__________ ◇ __________
__ADS_1