
"Seraaaaang !!!" teriak si pemimpin.
Mereka berlima mulai mengayunkan senjata untuk menyerang Lintang Rahina.
Tak tak tak tak tak...!!!
Tranggg.....trang...tang..!!!
Kelima orang itu kembali terkejut dan meringis kesakitan. Tiba tiba tangan kanan mereka yang memegang golok terasa lemas dan golok mereka berjatuhan di tanah.
Mereka masih tidak memyadari apa yang mereka alami. Spontan mereka melanjutkan menyerang Lintang Rahina dengan tangan kosong.
Hiaattt !!!
Akhirnya Lintang mengayunkan ranting yang besarnya seibu jari tangan dengan panjang satu meter, yang dia pakai mencangklong buntalan sejak berangkat dari rumah Ki Pradah.
"Orang jahat memang harus diberi pelajaran agar jera," kata Lintang Rahina sambil mengayunkan rantingnya untuk memukul beberapa bagian tubuh mereka seperti kepala, punggung, pantat ataupun betis. Sehingga kelima orang itu jatuh bergulingan di tanah sambil berteriak teriak kesakitan.
Tak tak tak tak tak !!!
Buk buk buk buk buk !!!
Aduh !!! Ackkk !!!
Ampun....ampun....sakit...!!!
Barulah mereka mengerti kalau sejak tadi yang mengenai tangan mereka, ranting yang dipegang anak muda di depan mereka.
Mereka merangkak dan menyembah nyembah sambil meringis kesakitan. Bahkan mereka ada yang sampai terkencing kencing di celana.
"Ampun...ampun....ampun den....maafkan kami yang tidak tahu tingginya gunung luasnya lautan," rintih mereka sambil memohon.
"Kalian pergi dari sini, pulang ! Jangan sekali kali melakukan penghadangan dan perampokan lagi. Kalau kalian masih nekat melakukannya, akan kupatahkan tangan dan kaki kalian. Kubuat buta mata kalian. Mengerti !!!" bentak Lintang Rahina.
Sementara Ki Pradah hanya terkekeh kekeh melihat itu semua.
"Ampun den, ampun.....mengerti....kami mengerti....kami tidak tidak akan lagi..." jawab mereka bersahutan.
Mereka merangkak mundur hendak pergi.
__ADS_1
"Eittt....sebentar. Sebelum kalian pergi, tinggalkan semua barang barang hasil merampok kalian dan juga semua senjata kalian, tumpuk diepanku," kata Lintang Rahina.
Dengan tubuh gemetar, mereka pun mengeluarkan barang barang dan uang hasil rampokan mereka. Tidak lupa mereka menyerahkan senjata golok mereka dan juga beberapa belati.
"Dan kau, mendekat kesini !!!" panggil Lintang Rahina.
"I...iya...den," jawab orang yang ditunjuk Lintang Rahina.
"Kamu, apakah kamu tahu, di daerah ini adakah yang bernama Warok Bandring Saloka ?" tanya Lintang Rahina.
"Warok ?....kalau di tlatah sini tidak ada den, tetapi saya pernah mendengar, di pesisir, di pantai selatan, katanya ada orang sakti, warok, yang tinggal di goa pinggir pantai, agak jauh ke timur," jawab orang itu.
"Di daerah mana itu ?!" tanya Lintang Rahina lagi.
"Kalau nama daerahnya saya kurang tahu den.....yang saya dengar....pesisir sebelah tenggara Lawu. Karena ada beberapa teman kami yang kesana....katanya hendak berguru..." jawabnya lagi.
"Baiklah. Kalian boleh pergi. Ingat !!! Jangan sekali kali datang ke sini dan melakukan kejahatan lagi. Kalau masih berani mengulang perbuatan jahat kalian, akan ku kejar dan kuhukum kalian. Mengerti ???" ancam Lintang.
"Me... meng...mengerti den..." jawab mereka serentak.
"Sudah, sana pergi !" perintah Lintang Rahina.
Setelah beberapa waktu mereka pergi, Ki Pradah berkata, "Kita ambil jalan kekiri saja le. Jalan itu mungkin arah ke pesisir. Kalau yang kanan, itu arah ke Kotagedhe."
"Terus, akan kamu apakan semua harta benda dan senjata itu ?" tanya Ki Pradah.
"Dalam perjalanan nanti, akan saya bagikan ke orang orang yang membutuhkan kek," jawab Lintang Rahina.
"Baiklah, ayo kita berangkat. Sebelumnya, kita mencari kampung dulu, siapa tahu ada warung milik penduduk," kata Ki Pradah lagi.
"Baik kek," jawab Lintang.
Mereka berdua melanjutkan perjalanan, dan beberapa waktu kemudian mereka memasuki sebuah perkampungan yang cukup besar.
Di perkampungan itu, mereka makan dan tidak lupa Lintang Rahina membagi bagikan harta rampasannya dari para perampok ke orang orang miskin dan orang orang yang membutuhkan pertolongan.
Setelah istirahat sejenak, Lintang Rahina dan Ki Pradah melanjutkan perjalanannya.
Seperti biasanya, kalau mereka sudah mendekati perkampungan atau jalan di jalan perkampungan, mereka berjalan biasa seperti orang biasa. Tetapi kalau melewati hutan belantara, barulah mereka berjalan menggunakan ilmu tenaga dalam.
__ADS_1
--- 0 ---
Sore menjelang malam, di pesisir laut selatan, di tepi pantai ada goa yang lumayan besar.
Di goa itu tinggal seorang laki laki paruh baya, rambut gondrong dan selalu berikat pinggang kolor.
Dialah Warok Bandring Saloka, sekarang ilmu silatnya meningkat pesat setelah ditolong dan akhirnya diangkat menjadi murid oleh Ki Rekso, orang yang menolong dan menyelamatkannya. Ki Rekso lah yang merawat dan mengobati saat Warok Bandring Saloka mengalami luka parah.
Sementara, Ki Rekso saat menolong dan merawat Warok Bandring Saloka, begitu mengetahui kemampuan Warok Bandring Saloka, berniat menjadikan Warok Bandring Saloka sebagai murid dan juga sebagai sekutunya.
Di sore itu, Warok Bandring Saloka sedang melatih ilmu yang diajarkan oleh Ki Rekso 'Lawa Laksa'.
Ilmu 'Lawa Laksa' merupakan penggabungan dari ilmu mengendalikan hewan dan ilmu tangan kosong milik Warok Bandring Saloka.
Dengan ilmu Lawa Laksa itu, Warok Bandring Saloka bisa mengendalikan ribuan hewan kelelawar yang memunyai kemampuan serang rendah saat mata kelelawar berubah merah, sampai daya serang yang tinggi saat seluruh tubuh kelelawar berubah menjadi berwarna merah.
Langit di tepi pantai di dekat goa tempat tinggal Warok Bandring Saloka berwarna merah. Bukan karena sinar senja tetapi karena saat itu ribuan kelelawar sedang berterbangan di langit. Ribuan kelelawar itu terkadang melesat ke angkasa, kadang menukik ke bawah amblas ke dalam air laut, kemudian tiba tiba muncul lagi mengerumuni batu karang. Anehnya, batu karang itu sesaat kemudian lenyap karena digigiti oleh ribuan kelelawar.
Bisa dibayangkan kalau seorang manusia yang digigit ribuan kelelawar itu, hanya dalam hitungan detik akan hilang tubuhnya.
Sebenarnya Warok Bandring Saloka diajak tinggal di perguruan yang didirikan oleh Ki Rekso, yang mempunyai lumayan banyak murid.
Tetapi Warok Bandring Saloka memilih tinggal di goa tepi pantai.
Karena Warok Bandring Saloka belum bisa menghilangkan bayang bayang adik adik seperguruannya dan juga murid muridnya yang habis saat menghadapi Lintang Rahina.
Menurut cerita Ki Rekso, ketiga adik seperguruannya tewas saat terkena imbas ledakan dari pertemuan serangan Lintang Rahina dengan tangkisan Ki Rekso.
Tetapi, Warok Bandring Saloka belum sepenuhnya percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ki Rekso mengenai ketiga adik seperguruannya.
Maka dari itu, Warok Bandring Saloka berencana, suatu saat akan mengembara untuk mencari dan memastikan nasib ketiga adik seperguruannya.
Setelah selesai melatih ilmu Lawa Laksa nya, Warok Bandring Saloka mengembangkan ikat kepalanya yang berwarna hitam. Kemudian ribuan kelelawar itu meluncur ke arah kain hitam itu. Kelelawar itu seperti hilang saat menabrak kain hitam yang dibentangkan Warok Bandring Saloka.
Warok bandring Saloka menyimpan ribuan kelelawar senjatanya itu secara gaib di dalam ikat kepalanya.
Setelah semua kelelawar masuk, Warok Bandring Saloka kembali mengikatkan kain hitam itu ke kepalanya.
\_\_\_ 0 \_\_\_
__ADS_1