
Dalam suatu kesempatan, melihat gerakan Ki Ageng Arisboyo mulai melambat, Ki Rekso yang melihat ada celah segera meloncat untuk melontarkan pukulan tangan kanannya ke dada Ki Ageng Arisboyo.
Karena sudah tidak ada waktu untuk menghindar, Ki Ageng Arisboyo menangkis datangnya pukulan dengan menyilangkan tongkatnya di depan dada.
Prakkkk !!!
Ki Ageng Arisboyo terdorong ke belakang hingga jatuh berlutut. Belum sempat Ki Ageng Arisboyo berdiri disusul dengan datangnya pukulan Ki Kawungka.
Bugggghh !!!
Kepalan tangan Ki Kawungka dengan telak mendarat di dada Ki Ageng Arisboyo. Membuat Ki Ageng Arisboyo terdorong lagi ke belakang sampai jatuh terduduk dan kemudian memuntahkan darah dari mulutnya.
Semangat Ki Ageng untuk terus bertarung masih ada, tetapi karena tenaga yang sudah terkuras habis, Ki Ageng Arisboyo hanya bisa duduk berlutut sambil tangan kanannya bertumpu pada tongkatnya. Terlihat keluar darah lagi di sudut bibirnya.
Melihat lawannya sudah tidak berdaya, sambil berteriak Ki Pratanda melancarkan tusukan ke dada Ki Ageng Arisboyo.
"Hiyaaa.... mati kau !" Ki Pratanda berteriak sambil melompat menyerang.
Ki Ageng Arisboyo yang sudah tidak berdaya hanya bisa memejamkan matanya.
Tranggg !!!
Tiba tiba Ki Pratanda terhuyung huyung ke belakang kemudian jatuh terduduk dengan tangan kanannya bergetar hebat. Kerisnya terlempar entah ke mana.
Ternyata pada saat keris Ki Pratanda hampir mengenai dada Ki Ageng Arisboyo, tusukan keris Ki Pratanda itu ditangkis oleh seseorang dengan dengan senjata pedang.
"Hanya seorang pengecut yang mengeroyok lawannya dan menyerang lawan yang sudah tidak berdaya," terdengar suara pemuda yang telah berdiri didepan Ki Ageng Arisboyo.
Pemuda berwajah tampan, mukanya bersih dengan pakaian seperti pembesar. Memakai beskap hitam dan blangkon.
Sambil menoleh ke arah Ki Ageng Arisboyo, pemuda itu berkata, "paman, beristirahatlah. Biar aku yang mengusir mereka."
__ADS_1
Ki Ageng Arisboyo hanya bisa mengangguk.
Pemuda penolong itu berkata lagi, "Kalian bertiga cepat pergi dari sini, sebelum aku berubah pikiran."
Ki Rekso dengan nafas yang terengah engah melihat sekelilingnya. Di depannya berdiri seorang pemuda dengan pedang terhunus di tangan kanannya. Ki Rekso merasakan ada energi yang sangat besar terpancar dari tubuhnya.
"Anak muda itu memiliki aura yang istimewa dan energinya sangat besar," Kata Ki Rekso dalam hati.
Di samping pemuda itu, berdiri laki laki paruh baya berbeskap lurik dan memakai blangkon juga. Energinya juga besar dan auranya juga tidak biasa.
"Orang yang di samping pemuda itu juga memiliki energi yang sangat besar," kata Ki Rekso dalam hati lagi, "aku harus mundur dulu. Tidak mungkin menang melawan orang ini."
Ki Rekso memandang ke arah Ki Pratanda dan Ki Kawungka, kemudian berkata pelan pada kedua rekannya, "kita tidak mungkin menang melawan mereka. Sebaiknya kita mundur dulu. Masih banyak yang harus kita kerjakan."
Kedua rekan Ki Rekso menjawab dengan menganggukkan kepala.
"Kisanak, urusan kita lanjut lain waktu. Kami masih ada urusan. Kami pergi dulu," kata Ki Rekso yang kemudian segera melesat pergi meninggalkan tempat pertarungan. Ki Pratanda dan Ki Kawungka pun segera menyusul pergi. Meninggalkan Ki Ageng Arisboyo yang sedang dirawat oleh orang orang yang baru datang itu.
Sebagian besar luka yang dialami oleh Ki Ageng Arisboyo adalah luka luar. Beberapa goresan keris Ki Pratanda dan lebam karena pukulan Ki Kawungka dan Ki Rekso.
Walaupun telah melapisi seluruh tubuhnya dengan tenaga dalam, tetapi terkena serangan terus menerus oleh tiga orang lawan yang kemampuannya masing masing hanya sedikit di bawahnya, merupakan situasi yang sangat sulit untuk bisa memenangkannya.
Setelah Ki Rekso, Ki Pratanda dan Ki Kawungka pergi, pemuda berwajah tampan dan berbadan tegap itu mendekat ke tempat Ki Ageng Arisboyo yang sedang disembuhkan oleh pria paruh baya dengan cara menyalurkan tenaga dalamnya untuk menetralisir dampak pukulan yang sempat mengenai dadanya.
Setelah terlihat Ki Ageng Arisboyo berangsur angsur pulih, pemuda itu bertanya, "bagaimana keadaan paman ?"
Sesaat sebelum menjawab, Ki Ageng Arisboyo tersentak. Selain merasakan adanya energi yang sangat besar, Ki Ageng Arisboyo juga merasakan ada aura yang istimewa dari pemuda di hadapannya ini.
Dan Ki Ageng Arisboyo teringat akan wangsit yang dia dapatkan saat melakukan pertapaan di Parangtritis.
"Saya sudah merasa lebih baik ngger, terimakasih atas pertolongannya," jawab Ki Ageng Arisboyo sambil membatin, "apakah pemuda inikah yang dimaksud dalam wangsit yang kuterima ?"
__ADS_1
"Kalau boleh tahu, siapakah paman dan mengapa mereka mengeroyok paman ?" tanya pemuda itu.
"Saya Ki Ageng Arisboyo. Mereka sebenarnya adalah teman temanku yang kebetulan berbeda pendirian," jawab Ki Ageng Arisboyo yang kemudian ganti bertanya, "siapakah angger dan kisanak ini ?"
"Nama saya Sutowijoyo, ini paman Ki Juru Mertani. Kami dari Mataram. Kami kebetulan lewat untuk suatu urusan," jawab pemuda itu.
Mendengar jawaban itu, Ki Ageng Arisboyo semakin yakin dengan dugaannya tentang pemuda di depannya ini.
"Jagad Dewa Bathara.... seperti wangsit yang aku terima, pemuda inilah yang akan menyatukan tanah Jawa di bawah kekuasaan Negara baru yang telah ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa. Negara Mataram. Aku akan mengabdikan seluruh kemampuanku untuk membantu perjuangannya," kata Ki Ageng Arisboyo dalam hati.
Akhirnya, merasa cocok dan meyakini pertemuan ini memang sudah ditakdirkan, Ki Ageng Arisboyo dan rombongan Sutowijoyo saling bercerita tentang diri mereka dan tujuan mereka.
Ki Ageng Arisboyo mantap untuk mendukung Sutowijoyo yang dikenal dengan sebutan Panembahan Senopati, yang sedang berjuang memerdekakan Mataram menjadi kerajaan yang akan menyatukan Pulau Jawa.
Karena masih ada urusan yang harus diselesaikan, Ki Ageng Arisboyo akan kembali ke Parangtritis dulu, kemudian ke Lawu. Setelah urusannya selesai, Ki Ageng Arisboyo akan membantu perjuangan Sutowijoyo atau Panembahan Senopati, sesuai dengan wangsit yang diterimanya.
Sutowijoyo pun berjanji akan membantu Ki Ageng Arisboyo untuk menyelesaikan urusannya di Lawu, karena ternyata sejalan dengan apa yang direncanakan Sutowijoyo.
Akhirnya mereka berpisah. Ki Ageng Arisboyo akan kembali ke Parangtritis sedangkan Sutowijoyo akan ke Kotagedhe.
Sesaat sebelum keluar dari goa di balik air terjun, Lintang Rahina mencoba merasakan getaran energi Ki Sardulo atau Ki Penahun kakeknya. Tetapi walau dicoba berkali kali, Lntang Rahina tetap tidak bisa merasakannya.
Yang Lintang rasakan dan sering berkelebat dalam pikirannya adalah pengetahuan dan hal hal tentang kerajaan Majapahit.
Hal ini Lintang Rahina rasakan setelah dia mendapatkan transfer energi dari Prabu Brawijaya. Selain mendapatkan transfer energi kekuatan yang sangat besar, Lintang Rahina juga mendapatkan transfer segala informasi tentang kerajaan Majapahit.
Maka Lintang Rahina berniat untuk pulang menemui kakeknya, Ki Penahun untuk bertanya tentang semuanya. Lintang Rahina merasakan, kakeknya bisa menjelaskan tentang semua yang telah dialaminya.
Setelah keluar dari goa, Lintang Rahina langsung melesat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, menuju Gunung Merbabu.
__ADS_1
Lintang pun terkejut bercampur heran. Sekarang dalam berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh, Lintang Rahina merasakan seperti terbang, tubuhnya sangat ringan dan kecepatannya berkali kali lipat dari sebelum mendapatkan transferan energi dari Prabu Brawijaya.
___ 0 ___